
Baru saja Fitra masuk kedalam rumah dan mengucapkan salam, Mamanya datang menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.
“Mana bidadarimu sayang?” todong sang Mama dengan senyum - senyum.
“Aduh mama, Fitra baru pulang langsung disodorkan pertanyaan seperti itu. tanya Fitra udah makan atau belum kek” uJar Fitra agak sedikit kesal.
“Ah, mama ngak mau tau. Besok hari terakhir, kamu harus bawa bidadarimu itu kehadapan mama dan papa” ucap Mamanya sambil berlalu meninggalkan Fitra. Fitra menggeleng-gelengkan kepala.
Sebenarnya Fitra udah yakin untuk melamar Rania. tapi ia masih ragu apakah Rania juga menyimpan rasa yang sama terhadap dirinya? Gimana jika tidak? Gimana jika lamarannya ditolak?
“Fitra... Fitra.. gimana kita tahu kalau kita belum mencoba... kamu kok jadi ngak pede gitu sech? Tunjukkan donk keberanian mu sebagai seoarang laki-laki sejati. Apapun yang terjadi kamu siap menerimanya, jangan belum bertanding sudah mundur duluan” Nasihat Randi ketika Fitra menceritakan masalahnya tersebut.
Malam harinya Randi datang kerumah Fitra. Ia membawa kabar gembira untuk Fitra.
“Nih.. aku dapati semua tentang Rania. Alamat rumah kostnya, alamat rumah dikampungnya. Rania sekarang masih kuliah, ambil SKM semester akhir. Bulan depan ia akan ujian, dan bulan depannya lagi dia akan wisuda. Rania aktif dalam pengajian, sekali seminggu ia mengikuti halaqoh, ia juga membuka lowongan bagi remaja yang mau menimba ilmu di rumah dakwahnya. Teman dekatnya bernama Raisya, satu kampus dan satu aktivis juga sama Rania. selain itu mereka juga sering ngisi kajian di SMA swasta tepat disebelah kampus mereka.”
Mendengar penjelasan Randi mengenai diri Rania dan segala aktivitas wanita itu membuat keyakinan Fitra untuk segera melamar Rania semakin besar.
“Oke. Thanks Sobat” ucap Fitra sambil menepuk-nepuk punggung Randi.
“Waduh.. sakit woi...!!" teriak Randi.
"Jadi, kapan kamu ngelamar dia Fitra? Jangan lama-lama ntar keburu diambil orang. Kapok Lo” lanjut Randi dengan mengingatkan.
__ADS_1
“Besok pagi sekitar jam 8 aku akan kerumahnya” tutur Fitra dengan yakin.
“Rania sekarang ni lagi dinas malam sampai besok pagi. Mending kamu besok pagi kerumah sakit aja. Sebelum dia pulang, kamu cegat dia. Biar aku dan Nia yang ngatur gimana kalian bisa ketemu besok pagi. Gimana, oke?”
“Ya sudah… Aku ikut saja” Kata Fitra pasrah. Ia serahkan semuanya pada Randi. Biarlah Randi yang mengatur bagaimana proses pertemuannya besok dengan Rania, yang penting malam ini dirinya harus menyiapkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan kepada Rania. Buat sebuah puisi sepertinya lebih bagus biar kelihatan romantis, Fitra senyum-senyum sendiri dan tidak sabar menunggu hari esok. Ya Rabb.. mudahkan segala urusanku, doa Fitra dalam hati.
...@@@...
Pagi-pagi sekali Fitra sudah rapi. Ia menggunkan kemeja warna abu-abu dan celana hitam. Fitra melihat bayangan dirinya dicermin, betapa tampannya ia pagi itu. Setelah itu, Fitra tinggal menunggu jemputan dari Randi. Mereka akan berangkat bersama, sedangkan Nia yang memang dinas malam sudah dikabari Randi untuk mencari cara supaya Rania bisa dibawa ketaman rumah sakit. Disanalah Fitra akan memulai aksinya.
Bel rumahnya berbunyi. Fitra yakin itu pasti Randi yang datang. Fitra berlari kecil menuruni tangga dan kemudian membukakan pintu.
“Hai Rand...” Fitra menggantungkan kalimatnya setelah menyadari bukanlah Randi yang datang.
“Eh, Raihan... Apa kabar?” Kata Fitra agak sedikit kaget dengan kedatangan Raihan.
“Alhamduliah, sehat-sehat... silahkan masuk Han...”
Raihan pun masuk dan duduk diruang tamu Fitra setelah Fitra menyuruhnya untuk duduk.
“Maaf pagi-pagi menggangu.. udah rapi ni? Mau keluar ya?” Tanya Raihan.
“Ya. Rencananya. Tapi tunggu jemputan teman. Santai aja dulu.. mau minum apa Han?” tawar Fitra.
__ADS_1
“Ngak usah repot-repot Fitra. kedatangan ku pagi ini dengan maksud untuk menyampaikan 2 tujuan...” Ucap Raihan agak serius. Fitra bisa melihat itu dari wajah Raihan yang sedikit berubah.
“Tujuan pertama... ini.. aku mau membayar utang ku, aku sungguh berterima kasih sekali sama kamu Ra. Disaat aku membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit Nayla, kamu memberikan pinjaman yang padahal jumlahnya tidaklah sedikit. Tapi kamu ringan tangan sekali untuk membantu kami. Dan.. alhamdulilah sekarang ini aku sudah mendapatkan pekerjaan yang tetap dan gajinya lumayan makanya aku bisa melunasi utangku langsung kepadamu...” Ucap Raihan sambil menyerahkan amplop yang berisi uang tersebut. Tapi Fitra tidak langsung mengambil amplop tersebut.
