Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 54 (DIIKUTI ORANG JAHAT)


__ADS_3

Andre menghampiri Sofwa yang tengah makan dikantin kampusnya, kedatangan Andre yang tiba-tiba itu membuat Sofwa kaget.


"Andre, ngapain kamu kesini?" Tanya Sofwa atas kedatangan Andre yang tidak terduga.


"Ya, Mau ketemu kamu.." Jawab Andre seraya tersenyum manis.


"Oo.. Kamu apa kabar dan juga kabarnya Nisa bagaimana?" Tanya Sofwa basa basi menanyai kabar Andre dan juga adiknya.


"Alhamdulillah atas doa kamu kami berdua sehat-sehat kok Sofwa." Jawabnya.


"Kamu sendiri?" Tanya Andre.


"Alhamdulillah sehat juga.." Jawab Sofwa dengan tersenyum.


"Kamu masih kuliah ya? Bukannya sudah selesai?" Tanya Andre lagi.


"Memang sudah. Aku kekampus ada urusan aja menyelesaikan Administarsi yang belum selesai." Jelas Sofwa.


"Ooh.. Jadi kegiatan kamu setelah ini apa?" Tanya Andre lagi.


"Aku mau cari kerja dulu, emang kenapa?" Tanya Sofwa penasaran dengan pertanyaan Andre tersebut.


"Kamu... gak mau nikah Sofwa?" Tanya Andre yang kemudian menatap mata Sofwa dengan tatapan teduh dan penuh harap.


"Andre, aku paham maksud kamu bertanya seperti itu. Pasti.. Aku ingin menikah tapi tidak dalam waktu dekat ini. Karena.. Kamu tahu sendiri kan aku baru saja membatalkan pernikahan aku dengan Fitra, aku gak mau aja orang berpikiran aneh sama aku. Kamu paham maksud aku kan?" Tanya Sofwa dengan membalas tatapan dari Andre tersebut.


"Iya aku paham. Aku akan menunggu kamu sampai siap menikah Sofwa. Karena aku serius ingin menikahi kamu.. Karena aku benar-benar mencintai kamu.." Kata Andre dengan keyakinan penuh.


"Tapi, masalahnya sekarang Bang Raihan belum bisa menerima kamu, Ndre." Kata Sofwa dengan raut wajahnya langsung berubah menjadi sedih.

__ADS_1


"Kamu jangan sedih dan risau ya Sofwa, aku akan terus berusaha agar abang kamu Raihan mau menerima aku lagi. Yang penting kamu selalu berdoa saja semoga Allah melembutkan hati Raihan sehingga ia mau merestui hubungan kita" Ucap Andre dengan menenangkan hati Sofwa yang gundah gulana.


"Ya.. Aku selalu berdoa kok, Ndre. Untuk kebaikan hubungan kita ini." Kata Sofwa seraya menganggukkan kepalanya.


"Semoga Allah meridhoi niat baik kita ya" Tutur Andre yang di amin kan langsung oleh Sofwa.


"Oya, kamu sudah makan? Mau aku pesankan makanan tidak?" Tanya Sofwa.


"Hhmm.. Boleh lah.. Kebetulan aku juga belum makan.." Ujar Andre.


"Pesan apa?" Tanya Sofwa.


"Seharusnya kamu tahu apa makanan favorit aku dikantin ini Sofwa" Katanya sambil tersenyum manis.


"Oke." Ujar Sofwa dengan membalas senyuman Andre lalu pergi memesankan makanan untuk lelaki itu.


Sontak saja hal itu membuat Sofwa dan Andre kaget lalu menoleh ke Raihan secara bersamaan.


"Bang Raihan??" Teriak Sofwa lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Ngapain kalian? Dan kamu... Gak punya malu. Ngapain masih mendekati Sofwa ha?" Kata Raihan dengan membentak Andre. Dibentak seperti itu membuat Andre hanya menunduk tanpa berniat membalas tatapan Raihan yang terlihat begitu benci kepadanya.


"Bang.. Jangan bikin masalah disini. Malu dilihatin orang" Kata Sofwa setengah berbisik dan matanya juga menelusuri disekeliling kantin yang kebetulan tidak begitu ramai orang disana. Tapi, tetap saja karena teriakan Raihan merka bertiga menjadi pusat perhatian orang-orang saat ini.


"Biar aja didengar orang lain. Biar lelaki tak tau diri ini Malu." Kata Raihan mulai emosi.


