
Rania dan teman - teman satu kosnya sedang mengadakan pengajian mingguan dirumah dakwah mereka. Sedang asyiknya mereka mendengar kajian yang diisi oleh Rania sendiri malam itu, tiba - tiba saja Jeni keluar dari kamarnya dengan wajah yang kusut dan mata yang sembab. Tentu saja melihat penampilan Jeni yang tidak seperti biasanya membuat mereka semua yang mengikuti kajian berhenti sejenak dan kini mereka langsung melihat kearah Jeni dengan merasa heran dan bingung.
Beberapa saat kemudian, Rania pun langsung berdiri dari tempatnya duduk dan mendekati Jeni yang masih diam mematung didepan pintu kamarnya.
"Jeni, ada apa? Kamu lagi ada masalah ya, Jen? " tanya Rania dengan wajah yang risau. Namun, Jeni sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Rania tersebut. Ia masih saja diam, dan juga memandang mereka dengan ekspresi yang membingungkan, seperti orang linglung dan tidak tentu arah.
"Jeni, kamu lagi sakit? Yuk kita masuk dulu kedalam kamar kamu." kata Rania lalu memimpin Jeni untuk kembali masuk kedalam kamarnya. Sebelum itu, Rania memberi kode melalui jelingan matanya ke arah Raisya agar ia menggantikan posisi Rania dalam mengisi kajian malam itu, Raisya yang paham maksud Ranja tersebut langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dengan semangat ia langsung saja menggantikan peran Rania dalam memberi kajian.
Saat didalam kamar Jeni, Rania membawa Jeni sampai didekat tempat tidurnya dan merekapun duduk di tepi ranjang tersebut.
"Jeni, kamu kenapa?" Rania kembali bertanya dengan suara yang lembut. Akan tetapi, Jeni masih juga belum mengeluarkan suara. Ia malah menundukkan wajahnya lalu menangis terisak - isak. Tentu saja melihat hal itu membuat Rania semakin merasa bingung dan penasaran.
"Jeni, kamu tenang ya. Aku gak tahu apa yang terjadi pada kamu saat ini, karena kamu belum mau cerita ke aku. Tapi, apapun itu masalah yang sedang menimpa kamu, aku minta kamu agar bisa menyikapinya lebih tenang, dan dengan pikiran yang terbuka juga. Sekrang Kamu dengarkan aku, Coba Kamu tarik nafas kamu panjang - panjang lalu hembuskan pelan - pelan. Bisa kan Jeni?" tanya Rania sembari mengelus - elus lembut punggungnya Jeni. Dan kali ini Jeni memberikan respon yang positif, ia langsung menganggukkan kepalanya. Jeni kemudian melakukan apa yang Rania suruh, ia menarik nafas panjang beberapa kali lalu menghembuskannya pelan - pelan.
"Setelah agak lega, kamu bisa cerita ke aku. Terkadang kita juga butuh teman berbagi cerita disaat masalah yang menghimpit kita. Karena jika dipendam sendiri, akan membuat kita stress." kata Rania yang memberikan saran terbaiknya untuk Jeni.
Beberapa detik kemudian, hening. Jeni masih sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan Rania masih setia dismmpingnya, menunggu Jeni mengeluarkan suara dan bercerita kepada dirinya.
"Rania..." akhirnya Jeni mengeluarkan suara juga. Ia memanggil nama Rania dengan begitu pelan dan lembut. Tidak seperti biasanya yang terdengar keras dan kasar. Dipanggil dengan nada begitu saja, sudah mampu membuat hati Rania terenyuh bahagia.
"Iya, Jeni. Kenapa?" tanya Rania dengan semangat.
"Aku.. Aku.. Aku boleh bergabung sama kamu dan yang lainnya gak?" tanya Jeni lalu menatap Rania dengan tatapan teduhnya. Bukan tatapan sinis yang biasa ia berikan ke Rania. Kali ini beda, begitu teduh dan bersahaja.
"Maksud kamu, kamu mau bergabung untuk.. Mengkaji islam bersama teman - teman yang lain?" tanya Rania dengan hati - hati sebab ia takut dirinya salah mengira. Mana tahu saja bukan itu maksud Jeni, Rania sudah kepedean duluan.
__ADS_1
"Iya, benar. Aku ingin ikut belajar bersama kalian. Aku bersedia memulainya dari nol. Bantu aku Rania.. Aku ingin hijrah.." ucap Jeni dengan tangisnya kembali pecah. Air mata semakin deras mengalir di pipinya. Rania juga ikutan menangis bahagia dan kemudian merangkul Jeni dengan hangat. Sudah lama ia menginginkan ini. Akhirnya, Tanpa paksaan.. Jeni mau bergabung bersama mereka dengan kerelaan hatinya.
