
Allahu Akbar... Allaahu Akbar... Panggilan adzan Magrib di seluruh penjuru terdengar. Panggilan yang mengagungkan Asma Allah. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Allah Maha Kuasa. Tiada Zat Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Kuasa selain Dia.
Mesjid ikhlas nan indah dan megah itu kini telah ramai didatangi manusia yang hendak menunaikan kewajiban sholat magribnya. Mesjid ikhlas itu seakan tersenyum melihat hamba-hamba Allah yang berbondong-bondong menujunya. Dari yang tua, remaja bahkan anak-anak. Mereka mengayunkan tangan dan melangkahkan kaki menuju rumah Allah tersebut.
Adzan pun usai sudah. Kemudian disambung dengan Iqomah. Semua orang berdiri. Saling berdekatan, rapi dan tertib. Saf penuh sampai kebelakang, begitupun saf perempuannya. Seorang lelaki berbaju putih maju kedepan, mengambil tempatnya sebagai imam. Dengan pandangan bersahaja ia melihat para makmunnya yang lumayan banyak itu. Ia merasa tugas menjadi imam itu bukanlah tugas yang mudah. Berapa banyak orang yang akan diimami, begitu banyaknya pula lah yang harus ia tanggung selama ia mengimami mereka. Jika ia membuat kesalahan dalam memimpin sholatnya, ia lah yang akan menanggung kesalahan semua makmum yang mengikutinya.
Itulah kepemimpinan dalam islam. Itu baru memimpin dalam sholat. Jadi bagaimanA jika memimpin dalam negara dan sistem pemerintahan. Berapa banyak manusia yang menjadi tanggung jawabnya? Yang harus dipikulnya? Sebenarnya jika kita tahu betapa beratnya menjadi seorang pemimpin, pasti.. semua orang akan menolak untuk menjadi pemimpin. Karena pertanggungjawabannya kelak bukan hanya dunia semata tapi akhirat juga akan menagihnya. Jika kita telusuri kebelakang, pada zaman Khilafahan dulunya... dimana salah seorang sahabat terpilih dan dipilih untuk jadi seorang khalifah yang akan memimpin umat islam... lalu apa responnya? Sahabat itu menangis sejadi-jadinya... kenapa ia menangis? Ya! Karena ia merasa takut dengan tanggung jawab berat yang akan dipikulnya, meskipun ia mampu tapi tetap rasa kekhawatiran itu akan ada. Sekali lagi. Menjadi seorang pemimpin untuk umat itu bukanlah tugas yang ringan. Makanya Allah tidak segan-segan langsung memasukkan seorang imam atau pemimpin kesurga tanpa hisab jika ia mampu mensejahterahkan seluruh rakyatnya. Begitupun sebaliknya, jika seorang pemimpin menzolimi satu saja rakyatnya... maka tunggulah kata Allah... ia akan diseret keneraka...
Akan tetapi kenyataan yang kita lihat saat ini, di dunia yang katanya sudah modern ini. Orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin. Untuk menduduki kursi kekuasaan. Dengan dalih apa? Tujuan apa? Emang... tujuan yang tertulis adalah untuk rakyat, demi rakyat, megurusi urusan rakyat... tapi... apa coba? Melihat fakta yang terjadi dilapangan sana... apa yang terjadi? Bukannya mengurusi urusan rakyat tapi malah mensengsarakan rakyatnya sendiri... bukan meringankan hidup rakyatnya tapi malahan membuat hidup rakyatnya semakin menderita.
Kenapa bisa seperti itu? karena tujuan awal mereka menjabat bukan karena Allah. Tapi karena materi, karena ego dan nafsu mereka. Nah, begitulah akhirnya jika seorang pemimpin tidak menjadikan aqidah islam sebagai sandarannya maka kehancuranlah yang akan terjadi. Semuanya akan diminta pertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt.
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa/siapa yang di bawah kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak suaminya. Maka setiapkalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya(dimintai pertanggung jawaban)terhadap apa yangdipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sholatpun selesai yang diakhiri dengan ucapan salam dari imam. Setelah itu imam berdzikir, makmun sebagian ada yang mengkuti dan ada pula yang langsung berdoa lalu pergi. Dan ada juga langsung pindah saf yang lain untuk melaksanakan sholat sunnah.
Selesai berdoa, Fitra langsung menuju ke saf paling depan. Tepat dibelakang imam. Fitra duduk bersila disana sambil menunggu imam tersebut menyelesaikan doa panjangnya.
“Assalamualikum, akhi...” Sapa Fitra ketika imam yang ternyata ustad Fouri telah selesai berdoa.
“Walaikumusalam...” Jawab Foury sambil membalikkan badannya. Senyuman mengembang seketika saat melihat Fitra dihadapannya.
“Subhanallah, apa kabar akhi Fitra?” Tanya Foury sambil merangkul Fitra dengan hangatnya.
__ADS_1
“Alhamdulilah, bi khair akhi... akhi sehat juga”
“Alhamdulilahh...” jawabnya.
Mereka berbincang-bincang sejenak. Menceritakan keseharian masing-masing sampai akhirnya...
