Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 26 (MENUJU CAHAYANYA)


__ADS_3

Suara adzan berkumandang dengan indah, memecahkan keheningan di subuh itu. Para santriawan dan santriwati sudah ramai berdatangan ke mesjid yang berdiri megah didalam pondok pesantren Ar-Rahman tersebut.


Mereka bergegas memenuhi panggilan itu, panggilan yang datang tiap 5 kali dalam satu hari, meskipun begitu... tetap memunculkan rasa rindu dihati mereka, orang-orang yang bertakwa.


“Asslamu’alaikum, akhi.. Kaifa haluk?” suara renyah dan bersahaja terdengar dari seorang santri berbaju koko berwarna putih dan kopiah berwarna putih pula sehingga membuat wajahnya yang bersih itu semakin bersih dan bersinar.


“Walaikumusalam, Alhamdulilah ana Khair...” jawabnya yang disapa.


“Oya, akhi... kalau tidak salah ana dapat kabar kita kedatangan tamu ya....”


“Na’am akhi, ustadz Zulfan bilang dia akan dijadikan santri juga disini... dan seperti biasa akhi, nasib dia lebih kurang sama juga dengan kita dulunya....”


“SubhanaAllah.... semoga semakin banyak lah anak muda yang berubah menjadi ikhwan yang baik lewat perantara Ustad Zulfan...” komentarnya.


“Aamiin...”


Mereka semakin mempercepat langkah kaki mereka menuju Mesjid Ar-Rahman. Rumah Allah....... tempat pertama kalinya dan insyaAllah tempat yang terakhir kalinya mereka bersimpuh, bersujud memohon ampunan kepada zat Yang Maha Pengampun.


“....sesungguhnya hanya kepada Mu lah aku bersujud dan hanya kepadaMu lah ku memohon pertolongan...”

__ADS_1


@@@


“Allah sayang padamu saudaraku, makanya Ia menuntun langkah kaki mu kemari. Kamu tau tidak? Disini lah tempat menimba ilmu itu. Ilmu dunia wal akhirat. Mendidik kita, merubah akhlak kita, menjadi akhlak yang mulia dan juga mengajari kita tentang maa’rif kepada Allah. Tenang lah saudaraku, kita disini sama-sama, aku dan teman yang lain semua, yang ada disini... pernah mengalami masa lalu yang suram... pastinya masa lalu yang membuat kita jauh dari Nya. Tapi, berkat uluran kasih sayangNya lah maka kita dipertemukan disini, ditempat ini, bersama ustad Zulfan yang dengan ikhlas dan ridho membimbing kita. Kamu tau tidak akhi, bahwa sampainya kamu disini berkat cinta Allah kepadaMu, Dia tidak mau melihat kamu bermaksiat terus-terusan makanya Allah memberikan nikmat agama kepadamu akhi, sebuah hadist mengatakan bahwa ‘“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang ia cintai dan orang yang tidak ia cintai. Tapi, Allah tidak memberikan nikmat Agama kecuali kepada orang yang ia cintai. Barangsiapa yang diberikan Agama oleh Allah, maka sesungguhnya Allah telah mencintainya....” (HR. Ahmad).


Mukhlis membuka pembicaraan ba’da sholat subuh. Sebenarnya namanya adalah Muktar, dia dulunya preman kelas kakap yang suka membuat onar dimana pun dia berada. Sangat di takuti. Kepala suku, kepala genk dan yang paling disegani dikalangan preman yang lainnya. Tapi, kini si preman kelas kakap ini berubah total. Dari penampilan yang dulunya berantakan dan serem bagi yang memandangnya tapi, lihatlah sekarang wajahnya itu sungguh tampan dan rupawan ditambah lagi sinaran emas dari kedua bola matanya yang biru itu, membuat sejuk bagi memandangnya. Itu lah cerminan yang terpancar dari dalam hatinya.


Sedari tadi Andre hanya diam membisu. Tubuhnya seakan kaku. Sulit sekali untuk digerakkan padahal ia ingin sekali segera pergi dari tempat ini. Egonya berteriak-berteriak, memprotes tindakan bodoh yang baru dia lakukan. Mengapa dia pasrah dengan keadaan seperti ini?


Andre duduk dikelilingi oleh mereka. wajah-wajah baru yang sama sekali asing. Wajah-wajah ini ... Ahh... begitu jauh beda dengan wajah yang sering ia ketemui di dunianya... ini bukan dunianya... ini dunia aneh... dia tidak seharusnya disini, bersama mereka... pemilik wajah bersahaja dan lembut itu....


