
“Pagi Perawat tampan…….” Sapaan ramah dari seorang wanita membuat Fitra tersentak. Ia menoleh kearah asal suara dengan masih memasang wajah bingung.
“Eh.. maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?” Tawar Fitra setelah menyadari siapa yang memanggilnya. Ternyata salah satu anak pasien rawatannya yang telah memanggilnya.
“Mas perawat yang tampan, tolong donk cairan infus mama saya sudah mau habis. Tolong diganti ya?” Ucap wanita itu dengan nada centilnya.
“Ooh.. oke mbak, bentar lagi saya kesana ya?” Ujar Fitra sambil tersenyum ramah.
Setelah itu, Fitra lalu menuju kamar rawatan pasien yang memanggilnya tadi, mengganti infusnya dan sedikit bercengkerama dengan pasien tersebut.
“Alhamdulillah nak Fitra, kata dokter ibu sudah bisa pulang besok pagi. Ini berkat rawatan nak Fitra, kata-kata nak Fitra yang memotivasi ibu sehingga ibu semangat untuk sembuh.” Ucap wanita setengah baya tersebut dengan mata berkaca-kaca karena merasa terharu.
“Alhamdulillah, tapi maaf bu ini bukan berkat saya. Saya dan dokter cuman sebagai perantara. Yang menyembuhkan penyakit ibu semata hanya Allah. Karena Ia yang memberikan penyakit dan Ia pula yang menyembuhkannya.” Jawab Fitra dengan lembut.
Ibu itu pun tersenyum mendengar ucapan Fitra.
“Mas perawat yang tampan, boleh minta no hp nya ngak?” Tiba-tiba saja Anak pasien yang tadi itu bertanya kepada Fitra
“Iya nak Fitra, ibu minta nomor nya ya?” Karena ibu itu yang minta, Fitra ngak bisa lagi menolaknya yang akhirnya memberikan nomor Hpnya ke pasien tersebut.
“Semua pasien nanyain kamu Ra, semuanya mau sama kamu. Heran aku. Kamu pake resep apa seh?Jangan-jangan kamu pakai guna-guna ya?” tuduh Nia, teman satu dinasnya ketika Fitra sudah kembali lagi di ruang depan.
Fitra hanya senyum-senyum mendengar tudingan temannya itu. Karena kenyataannya emang seperti itu, semua pasien maunya dirawat sama dia sehingga membuat iri teman-temannya yang lain.
“Aku juga ngak tau Nia, padahal aku cuman menghibur mereka saja”
“Iya, karena kata-katamu itu menyentuh banget. Kamu belajar dari mana sech? Aku juga mau belajar”
“Ngak belajar dari mana-mana, yang penting rajin membaca dan mendengarkan aja” ucap Fitra singkat.
__ADS_1
“Ooh…” Nia mengangguk-angguk tanda mengerti.
Setelah itu, Nia operan pasien rawatan kepada Fitra karena kebetulan jadwal dinas Nia sudah selesai. Yang dinas malam hari itu adalah Fitra dan Randi, tapi Randi agak telat datangnya.
“Oya, jangan lupa ya pasien dikamar ujung di pantau terus Ra. Dia kelihatan kacau sekali hari ini” tekan Nia mengingatkan Fitra.
“kacau gimana Nia?” Tanya Fitra penasaran.
“Iya, tadi dia sempat teriak-teriak gitu. Sekarang udah agak tenang sech setelah keluarganya datang, tapi mana tahu entar kumat lagi, jadi kamu cek aja terus ya?”
“Kasihan dia.” Hanya itu yang terlontar dari mulut Fitra.
“Nah, kamu kan pintar tuh berkata-kata, kenapa ngak kamu praktekkan saja sama pasien yang satu itu? Udah hampir sebulan dia dirawat, ngak sembuh-sembuh juga.” Sindir Nia, mendengar sindiran itu membuat Fitra tersentak, dia merasa bersalah. Kenapa ia ngak bisa mendekati pasien yang satu itu seperti pasien-pasien yang lainnya? Fitra bertanya didalam hatinya.
“Iya, nanti akan ku coba Nia”
Beberapa saat kemudian, Randi dan Lika pun datang. Mereka siap dinas bertiga malam ini.
...***...
Jalan dikoridor rumah sakit sudah terlihat sepi, maklumlah jam kunjungan sudah habis. Hanya tampak beberapa perawat yang masih sibuk dengan aktivitas dan kerjaannya malam hari itu.
