
Satu hal yang membuat keraguan kian muncul dibenak Sofwa saat ia menemukan 2 buah buku dari dalam tas ranselnya Raihan. Raihan bilang itu buku Fitra, Fitra menyarankan Raihan untuk membaca buku tersebut. Sofwa membaca kedua judul buku itu. Judulnya sangat menarik dan membuat rasa penasaran bagi Sofwa. Ia ingin juga membacanya. Raihan meminjamkan duluan untuk Sofwa karena ia belum bisa membacanya dalam waktu dekat ini.
“Melukis Cinta di Langit Biru dan Ketika Cinta Tidak Lagi Menyapa…” Sofwa membaca pelan kedua judul buku tersebut.
Kemudian Sofwa pun membawa bukunya ke dalam kamarnya. Sambil baring-baring Sofwa memilih buku yang berjudul Melukis Cinta di Langit Biru untuk terlebih dahulu dibacanya. Sebelumnya Sofwa iseng membalik-balikkan buku tersebut. Tanpa sengaja sebuah kertas yang terselip didalam buku tersebutpun terjatuh. Sofwa mengambilnya dan membuka lipatan kertas tersebut. Ada sebuah tulisan, agak sedikit panjang. Dengan rasa penasaran Sofwa langsung membacanya, karena ia yakin ini pasti tulisan Fitra. Tulisan tangannya Fitra ternyata begitu bagus dan rapi.
‘Saat pertama kali jumpa… pertemuan tiada direncanakan, semua telah diatur olehNya. Kami tabrakan… sama-sama terjatuh, duch.. kasihan dia, semua berkas yang ia pegang jatuh berserakan.. aku lantas membantunya, mata ini tak sengaja meliriknya.. ia begitu manis, ia menatapku dengan tatapan yang tajamnya, meskipun sebentar namun mampu membuatku terhenyak… tanpa senyuman ia pergi berlalu, dan juga tanpa memberitahu namanya.. tatapan mata itu… jadi teringat.. tatapan mata seorang wanita bidadari.. tatapan yang bisa menjaga… tatapan takut.. tatapan cemas… tatapan yang tidak sengaja dan buru-buru dipalingkan, karena demi menjaga iffahnya…’
Sofwa berhenti di akhir paragraph pertama tulisan Fitra tersebut. Sofwa mengerutkan dahinya tanda bingung. Siapakah wanita yang dimaksud Fitra ini? Dengan masih penasaran Sofwapun melanjutkan membaca ke paragraph yang kedua.
‘Dia lagi.. matanya mencuri-curi pandangan kearahku.. hmm.. ketahuan.. ia tengah memperhatikanku.. betapa lucunya melihat ia langsung mengalihakan pandangan saat aku sengaja membalas memandangnya… bahkan tersenyum kearahnya…’
Sofwa berhenti sejenak. Ia lalu berfikir, apakah wanita yang dimaksud Fitra disini adalah…
__ADS_1
Sofwa tidak mau menebak-nebak, ia lalu lmelanjutkan kepargraf yang selanjutnya.
‘Takdir Allah mempertemukan kami lagi… pertemuan dilift malam itu… hanya kami berdua.. lagi-lagi mata tajamnya itu kelihatan cemas saat menatapku… saat itu ia berkerudung hijau.. aku tidak berani menatap wajahnya.. takut.. harus bisa jaga pandangan apalagi posisi kami berada dalam jalur yang salah… aku yakin ia berfikiran sama dengan Aku.. aku bisa membaca itu semua dari tatapan cemasnya dia… dari cara berpakaian dia.. yang.. Subhanallah begitu indah….’
Kini Sofwa tahu siapa wanita itu? Pasti. Dia lah Rania Nazwa yang hendak dilamar oleh Fitra. Dadanya kembali ngilu. Rasanya ia tidak ingin melanjutkan membaca tulisan itu, tapi hatinya malah menyuruh untuk melanjutkan meskipun begitu menyakitkan bagi Sofwa.
‘Pintu lift terbuka, saatnya aku keluar.. tapi, tunggu-tunggu… tubuhnya kok tiba-tiba oyong gitu.. wajahnya yang putih itu menjadi pucat pasi.. Wah.. berbahaya ini.. dia sepertinya akan jatuh, dan ternyata benar, dia pingsan.. untung aku dah siap siaga menyambut tubuhnya dari samping…aku menggendongnya.. tidak begitu berat sech.. aku bawa dia ke ruang perawatan tempat ku bekerja… aku pasang infus… Randi membantuku kala itu…’
Setiap kata yang Sofwa baca dari tulisan itu sungguh membuat suasana hatinya semakin tidak membaik. Rasa cemburu yang mendalam tiba-tiba bersarang dihatinya. Betapa beruntungnya wanita itu bisa digendong Fitra, kenapa bukan dirinya yang berada diposisi itu? Sofwa mengumpat dalam hatinya. Lalu lanjut membaca paragraf yang selanjutnya.
