
Selesai acara di SMAnya Zahra, Rania langsung buru-buru pulang dan meninggalkan Raisya dan Zahra yang masih berkumpul dengan aktivis dakwah yang lainnya. Tiba-tiba perasaan Rania menjadi tak karuan gini, secara bersamaan 2 kejadian yang tak terduga mampu membuat perasaannya jadi aneh gini.
“Dari mana kamu?” dari sudut ruangan tamu kosannya Rania, sebuah suara menyapanya dengan garang. Ternyata Jeni bersama seorang pria bule yang berbeda lagi.
“Ya Allah.. kalian ngapain?” Rania kaget dibuatnya, berani-beraninya Jeni membawa laki-laki kerumah dakwah mereka, ini sudah keterlaluan bagi Rania.
“Seperti yang kamu lihat, emang kami ngapain? Kenalkan ini tamu spesial ku” ucap Jeni seraya mengenalkan pria bule tersebut, pria itu berdiri menghampiri Rania dan mengulurkan tangannya tapi Rania tidak menyambut uluran tersebut.
“Dia ngak bakalan mau salaman sama laki-laki.” Jeni menjelaskan pada pria bule tersebut. Pria itu hanya tersenyum kecut sambil menatap sinis kearah Rania, dari ujung kaki ke ujung kepala ia perhatikan Rania, memang kontras sangat berbeda penampilan Rania dengan Jeni. Rania begitu tertutup dan itu sangat memuakkan bagi pria bule tersebut.
“Jen, tolong... kamu ngerti kan kita ngak boleh menerima tamu laki-laki sampai didalam rumah?” kata Rania berusaha menyadarkan Jeni.
“Yah, aku tau... itu peraturan terbodoh yang pernah aku dengar. Udahlah... jangan sok mengatur kamu. Ini hidupku. Ini jalanku.”
“tapi, Jen...” belum sempat Rania melanjutkan kata-katanya, Jeni langsung memotong.
“Cukup Rania, aku udah muak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut manismu itu. Isinya semua cuman sampah, ngak ada gunanya. Ya udah, yuk sayang kita pergi saja.” Jeni dan pria bule itupun beranjak dari sana, Rania hanya bisa mengurut dada, cobaan apa lagi ini? Sepertinya masalah akan datang bertubi-tubi menghampirinya.
@@@
__ADS_1
“Apa? Ustad Foury mau melamar kamu?” Tanya Raisya sedikit berteriak. Malamnya karena tidak tahan lagi Rania menceritakan kejadian tadi pagi kepada Raisya. Rania hanya mengangguk.
“Terus jawaban kamu?”
“Ngak tau Sya, semuanya serba mendadak. Belum lagi...” Rania menggantungkan kalimatnya, seperti berfikir.
“Belum lagi apa Ran?” tanya Raisya sedikit penasaran.
“Oohh... ngak Sya, ngak ada apa-apa”
Hampir saja Rania keceplosan bilang bahwa cinta dimasa lalunya itu datang lagi bersamaan dengan lamaran Ustad Foury.
“Jadi kamu jawab apa Ran? Kamu mau menikah dengan Foury?”
“Ran...??” Raisya menyadarkan Rania dari lamunannya.
“Aku bingung Sya” hanya kata itu yang keluar dar mulut Rania.
“Ya sudah, kamu coba istikharah dulu gih, juga minta pendapatnya kak Sarah. Jangan terburu-buru mengambil keputusan karena masalah pernikahan ini bukan lah masalah yang main-main. Mencari pendamping ini bukan hanya untuk beberapa tahun tapi untuk selamanya, dunia akhirat malahan” nasihat Raisya.
__ADS_1
“Iya Sya, aku tahu” jawab Rania.
Sedang asyiknya mereka berbincang-bincang, tiba-tiba saja dari arah luar terdengar suara teriakan yang berasal dari kamar sebelah mereka. Rania dan Raisya langsung berlari keluar kamar mereka.
“Ada apa Jen?” tanya Rania ketika mendapati wajah Jeni pucat.
“Kamu mimpi ya?” tanya Raisya seraya mendekati Jeni ketempat tidurnya.
“Ngak... ngak... aku ngak kenapa-napa, kalian keluar aja...” usir Jeni.
“Kalau ngak kenapa-kenapa, mengapa kamu teriak?” Rania bertanya lagi.
“Suka-suka aku lah, apa urusan kalian ha?” teriak Jeni.
“Astaghfirullah...” Rania dan Raisya mengucap berbarengan.
“Ya sudah, kami akan pergi. Tapi kalau ada perlu bantuan apa-apa kamu bisa panggil kami kok, jangan sungkan-sungkan” Tawar Rania.
Jeni mencibir sambil memalingkan muka.
__ADS_1
“Ngak butuh” ucapnya dengan ketus.
@@@