
"Rania, kami kebawah sebentar ya mau cari lmakanan. Kamu jaga pasien sendiri sebentar gak apa - apakan?" tanya Kak Selfi, bidan senior yang sudah lama bertugas dirumah sakit tersebut.
"Iya, kak.. Gak apa - apa kak. Kan lagi gak ada pasien yang akan partus (melahirkan) juga kak..." kata Rania lalu tersenyum lebar.
"Oke, tapi ada satu pasien postpartum hari pertama itu ya, tapi dia post SC, kamu pantau saja Tanda - tanda vital dan perdarahannya setiap setengah jam sekali." perintah kak Selfi yang langsung di iyakan oleh Rania. Dan beberapa saat kemudian, kakak - kakak senior itupun berlalu dari sana meninggalkan Rania seorang diri.
Beberapa saat kemudian, Rania lagi sibuk dan fokus mencatat status pas?-ien, sehingga tidak menyadari jika ada seseorang laki - laki yang lewat disana. Laki - laki itu berhenti sejenak, memandang Rania dengan tatapan kaget seakan tidak yakin dengan apa yang ia lihat. Namun, setelah itu iapun berlalu dari sana dan menuju kedalam kamar rawatan.
Selang beberapa menit kemudian, laki - laki yang tadi keluar dari kamar rawatan dan langsung berjalan kearah meja perawat. Rania yang masih sibuk mencatat, tidak menyadari akan kehadirannya. Sampai akhirnya, laki - laki itupun mengeluarkan suara dengan menyapanya.
"Permisi, buk bidan..." ucapnya dengan lirih seraya memandang wajah Rania erat - erat. Sontak saja karena panggilan mendadak itu, membuat Rania langsung mengangkat wajahnya.
"Iya, ada apa ya pak?" tanya Rania dengan ramah dan tersenyum lebar. Namun, senyumnya seketika menghilang saat melihat wajah laki - laki yang menyapanya itu. Wajah itu. . Wajah yang tidak asing, yang selalu mengisi hari - harinya.. Dulu.. Di masa lalu..
Jantung Rania seakan mau copot saat si lelaki itu tersenyum dengan sangat manis kearahnya, dan juga menatap dengan begitu mesra.
"Rania, kamu apa kabar?" tanyanya dengan ramah. Rania yang masih terpana dan belum sadar sepenuhnya dari keterkagetannya itu seakan tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya.
"Hai, kok termenung?" tanya laki - laki itu lagi seraya melambai - lambaikan tangannya kearah wajah Rania sehingga membuat Rania langsung tersadar dari keterpanaannya.
"Iya, iya.. Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Rania karena ia tahu lelaki ini adalah salah satu keluarga pasien rawatan yang ada didalam sana.
"Ngak ada Rania, aku lagi gak perlu bantuan apa - apa. Aku hanya ingin mengobrol dengan kamu saja." jawabnya masih dengan senyum - senyum tidak jelas sehingga mampu membuat Rania Hampir mual.
"Rania.. Kamu apa kabar? Kebetulan ya kita bisa ketemu disini." katanya lagi yang seakan mencari celah untuk mengajak Rania mengobrol. Namun, Rania hanya diam saja dan berpura - pura sibuk dengan kegiatannya yang tadi.
"Rania..." lelaki itu memanggilnya lagi.
"Sejak tadi aku menanyai kabar kamu lo, tapi kok gak dijawab - jawab sih?" tanya Laki - laki itu lagi.
"Ya seperti yang kamu lihat, aku baik - baik saja. Sudah ya, aku lagi sibuk kerja." kata Rania tanpa memandangnya.
"Rania.. Kamu sudah lama belum kerja dirumah sakit ini?" tanyanya lagi. Rania langsung menghembuskan nafas dengan kesal karena ditodong dengan pertanyaan terus - terusan.
Setelah itu, seorang wanita keluar dari salah satu kamar pasien dan memanggil lelaki tersebut agar segera masuk kedalam sana. Dan ia pun bergegas pergi, barulah Rania bisa bernapas dengan lega.
__ADS_1
Rania melirik sejenak kearah pintu kamar pasien satu - satunya yang ada diruang ini. Dan laki - laki dimasa lalunya itu tadi masuk kedalam sana. Ada hubungan apa ia dengan pasien tersebut? Apa jangan - jangan keluarganya, atau bahkan istrinya? Rania hanya mampu menduga - duga didalam hatinya. Meskipun demikian, Rania langsung saja mengambil status pasien tadi dan melihat nama pasien serta suaminya yang tertera disana. Dan akhirnya dari dalam status pasien tersebut, Rania membaca sebuah nama tak asing yang tertulis disana yaitu dengan nama Tio sebagai suaminya si pasien. Tidak salah lagi... Tio adalah laki - laki dari masa lalunya Rania. Dan sudah dapat dipastikan bahwa pasien post SC itu adalah Istrinya yang bernama Ningsih.