"Woi... cowok brengsek. Aku tekankan sekali lagi ke kamu ya, jangan pernah kamu menemui Sofwa lagi, ini terakhir kalinya aku melihat kamu mencari Sofwa. Kalau sekali lagi aku dapati kau begini. Habis kau aku buat!" Ancam Raihan setelah itu menolak Andre yang masih diam dengan kasar.


"Yok.. Ikut aku Sofwa" Kata Raihan yang kemudian menarik tangan Sofwa. Mau tidak mau Sofwa mengikuti Raihan dan meninggalkan Andre yang masih dia terpaku ditempat duduknya.

__ADS_1


...***...


Rania turun dari angkot yang mengantarnya pulang kerumah malam itu. Rania baru saja pulang dari tempat kerjanya sendirian. Rumah Rania ada didalam gang yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan umum maka membuat ia berjalan menyelusuri jalanan yang malam ini terlihat sepi.


Jam telah menunjukkan pukul 9 malam, sebenarnya jam pulang Rania adalah jam 8 malam, dikarenakan pasien yang lumayan ramai tadi sehingga membuat Rania yang masih baru disana tidak diizinkan pulang sebelum semuanya selesai. Jadilah sekarang Rania malah kemalaman sampai di rumah nya.


Rania berjalan sedikit buru-buru menuju rumahnya, karena entah kenapa tiba-tiba saja perasaan Rania menjadi agak lain. Dengan takut-takut Rania menoleh kebelakang sebentar dan ia pun semakin kaget ketika mendapati ada sosok berjubah hitam sedang mengikutinya dari belakang dengan memegang sebuah pisau.


Darah Rania berdesir hebat menyaksikan itu. Rasa takut yang luar biasa mulai menguasai dirinya, sehingga membuat Rania semakin melajukan  langkah kakinya bahkan dengan setengah berlari.


Tapi, naas.. Orang itu juga semakin mempercepat langkah kakinya mendekati Rania. Kali ini Rania berlari kencang dan orang itu juga ikut berlari. Rania yakin orang itu adalah orang yang berniat jahat terhadapnya dan benda tajam yang ia pegang itu membuat perasaan Rania semakin ngilu. Bagaimana jika orang itu akan menusukkan pisau itu ke dia? Tapi, kenapa? Apa maunya? Apakah dia mau merampok? Batin Rania terus-terusan bertanya sampai akhirnya Hana tiba didepan rumahnya dengan napas ngos-ngosan.


Rania mengetuk pintu rumahnya dengan kencang sambil berteriak agar penghuni rumah yang mungkin saja sudah tidur bisa terbangun.


Tapi, belum ada satu temannya pun yang membukakan pintu untuknya, Rania lalu mencoba menghubungi Raisya. Tapi, nomornya tidak aktif. Rania kembali mencoba menghubungi nomor temannya yang lain tapi tidak satupun ada yang mengangkat. Rania semakin panik apalagi setelah melihat orang berjubah hitam itu kini sudah berada tepat dibelakanganya. Spontan Rania langsung berteriak kencang.


"Toooloooonggggg...." Teriak Rania.


Tapi tidak ada yang mendengar teriakan Rania. Orang berjubah itu perlahan - lahan berjalan mendekatinya, pisau ditangannya lalu diarahkannya ke Rania yang masih berdiri didepan pintu dengan beruraian air mata.


"Ya, Allah.. Tolong HambaMu ini.." Pinta Rania kepada TUhannya.


"Raisya.. Hamidah... Jeni... Buka pintunya.. Tolong aku.. Tolong... Ada... Ada orang jahat yang mau membunuh aku... Tolong Raisya...Tidaakk... Jangan mendekat... Kamu... Kamu mau apa?? Kamu siapaa??" Tanya Rania kepada orang yang berjubah itu.


Orang tersebut tidak menjawab, dengan gerakan cepat ia malah melayangkan pisau yang ada ditangannya kearah perut Rania. Yah.. Dia menusukkan pisau itu berkali-kali keperut Rania sehingga membuat wanita itu tak berdaya lalu jatuh kelantai dengan bersimbahan darah.


Lelaki berjubah itu lalu membuka penutup kepalanya, lalu ia tertawa terbahak-bahak seakan telah berhasil membunuh wanita yang ada dihadapannya ini. Kemudian, lelaki itu pergi dari sama meninggalkan Rania yang entah masih hidup entah tidak dilantai teras rumahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2