
Hari minggu pagi Fitra sudah rapi dan siap untuk menjemput Sofwa. Randipun sudah datang menjemputnya. Randi akan menemani Fitra.
“Yuk Rand...” Ajak Fitra, lalu mereka masuk ke mobilnya Fitra. Fitra yang mengemudi mobil saat itu .
“Udah kabarin Raihan kan pagi ini kita mau kerumahnya?” Tanya Randi.
“Udah.. tapi aku belum pernah kerumah mereka. Cuman dikasih alamat ini... ntar kita tanya aja sama orang” Kata Randi.
“Oke sip.” Jawab Fitra.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan rumah Raihan dan Sofwa. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang kecil dan sangat sederhana. Kemudian, Fitra dan Randi mengetuk pintu rumah tersebut sambil mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian, Seorang wanita setengah baya membuka pintu dan menjawab salam mereka. Wanita berkerudung panjang itu membuka pintu dan menatap dengan pandangan bingung kearah mereka.
“Cari siapa ya?” Tanya wanita tersebut dengan heran.
“Kenalkan buk saya Fitra dan ini teman saya Randi...” Kata Fitra sambil menyalami wanita yang ia yakini adalah ibunya Sofwa. Randi juga melakukan hal yang sama.
“Ya Ampun.. Ini toh yang nak Fitra itu. Tampan benar kamu nak, ayok.. ayok.. masuk...” Ujar Ibunya Sofwa dengan tersenyum lebar. Setelah itu, Fitra dan Randipun masuk lalu duduk di kursi panjang yang ada didalam rumah dan menurut mereka tidak layak lagi untuk digunakan.
“Bentar ya Nak, Sofwa masih dikamar. Sedangkan Raihan ada keperluan keluar sebentar..." Ucap Ibu Sofwa.
"Nah, itu Raihan datang...” Sambung Ibu Sofwa lagi ketika melihat Raihan datang dan masuk kerumah.
“Hai.. Fitra, Randi... sudah lama datangnya?” Sapa Raihan dengan ramah. Ia lalu meyalami kedua tamu istimewanya tersebut.
__ADS_1
“Tidak. Kami baru saja sampai” Jawab Randi sambil tertawa kecil.
Setelah itu mereka sibuk mengobrol – ngobrol sambil menunggu Sofwa yang masih siap-siap dikamar. Sedangkan Ibu Sofwa izin ke dapur membuat minuman untuk tamunya itu. Beberapa menit kemudian, Sofwapun keluar dari kamarnya.
Dengan sedikit gugup, Sofwa memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya keruang tamu. Setibanya disana, Sofwa semakin tidak bisa menguasai kegugupannya. Dia yakin wajahnya saat ini pasti bersemu merah karena rasa malu saat Fitra melihatnya. Sofwa hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tidak dipungkiri juga Fitra merasakan hal yang sama. Pesona wajah Sofwa membuat dirinya agak melayang. Sofwa begitu anggun dengan balutan gamis merah hatinya itu. Lalu Fitra pun mengalihkan pandangannya dari Sofwa.
“Ehemmm...” Raihan memecahkan keheningan yang terjadi beberapa detik tersebut. Ia menatap secara bergantian, antara Fitra dan Sofwa yang terlihat sekali wajah mereka yang langsung bersemu merah. Fitra kembali kepada kesadarannya. Diapun beristighfar dalam hati. Tidak seharusnya dia seperti ini.
Setelah itu mereka semua akhirnya berangkat kerumahnya Fitra. Sesampainya di rumah Fitra, dimana kedua orang tuanya telah menunggu kedatangan mereka semua. Kedua orang tua Fitra menyambut kedatangan Raihan dan Sofwa dengan hangat.
Sebelumnya Fitra sudah menjelaskan latar belakang Sofwa. Alhamdulilah kedua orang tua Fitra tidak terlalu mementingkan latar belakang, mau dari keluarga berada atau tidak yang penting mereka yakin pilihan anak mereka adalah pilihan yang terbaik baginya dan bagi mereka.
Pertemuan singkat saat itu, awalnya cuman perkenalan saja. Pendekatan antara kedua Orang tua Fitra kepada Sofwa. Dan untuk seterusnya Orang tua Fitra menyerahkan ke Fitra untuk menentukan kapan pernikahan mereka dilangsungkan, cuman Mama Fitra menekan kan untuk disegerakan.
