Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 29 (TAKDIR CINTA2)


__ADS_3

“Hayo Lagi baca apa?” Randi memukul pundak Fitra yang tengah asyik duduk sambil membaca sebuah buku.


“Ketika Cinta Karena Allah SWT.....” Gumam Randi membaca judul buku itu. Fitra tidak begitu menanggapi Randi, dia begitu fokus dan serius membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat yang tertera didalam buku tersebut.


“Cinta melulu kau Ra, udah nikah aja... apa yang kau tunggu lagi? Bidadarimu? Bidadarimu itu ngak bakalan datang kalau ngak dijemput........” Kata Randi. Fitra berhenti membaca setelah mendengar ucapan Randi barusan, dengan senyuman khasnya dia pun berkata.


“Kamu benar sobat. Tapi masalahnya bidadarinya itu yang masih misteri... masih hilang-hilang timbul...” ucap Fitra sambil bercanda.


“Hilang – hilang timbul…. emangnya ikan di laut?” Randi menambahkan.


“Eits.. jangan samakan bidadariku dengan ikan ya?”


“Oohh.. tidak sama ya? Kirain dia sejenis ikan duyung gitu, hahaha....”


Fitra hanya geleng-geleng kepala mendengar guyonan sahabatnya itu. Setelah itu Fitra kembali meneruskan bacaannya, mumpung pasien rawatan lagi sepi dan aman semua jadi dia punya waktu sekitar 2 jam untuk membaca buku ini hingga selesai. Sedangkan Randi, sudah mengambil posisi untuk tidur.


Beberapa menit kemudian, Fitra dapat telepon dari bagian kasir dilantai satu. Ia di suruh untuk mengantarkan salah satu status pasiennya kebawah. Fitra merasa tidak enak membangunkan Randi yang sudah pulas tidur, maka ia pun pergi turun kebawah tanpa memberitahu Randi.


Rumah sakit sudah terlhat sepi. Hanya satu dua orang yang masih terlihat berlalu lalang dikoridor rumah sakit Sakinah tersebut. Dari lantai 4 Fitra turun ke lantai 1 menggunakan lift. Didalam lift pun hanya dia seorang, ia pun masih sempat sambilan membaca buku yang tadi ketika didalam lift.


“Maaf ya jadi ngerepotin.” Ucap wanita dibagian kasir tersebut merasa tidak enak hati setelah Fitra sampai dan memberikan status pasien itu.


“No problem” Jawab Fitra singkat kemudian berlalu dari sana.


Fitra kembali masuk lift, menekan tombol 4 pada pintu lift dan kemudian kembali hanyut dalam bacaannya. Beberapa saat kemudian, lift berhenti dilantai 2. Saking asyiknya membaca, Fitra tidak sadar ketika seorang wanita berkerudung hijau masuk kedalam lift dan langsung menekan tombol 5 pada pintu lift.


Wanita berkerudung Hijau yang ternyata adalah Rania sempat tertegun saat melihat sosok Fitra yang memang ada beberapa kali pernah ia temui di rumah sakit ini dan ketertegunannya semakin bertambah tatakala melihat sebuah buku yang ia kenal sebagai buku karangannya sedang dibaca oleh Fitra yang Rania yakini perawat dirumah sakit Sakinah ini.


Karena merasa diperhatikan, Fitra pun menoleh kearah Rania. Mereka beradu pandang. Sinaran mata mereka berdua seakan berbicara, lalu mereka buru-buru mengalihkannya. Rania menunduk sedangkan Fitra kembali membaca bukunya.


Kegelisahan kembali menyelimuti hati Rania. dia heran kenapa lift ini begitu lama jalannya? Kenapa tidak sampai-sampai juga? Padahal badannya sudah mulai goyah, ia baru ingat sedari tadi belum ada sedikitpun nasi masuk kedalam perutnya karena hari ini begitu ramai pasien yang mau bersalin, sehingga dia jadi ngak sempat untuk makan malam.


Fitra kehilangan konsentrasinya. Tidak tahu apa yang dia baca, pikirannya sibuk ke wanita yang didepannya ini. Mau menyapa tapi tidak ada keberanian. Wanita didepannya ini sungguh berbeda dengan wanita yang ia kenal di rumah sakit ini, itu terlihat dari segi pakaiannya, Dia bergamis. Fitra yakin wanita ini memiki ideologis yang berbeda, yang tentunya sangat islami dan religius.