“Sudah lah Raihan.. aku sama sekali tidak mengharapkan gantinya kok. Hmm.. gimana kalau uang itu untuk modal ibumu, kalau ngak salah dulu aku pernah dengar ibu kamu sempat jualan kan dirumah?” ujar Fitra.
“Iya Fitra, tapi... aku ngak enak...” kata Raihan yang tetap menyodorkan uang tersebut.
“Sudah... sudah... kamu ngak punya utang apa – apa lagi sama aku. Uang itu InsyaAllah udah aku ikhlaskan untuk ibumu, biar ibumu bisa membuka usaha sampingan lagi Raihan...” kata Fitra dengan tersenyum tulus.
Raihan tidak bisa lagi mengelak dan akhirnya kembali memasukkan amplop tersebut didalam sakunya. Raihan bersyukur sekali bisa mengenal orang sebaik Fitra dan ia akan lebih bersyukur lagi jika tujuan kedua kedatangannya tersebut disambut baik dengan Fitra.
“Terus.. tujuan kedua apa Han?” Tanya Fitra agak penasaran.
“Oya, Ini ngak kalah penting juga... begini Fitra... kamu taukan aku begitu menyayangi Nayla? Apapun rela aku lakukan demi kebahagiaan saudara kembarku itu... aku bisa merasakan kepedihannya disaat dia sakit karena cintanya... aku selalu mencari cara agar mengembalikan Nayla seperti Nayla yang dulu, tapi aku tidak pernah berhasil. Nah, saat bertemu dengan mu itu lah.. aku melihat harapan baru diwajahnya itu... aku bisa merasakan adanya getaran kebahagiaan saat dia melihatmu, saat dia menyebut namamu... kepedihannya seketika berubah menjadi kebahagiaan... Nayla kembali ceria, tersenyum, dan bersemangat dalam menatap kehidupannya kedepan... semua itu.. berkat kamu Fitra... kamu lah yang membangkitkan semangat hidupnya... kamulah yang membuat dia pergi bahkan lupa dengan kenangan masa lalunya yang suram itu... semua itu berkat kamu Fitra... berkat kata-katamu yang menyejukkan hatinya... menenangkan pikirannya... dan.. kedatangan ku saat ini... anggaplah aku sebagai perantara untuk mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada mu karena kamu sudah mengembalikan Nayla ku. Selain itu, aku juga ingin menyampaikan sebuah rasa yang bersemayam dihati Nayla saat ini. Dihati Nayla saat ini telah ada cinta. Cinnta yang baru, cinta yang membuat ia merasa nyaman dan tenang, cinta yang mengajarinya untuk lebih ingat pada sang PenciptaNya. Yach... Nayla benar-benar jatuh hati kepada mu Fitra... Nayla sangat mencintaimu... Nayla menyayangimu... Nayla ingin kamu datang dan menjemputnya... dalam artian... Nayla ingin kamu menikahinya Fitra.... Itulah kebahagiaan Nayla sejatinya... aku harap Nayla mendapat balasan dari kamu... aku yakin kamu juga menyimpan perasaan itu terhadapnya kan Fitra? iya kan?” jelas Raihan panjang lebar.
Bagaikan tersembar petir Fitra mendengar semua yang disampaikan Raihan tersebut. keringat dingin mulai menjalari setiap inci tubuhnya. Tidak dipungkiri hatinya saat ini bergetar. Perasaannya ingin menangis, wajah Fitra berubah seketika. Terlihat begitu panik dan merah padam.
“Kamu mencintai Nayla kan Fitra?” Pertanyaan itu kembali diulangi Raihan. Fitra tidak mampu untuk menjawabnya, kerongkongannya seakan terkunci. Fitra hanya menunduk, menunggu jawaban dari Allah. Dalam hati ia tidak berhenti-henti berdzikir dan beristigfar.
“Aku mohon jawab Fitra” Raihan semakin memaksanya. Raihan sadar dengan situasi yang terjadi saat ini. Diamnya Fitra adalah sebuah jawaban baginya, tapi Raihan tidak mau jawaban yang menyakiti ia dan Nayla.
“Sungguh... aku kaget luar biasa mendengar ini semua. Aku tidak menyangka sejauh ini... tapi.. aku tidak bisa Raihan... aku... aku udah terlanjur menetapkan pilihan ku dengan wanita lain...” Mau tidak mau Fitra harus jujur meskipun mengecewakan Raihan.
__ADS_1
“Demi Allah... demi Nayla... tolong Fitra... meskipun kau tidak menyayanginya tapi tolong... kau coba untuk mengkasihani dia... tolong kasihani dia... apakah kau mau melihat dia terbaring dirumah sakit untuk kedua kalinya karena cintanya yang hilang lagi? Demi Allah... aku tidak sanggup jika melihat Nayla seperti itu lagi, Tolong Fitra.. kasihanilah Nayla, kasihani saudara ku itu...” Ucap Raihan dengan suara bergetar dan menahan air mata yang akhirnya tumpah jua. Raihan menangis di hadapan Fitra. Fitra menutup wajahnya.Jika ia tetap dengan egonya untuk meminang Rania, bagaimana dengan Sofwa? Bagaimana nasib gadis itu nantinya? Sesungguhnya Fitra juga menyayangi Sofwa. Tidak ia pungkiri itu. Ini adalah pilihan terberat dalam hidupnya. Mau tidak mau dia harus memilih. Yach! Fitra harus memilih meskipun berat.
BERSAMBUNG...