
Pagi-pagi sekali Rania sudah rapi dan sudah siap berangkat kekampusnya, ia ada mata kuliah Kesehatan Reproduksi pagi ini. Rania berangkat bersama Raisya yang juga satu tempat kuliah dan satu jurusan dengannya.
“Kita ngak ada tugaskan Ran?” Raisya bertanya.
“Ngak ada kok, palingan nanti ada evaluasi aja tentang materi yang kemaren”
“Oohh.. aku belum catat materinya, kemaren kan aku ngak masuk”
“Iya ya? Aduh, afwan Sya… aku lupa kalau kamu ngak masuk. Kalau nyatatnya dikampus ntar sempat ngak ya?”
“Mudah-mudahan aja. Aku nulisnya cepat kok”
Rania dan Raisya berjalan melewati gang rumah kosan mereka menuju kejalan raya dimana mereka akan menunggu angkot.
“Untung aja ya si Jeni udah bawa pergi bule itu keluar dari kosan kita” kata Raisya ketika mereka membahas masalah Jeni dan saudara bulenya itu.
“Iya Sya, kita harus tegas menolak kemaksiatan yang ada di sekitar kita. Kita ngak boleh diam aja karena kita belum tahu pastikan apakah bule itu benaran saudara kandungnya Jeni atau bukan? Yach.. tidak bermaksud mau suudzon, tapi kalau masalah dosa harus hati-hati Sya”
“Iya kamu benar Ran, terus apa tanggapan Jeni pagi kemaren tu Ran? Aku kan ngak sempat ketemu sama dia, sampai sekarangpun dia belum ada pulang. Bebas banget sech hidup anak itu. Berjalan tanpa aturan. Mungkin baginya enak memiliki kebebasan seperti itu ya?”
“Seperti biasa, dia marah sama aku. Tapi, sudahlah kita jangan terlalu gimana-gimana lagi sama Jeni. Yang penting kita berdoa aja semoga hati Jeni dilembutkan dan bisa sama-sama bergabung sama kita ikut kajian”
“Kalau Cici menurut kamu gimana Ran? Respon dia baik dengan dakwah kita, tapi kenapa dia belum mau gabung ya?”
“Hmmm… Cici pernah bilang begini sama aku, ‘Ran.. kalau aku ikut kajian berarti aku harus mutusin Ray donk. Akunya sech ngak masalah tapi si Ray bisa ngerti ngak? Dia orangnya nekat Ran, pernah dulu dia hampir aku tinggalin terus dia nekat mau nabrakkan diri ke jalan raya’ gitu katanya”
“Masya Allah… terkadang aku heran dengan orang yang sudah terlanjur basah mencintai seseorang itu secara berlebihan Ran, apapun rela mereka lakukan. Ngak pakai akal dan logika lagi. Hanya perasaan aja mungkin ya yang mereka gunakan, karena perasaan kan berjalan tidak sesuai dengan akal sehat kita.” Ucap Raisya.
Mendengar ucapan Raisya barusan sempat membuat Rania tersentak, karena apa yang dikatakan Rasiya itu benar adanya. Rania pernah mengalami hal tersebut. Emang benar perasaan selalu bertentangan dengan akal sehat, apalagi jika menyangkut masalah cinta.
“Terkadang orang yang terlalu mencintai itu terlihat bodoh” Raisya melanjutkan penuturannya. Rania hanya terdiam. Bingung mau menjawab apa.
“Terlalu nekat yang akhirnya malah menanggung derita untuk dirinya sendiri. Jangankan orang lain dirinya sendiri aja ngak dipedulikannya lagi”
“Untung saja aku belum pernah merasakan seperti itu Ran, jangan sampailah. Nauzubillah min dzalik…”
__ADS_1
Tiba-tiba saja pikiran Rania menerawang ke 2 tahun silam. Dalam pikirannya masih terbayang jelas atas kebodohan dan kenekatan apa yang pernah ia lakukan demi mendapatkan kembali cintanya yang hilang. Masih teringat jelas kejadian itu di memorinya, seakan sulit dihapus dari ingatannya.
