
Seperti malam-malam sebelumnya Sofwa selalu terbangun di sepertigaan malam untuk kembali bermunajat kepadaNya. Ia berusaha menguatkan badannya untuk kekamar mandi dan mengambil wudhu meskipun saat itu infus masih terpasang di tangan kirinya. Dia tidak membangunkan ibunya yang tampaknya tertidur dengan pulas. Ia sangat merasa iba kepada ibunya itu, tapi apa dayanya lagi? Kesedihan hatinya tidak bisa ia sembunyikan dari keluarganya yang akhirnya terungkap juga. Keluarganya lah yang menjadi penguatnya saat ini. Yaitu Ibu dan saudara kembarnya, Raihan. Hanya mereka yang ia punya. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggalkan mereka tanpa ada kabar, entah masih hidup entah tidak, Sofwa pun tidak tahu.
Disaat bersamaan seorang perawat memasuki kamar Sofwa, perawat tersebut mendapati Sofwa yang lagi tertatih tatih jalan menuju kamar mandi. Spontan perawat tersebut menolong Sofwa.
“Biar saya bantu ya?” tawar perawat tersebut yang ternyata Fitra.
Sofwa hanya tersenyum sambil mengangguk. Fitra membimbing Sofwa hingga kepintu kamar mandi dan tetap menunggu diluar pintu sampai Sofwa selesai berwudhu.
“Terima kasih ya, tapi.. maaf biar saya sendiri saja. Saya udah ambil wudhu”
“Ooh.. maaf, saya tidak tahu” Ujar Fitra
“Kamu mau sholat tahajud?” Fitra memberanikan diri untuk bertanya.
“Iya”
“Kalau boleh tau nama kamu siapa?” Fitra bertanya lagi.
“Aku rasa kamu sudah tau kok namaku, kenapa bertanya lagi” Kata Sofwa agak ketus.
“Untuk menyakinkan saja” Jawab Fitra.
“Nayla”
“Tapi aku lebih senang dengan nama Sofwa. Boleh aku panggil kamu Sofwa”
“Terserah kamu saja”
__ADS_1
Fitra terdiam, rasanya dia ingin melanjutkan obrolan dengan Sofwa tapi dia seperti kehabisan kata-kata mendengar jawaban singkat dari Sofwa.
“Maaf ya... Aku udah gak butuh apa-apa lagi, aku pengen sendiri. Kamu bisa pergi sekarang kok” Sofwa mengusir Fitra dengan halus. Fitrapun tau diri dan langsung keluar dari kamar Sofwa.
Beberapa saat kemudian Sofwapun tenggelam dalam tahajudnya, sepanjang ia sholat air mata tak henti-hentinya mengalir dipipinya, matanya yang sembab itu pun semakin sembab. Setelah sholat ia melanjutkan berdzikir dan berdoa panjang, menumpahkan segala kegundahan hatinya, mengadukan segala kehancuran batinnya kepada Allah. Dari jendela Fitra melihat itu semua, melihat dan mendengar curahan hati wanita tersebut.
“Ini cinta yang berlebihan. Allah tidak menyukai hamba-hambaNya yang seperti ini” kata Fitra yang tanpa sepengetahuan Sofwa sudah berdiri tepat didepan Sofwa yang kebetulan memang memejamkan mata saat berdoa.
“Kamu…!!!” Sofwa kaget dengan kehadiran Fitra dan dengan kata-katanya barusan.
“Maaf sebelumnya… jika aku lancang telah mendengar semua doa mu” Ucap Fitra merasa tidak enak hati.
"Mau ngapain lagi kamu?” kali ini Sofwa benar-benar marah.
'Siapa dia? Berani kali dia memvonis diriku yang tidak-tidak' Batin Sofwa.
“Entah kenapa ada dorongan dari hati aku untuk mengenal kamu lebih dalam dan menolong kamu agar keluar dari masalah hati yang kamu rasakan saat ini” ucap Fitra.
“Aku bukan sok tau. Aku tahu karena aku melihat dan mendengar. Sudah 1 bulan ini aku selalu memperhatikanmu. Aku ingin menolongmu keluar dari masalah hati ini.” Tekan Fitra.
“Tapi, untuk apa? Kamu kan ngak kenal aku? Kenapa mau menolong aku? Lagi pula aku ngak butuh ditolong siapa-siapa” Sofwa memberontak.
“Ngak kenal kamu bukan berarti ngak boleh menolong kamu kan? kita ini sama-sama manusia, makhluk ciptaanNya. Salah satu kewajiban kita terhadap manusia yang lain adalah dengan menolongnya yang lagi dalam kesedihan ataupun kesusahan dan juga saling tolong menolong dalam kebaikan.” Ucap Fitra pelan.
“Iya. Tapi, aku ngak butuh pertolongan siapapun saat ini. Cukuplah Allah yang menolongku….”
“Iya.. aku tahu, hanya Allahlah yang bisa menolong hamba-hambaNya. Tapi, Allah tidak akan merubah keadaan hambanya jika hambanya tidak berusaha untuk merubahnya. Maksudnya kamu boleh bersedih, menangis dan mengadukan semua kagalauan hatimu karena cintamu yang gagal, tapi kamu jangan terpaku dalam kesedihanmu saja. Kamu juga harus bangkit. Kamu harus memberi batas waktu sampai kapan kamu bersedih karena cinta ini, jangan berlarut-larut, jangan berlebihan. Karena Allah tidak suka dengan hambaNya yang berlebihan seperti ini”
__ADS_1
“Aku perhatikan kamu belum bisa bangkit dari keterpurukan mu ini. Malahan masih ‘menikmatinya’. Terlalu mendramatisir yang seakan-akan kamulah wanita yang paling menderita didunia ini. Kamu belum bisa mengikhlaskan cintamu yang hilang itu” Tegas Fitra.