Perasaan Rania menjadi tidak karuan setelah ini, apa yang ia kerjakan pun menjadi tidak fokus dan terarah. Karena ia merasa harap - harap cemas jika didatangi lagi oleh Tio. Padahal Rania sudah lama tidak lagi memikirkannya, tapi pertemuannya tak terduga dengan Tio tadi seakan membuat kenangan masa lalu Rania kembali menari - nari dipelupuk matanya. Kenangan yang mampu mengiris hati dan perasaannya.
Rania melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30 malam dan sekitar setengah jam lagi waktu dinasnya selesai. Rania seakan tidak sabar untuk selesai dinas dan segera pulang, karena Rania tidak menginginkan pertemuan tuk kesekian kali lagi dengan laki - laki masa lalunya itu.
Beberapa menit kemudian, 2 orang bidan senior yang pamit mencari makan diluar tadi akhirnya datang juga. Mereka membawa makanan dan cemilan untuk dimakan bersama - sama. Disaat sedang menikmati makan tersebutlah, Tio keluar dari kamarnya dan menuju ke meja mereka.
"Buk bidan.. Infus istri saja sudah hampir habis, bisa tolong diganti?" ujarnya dengan suara yang lembut.
"Oh, sudah habis ya Pak. Oke sebentar lagi kami kesana menggantikannya." kata salah satu bidan senior itu.
"Iya, tapi kalau bisa.. Bidan yang ini saja yang gantikan infusnya ya.." katanya lagi seraya menunjuk kearah Rania. Dua orang Bidan senior tersebut langsung melongo heran namun demikian tetap juga mengiyakannya.
"Ran.. Pasiennya request kamu tu yang gantikan cairan infusnya," senggol senior Rania yang diakhiri dengan tawa kecilnya.
"Iya, Kak. Saya gantikan dulu Ya." kata Rania dengan suara pelan. Setelah itu, dengan langkah gontai Rania berjalan menuju kekamar pasien tersebut. Saat ia membuka pintu, ia melihat seorang wanita terbaring lemah diatas tempat tidur dan seorang laki - laki yang ia kenali berada di samping wanita tersebut, ia tampak sedang menyuapkan si wanita buah - buahan. Dan didekat jendela ada juga seorang wanita berbadan kurus yang Rania yakini adalah adik dari si istrinya Tio.
Rania mencoba untuk profesional menjalankan tugasnya sebagai bidan, ia menyapa dengan hangat istrinya Tio yang merupakan pasiennya dan juga begitu juga dengan Tio, Rania yang berpura - pura tidak kenal dengan Tio sebelumnya. Sebisa mungkin Rania buang jauh - jauh sejenak permasalahannya dengan Tio, ia tidak ingin membuat Istrinya Tio curiga terhadap dirinya.
Setelah mengganti cairan infus tersebut, Rania pun pamit keluar dengan sebelumnya melemparkan senyum hangatnya kepada mereka semua yang ada didalam kamar itu. Namun, Saat mata Rania melihat kearah Tio, ia mendapati Tio sedang melihatnya dengan tatapan penuh arti dan juga sebuah senyum yang terlihat aneh dan tentu saja Rania tidak suka melihat senyumannya itu. Maka Rania lalu buru - buru membuang wajahnya.
Rania menuruni anak tangga dengan buru - buru, sengaja ia tidak melewati lift karena lift saat itu sedang penuh. Rania agak malas berdesak - desakkan makanya ia memilih untuk turun menggunakan Lift saja.
Saat dipertengahan jalan menuju kebawah, tiba - tiba saja dari atas terdengar langkah kaki orang yang berlari kecil seakan menyusul Rania yang berjalan cepat menuju kebawah, namun Rania tidak begitu mempedulikannya makanya ia sedikitpun tidak menoleh kebelakang. Namun, Rania tidak lagi bisa cuek saat langkah kaki yang mendekatinya itu malah mengeluarkan suara dengan memanggil nama Rania.
"Rania, tunggu sebentar..!!" ucapnya setengah betteriak agar Rania mendengar suaranya. Rania tersentak untuk persekian detik, otaknya mencoba mencerna siapa yang memanggilnya itu. Dan Rania pun tersadar bahwa suara itu milik siapa. Rania sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya, ia tetap berjalan dan bahkan setengah berlari menjauh dari seseorang yang ia tahu siapa itu. Sampai akhirnya, lelaki yang berlari di belakang Rania itupun menahan tubuh Rania dengan memegang bahunya. Tentu saja hal itu membuat langkah Rani langsung terhenti sesaat.
