Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 32 (JODOH DARI ALLAH)


__ADS_3

Saat terjaga dari tidurnya tanpa ia sadari matanya telah basah. Ia menangis dalam tidurnya dan berkali-kali pula ia mengigau menyebut-nyebut nama abangnya, Andre. Nisa tidak tau lagi harus mencari dimana keberadaan abangnya. Sudah lebih dari seminggu abangnya menghilang, meninggalkan dirinya sendiri dirumah kecil ini. Nisa merasakan kesedihan yang luar biasa sekali, ia benar-benar merasa hidup sebatang kara. Tanpa orang tua, keluarga maupun saudara.


Namun demikian, untuk melanjutkan kehidupannya ia tetap mencari nafkah. Subuh-subuh buta ia bangun, setelah sholat Nisa langsung membuat kue basah yang akan dijualkannya nanti disekolah. Tidak banyak sech tapi bisa lah untuk makannya hari ini. Dan Nisa masih bisa bersyukur karena biaya sekolah tidak ditanggung oleh dirinya, setiap tahunnya ia selalu mendapatkan santunan karena ia anak yatim piatu. Selain itu, dia juga mendapatkan beasiswa atas prestasinya disekolah. Nisa sebenarnya tidaklah begitu pintar, tapi ia rajin. Kerajinannya itu yang mengantarkan dirinya menjadi siswa yang unggul dikelasnya.


Jam dinding dirumahnya menunjukkan pukul 07.30. Sudah saatnya Nisa untuk berangkat sekolah. Nisa menyandang tas lusuhnya sambil menjinjit plastik hitam yang berukuran sedang, tempat kue-kue yang akan ia jual nanti disekolah. Nisa berangkat menggunakan angkot. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit dijalan dan akhirnya ia pun sampai disekolah yang terkenal dikalangan elit tersebut.


“Assalamu’alaikum...” Nisa masuk kekelas, mengucap salam lalu berbaur dengan teman-temannya yang sudah berada dikelas. Seperti biasa dia langsung menawarkan kuenya.


“Teman-teman, ini kue... siapa yang mau beli ayo mendekat, murah kok cuman seribu” Promosi Nisa kepada teman-temannya. Beberapa temannya mulai mendekat dan membeli kue Nisa. Karena rasa kue Nisa yang memang enak tersebut membuat teman-temannya ketagihan dan membelinya lagi. Nisa senang bukan main, jualannya pagi itu habis total.


“Alhamdulilah, kuemu habis Nisa... dapat berapa penghasilan hari ini?” Tanya Zahra. Dikelas, Nisa seduduk dengan Zahra. Si ketua Rohis disekolah tersebut.


“Alhamdulilah dapat 50 ribu Ra, aku senang banget...”


“Syukurlah Nisa. Kamu mandiri sekali Nisa, diusiamu yang masih tergolong remaja tapi kamu mampu menghasilkan uang dari usaha mu sendiri, beda dengan aku dan teman-teman yang lain. masih meminta-minta sama orang tua” Puji Zahra.


“Bukan apa-apa Zahra, aku bisa seperti ini karena tuntutan hidup. Andai saja keluarga ku lengkap seperti kamu dan teman yang lain, pasti... aku ngak seperti ini Zahra. Ditambah lagi, abangku juga pergi meninggalkanku...” TIba-tiba wajah Nisa berubah. Ia seperti menahan air mata. Zahra melihat gurat kesedihan yang sangat di wajahnya Nisa.


“Pergi kemana Sa?” Tanya Zahra. Karena tidak tahan lagi, Nisa pun menceritakan semuanya kepada Zahra. Tentang abangnya di masa lalu dan masa sekarang. Semua djelaskan dengan rinci, akan perubahan drastis yang terjadi pada abangnya sampai abangnya hilang tanpa jejak.


“Ya Allah.. begitu tragis sekali yang kamu alami Nisa. Dan abangmu itu sampai saat ini menghilang. Dimana ya dia? Apa dia ngak kasihan sama kamu Sa? Jadi sekarang kamu tinggal sendiri? Mmmm... gimana untuk sementara kamu tinggal dirumah aku saja sampai abang mu pulang. Karena aku khawatir jika kamu tinggal sendiri nanti terjadi apa-apa sama kamu Sa" tawar Zahra. Tapi, tiba-tiba Zahra teringat, mana mungkin Nisa bisa tinggal dirumahnya yang selalu terjadi perang mulut antara papa dan mamanya. Bukannya Nisa jadi tenang tapi malah sebaliknya. Zahra berfikir keras, harus dimana Nisa diungsikan?

__ADS_1


“Ohya, maaf Sa. Bukan apa-apa, tapi menurutku gimana kalau kamu tinggal dirumah dakwah kak Nazwa saja? Kamu tau kan kak Nazwa. Motivator yang selalu memberi motivasi kepada kita-kita kalau ada acara keagamaan gitu.”


“Iya aku tau kok Ra, tapi.. apa kak Nazwa mau menampung aku?”


“InsyaAllah. Kita tanya dulu, mudah-mudahan beliau mau”


“Ya dech..”


“Kalau gitu entar sore kamu musti ikut rohis bareng aku dan teman-teman lainnya ya” Kata Zahra yang ujung-ujungnya mencari tambahan anggota rohisnya.


“Ya dech...” Jawab Nisa akhirnya, padahal dulu ia sering menolak tawaran tersebut tapi kali ini hatinya luluh. Dia memang benar-benar butuh ketenangan. Dan ia rasa ketenangan itu akan ia dapati ketika mengikuti kegiatan keagamaan seperti Rohis.


