Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 6 (DUA PROFESI YANG BERBEDA)


__ADS_3

Tepat pukul 03.00 dini hari Rania terbangun. Kali ini bukan alarm yang membangunkannya, melainkan mimpi buruk. Ya! Barusan dia mimpi lagi, mimpi yang sama dengan beberapa hari yang lalu.


Berkali-kali Rania beristighfar dan berdoa dalam hati, semoga ini hanya mimpi belaka. Semoga ini tidak menjadi kenyataan karena sungguh dia sangat takut kembali kepada kesesatan yang dulu, dia takut kembali melangkah dan masuk kelubang yang sama, kelubang yang salah lagi. Karena pilihan dan komitmennya saat ini adalah peluang untuk dia jauh dari itu semua dan ia pun telah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.


Rania meraih hp yang terletak diatas meja riasnya, ada sebuah sms yang belum dibacanya. Mungkin sms itu masuk saat dia sudah tidur, maklumlah karena aktifitasnya di siang tadi cukup melelahkan sehingga ia meniatkan untuk segera tidur setelah isya’, yang mana  merupakan sunnah Rasul juga agar diberi kemudahan bangun lagi disepertiga malam untuk bermunajat kepada Allah dengan bertahajud.


‘Asslamu’alaikum, ukhti.. halaqohnya dimajukan jam 8 pagi ya, syukron. Jazakillah.’


Sms singkat dari kak Sarah, Musrifahnya Rania.


Sebenarnya jadwal halaqoh Rania hari minggu jam 10 pagi, tapi dimajukan mungkin saja kak Sarah ada keperluan lain, pikir Rania tanpa membalas sms tersebut.


Rania segera bangkit dan langsung mengambil wudhu. Ia melaksanakan sholat tahajud 8 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Dalam doa panjangnya di sepertiga malam itu ia selalu meminta ketenangan, minta kemudahan untuk menjalani segala hal yang menjadi tantangan hidupnya kedepan, baik itu merupakan ujian maupun cobaan. Dia ingin menjadi seorang muslimah kaffah. Itulah cita-cita yang selalu ia usahakan, meskipun saat ini masih dalam proses.


Setelah itu Rania tidak langsung tidur. Ia melanjutkan tulisannya. Ya hobby sekaligus penghasilannya. Sebenarnya sudah sejak SMA Rania senang menulis, baik itu cerpen maupun novel cuman terkadang waktu Rania untuk menulis itu tergantung mood. Tapi, saat ia kuliah inilah baru ia sadari bahwa menulis bukan hanya sebuah hobby semata, melainkan bisa dijadikan kerja sampingan yang dapat menghasilkan materi yang Alhamdulilah bisa untuk kebutuhannya sehari-hari, setidaknya dia tidak lagi meminta kepada orang tuanya, dia bisa meringankan sedikit beban orang tuanya.


Selain menghasilkan materi, ternyata tulisan Rania ini bisa dijadikan media dakwah untuk para pembacanya. Sejak aktif dipengajian dan berkomitmen untuk menjadi aktivis dakwah, semenjak itulah ia mengubah isi tulisannya menjadi tulisan yang ‘berisi’ dan ada ilmunya. Jadi, bukan sekedar hiburan semata. Dia selalu berharap setelah selesai membaca buku ataupun novelnya para pembaca mendapat ‘sesuatu’ yang tentunya bermanfaat untuk dirinya. Begitulah salah satu cara Rania  berdakwah, dalam menyiarkan Agama Islam.


Setelah itu, Sekitar jam setengah 8 pagi Rania keluar kamar. Ia sudah siap-siap untuk berangkat. Namun, Diruang tengah ia berpapasan dengan Jeni yang lagi duduk manis didepan TV sambil menikmati mie instan.


“Mau kemana Rania, masih pagi ne?” Tanya Jeni agak sinis. Rania dapat menangkap dari nada pertanyaan Jeni yang agak meninggi.


“Jadwal Halaqoh ku dimajukan jadi jam 8” Jawab Rania.