“Sofwa, aku emang ngak kenal kamu sebelumnya. Tapi izinkan aku untuk membantu mu sebagai tanda masih ada manusia yang peduli akan penderitaanmu”
“Anggap saja aku adalah jawaban dari doa – doa yang kamu panjatkan kepadaNya. Aku ngak ada maksud apa-apa. Sungguh aku mengatakan ini karena aku ngak mau melihat kesedihan lagi dimatamu karena cinta yang belum halal itu. Maaf jika aku sok tau. Tapi memang aku sudah mencari tahu sebulan belakangan ini tentang kamu dan masalahmu. Jadi, aKU mohon Sofwa… bangkitlah. Jadilah wanita yang tegar, meskipun awalnya sulit tapi aku yakin kamu bisa jika kamu selalu berusaha dan tetap istiqomah”
“Jangan terpaku dengan kegagalan di masa lalumu, karena hidupmu bukan untuk masa lalu. Masa depan yang indah dan terang menderang kini tengah menantimu. Kamu harus move on, bergerak, berubah menjadi Sofwa yang lebih baik lagi. Tunjukkan kamu bukan wanita lemah, meskipun pada hakikatnya wanita itu lemah tapi tidak menutup kemungkinan kamu bisa menjadi wanita yang tegar”
“Sofwa.. kadangkala kita harus bisa berfikir sejenak akan takdir yang telah ditetapkan olehNya. Mungkin untuk awal-awalnya kita sulit menerima takdir yang tidak selaras dengan apa yang kita harapkan. Tapi, disini lah ujian keimanan yang Allah berikan kepada kita, sejauh mana kita bisa bertahan akan ketidakberdayaan kita sebagai manusia dalam melawan takdir. Bagaimana kita masih bisa mensyukuri apa yang telah terjadi meskipun sakit yang kta rasakan. Rasa sakit yang dirasakan ini bisa terobati jika kita mengikhlaskan segalanya, mengikhlaskan yang telah pergi dan jangan pernah sedikitpun mengharapkannya kembali. Karena sungguh berharap kepada makhluk hanya akan menelan kekecewaan semata apalagi manusia tempatnya salah dan khilaf.”
“Memang ikhlas itu kelihatan dan kedengarannya saja mudah tapi perwujudannya begitu sulit tapi tidak akan begitu sulit bagi mereka yang selalu menjadikan Allah sebagai sandarannya. Yang dekat dengan Allah” Jelas Fitra panjang lebar.
Sofwa benar-benar terpana dibuatnya, kata-kata yang terlontar dari mulut perawat tampan itu bagaikan seuntaian mutiara yang menyilaukan hatinya. Dengan menghela nafas panjang Sofwa mencoba menanggapinya.
“Terima kasih atas segala nasihatnya. Terima kasih atas kepeduliannya. Terima kasih atas niat baik kamu yang mau membantu aku. Aku ngak habis pikir, ternyata masih ada orang yang peka terhadap lingkungannya seperti kamu. Yang mau bersusah payah menawarkan diri untuk menolong orang lain meskipun tanpa di pinta. Aku hargai itu. Tapi, maaf… ini bukan masalah hati saja, sebenarnya masih ada masalah lain yang memang membuat hidupku hancur sehancur-hancurnya. Aku bukan hanya kehilangan cintaku, bukan hanya kehilangan seseorang, jika cuman itu mungkin aku ngak akan seperti ini. Tapi ini beda aku kehilangan yang lain dari itu dan gak akan mungkin bisa kembali utuh seperti semula” tangis Sofwa kembali meledak.
Fitra berfikir sejenak. Menerka-nerka kearah mana topik pembicaraan Sofwa kali ini. Ia berfikir keras dan mencoba mencerna kata-kata yang terlontar dari lisannya Sofwa.
“Apa yang hilang dari kamu?” akhirnya Fitra menyerah, dia tidak tahu jawabannya.
“Kamu tidak perlu tahu” jawab Sofwa.
“Oke.. tidak apa-apa, yang pasti apapun itu yakinlah Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-hambaNya. Dan Dia pasti akan menolong hambaNya, seberat apapun itu masalahnya”
“Intinya... sakit patah hati bertahan selama kamu menginginkannya, dan akan mengiris luka sedalam kamu membiarkannya, tantangannya bukanlah bagaimana kamu bisa mengatasi, melainkan apa yang bisa kamu ambil sebagai pelajaran dan hikmahnya”
Fitra tidak tahan lagi harus berlama-lama didalam sana, apalagi hanya mereka berdua meskipun ada ibunya Sofwa tapi sepertinya ibu Sofwa tidur pulas sekali sehingga tidak menyadari sama sekali akan keberadaannya dan pembaicaraan mereka. Kemudian Fitra pamit keluar dengan sebelumnya mengatakan La Tahzan kepada Sofwa.
__ADS_1
Sepeninggalan Fitra. Sofwa menghela nafas panjang. ia memejamkan mata dan mencerna kembali semua ucapan dan nasihat yang diberikan perawat yang belum ia tahu siapa namanya? Ia baru kenal malam ini, tapi ia merasa dekat. Kata-kata perawat itu sungguh menggugah hatinya, sedikit demi sedikit dadanya yang awalnya sesak serasa agak sedikit lega. Beban batin yang berkecamuk serasa lapang. Perasaannya mulai tenang. Apakah ini? Sofwa tidak tahu, hanya sebuah senyuman tipis yang kembali menghiasi parasnya.
Bersambung...