"Aku memanggil kamu, Rania. Kenapa kamu berpura - pura tidak mendengar?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.
"Maaf aku sedang buru - buru, aku ingin segera pulang." ujar Rania dingin lalu dengan cepat menggeser tangannya dari batu Rania.
"Bisa kita bicara sebentar, Rania? Tidak lama kok, sebentar saja." pintanya ke Rania.
"Aku sudah katakan jika aku buru - buru mau pulang, aku gak punya waktu untuk berbicara sama kamu. Maaf." tolak Rania dengan halus.
__ADS_1
"Rania.. Aku ingin mintak maaf sama kamu, maafkan aku. Aku sungguh menyesal atas apa yang pernah terjadi diantara kita." ucapnya lagi dengan Wajah penuh rasa bersalah.
"Ngak ada lagi yang perlu diberi dan diminta maafkan, ngak perlu lagi." kata Rania seraya tersenyum tipis dan setelah itu kembali berlari kebawah. Tio masih tetap mengikutinya dari belakang dan bahkan berbicara yang aneh - aneh ke Rania.
"Rania, aku menyesal telah meninggalkan kamu. Andaikan waktu bisa diputar kembali, pasti aku tidak akan meninggalkan kamu, Rania." tuturnya dengan sungguh - sungguh, namun penuturannya barusan itu kembali membuat Rania hampir muntah. Rania tidak suka mendengar kata - kata itu.
"Jangan berandai - andai, Tio. Aku sungguh muak mendengarkannya." ketus Rania akhirnya dengan Wajah yang mulai memerah karena menahan marah.
"Iya, aku tahu Rania.. Kesalahan aku sungguh fatal dan meninggalkan luka dihati kamu. Makanya aku meminta maaf, maafkan aku yang telah menyakiti kamu.." kaya Tio lagi dengan memohon.
"Tidak ada yang menyakiti dan tersakiti, semua terjadi atas kehendak Allah. Dan aku sudah mengikhlaskannya bahkan mensyukurinya. Jadi, stop meminta maaf ke Aku, Tio. Gak ada gunanya lagi." ketus Rania masih dengan nada marah dan kesal. Namun, Tio tidak menyerah begitu saja. Ia masih tetap mengikuti Rania dan mengoceh panjang lebar. Rania yang geram, kemudian langsung mempercepat langkah kakinya agar segera sampai kebawah.
Akhirnya Rania sudah sampai dibawah, lalu dengan langkah cepat ia keluar dari rumah sakit. Rania berharap sudah ada angkot yang menunggunya disana agar ia tidak lagi diikuti oleh Tio. Namun, Naas tidak ada lagi angkot yang berjejeran diluar rumah sakit sehingga membuat Rania mau tidak mau menunggu disana dengan perasaan gondok.
"Rumah kamu dimana, Rania? Biar aku antarkan kamu pulang." kata Tio dengan menawarkan diri. Akan tetapi, Rania hanya diam saja. Ia sama sekali tidak berselera menanggapi tawaran dari Tio itu.
"Rania, kamu kenapa sih? Aku pengen bicara baik - baik sama kamu, tapi dari tadi kok malah dicuekin." protes Tio yang terus - terusan mengejar Rania dari belakang. Ia berusaha menyamakan langkah kaki mereka, namun tidak berhasil karena Ranja melangkah lebar - lebar agar menjauh dari Tio.
"Rania..." panggil Tio lagi dan kali ini kembali menyentuh bahu Rania. Sentuhan untuk kedua kalinya ini, sungguh membuat Rania menjadi marah besar. Ia berhenti lalu menoleh kebelakangnya, dipandanginya wajah Tio dengan tajam dan garang.
"Jangan kau sentuh aku ya Tio. Aku gak suka." kata Rania dengan nada marah.
"Iya, maaf - maaf Rania. Aku gak sengaja, makanya aku minta kamu berhenti sebentar dan beri waktu untuk aku berbicara sama kamu." katanya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Tio. Lebih baik kamu kembali kerumah sakit dan jaga istri kamu itu, gak ada gunanya kamu mengikuti aku sampai kesini. Karena aku tidak akan mau berbicara sama kamu lagi, paham?" ujar Rania dengan membesarkan matanya.
"Bentar saja Rania, hidup aku tidak bakalan tenang jika tidak dapat kata maaf dari kamu.. Karena itulah, aku mohon beri aku satu kesempatan untuk..."
"Rania..." belum sempat Tio menyelesaikan kalimat yang ia ucapkan, tiba - tiba saja dari arah belakang mereka terdengar suara seorang laki - laki yang memanggil nama Rania. Dan seketika itu pula mereka melihat ke sumber suara...
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.