“Oohh.. pergi pengajian yang ngak jelas itu ya?” Jeni mencibir.


Yah!! Dari 6 teman satu kos Rania hanya Jenilah yang terlihat ketus dengan aktivitas pengajian Rania diluar sana. Rania tidak heran karena Jeni sudah biasa hidup tanpa aturan sejak kecil. Jeni dibesarkan orang tuanya di Amerika, dan saat SMA pindah ke Indonesia, jadi budaya barat sana masih melekat erat dalam keperibadian Jeni meskipun tidak separah yang dillihat tapi dialah yang nomor satu penentang sesuatu yang berbau agama apalagi islam.

__ADS_1


“Pengajian ini jelas kok Jen, jelas ada manfaatnya, banyak ilmunya, dapat pahala lagi” jawab Rania dengan sabar dan pelan.


“Hahaha… bagi kamu!! Bagi aku kebalikannya lah!!” Jeni langsung menjawab sambil tertawa seakan-akan menghina.


“Bukan bagi aku saja, tapi bagi semuanya. Karena yang di pelajari di pengajian ini bukan sekedar ilmu dunia saja tapi akhirat juga. Setiap manusia mesti tahu dan wajib mencari tahu” ujar Rania lagi.


“OH YA? Tapi, Hanya untuk manusia-manusia bodoh seperti kamu aja kan??” Jeni masih tidak mau kalah.


Rania menghela nafas. Bukan hanya sekali dua kali dia mencoba menyentuh hati jeni yang keras ini. Sudah sering malahan, tapi sepertinya dia harus terus bersabar dan pelan-pelan dalam menyampaikannya. Karena Rania tau merubah sikap orang lain itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh kesabaran. Tapi, Raniapun yakin yang namanya hidayah itu datangnya tidak memilih-milih orang, siapapun berhak mendapat hidayah itu. Termasuk Jeni. Tinggal masalah waktu saja.


Rania tidak melanjutkan lagi perdebatan sengitnya dengan Jeni. Rania selalu menyudahkan perdebatan tersebut bukan berarti dia kalah tapi dia mencoba mengalah untuk menang. Karena ia tahu bagaimana sifat Jeni yang terlalu ego dan merasa paling benar.


Selanjutnya, Rania jalan keluar gang dari kosannya. Dipersimpangan jalan nanti dia akan menunggu angkot. Halaqoh hari ini dirumah kak Marsha yang terletak tak begitu jauh dari simpang gang kosannya, cukup hanya sekali naik angkot dan cuman menghabiskan waktu sekitar 5 menit, itupun kalau ngak macet.


Akhirnya Rania sampai dirumah kak Marsha. Semuanya sudah datang, mereka tinggal menunggu Rania saja.


“Assalamu’alaikum…” Sapa Rania sebelum masuk.


“Masuk Nazwa..!” kata Kak Marsha.


Yah! Teman dan kakak di pengajian ini memanggilnya dengan nama Nazwa, yang mana nama lengkapnya sebenarnya adalah Rania Nazwa. Rania mengubah panggilan namanya menjadi Nazwa sejak 2 tahun yang lalu disaat kegalauan hati menghimpitnya. Bersamaan dengan itu, hidayah Allahpun diraihnya melalui uluran tangan seorang ikhwan yang mengenalkannya dengan seorang Muslimah yang masih ada hubungan keluarga dengan ikhwan tersebut. Semenjak itulah semuanya berubah, termasuk nama panggilnya.


“Nazwa itu artinya keselamatan, sebagaimana Allah telah menurunkan keselamatan tuk hamba-hamba pilihanNya” ucapan ikhwan tersebut masih tersimpan jelas dibenaknya.


Tepat pukul 08.00 wib haloqoh pun dimulai yang dipimpin oleh musrifah Sarah. Mereka duduk membentuk lingkaran, disebelah Rania ada Marsha, disamping Marsha ada Diana, Salwa dan Fatimah. Mereka berjumlah 5 orang. Rania dan Salwa seumuran dan belum menikah sedangkan Marsha, Diana, Fatimah dan Sarah sudah menikah.


