Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 33 (JODOH DARI ALLAH)


__ADS_3

Fitra merebahkan tubuhnya ketempat tidurnya. Ia menghidupkan nasyid kesukaannya sambil memejamkan matanya.


‘Duhai pendampingku… akhlak mu permata bagiku… buat aku makin cinta…’


Fitra mengikuti lirik lagu tersebut, suaranya terdengar merdu ditelinga, tidak kalah merdu dengan penyanyi aslinya. Ternyata Fitra memiliki suara yang bagus dalam menyanyi akan tetapi ia tidak pernah mengembangkan kelebihannya yang satu itu, palingan suara merdunya itu hanya menghiasi kamarnya dan didengar oleh kedua orang tua dan juga pembantu.


Fitra merupakan anak tunggal. Terlahir dari keluarga yang berada, Papanya adalah direktur dirumah sakit Sakinah tempat kini ia berkerja. Sebenarnya Fitra bisa saja menjadi Kepala Ruangan (KARU) di poli rawat inap tempat ia bekerja atau menggantikan posisi ayahnya suatu saat nanti. Tapi bukan Fitra namanya jika ia hanya menggantungkan semuanya kepada Papanya. Dia tidak mau di beda-bedakan. Dia ingin seperti perawat yang lainnya, yang memulai semuanya dari nol. Meskipun  sudah bekerja hampir satu tahun Fitra masih belum mau diangkat sebagai Kepala Ruangan disana. Dia memberikan kesempatan bagi temannya yang lebih senior dan lebih berpengalaman dari dirinya.


Sedangkan Mamanya adalah seorang dosen yang mengajar di sebuah Institusi kesehatan. Mungkin memang sudah keturunan dari keluarganya yang membawa Fitra menjadi berkiprah dibidang kesehatan juga. Meskipun kedua orang tuanya berkerja dan berkarier, tapi kasih sayang dan perhatian untuk Fitra tidak berkurang sedikitpun, karena selain Fitra adalah anak satu-satunya, kedua orang tuanya juga memiliki pemahaman islam yang baik. Tentu hal itu didapati langsung dari Fitra sejak ia dipesantren hingga saat ini. Karena bagi Fitra keluarga adalah nomor satu yang harus didakwahi. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk mendakwahi orang terdekat dari kita.


Seperti sabdanya ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS 26:214).


Fitra kembali hanyut dalam lirikan lagu yang ia senangi itu. ‘Tetapkan selalu janji awal kita bersatu, bahagia hingga ke surga…. ’Fitra membuka matanya, ia langsung berdiri dan menuju cermin. Dipandangi wajahnya yang tampan itu. Sambil tersenyum dia berbicara pada dirinya sendiri.


“Tidakkah kau rindu dengan sosok pendampingmu Fitra?”


Fitra tertawa kecil. Ia jadi teringat ancaman kedua orang tuanya bulan lalu. Ancaman tanda sayang mereka terhadap Fitra. Mereka menginginkan Fitra untuk segera menikah. Mereka merindukan kehadiran bidadari kecil yang akan menghiasi rumah besar mereka ini.


“Ingat umur kamu Nak, apalagi yang kamu pertimbangkan. Umur dah matang, agama udah bagus sekali. Materi, Alhamdulialh sangat cukup… apalagi? Kamu pun tidak jelek, bayi baru lahir aja tau kalau kamu itu tampan…” Kata mamanya kala itu.


“Pokoknya bulan depan… Papa tidak mau lagi dengar alasan kamu… kamu harus bawa calon biadadri mu itu kerumah ini…” Papanya menambahkan.


Fitra melihat kalender yang tergantung didinding kamarnya. Tinggal menghitung hari lagi bulan baru. Dan Fitra yakin kedua orang tuanya pasti menagih keinginan mereka bulan lalu. Sebenarnya siapa yang tidak ingin menikah. Jika ditanya sudah siap, Fitra sudah siapa lahir batin. Tapi masalahnya Fitra terlalu berhati-hati dalam menetapkan pilihannya. Fitra ingin pernikahannya nanti bukan sekedar pernikahan semata, tapi harus ada unsur ibadah juga didalamnya, dia ingin bidadari yang menemani dia kelak bukan hanya didunia saja tapi juga diakhirat nanti.

__ADS_1


“Pernikahan yang barakah.. pernikahan yang abadi.. pernikahan yang mengantarkan kepada keridhoan Ilahi.. pernikahan yang menjadi saksi akan cinta kedua insan karena Illahi…”


Itulah sebuah kutipan yang Fitra tulis didalam bukunya. Kata-katanya yang ia dapat sendiri.


Fitra meniatkan diri untuk bangun disepertiga malam nanti. Apa salahnya dia sholat Istikharah. Minta petunjuk akan jodohnya. Jika memang sudah dekat, ia ingin diperjelas siapa? Agar ia bisa segera menjemput bidadarinya itu.


Ketika sepertiga malam tiba, seperti niatnya tadi siang Fitrapun langsung melaksanakan ritual sholat istikharahnya. Ia memulainya dengan 2 rakaat, menyambungnya hingga 8 rakaat dan menutupnya dengan witir 3 rakaat. Pada rakaat terakhir itulah ia seakan diberikan sebuah petunjuk tentang siapa yang akan menjadi pendampingnya kelak. Fitra melihat dalam bayangan matanya saat sholat ada 2 sosok wanita yang hadir. Wanita yang pertama bergamis putih, berwajah bersih dan bersinar, Fitra kenal siapa wanita itu. Tidak salah lagi, dia Sofwatun Nayla. Sofwa berada dibarisan terdepan, senyumannya manis sekali, Fitra tidak dapat menyembunyikan kekaguman akan pesona Sofwa yang begitu cantik didalam bayangannya itu.


