Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 44(SEBUAH PENGAKUAN)


__ADS_3

Sofwa sungguh tidak menyangka atas kedatangan Andre yang mencarinya, setelah sekian lama menghilang dan kini IA datang untuk meminta maaf kepada Sofwa. Tapi sudah cukup, tiada lagi kata maaf untuknya. Dia sungguh keterlaluan, Sofwa tidak bisa memaafkannya. Kendatipun lidahnya mengatakan tidak bisa, tapi tidak dapat dipungkiri hatinya berkata lain. Hatinya malah menangkap ketulusan yang dilontarkan Andre waktu itu, kata maaf yang diucapkannya, air mata yang mengalir itu dan perubahan dari penampilannya yang... ahh... Sofwa mengutuk dirinya sendiri, dia tidak boleh lemah. Ingat Sofwa, kamu akan segera menikah dengan Fitra... Fitra adalah jodoh terbaik dari Tuhan untukmu... Bisik hatinya yang seakan mengingatkannya.


“Mau kemana Nay?” Tanya Raihan ketika melihat Nayla sudah dandan dengan rapi sore itu.


“Mau kerumah sakit bang..” kata Nayla agak malu-malu.


“Ooh.. mau ketemu Fitra?” tebak Raihan dengan senyumannya yang menggoda.


“Iya bang, sekalian mau antarin kue yang Nayla buat khusus untuk dia” ucap Nayla dengan malu - malu.


“Ya lah... yang mau nikah nech, mentang-mentang udah ada Fitra... abangnya jadi dilupain... dulu kalau bikin kue suruh abang yang cicip duluan tapi sekarang dah agak berbeda ya” sindir Raihan sambil bercanda.


“Abang kok ngomong gitu. Prasangkanya buruk amat sama Nayla. Tenang abangku sayang... kue untuk abang ada kok di kulkas...” kata Nayla berusaha membujuk Raihan.


“Iya-iya.. abang bercanda kok Nay. Yadah hati-hati dijalan ya?” kata Raihan.


“Siip bang, Nayla izin dulu. Asalamualaikum..”


“Walaikumusalam...”


Sore itu Nayla berniat untuk bikin sedikit kejutan buat Fitra. Nayla sengaja membuat kue blackforest yang akan ia berikan langsung ke Fitra. Nayla yakin Fitra pasti senang menerima kue buatan darinya. Kebetulan saat itu memang jadwal dinasnya Fitra.


Beberapa menit kemudian Naylapun sampai dirumah sakit. Ia langsung menuju lift dan naik kelantai 4. Sesampainya dilantai 4, Nayla langsung menuju ruang perawatan tempat Fitra dinas. Saat dikoridor rumah sakit itulah langkah kaki Nayla langsung berhenti ketika ia mendengar namanya disebut-sebut oleh 2 orang yang berjalan tepat didepannya. Tanpa sengaja Nayla menguping pembicaraan mereka berdua.


“Aku yakin Fitra mau menikahi Sofwa itu karena kasihan, kamu ingatkan Sofwa itu pasien rawatan kita yang dikamar ujung itu? Yang sakitnya ngak tahu pasti apa. Dokter aja bingung mendiagnosa apa. Eh, ternyata sakitnya itu karena CINTA...” Kata Nia dengan suara yang agak besar sehingga tertangkap jelas oleh telinga Sofwa.

__ADS_1


“Aku heran sama Fitra.. kok mau-maunya sech dia? Mengorbankan rasa cinta yang sebenarnya untuk Rania demi gadis yang sama sekali ngak dia cintai itu... sebelum si Raihan, abangnya Sofwa itu datang kerumah Fitra dan memohon-mohon pada Fitra.. Fitra udah menetapkan pilihan kepada Rania, hatinya udah terpaut sama Rania... aku yakin Rania juga merasakan hal yang sama” Randi menambahkan dengan begitu antusias.


“Iya Rand, dan sampai saat ini aku masih sangat merasa bersalah sekali kepada Rania... kamu ngak tau gimana bahagianya Rania kemarjn meskipun ia tidak ngomong langsung sech tapi aku bisa lihat dari wajahnya Rand... dia bahagia banget saat denger Fitra akan ngelamarnya... eh, kebahagiaannya itu seakan lenyap.. diganti dengan kesedihan yang luar biasa." kata Nia dengan nada kecewanya.


Sofwa berhenti mengikuti kedua orang tersebut. Apa kelanjutan yang dikatakan wanita yang bernama Nia tadi pun tidak lagi tertangkap oleh telinganya. Baginya sudah cukup, apa yang didengarnya barusan ini benar-benar membuat perasaannya hancur. Kue yang sedari tadi ia rangkul itupun terjatuh kelantai. Ia tidak mempedulikannya lagi. Sofwa berbalik arah, ia berlari menuju lift. Air mata kepedihan kembali menghiasi parasnya.


Sofwa langsung pulang kerumah. Ia ingin minta penjelasan yang sebenarnya dari Raihan. Hatinya sungguh tidak tenang saat ini, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Sesampainya dirumah, Sofwa mendapati Raihan lagi duduk sambil menonton TV, tanpa mengucapkan salam Sofwa langsung menghampiri Raihan.


“Bang... apa benar abang memaksa Fitra untuk menikahi Nayla? Apa benar Fitra mau menikahi Nayla karena terpaksa? Karena abang mohon-mohon padanya? benar itu bang? Benar?” Tanya Sofwa bertubi-tubi. Raihan yang tiba-tiba diserang dengan pentanyaan tersebut langsung berdiri. Dilihatnya wajah Nayla yang merah karena meredam amarah bercampur dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.


