Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 27(PESAN CINTA DARINYA)


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, namun mata Fitra sedikitpun tidak mau terpejam. Rasa kantuknya hilang sudah dan diganti dengan rasa penasaran akan sebuah benda yang ada di tangannya saat ini. Benda yang ternyata adalah sebuah buku. Yach!! Buku yang beberapa hari ini selalu membuat dia penasaran dan tidak sabaran untuk menyelesaikan isi bacaan buku yang lumayan tebal itu.


Fitra meresapi kata demi kata yang tertera di dalam buku tersebut. Kata demi kata yang menjadi sebuah kalimat yang indah dan menggugah para pembacanya, termasuk dirinya. Cara penyampainya begitu bersahaja, jujur dan apa adanya. Fitra bisa menangkap hal demikian, dan Fitra yakin si penulis juga memiliki jiwa seperti itu.


Fitra kembali hanyut dalam bacaannya. Dan seketika ia berhenti pada sebuah kalimat yang membuat hatinya semakin tersentuh.


Saatnya Melukis Cinta itu...


Jika kata adalah sepotong hati, maka ku ingin kata ini, yang terjalin dari huruf-huruf dalam nurani ku Tuk menjadi do'a...


Agar Allah selalu menghadirkan di hatimu Tentang cintaku padamu...


Agar pula kau tahu, bahwa selamanya aku mencintaimu...


Agar engkau selalu melihat binar cinta di mataku...


Agar kau paham dan mengerti setiap kata yang ku ucap untukmu adalah do'a Bahwa aku ingin selamanya dengan mu…


Beriringan saling menggenggam jemari, hingga langkah kita ke Surga Nya…


Karena Cinta menurut ku tak berwarna ia menjadi jingga sebagaimana kau memaknainya,, ia pun menjadi kuning, biru, dan merah sebagaimana kau menginginkannya...


Karena Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi tentang kejujuran dan keberanian tentang kemarahan dan kasih sayang...


Karena Cinta adalah lukisan yang unik dan tak terkatakan,, sebab ia menenggelamkan kita pada angan-angan dan pada mimpi yang abadi dan cintaku padamu adalah surga yang tak bisa kumasuki jika tanpamu…


Fitra tersenyum lebar. Begitu pintarnya penulis ini merangkai kata. Semakin kuat rasa penasaran di hati Fitra untuk mengetahui siapakah penulis yang bernama Rania Nazwa ini? Ingin sekali ia berjumpa dan sekedar bertukar pikiran mungkin, karena Fitra akui di dalam menulis ia terkadang masih mengalami kesulitan dan ingin mendapatkan ilmu baru dari si penulis buku melukis di langit biru itu.


Beberapa menit kemudian, akhirnya rasa kantuk itupun datang. Fitra menguap beberapa kali. Sudah saatnya ia tidur, lagi pula buku bersampul biru ini sudah selesai ia baca. Ada rasa puas tersendiri dihatinya karena telah selesai membaca buku tersebut. Dan esok hari ia akan menyambung membaca buku kedua si Rania Nazwa, dari judulnya saja sudah mampu membuat rasa penasaran dan tanda tanya besar di benak Fitra.


‘Ketika Cinta Karena Allah’ Fitra mengulang beberapa kali judul buku tersebut. Si penulis bukan hanya pintar merangkai kata, dia juga pintar menyimpan rasa penasaran bagi pembaca. Penulis yang sangat misterius. Fitra semakin tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Tapi, bagaimanakah caranya? Fitra berfikir, sejurus kemudian ide cemerlangpun tiba-tiba muncul. Kenapa dia tidak minta saja data lengkap plus foto dan nomor yang bisa dihubungi melalui penerbit. Bukankah penerbit buku dirinya dan Rania Nazwa sama? Iya... Fitra mengangguk-angguk tanda setuju dengan idenya yang datang tiba-tiba itu


Sebelum tidur, Fitra sempatkan sholat tahajud 2 rakaat. Mumpung di sepertigaan malam dia masih terjaga. Fitra hanyut dalam kekhusukan tahajudnya malam itu. Setelah sholat, ia berdoa panjang. Dalam doanya ia memohon ampunan dari RabbNya yang Maha pengampun, atas dosanya dan kedua orang tuanya. Fitra meminta jalan kebaikan, petunjuk serta kemudahan dalam segala hal yang akan dihadapi. Tidak lupa pula Fitra meminta jalan agar dipertemukan dengan bidadarinya... bidadari yang selalu ia idam-idamkan yang akan menemani hidupnya, dunia dan akhirat....