Dan kini, penglihatan Fitra dalam bayangan matanya beralih kepada sosok wanita yang kedua. Tepat berada dibelakang Sofwa. Wanita bergamis hijau tertangkap oleh indranya, warna hijau itu memancarkan keindahannya tersendiri, membuat Fitra agak sedikit silau untuk melihat wajahnya. Agak samar-samar tapi terlihat juga siapa dibalik sinaran hijau itu. Oh.. ternyata dia Rania Nazwa, si penulis buku Melukis Cinta di langit biru.Senyumannya tidak kalah menariknya dari Sofwa. Begitu memikat hati dan menyejukkan kalbu.


Perlahan-lahan Fitra membuka matanya. Lalu Beristigfar beberapa kali atas apa yang baru saja ia saksikan dalam sholat dirakaat terakhirnya ini. Fitra semakin bimbang, kenapa dia melihat 2 wanita sekaligus dalam sholat istikharahnya yang pertama ini? Tujuannya kan untuk ditunjukkan siapa jodohnya, tapi setelah ditunjukkan malah membuatnya bingung. Karena bukan satu wanita yang ia lihat tapi dua wanita sekaligus, tidak mungkin kan dua-duannya jodohnya?


@@@


“Gimana sayang, udah bisa kamu kenalkan wanita itu ke kami?” Tanya Mamanya Fitra, membuka pembicaraan mereka pagi itu. Fitra yang hendak memasukkan suapan pertama nasi gorengnya itu langsung meletakkan kembali sendoknya dipiring.


“InsyaAllah, sudah. Tapi, sabar ya Ma.. Pa… beri Fitra waktu untuk mengenalkannya sama Mama dan Papa” Jawab Fitra akhirnya, karena dia tidak mau lagi membuat orang tuanya kecewa jika ia bilang belum ada, lagi pula toh dia sudah mendapatkan gambaran siapa yang akan dia nikahi meskipun masih membingungkan perasaannya. Fitra yakin dia hanya butuh sekali lagi sholat istikharah untuk memilih. Kali ini dia yakin hanya ada satu wajah yang akan dilihatnya. Antara Sofwa dan Rania. Yach. Fitra begitu yakin.


Ketika dirumah sakit, kebetulan siang itu ia satu dinas dengan Nia. Tanpa ia duga Nia bercerita kepadanya tentang Rania Nazwa. Nia bilang kalau wanita itu mencarinya saat dirinya libur 2 hari kemaren.


“Iya Fitra, dia cariin lu… ngak tau kenapa?”


“Masa’?” Sulit Fitra untuk mempercayainya, tapi Nia berani bersumpah bahwa dia tidak bohong.

__ADS_1


“Dia bilang, kemaren dia lupan ngucapin terima kasih sama kamu… makanya dia mau ngucapin langsung sambil nitip sesuatu tuch untuk kamu…” Tunjuk Nia pada sebuah bingkisan warna hijau yang terletak diraknya Fitra.


“Apa ini?”


“Buka aja. Aku mana tau”


Dengan penuh penasaran Fitra membuka bingkisan itu. Ternyata sebuah buku. Buku yang lagi-lagi bersampul hijau dengan judul ‘ketika cinta karena Ilahi…’dan disana ada sebuah kertas kecil yang dilipat. Fitra membuka lipatan tersebut.


‘Ini buku ketiga ku. Belum dipasarkan Loh… kamu lah orang pertama yang memilikinya…’ itu isi dari kertas yang dilipat itu. Senyuman mengembang dibibir Fitra, rasa bahagia mengalir disetiap nadinya. Meskipun Fitra baru mengenal Rania beberapa hari yang lalu, akan tetapi ia merasa telah kenal dekat dengan Rania melalui tulisan-tulisannya yang telah ia baca. Kata-katanya melalui tulisan itu seakan berbicara langsung kepadanya, dia bisa merasakan kemistri isi dan makna yang tersirat dari tulisan Rania. Begitu menyegarkan dan mencerahkan pikirannya.


“Terus dia bilang apa lagi?” Tanya Fitra kepada Nia yang sibuk menulis laporan.


“Ehemmm… mau tau aja atau mau tau bangets….hehehe….” Nia mengerjai Fitra yang terlihat penasaran sekali.


“Serius donk Nia…” kata Fitra agak memohon.


“Iya… iya…  gitu aja udah memelas. Dia ngak ada ngomong apa-apa lagi kok. Setelah itu dia pamit.” Ucap Nia.


Fitra membuka sampul hijau yang menutupi buku Rania tersebut. Ia membuka lembaran demi lembaran. Dia jadi tidak sabar untuk membaca buku ini. Kelihatannya sangat menarik sekali. Ketika bab pertama dibukanya, tiba-tiba sebuah ketukan halus menyadarkan hatinya. Ia melirik kertas kado berwarna hijau tadi kemudian buku bersampul hijau yang ia pegang saat ini, ia kaitkan dengan bayangannya saat isthikarah kemaren. Rania berbaju hijau juga. Ada apa dengan warna hijau? Apakah Rania… jodoh dari Allah untuk dirinya? Jika memang iya. Bismillah… aku akan segera menjemputmu Rania… ucap Fitra dalam hatinya.


****


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2