Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 22 (HAKIKAT HIDUP MANUSIA)


__ADS_3

Kehidupan baru mulai ditempuh Sofwa, semangat baru dan harapan baru. Ia bertekad akan kembali manata hidupnya yang sempat ia biarkan hancur. Ia kembali ke kampus dan bertemu teman-temannya. Sebuah tawaran indah di berikan oleh Fitra untuknya, tawaran untuk mengenal islam secara mendalam karena selama ini ia hanya mengenal islam secara dasarnya saja yang ternyata banyak yang tidak ia ketahui tentang islam.


Sofwa berharap bisa mendapatkan pemahaman yang baru itu dari sosok Fitra, sosok yang akhir-akhir ini dia kagumi. Tapi, Fitra menolaknya dengan halus. Dia bilang akan ada seorang muslimah yang akan membimbingnya.


“Kenapa bukan kamu saja?” Tanya Sofwa waktu itu. Sehari sebelum ia pulang kembali kerumahnya.


“Tidak boleh. ikhwan mengkaji dengan ikhwan begitu juga sebaliknya, akhwat dengan akhwat” ucap Fitra saat itu yang membuat Sofwa semakin bingung.


“Kenapa begitu? Emang apa salahnya akhwat diajarkan dengan ikhwan?”


“Karena islam sangat berhati-hati dalam menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun niat awalnya untuk belajar dan mengkaji ilmu agama islam, tapi ketahuilah setan sangat pintar membuat tipu daya terhadap manusia” jelas Fitra.


“Ooh.. maaf pemahaman ku belum sampai disana”


“Tidak apa-apa Sofwa. Itulah gunanya kita mengkaji”


Sofwa senyum-senyum sendiri ketika mengingat pertemuannya dengan Fitra terakhir dirumah sakit, setelah itu ia pulang kembali kerumahnya dan terbesit harapan besar dihatinya semoga saja Fitra datang untuk menjenguknya kerumah. Tapi, harapan itu hanya harapan kosong karena yang ditunggu tidak kunjung datang.


Hari ini Sofwa memberanikan diri untuk menghubungi Fitra. Menanyakan kepadanya perihal tawarannya untuk mengkaji islam secara mendalam. Fitra memberikan sebuah nomor dan alamat rumah seorang muslimah yang akan membimbingnya.


“Namanya Fitri. Dia saudara sepupuku. Sekarang dia tinggal dirumah binaan dekat kampusnya” kata Fitra mengenalkan saudara sepupunya sendiri untuk membimbing Sofwa.


“Kalau ngak salah kalian seumuran kok. Mudah-mudahan kalian cocok” kata Fitra sebelum mengakhiri percakapan mereka saat itu.


Hari itu juga Sofwa langsung menghubungi Fitri dan mereka membuat janji nanti sore akan bertemu. Sofwa yang menghampiri tempat kediaman Fitri. Setibanya disana Sofwa sungguh tidak menyangka karena sambutan dari Fitri dan teman-teman yang lain begitu hangat dan bersahabat. Padahal merekakan baru kenal dan pertama kali jumpa, tapi sudah dianggap seperti saudara sendiri. Sofwa jadi tersanjung.


Setelah itu mereka pun saling mengenal satu sama yang lain, saling bertanya tentang keluarga dan aktivitas masing-masing. Waktu 1 jam terasa cukup bagi mereka untuk mengenal secara singkat dan selanjutnya Fitri langsung mengerjakan amanat yang diberikan Fitra tadi pagi kepadanya untuk memberikan sebuah materi dasar kepada Sofwa supaya keinginannya mengenal islam secara mendalam itu semakin kuat.


“Sofwa, maaf sebelumnya… bukan maksud menggurui ya, karena aku juga masih dalam proses belajar… InshaAllah nanti kita akan sama-sama belajar… karena sebagaimana kita ketahui menuntut ilmu itu kan adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim apalagi ilmu itu berkaitan dengan agama yang kita anut yaitu islam” Fitri membuka obrolan baru mereka sore itu.


“Iya gak apa-apa. Lagian aku senang kok bisa dapat ilmu baru sekaligus teman baru” Sofwa menyahut dengan senyuman mengembang di bibirnya yang tipis.


“Untuk pertemuan pertama ini… ehemmm… aku jadi bingung sendiri ne mau ngasih materi apa? Karena jujur aku juga baru-baru belajar ngisi materi, hehe…” ucap Fitri jadi salah tingkah sendiri.


“Terserah aja Fit, yang penting bermanfaat dech. Ku yakin kamu bisa” Sofwa menyemangati Fitri.