Rania tidak tahan lagi. Kepalanya nyut-nyutan. Dia seperti tidak kuasa lagi menahan tubuhnya sendiri. Rasanya akan tumbang saja. Padahal sebentar lagi angka lift tersebut akan menuju ke no 5, tapi sebelum itu berhenti di nomor 4. Sepertinya perawat ini yang turun. Rania semakin menepi agar Fitra bisa lewat. Baru selangkah kaki Fitra menginjak keluar lift, entah kenapa tiba-tiba Rania seakan tidak mampu lagi untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang akhirnya.... terjatuh... Rania pingsan. Fitra menyambut tubuh Rania.


@@@


Saat terbangun Rania mendapati dirinya sudah berada disebuah ruang perawatan. Tangannya dipasang infus dan cairan infus tersebut sudah tinggal setengah. Ia melihat jam dinding yang sudah menujukkan pukul 06.00 pagi. Terlalu lama sekali ia pingsan, terakhir dia ingat sekitar jam 1 malam ia disuruh kelantai bawah untuk mengambil kekurangan obat, dan ketika didalam lift menuju kelantai atas ia merasa tubuhnya seakan roboh karena selain dirinya masih belum sembuh total, dia pun belum makan malam. Dan… siapa yang membawanya kemari? Siapa yang menyambut tubuhnya saat pingsan tadi malam? Apakah perawat itu? Rania yakin pasti dia karena tiada satupun orang selain mereka berdua didalam lift tersebut.


“Ya Allah… Astagfirullah…” Rania tersadar bahwa ia belum sholat subuh. Dengan agak susah payah Rania mencoba bangun, dia harus sholat. Bagaimanapun caranya dia harus sholat karena hal yang paling ia takutkan dalam hidupnya adalah meninggalkan kewajiban sholatnya.

__ADS_1


“Eits.. mau kemana?” tiba-tiba Fitra masuk dan melihat Rania ingin berdiri. Rania menoleh ke Fitra.


“Aku belum sholat” jawab Rania. Lalu ia mematikan infusnya dan berjalan menuju kekamar mandi.


“Ooh.. yach, silahkan. Tapi hati-hati ya” pesan Fitra dan membiarkan Rania berjalan tertatih-tatih sendirian kearah kamar mandi. Sebenarnya Kepala Rania masih sakit tapi dia tidak mau terlalu memanjakannya, ia harus bisa melawannya.


Selesai sholat, Raisya datang. Entah siapa yang mengabari Raisya. Raisya tampak khawatir sekali dengan pingsannya Rania tadi malam.


“Kan dah aku bilang Ran, kamu sech ngak mau denger kata aku…”


“Afwan Sya, ini salah aku juga sech terlalu memaksakan diri” ucapnya.


“Rania ngak bilang kalau lagi sakit. Kalau dia bilang pasti kami ngak kan tega menyuruh dia tadi malam kebawah” Silla, teman satu dinas Rania ikut merasa bersalah.


Rania hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Silla tersebut. Setelah itu Raisya dan Silla saling berbicara. Rania hanya menjadi pendengar saja. Rania ingin bertanya dimana perawat tadi? Perawat yang menyambut dia ketika pingsan dan membawanya kesini?


“Ran, kamu istirahat disini aja ya satu hari ini. Tanggung tuch sampai infusnya habis dulu baru istirahat dirumah, gimana?” Tanya Raisya.


“Ngak lah Sya. Aku istirahat dirumah saja”


“Benar kata Raisya kamu disini saja sampai nanti sore, biar aku yang jagain kalau Raisya ngak bisa. Raisya katanya pagi ne ada kuliah kan?”


“Iya sech, tapi bisa lah minta izin ngak masuk sehari” jawab Raisya.


“Benar tuch. Kamu tetap kuliah aja gih” suruh Silla.


Raisya pun akhirnya pergi juga meskipun agak ngak enak hati meninggalkan Rania. Tidak berapa lama Raisya pergi, Silla pun pamit dengan alasan tiba-tba adik sepupunya datang kerumahnya. Rania hanya mengiyakan.


Pikiran Rania semakin suntuk. Cairan infusnya sudah tinggal seperempat, Rania sengaja mempercepat jalan tetasan cairan itu agar ia bisa cepat pulang karena dia lebih merasa nyamanberistirahat dikamarnya sendiri dari pada disini.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar rawatannya terbuka. Rania penasaran siapa yang datang, rasa penasarannya pun terjawab sudah ketika melihat perawat yang tadi malam dan tadi pagi masuk kedalam kamar rawatannya sambil membawa cairan infus yang baru.


“Gimana? Udah agak mendingan kan?” sapanya dengan ramah.


“Alhamdulilaah..” jawab Rania.


“Hhmm... kamu cepetin ya tetesannya? Perasaan aku mengaturnya ngak secepat ini lah” kata Fitra sambil kembali memperbaikinya.


