
Kak Nazwa, Kak Raisya…” Panggilan Zahra membuat Rania dan Raisya menoleh serentak. Mereka sudah sampai di SMA Zahra untuk menghadiri acara yang diadakan disekolah tersebut dan kebetulan Rania diberi kepercayaan untuk mengisi materi didalam acara tersebut.
“Acaranya dimana Zahra?” Tanya Nazwa.
“Biasa kak di Musholla, semuanya udah hadir kok kak, termasuk juga Ustad Foury” ucap Zahra. Entah kenapa sejak kemaren jika Zahra menyebut nama ustad Foury kepada Nazwa ia akan tersenyum penuh arti gitu. Nazwa tidak mengerti ada apa dibalik senyum misterius yang diberikan Zahra tersebut, apakah Zahra hendak menjodohkannya dengan ustad berwajah arab itu? Ahh.. kenapa pikiran Nazwa sampai kesana ya?
“Loh kakak kok senyum-senyum? Ayo.. lagi mikirin apa?” Goda Zahra yang memang mendapati Nazwa tersenyum tanpa sebab.
“Ngak ada” Nazwa langsung menyangkal.
“Kak, belum ada niat mau nikah?” Tanya Zahra diperjalanan menuju Musholla. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Nazwa kaget, nikah? Hhmmm….
“Setiap manusia pasti memiliki niat untuk menikah. Ngak mungkin kan selamanya kita hidup sendiri tanpa ada pendamping?” jawab Rania santai padahal dadanya mulai berdegup kencang entah kenapa.
__ADS_1
“Iya sech, tapi kalau nikahnya dalam waktu dekat ini ada ngak niat kakak?” Tanya Zahra lagi.
Nazwa langsung salah tingkah atas pertanyaan Zahra tersebut.
“Hmm… belum tau juga dek, kalau jodoh sudah didepan mata, siap ngak siap kita harus siap” kata Nazwa.
“Nah, kebetulan jodoh kak Nazwa udah didepan mata tuh” ucap Zahra sambil menunjuk kearah depan yang kebetulan ustad Foury bejalan menuju arah mereka. Lagi-lagi Nazwa dibuat kaget dengan pernyataan Zahra dan ditambah kaget lagi ketika mendapati ustad muda bernama Foury itu lagi melihat kearahnya, tatapan mereka sempat beradu, dengan serentak merekapun saling menundukkan pandangan masing-masing.
“Assalamu’alaikum Ukhti…” Sapa Ustad Foury bersama seorang temannya.
Ustad Foury berbicara dengan Zahra mengenai acara Training tersebut, Nazwa tidak begitu menyimaknya karena sekali lagi entah kenapa perasaannya menjadi lain begini. Aneh. Sebelumnnya Nazwa tidak pernah merasa salah tingkah jika bertemu ustad muda itu, biasa aja malahan, tapi hari ini, pagi ini dia sulit kali menguasai hatinya. Ada apa ya? Apakah perasaan aneh yang menjalari tubuhnya ini sebagai petanda akan terjadi sesuatu? Entahlah…
Sampai acara dimulai pun pikiran Nazwa bercabang-cabang entah kemana. Konsentrasinya pun seakan lenyap. Nazwa jadi gelisah, jangan sampai gara-gara ini penyampaian materi nanti jadi kacau balau.
__ADS_1
“Bismillahirrahmannirrohim.... Ya Muqollib Al-Qulub, Tsabbit Qolbu A’la Diniq... Ya Allah Yang Maha Memutarbalikkan hati manusia, tetapkanlah hatiku diatas AgamaMu...”
Rania berdoa dalam hati, memohon kekuatan kepada Allah agar bisa menguasai hatinya yang sudah mulai lain.
Materi pertama diisi oleh Ustad Foury. Foury memberikan materi dengan judul Bukti Cinta kepada Rasul. Didalam materi tersebut ustad Foury mengutip sebuah Sabda Rasulullah yang berbunyi “Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada ibu-bapaknya, anak-anaknya dan seluruh manusia” (HR Muslim). Foury menegaskan bahwa cinta seorang Muslim kepada Baginda Rasulullah SAW sejatinya bukanlah sekedar klaim. Setiap ungkapan atau klaim cinta tentu butuh bukti. Jika demikian, apa bukti hakiki bahwa seorang Muslim mencintai Baginda Rasulullah SAW?
Dalam ayat lain Allah SWT. Mengukur cinta seorang hamba kepada diriNya dengan sejauh mana hamba itu mencintai dan mengikuti atau meneladani Rasulullah SAW. Sebagaimana firmannya “Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Dia akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS Ali-Imran : 31). Dan terakhir Foury menegaskan bahwa mengikuti Nabi SAW. Tidak lain adalah dengan menjalankan islam secara Kaffah (totalitas) dan mengamalkan seluruh syariah-Nya baik dalam level pribadi, keluarga, masyarakat maupun Negara.
Setelah itu kini giliran Nazwa yang memberikan materi untuk remaja putra dan remaja putri yang ada di musholla tersebut. Materi yang disampaikan Nazwa adalah tentang Indahnya hidup dalam aturan Islam. Nazwa berusaha mengajak remaja sekalian agar selalu terikat dengan hukum dan aturan Allah, selalu menghadirkan Allah dalam setiap perbuatan dan tindakan, dan menyadari bahwa disetiap aktivitas mereka ada yang mengawasi. Dengan begitu, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan takut jika menyimpang dari aturan Allah Swt. Rania menegaskan bahwa jika kita sudah biasa membawa Allah dalam keseharian kita maka ketenangan akan selalu kita dapati, pahala akan kita raih dan yang terpenting ridho dan surga Allah akan kita tempati kelak. Nazwa juga menambahkan bahwa Kesempurnaan syariah itu tidak akan berarti apa-apa bagi manusia tanpa adanya keterikatan denganNya. Karenanya, Allah memerintahkan setiap Muslim agar dalam menjalankan semua aktivitasnya senantiasa sejalan dengan hukum syariah. Bahkan Allah menafikan keimanan mereka yang tidak terikat dengan syariah yang dibawa oleh Rasulullah saw.
Setelah itu, Acara ditutup dengan sebuah nasyid yang didendangkan oleh remaja putra dengan judul “Cinta karena Allah, Cinta yang abadi” Nazwa menyimak setiap syair yang diucapkan oleh mereka, kata-kata yang menggugah dan menyentuh hati. Nazwa hanyut dalam lantunan nasyid tersebut.
“Afwan Ukhti Nazwa, boleh Tanya sedikit tidak? Ukhti udah ada yang khitbah belum?” pertanyaan tiba-tiba dari Ustad Foury yang entah kapan sudah ada disebelahnya kontan membuat Nazwa tersentak kaget dan bersamaan dengan itu pula handphonenya pun bordering, dengan reflek Nazwa mengangkat telpon tanpa melihat nama ataupun nomor yang menghubunginya.
__ADS_1
“Umi…” ucap seseorang diseberang sana. Nazwa kaget. Handphonenya pun terlepas dari tangannya dan terjatuh kelantai.
BERSAMBUNG...