Dua tahun yang lalu menjadi tahun yang sangat suram bagi kehidupan Rania. Air mata kesedihan selalu membasahi wajahnya, kegalauan selalu menyelimuti hatinya, dan keresahan selalu tersirat dijiwanya. Hampa dan kosong.
Inilah kebodohan yang pernah ia lakukan dulunya. Mencintai seseorang dengan berlebihan, mencintai seseorang dan berharap akan memilikinya seutuhnya. Tapi, saat yang dicintai pergi rasa kehilangan begitu terasa menyakitkan, sangat menyakitkan. Sebuah kalimat yang mengatakan bahwa jika kamu mencintai dan ingin memiliki maka bersiaplah masuk kejurang kehilangan yang tiada hentinya yang ternyata benar adanya. Tidak ada yang tau akan masa lalunya Rania. Termasuk Raisya, Rania begitu rapat menutup rahasia terbesar dalam hidupnya ini.
“Ran, kamu pernah jatuh cinta?” Raisya bertanya sambil memukul pundak Rania dengan halus. Pukulan yang halus tapi kontan membuat Rania kaget luar biasa.
“Jatuh cinta?” Rania mengulang pertanyaan Raisya.
“Iya? Kamu pernah merasakan mencintai seseorang ngak? Dalam artian lawan jenis?”
Rania terdiam. Pandangannya lurus kedepan. Tidak berani ia menatap Raisya yang lagi menatapnya. Tapi ia tidak boleh lama menjawab pertanyaan Raisya tersebut, dia ngak mau Raisya curiga dengan kediamannya akan pertanyaan tersebut.
“Pasti pernah lah Sya.. itu lumrah. Setiap kita pasti pernah merasakan cinta”
“Tapi kalau cinta yang berlebihan?” selidik Raisya.
Rania kembali terdiam. Haruskah dia membohongi sahabatnya ini? Tapi dia belum siap menceritakan masa lalunya yang suram itu.
“Kak Nazwa, Kak Raisya….” Teriakan suara seorang remaja berseragam SMA dari belakang membuat Rania dan Raisya serentak menoleh kebelakang, ternyata Zahra yang memanggil mereka. Mereka berhenti, Zahra berlari kearah mereka dan Rania pun seperti terselamatkan dari pertanyaan Raiysa yang tiba-tiba itu.
“Zahra dari rumah tante Zahra. Ternyata gak jauh dari kosan kakak.”
“Loh. Kamu ngak sekolah?” kini Raisya yang bertanya.
“Iya kak sekolah kok, mungkin datangnya agak telat. Tadi ada keperluan mendadak kerumah tante Zahra kak.”
“Jadi kamu pakai apa kesininya?”
“Naik angkot kak”
“Oya Kak Nazwa, jumat depan ada acara disekolah. Training motivasi gitu kak. Dan Alhamdulilah hasil rapat kemaren kak Nazwa terpilih sebagai salah satu pengisi materinya, kakak bisa kan?”
“Hmm… jumat ya, InsyaAllah ya dek. Tapi kakak lihat scedul kakak dulu ya, semoga saja belum ada buat janji atau acara apapun”
__ADS_1
“Oke kak, Zahra tunggu kabar dari kakak. Oya, kakak akan dipasangkan dengan pengisi materi kedua yaitu ustad Foury” ucap Zahra sambil tersenyum penuh arti.
Mendengar nama ustad muda itu spontan membuat dada Rania sedikit bergetar, entah getaran apa itu dia pun tidak tahu. Rania tahu ustad tersebut, ada beberapa kali mereka bertemu, tapi tidak pernah sekalipun mereka saling berbicara palingan hanya sapaan dan saling senyum saja.
Setelah itu Rania dan Raisya berpisah dengan Zahra, karena Zahra menggunakan angkot yang berlawanan arah dengan mereka. Sepeninggalan Zahra, Rania sedikit was-was, takut Raisya kembali membahas pertanyaannya yang tidak sempat Rania jawab tapi untunglah Raisya lupa sepertinya.