“Robbi Hablii Milladunka Zaujatan Thoyyibah Akhtubuha Wa Atazawwaj Biha Watakuna Shoohibatan Lii Fiddini Waddunyaa Wal Aakhiroh…. Ya Allah, Berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan dunia dan akhirat”


...@@@...


Tepat pukul 07.00 wib Fitra sudah rapi dan siap berangkat ke masjid Hidayatullah yang masih berada didalam kawasan komplek perumahannya. Kebetulan di pagi minggu itu Fitra diundang untuk mengisi acara pengajian remaja.


“Assalamu’alaikum, Iya… iya… Siip Bos, ne udah mau kesana” Fitra tampak berbicara dengan sesorang melalui hpnya.


“Hmmm… wah.. wah… langsung berubah profesi ne anak mama… dari seorang perawat jadi ustad…” ujar Mamanya Fitra saat melihat anak lelaki satu-satunya itu turun kebawah dengan penampilan bak seorang ustad terkenal. Fitra tertawa mendengar ledekan mamanya tersebut.


“Alhamdulilah Ma, Fitra diberi kepercayaan oleh mereka… padahal Fitra ngerasa ilmu Fitra masih kurang Ma, masih harus banyak belajar lagi…” ucap Fitra merendahkan diri.


“Mama bangga sama kamu Fitra… kamu itu sebenarnya layak jadi seorang ustad… seorang pendakwah gitu…” ucap Mamanya lagi.


“Aamiin… tapi Ma, bagi Fitra.. menjadi seoarang Ustad itu bukanlah suatu profesi ataupun pekerjaan Ma, tapi.. lebih menjurus ke sebuah kewajiban…”

__ADS_1


“Kewajiban…?” Mamanya bertanya binggung.


“Iya Ma, sebagaimana kita ketahui bahwa dakwah itu kan sama dengan menyampaikan suatu kebaikan, apapun itu dan sekecil apapun itu yang penting berkaitan dengan perintah dan laranganNya. Nah, itu kan wajib… tapi, sebelumnya kita harus memiliki ilmu dulu Ma, agar apa yang disampaikan tidak melenceng dari hukum syara’…” ucap Fitra lembut.


“Mya sech.. mama ngerti, tapi… terkadang kita inikan belum tentu sesempurna apa yang akan kita sampaikan kepada yang lainnya, kamu ngerti kan? Misalnya gini… kita menyuruh orang-orang untuk melakukan ini… tetapi kita sendiri belum melaksanakannya dengan rutin, jadi.. merasa ngak pantas gitu Fit, ngak sesuai… makanya pendakwah itu pantasnya di sandang oleh ustad-ustad yang memang ilmu agamanya itu sudah tinggi, bukan orang yang biasa seperti mama ataupun papa… kalau kamu sech udah hampir masuk kriteria ustad sech mama lihat….”


“Alhamdulilaah… Fitra selalu mencoba untuk bisa Ma, karena Allah itu tidak menilai hasil yang akan kita capai akan tetapi usaha kita… sudah sampai dimanakah?” jawab Fitra sambil duduk disamping mamanya yang telah siap dengan sarapan pagi mereka. Tidak berapa lama kemudian, Papa Fitrapun keluar kamar. Dan mereka sarapan bersama – sama.


Setelah itu, Fitra pun pamit. Ia berjalan kaki menuju Mesjid Hidayatullah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Mumpung masih pagi dan udaranya pun sejuk dan bersih, Fitra manfaatkan untuk sekedar berolahraga dengan berjalan kaki. Di pertengahan jalan, bunyi klakson motor sedikit mengagetkan dirinya. Fitrapun menoleh kebelakang.


“Asslamu’alaikum, Fitra… kok jalan kaki?” sapaan bersahabat si pemilik motor membuat Fitra melebarkan senyumnya, ternyata Ryan. Sahabatnya sejak kecil.


“Sengaja Yan, mumpung masih pagi. Sekalian olah raga”


“hehehe… ntar telat Loh, apalagi kamu itu kan jadi ustad hari ini. Yang akan ngasih ceramah. Ayok.. bareng sama aku aja…”


“Lah.. kamu, niat aku untuk berolahraga dengan berjalan kaki jadi gagal total nech..” kata Fitra sambil tertawa.


