
Akhirnya hari dimana Rania dan Fitra berangkat untuk berbulan madu pun tiba. Pagi - pagi kedua orang Fitra ikut pergi ke bandara untuk mengantarkan Fitra dan Rania keluar kota, tempat yang bagus dan indah menurut mereka untuk menghabiskan waktu berdua.
"Kalian hati - hati ya disana, Dan Fitra.. Kamu jagaian Rania ya, bidadari kamu yang cantik jelita ini. Jangan sampai dia kenapa - napa. " kata Mama Fitra dengan jelingan matanya itu memandang Rania dan Fitra secara bergantian.
"Tentu donk Ma, Mama jangan risau. Fitra pasti akan selalu menjaga Rania." ujar Fitra seraya menggenggam erat tangan istrinYa itu.
Beberapa saat kemudian, jadwal keberangkatan mereka pun tiba. Fitra dan Rania bergantian bersaalaman dengan orang tuanya Fitra dan setelah itu barulah mereka menuju kedalam pesawat.
Diperjalanan menuju ke pesawat, Fitra tidak melepaskan tangan Rania yang sejak tadi ia pegang. Rania merasa nyaman tangannya dipegang oleh Fitra, ia merasa seakan dilindungi oleh suami shalih nya itu. Perhatian - perhatian yang Fitra berikan ke dirinya, sekecil apapun itu benar - benar mampu membuat hati dan perasaan Rania tersentuh. Rania merasa bersyukur memiliki Fitra yang begitu menyanyanginya dengan sepenuh hati.
"Sayang, kenapa? Kelihatannya kamu gugup? Ada apa? Cerita donk sama kamu, apa yang kamu cemaskan?" tanya Fitra sesaat mereka sudah berada didalam pesawat. Daan ketika itu pula, wajah Rania berubah cemas dan agak takut. Keringat dingin pun mulai menjalani tubuhnya.
"Ya, aku memang agak takut sih. Karena.. Jujur, ini baru pertama kalinya aku naik pesawat. Sebelumnya aku gak pernah naik pesawat, Fitra." kata Rania yang langsung ditanggapi dengan sebuah senyuman manis dari Fitra.
"InshaAllah, aman kok sayang. Yang penting kita sama - sama berdoa semoga dalam lindunganNya. Oke? Kamu jangan risau, kan ada aku disamping kamu." Kata Fitra yang kini malah membawa tangan Rani yang ia pegang sejak tadi mendekati wajahnya lalu menciumnaya dengan lembut.
"Ya, Aamiiin.." lirih Rania dengan senyum terpaksa karena perasaan takut itu masih ada.
Perjalanan menggunakan pesawat memakan waktu lebih kurang 45 menit. Dan akhirnya mengantarkan mereka dikota tujuan tempat berbulan madu.
Setelah turun dari pesawat, dan kini mereka berdua pun sudah berada di luar bandara. Menunggu taksi yang akan membawa mereka ke hotel yang sudah di boking sebelumnya oleh Papanya Fitra.
"Nah, disini lah kita nginap untuk 6 hari kedepan". kata Fitra saat mereka sudah berada dikamar hotel yang lebih mirip dengan villa.
"Wow.. Ini bukan seperti hotel lah." kata Rania yang merasa takjub. Karena memang, tempat mereka tinggal ini seperti kamar Villa yang memiliki fasilitas yang lengkap. Kamar tidur, ruang tengah, ruang tamu, dapur maupun kolam renang ada didalamnya. Jangakan seminggu, untuk tinggal di sini berbulan - bulan pun sepertinya Rania akan betah. Pikir Rania didalam hatinya, karena semua interior rumah dan juga pemandangan didekat sana sangat bagus dan indah.
"Tahu dari mana ada tempat seindah gini, Fitra?" tanya Rania yang saat itu sedang melihat dari jendela kamar mereka yang terletak di lantai atas. Ia melihat pemandangan di luar sana yang begitu menakjubkan. Hamparan laut biru langsung tertangkap oleh mata Rania saat melihat keluar jendela
"Tempat ini rekomendasi dari teman aku, dulu dia juga berbulan madu disini juga," jelas Fitra yang lagi duduk dipinggir ranjangnya.
__ADS_1
"Bagaimana Rania? Kamu suka gak dengan tempat ini?" tanya Fitra lagi.
"MasyaAllah, Fitra. Aku suka donk, suka pakai banget malahan. Dan aku rasa, aku bakalan betah deh berada disini." kata Rania dengan mata yang berbinar - binar.
"Kalau kami betah dan pengen lama disini, kita tambah saja cuti kita sampai 10 hari." celetuk Fitra yang langsung di tolak Rania.
"Ngak - ngak Fitra, kita tetap pada rencana awal saja." tutur Rania namun matanya masih menyelusiuri setiap sisi yang ada didalam ruangan tersebut.