Seorang wanita berbaju serba putih dengan kerudung merah yang menutupi hingga kedadanya lewat melintasi koridor rumah sakit yang sudah terlihat sepi. Ia membawa tumpukan berkas dan berjalan dengan tergesa-gesa. Saat berhenti didepan lift dilihatnya lift masih berada di lantai 4. Akan menyita waktu yang lama jika ia tetap menunggu lift sedangkan dia harus segera ke lantai 3 mengantarkan berkas penting tersebut. Dengan langkah cepat dia memutar arah dan menaiki tangga.
Wanita itu bejalan sambil menunduk, saat dipersimpangan tangga tanpa sengaja ia tersandung karena terinjak gamis putihnya sendiri. Semua berkas jatuh berserakan di sekitar tangga tersebut. Wanita itu meringis sedikit merasa kesakitan di bagian tumitnya. Tapi, ditahannya sakit itu dan segera bangkit memunguti berkas-berkas yang berserakan dilantai tangga. Tapi, saat ia sibuk memunguti berkas yang banyak itu, tiba-tiba saja dari arah atas ada langkah tergesa-gesa turun atau tepatnya berlari kecil turun kebawah, karena kejadiannya sangat cepat sehingga wanita itu tidak sempat berdiri dan menghindar sehingga tabrakan pun terjadi.
Brruukkk…...
Tubuh si wanita kembali runtuh dan terjatuh, berkas yang sudah sempat dipunguti pun terlepas dan berserakan lagi dilantai. Sosok yang menabraknya pun juga terjatuh berlawanan arah dengannya.
__ADS_1
“Maaf… maaf… saya.. saya.... tidak sengaja.. maaf… aduh.. sini saya bantuin. Kamu ngak apa apa kan?” Sosok yang belum jelas tertangkap oleh mata si wanita itu pun meminta maaf dan seperti merasa bersalah sekali, ia ikut membantu memunguti berkas yang berserakan itu.
“Iya, ngak apa-apa” Jawabnya tanpa berani memandang langsung wajah tampan laki-laki didepannya ini.
“Ada yang terluka ngak? Ada yang sakit?” tanya lelaki itu masih dengan merasa bersalah.
“Ngak kok. Ngak apa-apa” Jawabnya masih dengan posisi menunduk tanpa memalingkan wajahnya untuk sekedar melihat lawan bicaranya saat itu.
“Sepertinya aku belum pernah lihat kamu, kamu kerja dirumah sakit ini juga ya? Perawatkah?” Tanya laki-laki itu.
“Bukan, saya Bidan. Saya memang masih baru disini”
“Oohh.. ibu Bidan ternyata. Kenalkan nama saya Fitra. Saya Perawat diruangan Amanah”
“Ohh… Yaa.. ehhmm… udah dulu ya. Maaf saya buru-buru” Ucapnya yang lalu mengakhiri pembicaraan singkat mereka malam itu, dan langsung bejalan menaiki tangga.
“Eh, tunggu… nama kamu siapa?” Fitra Bertanya sambil berteriak tapi yang ditanya tak menjawab. Ia membalikkan badannya sebentar lalu hanya seuntai senyuman yang ia berikan kepada Fitra yang mampu membuat hati Fitra bergetar.
Sedangkan Wanita itu menaiki tangga dengan hati yang bergetar juga, tidak tahu getaran apa ini? Yang jelas sinar yang terpancar dari wajah laki-laki yang bernama Fitra tersebut seperti menyihirnya, entah karena dia tampan atau entah karena yang lain.
“Astaghfirullah…” Wanita itu mengucap dalam hati berkali-kali ketika menyadari setan sudah mampu menggoyahkan imannya dengan wajah tampan seorang laki-laki. Karena belum ada yang bisa menjamin apakah hatinya juga ‘setampan’ wajahnya? Entahlah.
Rania segera bergegas menuju kelantai atas. Berusaha mengusir getaran aneh yang muncul dihatinya. Tapi, entah kenapa wajah lelaki itu malah menari-nari di pelupuk matanya.
“Lama Banget sech kamu, Rania?” Tiba-tiba saja sebuah teriakan dari salah satu seniornya menyadarkan Rania dari pikirannya yang sudah melayang entah kemana.
Bersambung....
...@@@...
__ADS_1