“Hahaha… Fitra, Fitra… olahraga bisa nanti-nanti… yang jelas saat ini kamu itu lagi ditunggu sama remaja masjid.. mereka ngak sabar mendengarkan kajianmu yang luar biasa itu…”


Akhirnya Fitra menurut dan naik keatas motornya Ryan. Ryan juga salah satu remaja masjid yang sangat aktif, meskipun bukan sebagai penceramah tapi dia termasuk panitia yang sangat kooperatif.


...@@@...


Di pagi hari yang cerah itu Fitra sengaja memberi tema kajiannya tentang Remaja Islam  anti tawuran. Kebetulan yang mengikuti pengajian tersebut dikhususkan para remaja laki-laki. Fitra mengambil topic tersebut karena jujur dadanya sempat ngilu beberapa kali ketika mendengar maraknya tawuran yang sering terjadi dilingkungan remaja terutama yang masih berseragam sekolah baik itu SMP maupun SMA.


Fitra menjelaskan bahwa ada 4 macam penyebab utama pemicu terjadinya tawuran. Pertama, karena remaja berkarakter labil. Dimana adanya sikap remaja yang cepat marah, bahkan emosinya tidak seimbang dengan penggunaan nalarnya, ditambah lagi imannya pun sangat rendah.  Kedua, karena keluarganya bermasalah. Fitra menegaskan seringkali orang tua menerapkan pola asuh yang salah dan represif atau melakukan penekanan terus – menerus. Ketiga, karena manajemen sekolah yang terkadang amburadul. Tidak hanya pelajaranya, tapi pelajarannya yang tidak membekas atau bahkan pelajaran yang tidak membentuk etika kesopanan dan norma agama.  Dan terakhir yang keempat adalah karena pengaruh dari tayangan televisi yang menyajikan sadisme, vulgarisme, dan hedonisme yang mengajarkan penyelesaian masalah dengan kekuatan  fisik semata.


Maka dari itu, solusi tuntas dalam mengatasi tawuran ini adalah kembali kepada islam. Menjadikan tujuan pendidikan adalah melahirkan kepribadian islam. Materi pelajarannya pun diarahkan agar menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku yang dibangun dari aqidah islam.


Terakhir, Fitra memberikan beberapa tips kepada remaja agar terhindar dari perbuatan sia-sia seperti ikutan tawuran tersebut. Yang paling utama adalah jangan mengumbar emosi. Fitra menyaranan agar menghadapi masalah dengan kepala dan hati yang dingin. Seperti sabda Rasulullah SAW. “siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya didepan sekalian makhluk. Kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya” (HR. Abu Dawud –At-Tirmidzi).


Penyampaian materi oleh Fitrapun akhirnya selesai. Fitra bersyukur sekali dia bisa menguasai audien dan mendapatkan respon yang positif dari mereka. Awalnya memang gugup tapi setelah dijalani semuanya menjadi biasa saja.


“Subhanallah Fitra… benar dugaan ku, kamu memang terampil menjadi seoarang ustad. insyaAllah kalau ada acara remaja masjid lagi kamu akan aku undang jadi penceramah lagi” ucap Ryan ketika acara telah selesai dan Fitra siap-siap akan pulang.


“Syukron Yan, InsyaAllah… jika tidak ada halangan aku akan memenuhi undangan mu lagi… kamu juga hebat, sebagai ketua panitia sudah sukses lah membuat acara ini berjalan dengan baik” Fitra balik memuji.


“Oya, ini… kamu ambil ya…” Ryan menyalami amplop ketangan Fitra. Fitra langsung menepisnya.


“Maaf Yan, kamu macam tidak kenal aku saja. Kamu sudah kenal aku berapa lama coba? Dan aku rasa kamu sudah tahu prinsip ku kan?” kata Fitra sambil tersenyum. Ryan hanya geleng-geleng kepala karena dia tau Fitra tidak bakalan mau menerima bayaran setiap kali mengisi ceramah.


@@@


Keesokan harinya, Fitra pergi ketempat penerbitan bukunya. Disana ia bertemu dengan Irwan, teman SMAnya dulu yang juga berkerja dipenerbitan tersebut.


“Gimana Wan? Bisa aku terima foto dan biodata lengkap penulis yang bernama Rania Nazwa sekarang?”


“Maaf Sob, ngak semudah yang aku bayangkan ternyata. Teman dekat si penulis ini engan memberikannya, ia perlu minta izin dulu sama di Rania itu. Dia bakalan ngak berani memberikan tanpa izin beliau.” Jawab Irwan.