“Oke.. Bismillahirrahmanirrohim…baiklah aku ingin ngajak kamu berfikir tentang sebuah kalimat yang berbunyi ‘siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya’. Kalimat tersebut terkait dengan Hakikat Mengenal diri. Maksud kalimat tersebut seperti ini, seharusnya jika kita mau melihat dari dalam diri kita sebagai seorang makhluk yang bernama manusia pasti akan terlintas dibenak kita tentang awal mula adanya kita, tentang dari mana kita berasal? Tidak mungkin segala sesuatu itu ada tanpa ada yang menciptakan bukan? Begitu juga kita sebagai manusia pasti ada yang menciptakan, yaitu sang pencipta. Kita lihat diri kita, pendengaran, penglihatan dan panca indera lainnya semua itu ada yang menciptakan. Siapakah Dia. Itulah sang pencipta. Penciptanya disini adalah Allah. Makanya kalimat diatas menegaskan siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya. Jadi untuk mengenal Tuhan kita Yaitu Allah sangat lah mudah yaitu dengan syarat kita harus mengenal diri kita dulu, asal kita dan tujuan hidup ini untuk apa?”


“Nah, terkait dalam mengenal diri. Sebenarnya dalam diri manusia itu ada 2 potensi, pertama Kebutuhan Naluri atau bahasa lainnya Ghorizah dan yang kedua Kebutuhan Jasmani atau Hajatul Adawiyah”

__ADS_1


“Contoh dari kebutuhan naluri ini adalah seperti naluri beragama, naluri mempertahankan diri dan naluri berkasih sayang sedangkan contoh kebutuhan jasmani adalah seperti makan, minum dan buang hajat. Perbedaan dari kedua potensi ini adalah jika kebutuhan jasmani itu harus segera dipenuhi jika tidak dipenuhi bisa mengakibatkan kematian. Iya kan? contohnya makan… gimana rasanya jika kebutuhan akan makanan tidak kita penuhi? Bisa mati bukan? Begitu juga dengan minum dan buang hajat Sof…”


“Oohh… iya ya… terus kalau kebutuhan naluri gimana?”


“Nah, beda dengan kebutuhan naluri. Jika tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan keresahan hati doank mah, ngak sampai matilah” jawabnya santai.


“Tapi… ingat!! Dibalik kedua potensi tersebut ada sesuatu yang berperan penting”


“Apa itu?” Tanya Sofwa penasaran.


“Akal”


“Akal?”


“Iya… kedua potensi itu harus berjalan berdasarkan akal kita. Maksudnya gini… beda manusia dengan hewan apa? Terletak dari segi apa? Dari segi akal bukan? Manusia disebut istimewa karena dianugerahi oleh Allah akal dan pikiran sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Beda dengan hewan yang sama sekali tidak diberikan anugerah itu kepada mereka”


“Jadi?”


“Yah.. dengan akal itu lah kita bisa menyalurkan kedua potensi tersebut dengan cara yang baik dan diridhoi Allah” jawabnya. Fitri berhenti sejenak dan melihat wajah Sofwa yang agak kebingungan. Sepertinya dia harus bisa memilah kata-kata yang tepat agar apa yang ia sampaikan tapat pada sasaran dan Sofwa pun dapat mengerti.


“Begini Sof, aku kasih contoh aja lah ya biar kamu bis langsung paham. Ehemmm,,, contohnya tentang makan dan minum. Itu kebutuhan yang harus dipenuhi tuch kalau ngak kitakan bisa mati. Tapi, ingat dalam pemenuhan itu ada syaratnya… yang pertama zatnya atau jenis makanan itu. Apakah termasuk makanan jenis yang halal atau haram? Siapakah yang menimbang tentang halal dan haram itu?”


“Siapa?” Sofwa balik bertanya.


“Dan harus diingat juga… selain zatnya yang harus halal. Cara mendapatkan makanan itu pun juga harus halal. Misalanya makanan yang kita makan zatnya halal ne tapi kita dapat dari hasil mencuri jadi ya haram donk…. Akal juga yang menimbang boleh dimakan atau ngaknya?”


“Ooh ya ya… tapi, gimana tu dengan orang yang awalnya sech tau itu haram tapi karena sesuatu hal dia terpaksa memakan atau mengambil yang haram itu, gimana coba” Tanya Sofwa.