‘Selesai subuh, dia belum juga sadar… padahal aku sudah tak sabar melihat matanya itu terbuka… melihat ia terbaring lemah seperti itu.. membuat hatiku terasa ngilu.. merasa empati.. tapi kali ini beda.. bukan hanya perasaan empati seorang perawat ke pasiennya.. perasaan ini begitu lain, dan begitu istimewa…sampai saat ini aku pun tidak tau apakah itu?’
Butiran air mata kembali menetes di wajahnya. Sofwa bisa merasakan betul bagaimana Fitra memiliki perasaan yang khusus terhadap wanita ini. Betapa Fitra menyayangi wanita ini. Bukan dirinya.
__ADS_1
‘Akhirnya ia sadar juga.. saat sadar ia langsung bergegas kekamar mandi.. ia bilang mau sholat subuh.. Ya Allah.. dalam keadaan sakit seperti ini ia sama sekali tidak mau meninggalakan kewajibannya… dan entah kenapa aku engan tuk pulang, padahal dinas ku sudah selesai… aku kembali kekamarnya, minta data lengkapnya yang sebelumnya sudah ada tapi hilang entah kemana… tapi baguslah hilang jadi ada alasan untuk menemui dia dan memulai pembicaraan lagi, hehe…’
‘Tak disangka ternyata dia itu penulis. 2 buku yang akhir-akhir ini aku baca adalah buku karangan dia. Dia Rania Nazwa, si penulis yang tidak mau memajang fotonya itu… aku begitu kagum dengan tulisannya…eh, ntah dari mana ia tau bahwa aku juga penulis… meskipun ia sempat memujiku dan meminta tanda tanganku, aku tetap menganggap tulisannya lah yang paling bagus… dibandingkan dengan tulisan ku ngak ada apa-apanya…’
Sofwa buru-buru mengambil 2 buku tadi dan membaca nama si penulis buku itu. Rania Nazwa. Tidak salah lagi, ini buku wanita itu.
‘Sejak itu, aku melihat banyak kesamaan dari kami berdua. Rasa itu pun muncul, rasa ingin mengenalnya lebih dalam, rasa ingin menjalani hubungan yang serius dalam ikatan pernikahan. Aku pun berniat akan melamarnya… namun, manusia bisa berkehendak tapi Tuhan lah yang berperan untuk menetapkan… sesuatupun terjadi… dan dengan terpaksa aku batal melamarnya meskipun berat, tapi tetap aku lakukan, demi jihadku untuk seseorang…’
Sampai disitu tulisan tersebut. Tidak ada lagi sambungannya. Sofwa mencari-cari di dalam lembaran yang lain sambungan yang berikutnya, tapi memang tidak ada lagi. Sofwa menangis sejadi-jadinya, betapa egoisnya dirinya ini, betapa bodohnya Fitra. Kenapa ia mau mengorbankan cintanya kepada Rania demi dirinya? Dia bilang ini jihad… tapi bagi Sofwa ini bukan jihad, ini sebuah kepalsuan dalam hubungan… dia tidak bisa menjalaninya meskipun Fitra sudah menjelaskan bahwa bukan seperti itu kenyataannya, dia memang terpaksa. Tapi diawal-awal. Namun kini dia sudah ikhlas menerima Sofwa apa adanya. Tapi bagi Sofwa itu sama saja. Awal ataupun akhir. Baginya tetap Rania Nazwa sudah ada dihati Fitra. Sudah bersemayam dalam kalbunya. Mana bisa dia menikah dengan laki-laki yang menyimpan rasa cinta kepada wanita lain? Jadi, apa yang harus ia lakukan? Membatalkan pernikahan ini? Apakah dia yakin? Apakah dia tidak jatuh lagi ke lobang yang sama? Apakah dia sanggup menjalani cobaan yang kedua ini karena cinta? Sofwa terduduk lemas. Allah lah tempat ia mengadu. Ia harus menanyakan jawabanya yang tepat dari Allah? Ya. Allah lah yang Maha Tahu. Apapun jawaban dari Allah Sofwa akan berusaha menerimanya dengan lapang dada.
...🌹🌹🌹🌹...
BERSAMBUNG..
__ADS_1
"TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA SAMPAI BAB INI, SEMOGA SUKA DENGAN CERITANYA YA JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA.."