Dua jam pun berlalu. Halaqoh selesai dan ditutup dengan doa penutup majelis oleh kak Sarah.

__ADS_1


“Subhanaka Allahumma Wabihamdika Asyaaduallaailahaila Anta Astagfiruka Wa’atubu Ilaihi”


“Sarah duluan ya semuanya, sudah dijemput suami ne!” Pamit Sarah kepada kami semua. Setelah bersalaman Sarahpun pulang disusul dengan Fatimah dan Diana.


“Nazwa mau langsung pulang kekosan atau ketempat kerja?” Kak Marsha bertanya kepada Rania yang sedang beres-beres.


“Kebetulan Nazwa dinas malam hari ini kak. Sekarang mau ke toko buku dulu rencananya.” Jawab Nazwa sambil tersenyum.


“Toko buku mana Naz? Bareng yuk, Salwa juga mau cari buku”


“Boleh. Rencananya toko buku hidayah”


Rania dan Salwa pun pamit yang sebelumnya juga bersalaman dengan Marsha.


***


Selesai sholat Magrib dan mengaji, Rania mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Rania bekerja sebagai Bidan disebuah rumah sakit swasta dikota tersebut. Rania lulusan D3 kebidanan dan kini sedang melanjutkan study lagi di S1 Kesehatan Masyarakat.


Rania bekerja termasuk baru. Baru jalan 1 bulan, karena baginya tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan komitmennya. Salah satunya dalam masalah pakaian. Alhamdulilah berkat bantuan kak Sarah yang kebetulan dokter dirumah sakit tersebut, Rania bisa diterima bekerja dengan menggunakan gamis/Hijab.


Inilah profesi kedua Rania. Sebagai Bidan. Memberikan pelayanan kesehatan kepada Masyarakat terutama ibu dan bayi. Menolong proses persalinan normal dengan sabar dan tekun.


Masalah jadwal kerjapun lagi-lagi Kak Sarah yang membantunya agar tidak bentrok dengan jadwal kuliah dan jadwal pengajianya.


Rania sampai dirumah sakit dan langsung naik kelantai 3. Diruang bersalin ini lah ia akan dinas, menjaga pasien yang akan melahirkan sepanjang malam. Membunuh rasa kantuk yang sebenarnya tidak bisa lagi dibendung tapi dengan keikhlasan hatinya, ia pun rela karena baginya ini bukan hanya pekerjaan tapi ia menjadikan ini sebagai ladang amal.


Rania sudah mendapatkan ilmu tentang Ihsanul Amal yang artinya perbuatan yang baik. Dimana jika kita melakukan sesuatu perbuatan dengan ikhlas karena Allah semata dan dengan cara dan jalan yang benar pula maka pahalalah yang akan kita peroleh. Begitu juga sebaliknya. Jika kita melakukan perbuatan tidak ikhlas karena Allah dan caranya pun tidak benar, kita tidak akan mendapatkan pahala malahan dosa yang akan kita dapat. Jadi, untuk melakukan perbuatan itu patokannya cuman ada 2 yaitu ikhlas dan caranya yang benar, semuanya saling berhubungan dan saling berkaitan.

__ADS_1


Seperti yang Rania lakukan saat ini. Meskipun bekerja hukumnya mubah bagi dirinya,  bisa juga menilai pahala jika ia melakukan dengan ikhlas karena Allah dan dengan cara yang benar pula. Cara yang benar disini adalah sesuai dengan perintah dan larangan Allah dari segi apapun. Contohnya dalam hal pakaian, Rania tetap berjilbab dan berkerudung meskipun sebenarnya bidan dan perawat yang lain menggunakan celana, katanya biar mudah bergerak, biar ngak ribet. Tapi, itu cuman alasan klasik karena hukum dan aturan Allah itu mutlak. Tidak  bisa ditawar-tawar. Pokoknya kalau udah perintah kita sebagai hambanya hendaknya harus Sami’na wa Atoqna.


Bersambung....


__ADS_2