“Nah, itu lah dia pentingnya kita mengenal Allah dan terikat dengan hukum syara’Nya. Jika keimanan kita udah mantap ditambah akal kita mendukung dengan sempurna, aku yakin tidak akan ada alasan untuk melakukan hal tersebut karena kita sudah paham akan dosa dan konsekuensi yang akan kita terima kelak diakhirat”


“Gitu ya”


“Iya Sof, dan … selanjutnya… Nah, itu kan tentang kebutuhan Jasmani yang harus dipenuhi tapi harus dipertimbangkan oleh akal mengenai halal dan haramnya. Yang kedua mengenai kebutuhan Naluri. Kebutuhan naluri ini terbagi lagi menjadi 3 macam Sof, pertama Naluri beragama atau Tadayun, yang kedua Naluri Baqo atau mempertahankan diri dan yang ketiga naluri Berkasih sayang atau nawu’.”


“Ini yang apabila tidak dipenuhi bakalan ngak mati tu ya?”


“Yup. Benar!”


“Kita bahas one by one yach… Naluri Tadayun… ini merupakan fitrah, setiap manusia pasti mempunyai rasa mentuhankan sesuatu jadi mustahil ada manusia atheis yang tidak mengakui Tuhan. Bearti dia mengingkari naluri yang memang sudah ada diberikan Allah untuknya. Misalnya ia menyembah patung, batu atau yang lainnya. Ia menganggap itu Tuhannya. Berarti jelaskan memang ada naluri tersebut meskipun aplikasinya dengan cara yang salah. Dan sekali lagi… disini peran akal untuk mengarahakan ke hal yang benar, ke siapa sebenarnya kita sembah, kepada Allah atau kepada batu?”

__ADS_1


“Kepada Allah lah” Sofwa menjawab.


“Alhamdulilah kalau aqidah kita sudah terpancar seperti itu. Tapi gimana ya dengan nasib orang yang masih menganggap tuhannya selain Allah? Sungguh menyedihkan bukan?”


“Iya, menyedihkan sekali”


“Setelah itu kita masuk dengan naluri yang kedua yaitu naluri baqo, naluri mempertahankan diri. Merasa berkuasa.Penampakannya mendorong manusia untuk melaksanakan berbagai aktivitas dalam rangka melestarikan kelangsungan hidup. Berdasarkan hal ini maka pada diri manusia ada rasa takut, keinginan menguasai, cinta pada bangsa dan lain-lain.”


“Dan yang terakhir naluri nawu’… ini agak sensitif ya…”


“Sensitif kenapa?”


“Karena ini terkait dengan masalah perasaan…. Perasaan manusia, perasaan erat hubungannya dengan rasa suka, sayang, rindu bahkan cinta terhadap lawan jenis. Jadi ini fitrah Sofwa, tenang saja. Ini ngak dilarang kok dan otomatis tidak dosa. Tapi… ada tapinya Loh.. hal ini hendaklah didasarkan atas hukum syara’ tadi, perintah dan larangan Allah.. jadi tatkala timbul dari dalam diri rasa suka terhadap lawan jenis, kita bisa lihat bagaimana si manusia dalam menyikapi perasaanya yang normal itu? Apakah sesuai dengan perintah Allah atau malah melanggarnya? Harus hati-hati Sofwa, masalah perasaan ini sensitif sekali”


“Maka lagi-lagi akal lah yang dapat mengendalikan perasaan suka tersebut. Agar rasa itu diridhoi Allah maka akal mengambil jalan yang mendekati keridhoan Allah yaitu dengan jalan pernikahan. Itulah jalan yang baik dalam mengaplikasikan cinta. Tapi, jika akal kalah dengan perasaan apalagi perasaan yang berlebihan, yang berjalan tanpa di landasi keimanan pasti kita akan mengambil langkah setan dengan menjadikan pacaran sebagai ritual untuk mengaplikasikan perasaan tersebut, benar atau benar….???”


Untuk beberapa detik Sofwa tertegun, mencoba meresapi kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Fitri. Mengenai perasaan, yang katanya sangat sensitif. Sama halnya dengan perasaannya saat ini, juga lagi sensitif. Ingatannya Sofwa tiba-tiba melayang ke Fitra. Sedang apa dia saat ini? Ia benar-benar merindukan lelaki itu? Dia benar-benar menyukainya? Tapi dengan cara apakah dia harus menyalurkan rasa rindunya ini? Rasa sukanya ini? Atau bahkan rasa cintanya ini? Sofwa tidak tahu. Dalam hati selalu ia aminkan semoga Fitra juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, tapi gimana kalau tidak? Sofwa tidak bakalan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya? Rasanya ingin sekali dia segera menikah… menikah dengan Fitra tentunya… tapi kapan waktu itu? Waktu ketika Fitra datang melamarnya? Haruskah dia yang mengutarakan mkasud tersebut? Tiba-tiba Sofwa merasa galau luar biasa sehingga tidak lagi menyimak penjelasan Fitri selanjutnya.


