
Fitra merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Kepalanya saat ini terasa berat sekali. Masih terniang - niang jelas ditelinganya sebuah pengakuan dari Sofwa tadi sore. Sebuah pengakuan yang membuat dadanya seakan sesak tak tertahankan.
“Sebenarnya... aku ini, Sofwatun Nayla... memang masih gadis... akan tetapi... aku tidaklah perawan lagi...”
Kalimat itu.. sungguh membuat hati Fitra hancur lebur. Tidak pernah terbayangkan olehnya sedikitpun tentang itu. Tapi dibalik itu semua Fitra merasa salut juga terhadap Sofwa yang telah berani jujur mengatakan aibnya tersebut, padahal Sofwa tahu apa konsekuensi terbesar yang akan ia terima jika Fitra mengetahui rahasianya tersebut. Itulah yang membuat Fitra semakin yakin kepada Sofwa. Hatinya yang sempat hancur, kembali menyatu. Dan akhirnya menerima dengan ikhlas akan kekurangannya itu.
“Jika itu kenyataannya yang harus ku terima dan yang harus ku jalani. Bismillah……… aku siap Sofwa. Aku siap” Ucap Fitra tegas dan lantang saat itu.
Sungguh luar biasa kalimat yang keluar dari Fitra tersebut, .sehingga membuat Sofwa tidak mampu menahan tangis kebahagiaannya. Sofwa terduduk dilantai, berkali-kali kata-kata syukur keluar dari mulutnya begitu juga dengan Raihan. Ucapan terimakasih dihujaninya ke Fitra. Karena kali ini Fitra menerima Sofwa bukan atas paksaan Raihan lagi tapi murni dari ketulusannya sebagai seorang lelaki sejati. Lelaki yang hanya mengharapkan keridhoan Allah. Menyaksikan pemandangan itu membuat hati Fitra semakin teriris. Tidak mungkin ia mengahancurkan kebahagiaan kedua saudara kembar itu. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan juga baginya.
“Ya Allah… aku ikhlas karena Mu... Semoga suatu saat Engkau menggantikan keikhlasan ini dengan sebuah kebahagiaan nantinya” pinta Fitra didalam hati.
...@@@...
Andre kembali datang menemui Sofwa. Kali ini ia nekat datang ke kampusnya Sofwa. Dari kejauhan ia melihat Sofwa. Sofwa berjalan seorang diri menuju parkiran. Andre telah mendapat kabar bahwa Sofwa sudah wisuda dan sekarang diterima sebagai asistennya dosen di kampusnya tersebut.
Andre memperlaju langkahnya menyusul Sofwa hingga kini Andre tepat berdiri beberapa centi saja dibelakang Sofwa.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Sofwa…” Andre mengucapkan salam dengan suara pelan. Meskipun pelan tetap terdengar juga oleh Sofwa karena jarak mereka sangatlah dekat. Spontan Sofwa membalikkan badannya. Senyuman hampir mengembang dibibirnya, dia hendak membalas salam dari orang tersebut karena ia fikir yang memanggil namanya adalah salah satu temannya. Tapi, alangkah terkejutnya ia ketika melihat sosok Andre berdiri tepat dibelakangnya. Andre tersenyum manis kearah Sofwa. Dan lagi-lagi dengan penampilan yang sama seperti kemarin. Ia berbaju koko dan berkopiah. Bukannya membalas senyuman itu, Sofwa malah menatap tajam kearah Andre. Matanya yang bulat itu semakin besar. Terlihat jelas amarah yang tersimpan dimata bulatnya Sofwa.
“Mau apa kamu?” Tanya Sofwa dengan nada yang tidak bersahabat.
“Maaf Sofwa, aku tidak bermaksud mengganggu kamu.. aku cuman…”
“Cuman apa?” Potong Sofwa langsung dengan setengah membentak. Andre langsung terdiam.
“Sudahlah Andre. Aku ngak mau lagi dengar apa-apa dari kamu. Aku minta kamu pergi dari hadapanku bahkan dari kehidupanku sekarang juga.” usir Sofwa dengan suara yang tegas.
“Tidak adakah harapan untuk aku lagi Sofwa? Apakah Tidak ada lagi kesempatan untukku Sofwa? Aku benar-benar sudah berubah, Aku mohon kepada mu beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan aku terhadap kamu" Ucap Andre dengan setengah memohon.
“Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus kesalahanku itu Sofwa?” Tanya Andre lagi.
“Oohh.. jadi kamu mau tau? Ngak banyak-banyak kok Ndre. Cukup satu hal aja. Aku minta kamu pergi dan jangan pernah kembali lagi” Kata Sofwa.