"Rania sayang, kita makan siang dulu yuk." ajak Fitra dan kemudian mereka pun turun kebawah.
"Kita makan apa? Apa ada bahan - bahan makanan dikulkas? Biar aku aja yang masak," kata Rania menawarkan diri.
"Untuk kali ini kita pesan saja, karena kita kan baru sampai dan kecapean juga. Nantik sore barulag kita belanja bahan - bahan makanannya ya." ujar Fitra yang langsung saja di iyakan oleh Rania.
Maka setelah itu mereka pun makan siang, kebetulan makanan sudah dipesan Fitra via telpon. Mereka makan dengan keadaan hening dan tampak sangat menikmati makanan yang enak dan mewah itu.
"Alhamdulillah, kenyanhnya.. Makanan enak ya." komentar Rania setelah ia selesai makan.
"Tentu boleh donk, tapi ya enak gak enak telan aja ya, hehe.." kata Rania denagn bercanda.
"Aku gak percaya gak enak, karena aku tahu mana mungkin tega kamu memberikan suami mu ini makanan yang tidak enak." ujar Fitra lagi. Dan Rania pun hanya tersneyum saja.
Malam hari pun tiba, seperti janjinya tadi siang bahwa Rania akan memasakkan makanan spesial untuk suaminya itu. Setelah selesai, Rania membawa makanan dan juga minuman ke teras villa didelat kolam renang. Mereka makan malam disana, menikmati udara malam yang begitu sejuk dan dihangatkan dengan makanan buatan Rania.
Mereka makan dengan lahap dan sekali - sekali berbincang dengan santai.
"Habis makan ini, kamu mau jalan - jalan keluar sebentar gak sayang? Kamu belum ngantuk kan? " tanya Fitra yang mengajak Rania untuk keluar.
"Belum, Fitra. Bolehlah.. Kita jalan - jalan kemana?" tanya Rania denahn antusias.
__ADS_1
"Ya sekitaran sini saja, melihat keadaan malam dikota ini. Sekalian kita singgah ke supermaket sebentar untuk beli cemilan ya." kata Fitra yang langsung di oke kan oleh Rania.
Setelah selsai makan dan betistirahat sejenak karena Fitra begitu kekenyangan.
"MasyaAllah. Masakan kamu memang enak Rania, kalah jauh dengan masakan yang kita pesan tadi siang." puji Fitra seraya mengelus - elus perutnya yang kekenyangan.
"Alhamdulillah, kalau kamu suka masakan aku Fitra." kata Rania penuh dengan rasa syukur.
Sesaat kemudian, mereka keluar dari Villa. Mereka berjalan beriringan menyelusuri sekitaran Villa tersebut dengan berjalan kaki. Suasana malam hari itu lumayan ramai juga. Banyak orang - orang yang berjalan kaki menikmati keindahan tempat tersebut, ada juga yang sekedar nongkrong dan membeli cemilan ataupun jajanan yang banyak dipinggir jalan.
"Rania, aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Fitra. Saat itu mereka sedang duduk dipinggir jalan sambil menikmati cemilan.
"Iya, tanya saja. Mau tanya apa, Fitra?" tanya Rania setelah itu meniup - niup cemilan yang masih panas itu.
"Tentang laki - laki yang mengikuti kamu saat keluar dari rumah sakit waktu itu, siapa ya dia? Katanya kamu akan menceritakan tentang dia jika kita sudah menikah." kata Fitra dengan hati - hati.
Mendengar pertanyaan dari Fitra barusan, membuat Rania berhenti mengunyah makanannya.
"Oh ya, yang itu.." kata Rania setelah itu berhenti sejenak untuk minum.
"Kemarin kan aku sempat bilang kalau dia itu cuman masa lalu, dan.. Apa kamu memang ingin tahu tentang masa lalu aku Fitra?" tanya Rania seraya memandang wajah Fitra yang juga sedang memndangnya.
"Kenapa Tidak, ya bukan berarti apa - apa sih Rania. Aku cuman ingin kamun terbuka sama aku, gak ada yang drahasia - rahasiakan. Kita kan sudah suami istri. Sebenarnya aku pun tidak peduli apapun itu masa lalu kamu denagn laki - laki itu, ya aku cuman sekedar ingin tahu saja setelah itu ya sudah.. Tidak akan berpengaruh apappum untuk aku." kata Fitra.
"Baiklah Fitra jika kamu memang ingin tahu, aku akan bercerita." putus Rania akhirnya.
"Aku siap mendengarkannya." kata Fitra seraya tersenyum tipis.
Setelah itu, Rania pun mulai bercerita tentang masa lalunya.. Masa lalu yang suram bersama laki - laki yang bernama Tio itu. Fitra mendengarkan cerita Rania denagn wajah yang serius.
__ADS_1
...❣❣❣❣...
BERSAMBUNG....