@@@


Di pertemuan selanjutnya Fitri kembali menyambung materi tentang ma’rifah kepada Allah yang dikaitkan dengan proses berfikir Nabi Ibrahim. Bagaimana Nabi Ibrahim dalam mengenal dan mencari Tuhannya.


“Nah, Sofwa… coba kita sama-sama menyimak sebuah cerita didalam surat ibrahim, disini dikatakan bahwa Nabi Ibrahim As. Ketika itu menggunakan akal dan pikirannya untuk mencari Tuhan. Sebelumnya beliau merasa prihatin terhadap keadaan rakyatnya dan termasuk juga keluarganya yang menyembah kepada berhala. Padahal berhala dan patung itu adalah buatan mereka sendiri, Nabi Ibrahim lantas berfikir? Bukankah Tuhan itu menciptakan? Bukan malah diciptakan? Beliau merasa aneh dengan kebiasaan keluarga dan masyarakatnya saat itu. Maka dengan mengumpulkan keberanian beliaupun pergi menghadap ayahnya sendiri yang saat itu bekerja sebagai pemahat berhala, lantas beliau mengutarakan kebimbangan dan ketidaksetujuan beliau mengenai berhala yang mereka sembah. Lalu, ayahnya malah memarahi beliau dan menyuruh beliau untuk tunduk pada kebiasaan nenek moyang mereka dulunya. Nabi Ibrahim menolaknya mentah-mentah. Karena itu semua diluar logika, ia tidak puas dengan penjelasan ayahnya. Dia disuruh taat tanpa harus berfikir apakah itu benar atau tidak? Kemudian… Ibrahim kembali berfikir… berfikir….. dia sangat penasaran siapa sech sebenarnya Tuhan itu? Hingga Pada suatu malam, Nabi Ibrahim as kagum akan bintang-bintang yang ada di langit. Ia menganggap bahwa itu adalah Tuhan. Namun kemudian ia kecewa ternyata bulan lebih besar dari pada bintang. Ia menganggap pula bahwa bulan adalah Tuhannya yang sebenarnya. Namun ketika menjelang pagi Nabi ibrahim terkejut karena bintang dan rembulan yang semalam diyakini sebagai Tuhan ternyata lenyap dari pandangan. Nabi Ibrahim as pun kecewa lagi. Lalu muncul pula matahari yang bersinar lebih terang dan besar.I a mengganggap bahwa matahari itulah Tuhannya. Sekali lagi Nabi Ibrahim as kecewa karena matahari juga hilang karena malam tiba.Akhirnya nabi ibrahim as mengetahui bahwa ALlah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.”


“Nah, seperti itu lah Sofwa… Kita ini makhluk yang mulia kata Allah. Karena diberi akal dan pikiran untuk berfikir dan merenung, beda dengan makhluk yang lainnya. Makanya… Allah membebani kita dengan dosa dan pahala, karena potensi akal yang kita miliki itu lah… apakah kita ingin menjadi hamba Allah yang di cap Khairul Insan atau malah sebaliknya… itu lah yang menjadi pilihan dalam kehidupan kita…” ucap Fitri dengan antusias.


“Bagaimana Sofwa apakah kamu bisa paham dengan penjelasan ku ini?” Tanya Fitri.


“Ehemm…. Alhamdulilah… aku udah cukup jelas dan paham Fit, Makasih banget ya Fit… banyak ilmu baru yang aku dapati dari kamu…”


“Sama-sama Sofwa, oya.. kamu jangan lupa berterima kasih juga dengan bang Fitra… kan dia yang ngenalin kamu sama aku…” kata Fitri.


“Iya Fit, InsyaAllah… jelaslah aku juga harus berterima kasih sama dia… dia itu… berpengaruh besar banget… bagi kehidupan ku…” jawab Sofwa pelan sambil menatap lurus kedepan.


“Maksudnya?” Tanya Fitri dengan nada curiga.


“Oohh.. ngak.. ngak ada maksud apa-apa kok…” Ucap Sofwa seakan tersadarkan dari perkataannya yang sedikit ngelantur, hampIr saja….


“Oohh… kirain… Ya udah… InsyaAllah… minggu depan kita lanjutin kajiannya Ya? Oya… kalau ada acara-acara gitu kamu bersediakan ikut?”

__ADS_1


“Yup.. InsyaAllah… aku mau” Jawab Sofwa dengan antusias.


***


__ADS_2