“Bagaimana aku bisa pergi dengan tenang jika kamu belum menyisakan sedikit saja kata maaf untukku Sofwa… Bagaimana aku bisa pergi? Aku… aku memang laki-laki bejat, laki-laki jahat dan apalah lagi namanya… aku tau Sofwa… tapi yang harus kamu ketahui tidak selamanya seorang penjahat itu akan menjadi penjahat selama-lamanya… dan tidak selamanya juga seorang yang baik prilakunya akan menjadi baik selama-lamanya.. roda kehidupan itu selalu berputar Sofwa, kadang kita berada diatas dan kadang kita berada dibawah... dan itu terjadi pada kehidupanku.. bagaimana nasib membawa ku dulunya menjadi orang yang buruk akhlaknya… berapa banyak orang yang tersakti oleh perbuatanku.. tapi nasib baik masih menyertaiku.. tanda Tuhan masih peduli terhadapku… Ia ketuk pintu hati yang sudah lama terkunci ini.. Ia lunakkan hatiku… Ia buka pikiranku… dan akhirnya aku kembali. Kembali kefitrahku sebagai seorang Hamba.. Sofwa, aku.. sungguh masih sangat menyayangimu.. meskipun saat ini kamu membenciku, muak padaku… aku tidak peduli, aku akan tetap menyayangimu sebagaimana kamu menyayangiku dulunya… Aku mohon… meskipun kedengarannya tidak pantas.. tapi, akan tetap aku katakan…bukalah hatimu untuk yang sekian kalinya Sofwa… agar bisa menerima aku yang kotor ini.. aku yang berlumuran dosa ini… aku yang ingin berubah.. ingin kembali merajut cinta kasih dengan mu dalam ikatan yang suci…maafkan aku Sofwa….” Jelas Andre sambil berlinangan air mata. Sofwa hanya diam sambil menahan air matanya tapi ia tetap pada pendiriannya. Baginya, Tidak ada kata maaf untuk Andre.
__ADS_1
...@@...
Hari pernikahan Sofwa dan Fitra sudah semakin dekat. Segala hal sudah dipersiapkan. Undangan pun sudah dicetak. Fitra juga sudah melakukan lamaran resmi dengan membawa kedua orang tuanya kerumah Sofwa. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dibenak Sofwa. Perasaannya menjadi bimbang. Itu semua karena kehadiran Andre.
Andre tidak bosan-bosan menemuinya, meminta maaf kepadanya. Terkadang Sofwa bosan dan muak. Tapi, entah kenapa itu hanya sesaat saja setelah itu hatinya luluh lantah. Ia jadi terbiasa dengan kedatangan Andre yang tiba-tiba. Baik di kampus maupun dirumah. Tapi syukurlah kalau dirumah Andre tidak berani menampakkan langsung dirinya kerumah karena Andre tidak mau memancing amarah Raihan lagi. Palingan ia melihat Sofwa dari seberang jalan. Melambaikan tangannya kearah kamar Sofwa yang kebetulan memang menghadap ke jalan. Sofwa selalu memalingkan diri, ia tidak mempedulikan Andre. Meskipun rasa penasaran selalu menyelimuti hatinya. Hatinya kadang bertanya-tanya juga. Apakah Andre hari ini ada diluar sana? Menunggu dirinya? Sofwa merasa heran pada dirinya sendiri yang terkadang menunggu kehadiran lelaki itu dengan hati yang gelisah.
“Maafin aku Sofwa… izinkan aku kembali masuk kedalam kehidupanmu.. memperbaiki kesalahan ku.. menebus dosa-dosaku.. izinkan aku tuk mencintaimu lagi… izinkan aku…”
Sofwa menemukan sebuah kertas bertulisan kata-kata itu tepat di jendela kamarnya. Sofwa yakin itu pasti Andre yang punya kerja. Sofwa menarik nafas panjang. Apa yang harus ia perbuat lagi?
Semakin ia menyuruh lelaki itu menjauh dari kehidupannya, semakin gencar juga lelaki itu mendekatinya. Meskipun Sofwa mengeluarkan kata-kata kasar, namun sekalipun Andre tidak membalasnya. Terkadang terbesit juga rasa tidak tega terhadapnya, Tapi... Sofwa buru-buru menghapus hal itu dari pikirannya. Sofwa harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak lagi memberikan hatinya kepada lelaki yang pernah meninggalkannya.
...🌺🌺🌺🌺...
Bersambung...
.
__ADS_1
.
.