Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 52 (EMOSI)


__ADS_3

Fitra memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Sofwa. Kemudian ia turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah tersebut. Dengan mengucapkan salam, Fitra mengetuk pintu rumah Sofwa. Beberapa saat kemudian, Terdengar lah langkah kaki yang datang mendekati pintu.


"Wa'alaikumussalam.." Jawab Seorang wanita cantik berkerudung merah.


Sesaat ia terpana dengan sosok yang datang berkunjung kerumahnya. Lelaki dihadapannya itu sudah melayangkan sebuah senyuman manis untuknya.


"Hai.. Sofwa.." Ujar Fitra yang membuyarkan keterpanaan Sofwa seketika.


"Ee.. Kamu Fitra, silahkan masuk.." Kata Sofwa mempersilahkan Fitra untuk masuk. Fitra masuk dan langsung duduk dikusi tamu.


"Kamu.. Mau ketemu siapa?" Tanya Sofwa. Karena dia yakin Fitra pasti bukan mau ketemu dengan dia. Pasti mau ketemu dengan Raihan.


"Raihan adakan dirumah?" Fitra bertanya.


"Ada.. Dikamar, sebentar ya aku panggilkan.." Lalu Sofwa masuk kedalam menuju kamar Raihan.


"Bang.. Bang Raihan.." Panggil Sofwa sambil mengetuk pintu kamarnya Raihan.


"Ada apa?" Sahut Raihan dari dalam kamarnya.


"Ada tamu." Kata Sofwa.


"Siapa??"


"Fitra."


"Ha???" Raihan langsung membuka pintu kamarnya setelah Sofwa menyebut nama Fitra.


"Mau apa dia datang kesini?" Tanya Raihan dengan ekspresi tidak senang.


"Ngak tau. Sudahlah jangan banyak tanya, bang. Abang jumpai aja dulu dia.." Suruh Sofwa dan akhirnya Raihanpun pergi menemui Fitra.


Sesampainya diruang tamu..


Ketika Melihat kedatangan Raihan, Fitra lalu berdiri dan bergerak sedikit mendekatinya. Ia bermaksud untuk menyalami dan merangkul Raihan. Namun, Raihan dengan sigap langsung menghindar dari salam dan rangkulan yang akan diberikan oleh Fitra.


Fitra yang menyadari akan sikap Raihan yang tidak bersahabat lagi dengannya, membuat dia menjadi yakin kalau Raihan tidak terima dengan keputusan yang sudah ia buat dengan Sofwa sebelumnya.


"Raihan.. Apa kabar?" Tanya Fitra dengan Ramah. Yang ditanya langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kabar buruk" Jawab Raihan langsung.


Sofwa yang berada disamping Raihan lalu menyenggol bahu abang nya karena lagi-lagi sikap Raihan membuat dirinya menjadi serba salah.


"Kenapa?" Tanya Fitra bingung.


"Aku rasa kamu tau kenapanya. Jadi, tidak perlu dijelaskan lagi." Jawab Raihan dengan nada ketus.


"Raihan... Aku minta maaf sama kamu. Atas keputusan yang akhirnya aku dan Sofwa buat. Maaf aku tidak jadi menikahi Sofwa yang mungkin membuat kamu sangat kecewa. Aku benar-benar minta maaf. Aku harap persaudaraan dan pertemanan kita tidak berakhir gara-gara ini. Aku ingin selalu menyambung silahturahim dengan kalian berdua.." Jelas Fitra.


Mendengar penjelasan Fitra membuat Raihan tersenyum sinis.


"Bilang kata maaf memang mudah tapi sama saja tidak akan merubah keadaan." Kata Raihan dengan sinis.


"Bang.. Keputusan ini awalnya dari Sofwa Bang, bukan semata-mata dari Fitra saja. Sofwa yang memutuskannya. Sofwa yang membatalkannya. Jadi kalau Bang Raihan mau marah, marah sama Sofwa. Bukan dengan Fitra ataupun Rania." Kini akhirnya Sofwa mengeluarkan suara yang sedari tadi ia tahan.


"Ya dia salah juga. Kenapa mau menerima keputusan dari kamu begitu saja. Tanpa memikirkan perasaan kamu, perasaan aku dan juga perasaan ibu. Seharusnya dia bisa menolak. Begitu juga dengan wanita itu.. Seharusnya dia tidak langsung menerima lamaran Fitra. Itu sama saja dia tidak bisa menghargai dan menjaga perasaan kita semua Sofwa. Paham kamu??" Ucap Raihan yang kini benar-benar terlihat marah besar. Itu terlihat dari nada bicaranya yanh semakin meninggi dan juga raut wajahnya yang memerah.


Sebenarnya Fitra ingin mengeluarkan suara lagi, tapi tidak jadi karena ia bisa lihat dan rasakan bagaimana emosinya Raihan saat ini. Fitra merasa percuma saja ia banyak bicara saat ini, orang yang tengah emosi tidak akan mempedulikan lawan bicaranya. Ia merasa bahwa dirinya lah yang benar. Maka dari itu, Fitra memilih diam. Setidaknya sampai emosi Raihan terkendalikan.