"Tentu Jeni, InshaAllah aku dan teman - teman yang lain akan membantu hijrah kamu. Aku bahagia sekali mendengar kabar ini, begitu juga teman - teman yang lain natiknya jika mereka tahu. Pasti akan bahagia juga." kata Rania seraya memegang erat tangannya Jeni.
"Iya Rania, terimakasih sudah mau menerima aku bergabung dengan kalian. Dan maaf.. Atas sikap aku ke kamu selama ini, aku terlalu banyak menyakiti kamu dengan kata - kata dan juga perbuatan aku. Maafkan aku Rania." ujar Jeni masih dengan terisak - isak.
"Aku sudah memaafkan kamu Jeni, jauh sebelum kamu meminta maaf sama aku." kata Rania dengan tulus. Dan setelah itu, mereka kembali berpelukan lagi.
...❣❣❣❣...
"Ngapain kita kesini, Nayla?" tanya Raihan heran ketika Nayla membawanya ke sebuah mesjid besar yang terletak lumayan jauh dari rumah mereka.
"Untuk pembuktian tapi bang Raihan." jawab Nayla seraya tersenyum lebar.
"Sepertinya bang Raihan sudah gak sabar nih, kalau begitu ayoklah kita masuk kedalam mesjid." kata Nayla seraya menarik tangan abangnya menuju kedalam mesjid.
Setelah mereka masuk kedalam mesjid, Raihan melihat beberapa pemuda sedang duduk membentuk lingkaran didepan sana dengan khidmar mendengarkan pengarahan dari sekarang ustad. Dan salah satu dari pemuda itu adalah Andre.
"Bang Raihan bisa lihatkan apa aktifitas Yang Andre lakukan setiap minggunya? Ia aktif mengikuti kajian - kajian bang, Semoga saja dengan melihat ini bisa sebagai pembuktian bagi bang Raihan bahwa Andre sudah benar - benar berubah." kata SofwSofwa dengan suara yang pelan, sebab ia tidak ingin mengganggu para pemuda yang fokus dan serius mendengar kajian dari ustad tersebut.
"Bisa jadi dia cuman berpura - pura saja, Nayla." kata Raihan yang masih belum bisa menerimanya.
"Bang Raihan...!!" ucap Sofwa dan kemudian kembali menarik tangan abangnya menuju keluar mesjid.
"Bang, Buka donk mata dan hati bang Raihan lebar - lebar. Harus dibuktikan seperti apa lagi sih bang biar abang bisa mempercayainya." kata Sofwa yang kali ini dengan nada kesal. Raihan hanya diam saja.
__ADS_1
"Abang tidak ingin kamu tersakiti lagi, Nayla. Makanya abang lebih wanti - wanti agar tidak terulang lagi kejadian yang sama." kata Raihan beralasan.
"Iya bang, Nayla paham. Sangat - sangat paham, bang Raihan posesif begini karena abang sayang banget sama Nayla. Tapi, bang Raihan juga harus bisa melihat sisi baiknya dimana. Jangan karena rasa takut malah membuat Bang Raihan tidak lagi mempercayai orang lain yang sudah benar - benar bertobat." jelas Sofwa dengan antusias.
"Cobalah bang, setidaknya berilah kesempatan yang pertama dan terakhir untuk Andre. Nayla mohon.. Restui hubungan kami ini. Andre ingin serius dengan Nayla bang, dia sudah siap dan ingin menikahi Nayla dalam waktu dekat ini. Jadi, Nayla mohon bang.. Restui lah kami." pinta Nayla dengan memohon.
Raihan terdiam untuk persekian detik, sampai akhirnya ia mengeluarkan suara dengan sebelumnya menarik nafas panjang.
"Oke, baiklah Nayla. Abang akan memberikan kesempatan pertama sekaligus terakhir untuk Andre. Tapi, ingat sekali saja ia menyakiti kamu, abang tidak segan - segan menghajarnya sampai mampus." ucap Raihan dengan tegas dan lantang.
"Alhamdulilah.. Nayla senang sekali mendengarnya, terimakasih banyak bang Raihan..." kata Nayla seraya memeluk abangnya itu dengan erat.
"Suruh Andre kerumah nantik sore, temui abang. Abang mau bicara empat mata dan serius dengan dia." kata Raihan yang langsung di iyakan oleh Nayla.
...❣❣❣❣...
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
__ADS_1