***
‘umi…’ sebuah sms singkat dibaca Rania sesaat setelah ia dibangunkan oleh alarm hpnya tepat pukul 03.00 dini hari. Dengan mata yang masih mengantuk Rania mencoba untuk memulihkan kesadarannya dan mengamati baik-baik nomor yang ia rasa tidak asing. Setelah kesadarannya pulih 100%, dia terperanjat. Itu nomor seseorang yang pernah masuk dalam kehidupannya di 2 tahun yang lalu. Dia masih hapal betul dengan nomor itu.
Dada Rania berdegup kencang. Dia kembali. Setelah sekian lama putus komunikasi tapi malam ini dia kembali sms Rania dengan satu kata singkat yang mampu membuat Rania seakan-akan kembali lagi pada 2 tahun yang silam.
Rania menghela nafas. Dengan gerakan cepat ia langsung mendelete pesan singkat itu. Dia ngak ingin menyimpannya, menyimpan sms itu sama saja memberi celah baginya untuk kembali pada masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam.
Rania melangkah kekamar mandi. Berwudhu dan segera melaksanakan rutinitas sholat tahajudnya.
“Ya Allah… Ya Muujiib.. Ya Muqollib… Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, aku berserah diri kepadaMu, janganlah Engkau biarkan aku tergelincir lagi dalam kesesatan setelah Engkau beri aku petunjuk. Tetapkanlah hatiku untuk selalu berada dijalanMu ini. Apapun yang terjadi semoga aku tidak lagi terjerumus kelubang yang sama, Aamiin…” Rania menutup doa panjangnya dengan permohonan tersebut karena sungguh dia merasa takut akan ujian keimanan jika dihadapkan lagi dengan cintanya dimasa lalu itu.
Selesai tahajud Rania kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Ia melirik hp yang terletak tepat diatas meja sebelah tempat tidurnya. Rencananya dia mau sms Zahra, mengabari bahwa dia bisa menghadiri acara di sekolahnya esok hari. Tapi, niat itu diurungnya saat sebuah sms masuk lagi di hpnya.
“Sayang… bangun… bangun… tahajud…..”
Rania tersentak lagi. Nomor yang sama dan pasti ini orang yang sama dengan yang sms tadi. Buru-buru Rania langsung mendelete sms gelap tersebut.
“Ya Allah, apa lagi ini? Dia seharusnya tidak datang lagi” Rania berkata pada dirinya sendiri.
Karena 2 sms gelap tersebut pikiran Rania menjadi melayang-layang, ingatannya kembali ke 2 tahun yang silam. Kejadian demi kejadian datang silih berganti menghiasi pikirannya, ada yang bahagia, ada yang lucu bahkan ada kesedihan hingga kejadian menyakitkan menari-nari di benaknya. Entah kenapa malam itu Rania seperti menikmatinya tanpa sedikitpun mencegah hati dan pikirannya bermain lagi dalam api kesesatan atas nama cinta.
“Satu hal yang harus umi tahu adalah … Rasa sayang abi lebih besar dari pada rasa sayangnya umi ke abi. Abi tidak akan pernah meninggalkan umi. Abi akan selalu ada untuk umi….”
Kalimat itu seakan terniang-niang di benaknya. Seakan dekat membisikkan tepat ditelinganya, Rania sungguh merasa rindu dengan kalimat tersebut, dengan panggilan sayang darinya, dengan perhatiannya, dengan tawanya, dengan tatapannya, dengan…..
“Astaghfirullah…” Rania menepis jauh-jauh bayangan tentang itu semua, setan sudah berhasil mempengaruhi perasaannya malam ini, tak seharusnya ia lemah seperti ini, tidak sepantasnya dia mengotori hatinya dengan pikiran zina seperti itu, berkali-kali Rania beristighfar.
“Ya Allah … aku bukanlah malaikat yang tidak mempunyai nafsu. Aku hanyalah manusia biasanya yang memiliki nafsu, hati dan perasaan. Oleh karena itu , tetapkanlah hatiku hanya untuk mencintai apa-apa yang Engkau cintai dan apa-apa yang Engkau Ridhoi. Dan membencii apa yang Engkau bencii dan apa yang tidak Engkau ridhoi” Doa Rania dalam hati.
__ADS_1
***
Bersambung...