Malam harinya, Fitra dan Mamanya sedang duduk diruang tengah.
“Mama suka sekali dengan Sofwa, Fitra. Pilihan kamu memang mantap! Terlihat kok dari wajahnya Sofwa itu gadis yang baik, shaliha, santun, Pokoknya Mama setuju banget kamu menikah dengannya. Hhmm... Mama sarankan kalian segera lah menikah, jangan lama-lama ya.....” Ujar mama Fitra sambil tersenyum lebar.
Fitra hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Mamanya barusan. Dia tetap bersyukur karena Mamanya bisa langsung menyukai Sofwa, meskipun didalam hatinya sebenarnya mengharapkan wanita lain untuk menjadi pendampingnya. Tapi... Fitra langsung buru-buru menepis keinginan yang tidak mungkin kembali lagi dilakukannya. Fitra sudah mencoba tuk mengikhlaskan apa yang menjadi tujuan utama saat itu.
“Syukurlah kalau Mama dan Papa setuju dan menyukai Sofaw...” Jawab Fitra sambil tersenyum juga.
__ADS_1
Yach! Setelah ini... Fitra harus belajar. Belajar untuk segalanya, belajar untuk mencintai Sofwa, belajar untuk setia. Karena Fitra tidak mau mengawali ini semua dengan kata terpaksa. Fitra ingin memberikan cinta dankasih sayangnya ke Sofwa karena Allah. Mencintai Sofwa karena Allah. Yach! Fitra benar-benar bertekad didalam hatinya.
'Kuatkan tekad Hamba ini ya Allah..' Batin Fitra.
...@@@...
Sofwa telah menyelesaikan segala tugasnya dikampus. Itu semua berkat tekad dan kerja kerasnya yang membuahkan hasil yang semaksimal mungkin. Cuman selangkah lagi Sofwa akan menyusul Raihan dan teman-temannya yang lain untuk sidang skripsi agar ia bisa wisuda bareng sama mereka.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Hari dimana Sofwa dan Raihan serta teman-teman yang lainnya melangsungkan wisuda mereka. Di hari H tersebut Sofwa mengundang Fitra untuk hadir. Bukan hanya sekedar undangan semata tapi Sofwa sangat berharap Fitra bisa hadir dan menjadi pendamping wisudanya.
Ternyata Fitra datang memenuhi undangan Sofwa. Betapa bahagianya Sofwa melihat Fitra yang juga tengah memperhatikannya dari kejauhan. Fitra datang bersama Randi.
“Sofwa cantik juga ternyata Ra, tapi.. dia tidak semanis Rania...” ucap Randi tiba-tiba yang membuat Fitra langsung menatapnya tajam.
“Sorry. Mengingatkan kamu..” kata Randi merasa bersalah. Fitra hanya diam saja, tanpa berkomentar apapun karena tidak dipungkiri juga apa yang dikatakan Randi barusan benar adanya. Fitra menarik nafas kesal. ‘Sudahlah Fitra.. kamu harus konsekuen dengan pilihanmu. Bukankah kamu sudah bertekad untuk setia dan tidak lagi memikirkan wanita selain Sofwa?’ Fitra berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
“Terimakasih banyak ya atas kehadiranmu, aku senang sekali...” kata Sofwa ketika acara sudah selesai, lalu ia dan Raihan menemui Fitra yang duduk dikursi tamu. Fitra mengangguk-angguk sambil memberikan senyuman khasnya itu kepada Sofwa. Sofwa seakan melayang-layang mendapat senyuman Fitra tersebut. Dan malamnya, Sofwa dan Raihan mengadakan syukuran dirumah mereka. Syukuran atas berhasilnya mereka dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Lagi-lagi Sofwa mengundang Fitra, Randi dan Nia. Mereka datang berbarengan malam itu.
“Selamat ya Sofwa.. kamu hebat betul lah.. bisa mengejar ketinggalan mu bahkan bisa lulus dengan hasil yang sangat memuaskan” kata Nia memuji kesuksesan Sofwa.
“Alhamdulilah Nia.. semua ini aku usahakan agar target yang telah aku susun bisa terwujud” ucap Sofwa sambil tersenyum kearah Fitra. Senyuman penuh arti dan kasih.
...@@@...
__ADS_1