"Sudah bicaranya?? Kalau sudah, silahkan pergi. Aku Sibuk." Kata Raihan lalu beranjak dari sana meninggalkan Sofwa dan juga Fitra.


"Fitra, maaf y?" Kata Sofwa setelah Raihan pergi.


"Ya lebih kurang seperti itulah. Bang Fitra belum bisa menerima kenyataan ini." Jawab Sofwa dengan warna bersalahnya.


"Hhmm.. Kasihan Rania, sebenarnya bukan salah dia. Tapi, dia kenak imbasnya dari perbuatan dan sikap Raihan yang kasar." Ucap Fitra merasa sedih ketika membayangkan Rania juga diusir dan dimarahi seperti tadi.


"Maaf Fitra. Nantik.. Aku bantu ngomong lagi sama Bang Raihan. Setidaknya tunggu sampai emosinya agak mereda." kata Sofwa.


"Iyaa.. Kamu kabari aja nantik jika Raihan sudah mau diajak bicara baik-baik. Aku akan datang kembali. Terimakasih Sofwa.." Kata Fitra.


"Sama-sama."


"Oya, kamu mau aku bikin kan minum dulu?" Tawar Sofwa kepada Fitra.


"Ngak usah, Sofwa. Aku mau langsung pulang saja." Jawab Fitra.


Beberapa saat kemudian, Fitrapun pamit pulang.

__ADS_1


...***...


Sedangkan diperjalanan menuju rumahnya, Rania dan Raisya masih membahas tentang sikap Raihan yang kasar tadi terhadap mereka.


"Rania, kira-kira si Fitra dikasarin juga gak ya sama si Raihan itu?" Tanya Raisya penasaran.


"Hhmmm... Entahlah Raisya. Mudah-mudahan saja tidak. Mereka kan lumayan akrab, aku rasa dengan Fitra dia lebih segan." Kata Rania berpendapat.


"Mudah-mudahanlah ya" kata Raisya.


Beberapa menit kemudian merekapun sampai kerumah dakwah mereka.


"Rania, Raisya.. Kalian dari mana??" Sebuah suara terdengar dari depan pintu. Ternyata itu suara Hamidah, gadis yang memiliki badan agak berisi dari mereka semua yang ada dirumah tersebut.


Lalu Raisya menjawab pertanyaan Hamidah. Detik kemudian, Hamidah lalu mendekati mereka dan mengeluarkan suara dengan setengah berbisik.


"Si Jeni.. Aku dengar dari tadi dikamar lagi nangis. Lama banget nangisnya, seperti ada masalah berat.." Kata Hamidah dengan mimik wajah yang serius.


"Terus kamu gak coba masuk ke kamarnya dan tanya langsung ke dia ada apa?" Rania bertanya.


"Sudah berkali-kali malahan aku ketuk pintu kamarnya, tapi tetap gak ada jawaban. Tetap aja dia masih nangis. Coba dech kalian yang ketuk, mana tau dia mau keluar." Ujar Hamidah.


Setelah itu, Rania bergegas masuk kedalam rumah yang di ikuti oleh Raisya dan Hamidah dibelakangnya.


Sesampainya didepan kamar Jeni, Rania langsung mengetuk pintunya dan memanggil Jeni dengan lembut. Satu panggilan. Tidak ada jawab. Dua panggilan.. Juga tidak ada jawaban. Yang terdengar adalah suara tangisan Jeni yang Semkain kuat dan meraung-raung, sehingga membuat mereka bertiga semakin risau.


"Jeni.. Jen... Buka pintunya.. Kamu kenapa??" teriak Rania didepan pintu Jeni.


"Iya, Jeni.. Kamu kok nangis kayak gini kali? Bikin kami risau.. Kalau ada apa-apa kasih tahu donk Jen, jangan bikin kami risau diluar ini dengar suara tangisan mu itu." Kata Raisya.


"PERGI KALIAN.. PERGI..!! JANGAN PEDULIKAN AKU..!!" Teriask Jeni dari dalam kamarnya.


"Jeni, apapun masalah mu.. Ingat kamu tidak sendirian Jen. Setidaknya kamu masih punya Allah tempat kamu mengadu dan kembali. Dan juga kamu punya kita.. Kita yang juga selalu ada untuk kamu.. Kita semua yang peduli dengan kamu..." Kata Rania yang masih berusaha membujuk Jeni agar membukakan pintu kamarnya.


"Jadi, kami mohon.. Bukalah pintu kamar kamu sebentar saja.. Biar kami bisa Membantu mengurangi bebanmu meskipun sedikit. Tapi, sebagai saudara seiman kami akan siap membantu kamu untuk mencari solusi terbaik dari permasalahan kamu, Ya Jeni??" Ujar Rania yang masih sabar menunggu Jeni untuk membuka pintu. Walaupun sudah lama mereka kenal dan tinggal serumah, Namun Rania belum bisa melunakkan hati Jeni yang keras. Tapi, Rania tidak pernah putus asa. Ia yakin dengan kekuatan doa. Ia yakin suatu saat hati Jeni akan lembut dan mau menerimanya sebagai sekarang teman baik..


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2