__ADS_1


“Ooh.. Kalau gitu aku mau nitip ini saja sama dia. Kira-kira kapan ya dia kesini lagi?”


“Aku juga ngak tau. Aku juga tidak pernah jumpa sama dia, karena... dia seperti merahasiakan wujudnya sama kami. Yang datang mengantarkan bukunya ya teman dekatnya itu, kalau ngak salah namanya Raisya. Kami tanya Ranianya mana, dia jawab lagi berhalangan...”


“Ngak apalah, kamu kasih aja sama temannya itu” kata Fitra kemudian.


“Emang ini apa?” tanya Irwan saat menerima sebuah amplop bersampul biru.


“Sebuah ucapan rasa kagum saja terhadap isi bukunya”


“Hahahaha... surat ya... hari gini masih surat-suratan...” ledek Irwan.


“Bukan... cuman sebuah Pesan dan kesan aja dari ku...”


“Pesan apa? Pesan Cinta, hahahaha..................” Irwan tertawa terbahak-bahak.


...@@@...


Sebuah amplop berwarna biru mampir didepannya saat Rania sedang sibuk menyelami tulisannya di depan laptop.


“Apa ini?” Rania bertanya bingung kepada Raisya yang tengah duduk di kasurnya.


"Titipan dari ‘someone’” jawab Raisya sambil tersenyum nakal.


“Siapa?” Rania semakin penasaran.


“Buka aja dulu”


Dengan hati-hati Rania membuka amplop tersebut. Ada secarik kertas didalamnya. Juga berwarna biru, warna kesayangan si pengirim mungkin, pikir Rania dalam benaknya.


“Dari Fitra Riandi...” ucap Rania lalu menatap tajam kearah Raisya.


“Iya Rania, dia ini pengagum rahasiamu, dia seorang penulis juga. Pengen kenal kamu, dia kagum sama tulisan kamu. Begitu yang aku dengar dari Irwan”


“Oohh...”


“Loh kok hanya ‘Oohh’?”


“Aku juga pengen baca bukunya dia, Raisya... bisa minta tolong ngak, aku mau baca bukunya dia. Gimana caranya?”


“Ya gampang, tinggal minta sama Irwan. Nanti ya...”


Kini pikiran Rania kembali fokus pada secarik kertas biru tersebut. Apa ya isinya? Dengan pelan ia membuka lipatan kertas tersebut. Raisya yang sedari duduk ditempat tidur pun langsung beranjak ketempat Rania duduk.


Hening. Suara Raisya memecahkan keheningan tersebut.


“Pesan Cinta dariNya... beri aku Ilham Ya Rabb...........” ucap Raisya. Membaca judul besar di bagian atas kertas tersebut. Rania menarik nafas. Kemudian mereka berdua pun hanyut dalam tulisan yang panjang itu.


“Assalamu’alikum Wr.Wb. Salam kenal Rania Nazwa, Aku Fitra. Jujur aku sangat tertarik dengan buku-bukumu yang menurutku sangat menggugah dan menginspirasi. Sebelumnya, afwan jika surat ku ini terkesan lancang karena entah kenapa ada sebuah rasa yang ingin menyapamu dan mengenalmu… Tidak ada maksud lain, cuman sekedar menunjukkan rasa kagum dan suka akan karya-karyamu….. Lagi pula kebetulan aku juga seorang penulis pemula yang masih haus akan ilmu… bukan hanya aku bahkan seluruh manusia di jagat ini pun membutuhkan yang namanya Ilmu. Namun, ada beragam cara yang bisa mereka lakukan untuk memperoleh ilmu tersebut…. Seperti cara ku ini mungkin… anggap saja melalui surat yang kata temanku terkesan kuno ini bisa menjadi celah bagiku untuk menggali ilmu dalam menulis dari mu… aku harap kamu bisa menerima dan memakluminya ya, karena jika tidak melalui surat singkat ini bagaimana lagi aku bisa menyapamu? Bukankah kamu tidak meninggalkan alamat atau nomor handphone? Its’ok, tidak masalah… itu sebuah prinsip kehidupan dan setiap manusia berhak mempertahankan prinsipnya asal itu tidak melenceng dari ketentuan Allah Swt. Oke. Syukron sudah menyempatkan membaca surat ini, aku tidak menantikan balasan cuman ingin menyampaikan pesan dan kesan saja… Walaikumusalam Wr.Wb….’

__ADS_1


...@@@...


__ADS_2