“InsyaAllah.. tidak lama lagi aku akan menikah akhi” Ucap Fitra.
“Alhamdulilah... siapa bidadari yang beruntung itu akhi Fitra?” Tanya Foury sambil menepuk-nepuk bahu Fitra.
“Ahk.. akhi terlalu memuji. Namanya Sofwa. Ntar di hari H akan aku kenalkan dengan akhi...” ujar Fitra dengan tersenyum simpul.
“”Oke. bisa diatur..” jawab Foury.
“Ada apa akhi? Kenapa wajah mu jadi sedih begitu? Ada masalah?” tanya Foury.
“Iya.. dibalik kebahagiaan ku saat ini sebenarnya tersimpan rasa sedih yang sangat mendalam... rasa bersalah....rasa berdosa...” ucap Fitra dengan pikirannya melayang ke Rania.
“Maksudnya?” ustad Foury bertanya dengan bingung.
“Akhi.. aku sudah menyakiti hati seorang wanita. aku sudah melukai hatinya... aku sudah menggoreskan kenangan terburuk untuknya... Rania Nazwa...” cerita Fitra dengan wajah yang sedih.
Mendengar nama Rania disebut-sebut membuat Foury kaget, ia mengubah posisi duduknya. Semakin mendekati Fitra. Berharap ia salah mendengar.
__ADS_1
“Siapa tadi akhi?Ra...nia.. Nazwa?” Ulangnya untuk lebih menyakinkan.
“Iya.. namanya Rania Nazwa. Dia seorang Bidan. Bekerja dirumah sakit yang sama dengan tempat aku bekerja. Dia perempuan yang manis, agamanya bagus... penulis lagi. Akhi tau tidak buku yang berjudul melukis cinta di langit biru itu adalah karangan dia... Subhanallah. Ternyata dia sangat idealis. Sejak itu lah aku mulai jatuh hati sama dia...dan aku pun berniat untuk segera meminangnya...” ungkap Fitra dengan tersenyum tipis.
“Loh.. jika Rania pilihan pertamamu kenapa malah gadis yang bernama Sofwa yang kamu nikahin” Tanya Foury dengan nada bingung.
Fitra diam beberapa detik. Ia seperti sedang menyusun kata-kata dan juga sedang mengambil aba-aba untuk segera menceritakan semuanya kepada sahabanya itu. Akhirnya Fitra buka mulut. Ia menceritakan tentang Sofwa, dari awal hingga terakhir Raihan datang menemuinya. Foury mendengarkannya dengan seksama. Sekali-sekali Foury beristigfar menanggapi penjelasan Fitra. Dia sungguh tidak menyangka Fitra dihadapi masalah seribet ini. Dan lebih-lebih dia tidak menyangka lagi... ternyata, Rania Nazwa yang dulu pernah menolak pinangannya.... dilamar juga oleh Fitra. Apakah ini sebuah kebetulan semata? Atau.. apakah alasan Rania menolaknya kemaren ada hubungannya dengan Fitra? apakah Rania juga sudah jatuh hati sebelumnya dengan Fitra? entahlah Foury hanya bisa menebak-nebaknya dalam hati. Tanpa tau jawabannya. Apakah dia mesti memberi tahu Fitra bahwa Rania adalah wanita yang pernah dilamarnaa?
“Fitra... Rania Nazwa itu sebenarnya... wanita yang pernah aku lamar dan sekaligus yang menolak lamaranku...”ucap Foury pelan setelah selesai Fitra bercerita panjang lebar tentang Rania.
“Apa?” tanya Fitra seakan tidak percaya.
“jadi, wanita yang akhi ceritakan dulu itu adalah... Rania Nazwa?” Fitra mengulang pertanyaannya.
“Benar akhi.. Inilah Rahasia Allah yang tidak bisa kita jangkau. Ternyata kita mencintai wanita yang sama” kata Foury.
“Maaf akhi.. aku benar-benar tidak menyangka.. jika tau sebelumnya, mungkin aku tidak akan berani untuk menempatkan dirinya dihatiku...” kata Fitra merasa bersalah.
“Fitra... Fitra.. kenapa emangnya? Toh dia tidak jadi denganku... kenapa kamu merasa tidak enak begitu? Biasa aja Fitra... Malahan kemaren aku berencana hendak menjodohkan kalian berdua... ingat tidak yang aku bilang waktu itu?” Kata Foury berusaha mengingatkan Fitra. Masih jelas dalam ingatan Fitra, bagaimana Foury hendak menjodohkannya dengan wanita yang telah menolak lamaran Foury. Akan tetapi, dia begitu minder sedangkan Foury yang sesholeh itu aja ditolaknya apalagi dirinya? Begitu istimewanya wanita itu dalam pikiran Fitra saat itu. Dan sekarang Fitra merasa yakin Rania tidak begitu tersakiti karena niatnya untuk melamar Rania dibatalkannya. Karena sampai detik ini pun Fitra tidak tahu apakah Rania mencintainya atau tidak? Bisa jadi saja dia yang terlalu kepedean dan menganggap Rani menarub hati juga terhadapnya. Entahlah..
...@@@@...
Bersambung...
__ADS_1