Andre tidak tahu kenapa dirinya bisa sampai ditempat ini, semakin keras ia berfikir semakin sakit kepalanya. Ingin bertanya kepada mereka, namun diurungnya, dia hanya bisa duduk pasrah sambil menunduk.


Tiba-tiba Andre teringat akan adiknya, Nisa... pasti... Nisa mengkhawatirkan dirinya. Sudah berapa lama kah dirinya meninggalkan Nisa? Dia tidak tahu, yang ia ingat cuman saat itu dia merasakan sakit kepala luar biasa sekali dan seketika itu ia pingsan, saat tersadar dia sudah berada disini... di tempat ini... di mesjid ini....


Andre semakin terpuruk. Wajah-wajah asing itu... memandangnya dengan ramah dan penuh kasih sayang.... malahan ada yang sampai menyentuh pundaknya halus sambil tersenyum lembut, membuat hatinya semakin ngilu.... ingin mengelak, tapi... lagi-lagi diurungnya karena sentuhan itu beda... bukan seperti sentuhan kasar dari teman-teman maksiatnya dulu.


“Saudaraku, jangan merasa canggung gitu... ahlan wa sahlan... selamat datang di lingkungan yang baru ini.... kita semua disini sama, sama-sama dalam proses perbaikan diri... dan sama-sama di bawah bimbingan ustad Zulfan... jangan sungkan untuk menceritakan apapun itu kepada kami... InsyaAllah kami akan membantu kamu... bukan begitu kan teman-teman?” tanya salah seorang dari mereka. Terdengar suara sahutan serentak dari mereka semua. Andre terhenyak, diam tanpa berkomentar.


“Kita ini hamba-hamba pilihan Allah... tidak banyak yang seperti kita akhi, memang benar... dulunya kita bejat, hina dan biasa dengan perbuatan dosa. Tapi, Allah dengan segala kasih sayangNya masih berkenan menunjukkan kita, hingga akhirnya kita bertobat, kembali kepadaNya... coba bayangkan bagaimana jadinya jika maut telah menghampiri kita tapi kita belum diberikan kesempatan untuk bertobat? Nah.. ini adalah sesuatu yang patut disyukuri akhi....” ucap si kaca mata sambil sesekali membetulkan letak kaca matanya.

__ADS_1


“Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: “Wahai anak Adam, sepanjang engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku maka Aku akan mengampuni dosamu dan aku tidak perduli. Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku maka Aku pasti akan mengampunimu. Wahai anak Adam seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sebesar bumi kemudian engkau bertemu denganku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatupun maka Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (Hadits Arbain no 42, hadits hasan shahih diriwayatkan oleh At Tirmidzi” ucap Mukhlis.


Andre berfikir keras mendengar penuturan yang barusan Mukhlis katakan. Sejurus kemudian bibirnya bergerak dan akhirnya mengeluarkan suara.


“Apa aku bisaaa?” akhirnya keluar juga kata-kata dari mulut Andre.


“InshaAllah.. yakin lah sama Allah” jawab Mukhlis sambil tersenyum. Andre mendongakkan kepalanya, memandang mereka silih bergantian. Mereka yang berjumlah 10 orang, mereka yang sama-sama pernah mengalami masa lalu yang suram, mereka yang sama-sama mendapat uluran kasih sayang dariNya berupa hidayah dan mereka yang telah berubah.... apalagi? Kenapa ia tidak mencobanya? Seperti mereka?


Dan, di mulai hari itu... Andre benar-benar membulatkan tekadnya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia harus berubah. Harus!!


“Bimbing saya Ustadz... ajari saya... kenalkan saya dengan islam... saya ingin jadi lelaki yang baik... saya mohon ustadz....” ucap Andre berlinangan air mata ketika berhadapan dengan Ustad Zulfan setelah selesai sholat.


“Tafadhol... bergabung lah sama mereka... tinggallah disini dulu, ikuti segala kegiatan dan aktifitas positif yang ada disini...” jawabnya sambil tersenyum.


Pikiran Andre tiba-tiba melayang ke orang tuanya, adikknya dan sofwa... atas apa yang telah ia perbuat, amanah yang tidak ia kerjakan, perasaan yang telah ia lukai... begitu banyak... begitu banyak.... apakah masih ada kata maaf dari mereka semua?


@@@


BERSQMBUNG...

__ADS_1


.


.


__ADS_2