“Kamu kenapa Nay, ayok duduk dulu...” Raihan berusaha menenangkan Sofwa. Tapi, Nayla menolak untuk duduk.


“Jawab pertanyaan Nayla Bang. JAWAB” Kali ini dengan nada agak tinggi Sofwa berkata.


“Iya. Emang iya...” akhirnya Raihan mengaku kesalahannya.


“Karena abang tidak mau lagi melihatmu menderita Nay... abang ngak sanggup.. jika harus melihatmu terbaring lagi dirumah sakit untuk kedua kalinya... Abang ngak mau itu terjadi lagi.... makanya abang memohon kepada Fitra, tapi... kamu tenang aja... Fitra sebenarnya juga menyayangimu kok Nayla...” kata Raihan.


“Bohong..!! Fitra ngak pernah menyayangi ku bang, dia menyayangi wanita lain. Dia mencintai wanita yang sempat mau dilamarnya itu... dia mencintai wanita bernama Rania... bukan aku...” teriak Sofwa.


“Siapa bilang aku ngak menyayangimu Sofwa?” tiba-tiba dari pintu depan Fitra masuk. Fitra yang masih menggunakan pakaian dinas itu ternyata menyusul Sofwa. Ia melihat Sofwa dari kejauhan. Dan Fitra yakin Sofwa pasti telah mendengar sesuatu dari mulutnya Nia dan Randi hingga membuat ia berbalik arah dan turun kebawah menggunakan lift.


“Fitra...?” Sofwa terkejut dengan kedatangan Fitra.


“Maafkan aku Sofwa.. apa yang dikatakan Randi dan Nia itu memang benar... tapi, cuman cukup sampai disitu saja yang mereka tahu tentang aku, selebihnya mereka tidak tahu apa-apa lagi...” kata Fitra berusaha menjelaskannya dengan nada tenang.

__ADS_1


“Maksud kamu...?” tanya Sofwa.


“Yach.. aku mau menikahimu karena Allah. Bukan karena kasihan. Bukan terpaksa... mungkin awalnya keterpaksaan dan rasa kasihan itu ada... tapi, sungguh demi Rabb dan RasulNya... sampai detik ini aku sungguh berniat menikahimu karena ibadah... karena rasa cintaku padaNya yang menuntun hatiku untuk mu Sofwa. Yang melapangkan dadaku untuk menerima segalanya... baik kekurangan maupun kelemahan....” tutur Fitra.


“Apa? Mau menerima kekurangan dan kelemahanku?” tanya Sofwa agak menekankan kata-kata kekurangan tersebut.


“Iya. Setiap manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan. Sehebat apapun dia. Termasuk juga aku. Aku manusia biasa. Tempat khilaf dan salah... akan tetapi dengan kekurangan itulah kita bisa saling melengkapi.. bisa saling menghargai...”


Sofwa tersenyum kecil mendengar ucapan Fitra barusan. Rasanya dia belum puas, dia belum percaya apakah Fitra bisa menerima kekurangannya yang satu ‘itu’, kekurangan yang tidak akan bisa untuk diperbaiki lagi... tidak bisa. Raihan seperti membaca gelagat Sofwa yang hendak mengutarakan sesuatu. Ia paham betul kemana arah pembicaraan Sofwa tersebut, maka ia cepat-cepat mengambil arah pembicaraan mereka.


“Sudah-sudah. Nayla sayang... Fitra kan sudah bilang yang sebenarnya... ayolah... jangan dibahass lagi masalah ini... kita anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa... lebih baik kita fokuskan aja masalah pernikahan kalian, bagusnya tanggal berapa ya?” kata Raihan yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi Sofwa yang memang belum puas tidak menanggapi omongan Raihan. Ia ingin membuktikan langsung saat itu juga apakah Fitra akan tetap mau menerima dia setelah tau apa kekurangannya yang begitu fatal itu.


“Kamu mau tahu apa kekurangan ku yang sama sekali ngak bisa diubah itu?” tanya Sofwa kearah Fitra. Raihan agak memelas kearah Sofwa agar dia tidak nekat mengatakan yang sebenarnya pada Fitra.


“Apa?” Tanya Fitra dengan sangat penasaran.


“Fitra, aku ngak mau memulai hubungan ini dengan sebuah kebohongan... apalagi ini hubungan yang sakral. Ikatan yang sah. Ikatan pernikahan...” ucap Sofwa sambil menarik nafas. Fitra menunggu lanjutan ucapan Sofwa dengan dada yang berdebar. Sedangkan Raihan pasrah, tidak berbuat apa-apa lagi.


“Sebenarnya... aku ne, Sofwatun Nayla... memang masih gadis... akan tetapi... aku tidaklah perawan lagi...” ucap Sofwa pelan dan pasti. Akhirnya... kalimat itu terucap juga dari mulutnya... rahasia besar yang ia tutup rapat-rapat tapi kali ini ia bongkar dihadapan Fitra. Dihadapan laki-laki yang hendak menikahinya. Sofwa hanya bisa pasrah, apapun kenyataan yang akan ia terima nantinya, itulah takdir dari Allah untuknya. Sofwa menunduk, tidak berani ia menatap Fitra maupun Raihan. Keadaan hening beberapa saat. Fitra memejamkan matanya, ia seperti berfikir keras. Apa yang didengarnya barusan benar-benar membuat dadanya sesak. Jika ia memperturutkan egonya saat ini, pasti. Pasti ia langsung pergi dan meninggalkan Sofwa. Tapi, apa yang bisa ia lakukan lagi jika hatinya berkata, aku redho... aku ikhlas...bukankah sebuah pernikahan tidak hanya dinilai dari sebuah keperawanan?


...🌸🌸🌸🌸...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2