“Eh… jangan.. biar aja..” cegah Rania.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Biar cepat habis. Soalnya aku mau pulang”


“Hah…?mau pulang…? Mana bisa nona manis... Dokter bilang kamu harus dirawat dulu disini selama 2 hari. Ini rencanaya aku mau ganti cairan yang selanjutnya...”


“2 hari? Ya Allah... aku ngak kenapa-kenapa kok dirawat selama itu? Kapan dokter bilang seperti itu? Dokter siapa?” Tanya Rania seakan tidak percaya.


“Dokter Aldi. Tadi subuh dia periksa kamu” Jawab Fitra.


“Tapi, aku mau pulang aja. Aku sudah ngerasa enakkan kok” Rania masih tetap dengan pendiriannya.


“Ngak bisa nona, aku disini cuman menjalankan tugas. Kata dokter tadi belum boleh pulang ya belum bisa pulang”


Rania menghela nafas panjang, sepertinya percuma jika ia terus memaksa perawat ini karena benar apa katanya dia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang perawat.


“Kalau tidak salah... kita pernah ketemu sebelumnya bukan?” Ujar Fitra sambil melepaskan cairan infus yang tinggal sedikit itu lalu menggantinya dengan yang baru.


“Mungkin iya”


“Kamu bidan?” Tanyanya lagi.


“Iya”


“Namamu Rania?”


“Iya”


“Kok jawabnya singkat – singkat seh?”


“Lalu...?” Rania bertanya. Karena baginya apa yang ditanya itu yang djawab. Apa mesti dia bertanya balik. Kamu perawat? Ah... itu pertanyaan basi sudah jelas-jelas dari penampilannya saja sudah jelas dia seorang perawat, terus siapa namamu? Ah.. Rania merasa tidak pantas menanyakan hal itu.


“Nama ku Fitra, hehe... meskipun kamu tidak tanya. Sekedar promosi” Kata Fitra selanjutnya.


“Kamu tahu tidak sebenarnya ada hikmah dibalik sakit yang diberi kan oleh Allah untuk kita...” Bukan Fitra namanya jika ia tidak memberi sedikit motivasi kepada pasien rawatannya, lidahnya selalu gatal untuk berbicara sesuatu yang dapat menyegarkan pikiran orang yang lagi sakit.


“Apa itu?” Rasa penasaran membuat Rania akhirnya bertanya.


“Sebenarnya jika kita lagi sakit, kita tidak perlu bersedih karena sakit itu adalah ujian dalam ibadah kita. Bukti Allah masih sayang pada kita. Dan Bukti dari rasa sayang itu maka Allah akan  mengutus 4 malaikat untuk menjaga kita saat sakit. Dimana Allah akan memerintahkan pada malaikat yang pertama.... untuk mengambil kekuatan kita sehingga kita menjadi lemah. Malaikat kedua... mengambil rasa lezat makanan dari mulut kita. Malaikat ketiga.... mengambil cahaya terang dari wajah kita sehingga terlihat pucat pasi. Dan malaikat keempat... mengambil semua dosa kita maka berubahlah kita yang sakit menjadi bersih dan suci tanpa dosa...” jelas Fitra sambil tersenyum. Rania sedikit terpana, bukan karena penjelasan tersebut karena ia juga pernah mendengar tentang itu sebelumnya tapi yang membuat ia terpana adalah dari cara penyampaian perawat itu kepadanya, begitu halus dan... menyenangkan.


“Dan ketika Allah akan menyembuhkan hamba-hambaNya dari sakit, ia memerintahkan kepada malaikat pertama, kedua dan ketiga untuk mengembalikan apa yang telah mereka ambil saat hamba Allah itu sakit. Baik kekuataannya, rasa lezat dan cahaya diwajahnya. Semuanya disuruh Allah kembalikan. Tapi... khusus untuk malaikat keempat, Allah tidak memerintahkannya untuk mengembalikan dosa-dosanya, kenapa begitu ya? Malaikat keempat lantas bertanya, dan Allah menjawab.... ‘Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa2nya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.’ Nah, MasyaAllah bukan? Betapa Maha baiknya Allah kepada kita hamba-hambaNya.”


Rania hanya tersenyum menanggapi penjelasan Fitra yang teratur dan indah itu. Dalam hati Rania berani bertaruh Fitra bukan hanya sekedar perawat biasa, ada sesuatu dibalik seragam putihnya itu. Bagi Rania dia begitu pintar, bukan hanya pintar berbicara tapi juga pintar dalam penyampaiannya dan tidak mungkin dia bisa menyampaikan jika tidak ada ilmunya.

__ADS_1


@@@


__ADS_2