Keadaan Rania mulai pulih, panas badannya mulai turun dan sakit kepalanyapun berangsur-angsur hilang. Memang 2 hari kedepannya dia akan benar-benar bedrest total dikamarnya. Akhirnya dengan terpaksa dia meliburkan diri dari perkuliahan dan pekerjaannya. Tapi, Rania tetap mengusahakan untuk hadir diperhalaqohan. Rania meminta kepada Sarah agar halaqoh kali ini diadakan dirumahnya saja.


“Kami sech oke-oke aja Ran, tapi kamunya gimana? Jangan dipaksain kalau ngak kuat” Kata Sarah melalui telpon.


“InshaAllah jika untuk mendengarkan saja Rania kuat kok kak” Jawab Rania dengan yakin. Jadilah halaqoh tersebut diadakan dirumah kosannya Rania.dan ketika Teman – teman seperhalaqohan datang, mereka datang dengan membawa buah-buahan. Kata mereka sekalian menjenguk Rania yang sakit. Rania merasa senang masih banyak orang yang menyayanginya.


Rania jadi teringat saat dirumah sakit kemaren. Dimana kejadian pingsannya itu menjadi sebuah tanda besar dibenaknya. Yah.. tentang siapa lagi kalau bukan tentang perawat tampan sekaligus penulis yang bernama Fitra itu. Rania tidak pernah mengira akan bertemu Fitra malam itu di lift, dan lebih lagi Rania tidak menyangka dia pingsan dan saat terbangun sudah ada aja di ruang perawatan. Rania yakin si perawat itu yang menyambut tubuhnya, kalau bukan dia siapa lagi coba? Tapi, Rania tidak berani membahas hal itu. ia begitu malu. Gak terbayang olehnya bagaimana Fitra menggendong dirinya hingga kekamar rawatan. Jika memikirkan itu membuat rasa malu ini semakin memuncak saja.


Ditambah lagi ketika salah seorang perawat wanita masuk sorenya kekamar Rania untuk menyuntikkan obat. Perawat itu sempat bercerita lama kepada Rania.

__ADS_1


“Kalau ngak salah aku pernah lihat kamu sebelumnya dech. Kamu bekerja disini juga kan?”


“Iya.. baru 2 bulan kak” Kata Rania agak segan, di yakin perawat ini sudah lebih senior dari dia dan pasti sudah lama kerja dirumah sakit  ini.


“Jangan panggil kakak, panggil Nia aja. Kita seumuran kok. Umur kamu 24 kan? Aku juga” Katanya sambil memasukkan obat kedalam cairan infus Rania.


“Oya, kamu udah kenal sama Fitra sebelumnya ya?” Rania hanya mengeleng menanggapi pertanyaan aneh dari Nia tersebut.


“Aku heran, aku pikir kalian sudah saling kenal... ternyata tidak ya?”


“Emang kenapa?” rRasa penasaran menyelimuti hati Rania.


“Iya. Kamu tau ngak Fitra rela-relain ngejagain kamu sejak malam kamu pingsan sampai paginya kamu sadar. Setiap 15 menit di ngecek kekamar kamu. Terus nech... dia kan dinas malam yang seharusnya jam 7 udah ganti shift, tapi... aku heran kenapa dia ngak pulang-pulang sampai jam 11 siang, dan ternyata dia sengaja tungguin cairan infus mu habis biar digantikannya. Randi, teman satu dinas Fitra tadi malam yang cerita pada ku” Jelas Nia waktu itu yang membuat dada Rania agak bergetar. Getaran apa ini? Rania tidak mengerti.


“Aku rasa dia suka dengan kamu” Kata Nia yang mampu membuat Rania jadi salah tingkah. Sepanjang Nia bercerita tentang Fitra, Rania hanya diam mendengarkannya. Dia tidak tau mau menanggapi apa, juga berkata apa lagi? Untuk menguasai perasaannya saat ini aja dia ngak mampu. Rania benar-benar bingung.. cobaan kah atau ujian apalagi kah yang akan menimpa perasaannya kali ini?


“Fitra itu lelaki yang baik kok. Asal kamu tau aja dia itu idaman setiap wanita yang memang sudah kenal dan tau sifat dia. Jangankan kami teman-temannya, pasien pun sangat senang terhadapnya. Dia itu pandai menghibur... kata-kata yang keluar dari mulutnya itu bak seperti seuntaian mutiara indah, dan kami yang dengernya menjadi termotivasi...”


“Dia pun sangat islami. Maklumlah dia dulu pernah mengecap pendidikan di pesantren. Ilmu agamanya sangat bagus, sampai saat ini diapun aktif memberi kajian-kajian. Pokoknya dia itu perfect banget sech. Beruntung sekalilah yang akan menjadi pendampingnya kelak. Tapi, sayang belum ada wanita yang mengena dihatinya. Nah, mendengar cerita Randi tadi pagi sech aku kaget. Ngak begitu yakin sech, makanya aku kesini dan bertanya langsung pada Kamu,  ternyata kalian ngak saling kenal ya? Kok bisa ya Fitra langsung perhatian sekali sama kamu? Meskipun dia aslinya memang perhatian sama orang lain, tapi sama kamu beda...” Sepanjang Nia menjelaskan hal itu panjang lebar kepada Rania, sepanjang itu pula jantung Rania tidak berhenti berdebar-debar. Perasaannya mulai lain. Apakah dia telah jatuh hati pada perawat tampan itu?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2