
Akhirnya hari yang dinantikan itupun tiba, hari dimana pernikahan Rania dan Fitra dilangsungkan di kediamannya Fitra. Akad Nikah mereka diadakan dipagi hari, tepat jam 8 pagi. Tamu - tamu sudah ramai berdatangan, baik dari keluarga besarnya Fitra maupun keluarga besarnya Rania yang datang dari kampung halamannya. Meskipun keluarga besar Rania tidak hadir semua, hanya sebagian saja yang dapat hadir karena kendala jarak dan waktu, Namun mereka tetap memberikan doa yang terbaik demi kelancaran acara akad nikah dan juga resepsi pernikahan Rania dan Fitra tersebut.
Beberapa saat kemudian, acara akad nikah pun dimulai. Fitra sudah siap duduk disana, didepannya sudah ada Bapak Rania dan sebelahnya sudah ada Pak KUA yang akan menikahi Fitra dengan Rania dan juga beberapa orang saksi yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.
Fitra terlihat tampan dengan baju putih yang ia gunakan, aura tampan dari wajahnya itu semakin menampakkan sinarnya. Ketampanan yang membuat wanita manapun seakan terlena dan terbuai dengan pesona yang ia berikan.
Setelah itu, Fitra mengucapkan ijab qabul dengan suara yang lantang dan juga dengan lancar, hanya dengan sekali tarikan nafas saja. Fitra terlihat begitu yakin, semangat dan antusias. Sedikitpun tidak tampak kegugupan ataupun kecemasan pada wajahnya. Karena memang, Fitra benar - benar sudah siap untuk menikah dan juga sudah mempersiapkan segala halnya jauh - jauh hari dengan matang.
Beberapa saat kemudian, Setelah para saksi mengatakan kata Sah sebagai tanda bahwa Fitra sudah sah mempersunting Rania, maka Pak KUA menyuruh Rania untuk keluar dari kamarnya. Karena memang sejak tadi Rania tidak berada disana menyaksikan langsung ijab kabul yang sudah diucapkan oleh Fitra tersebut.
Rania keluar dari kamar dengan didampingi oleh Ibunya dan juga Raisya. Rania berjalan pelan dengan menundukkan wajahnya, entah mengapa Rania merasa tidak percaya diri dan juga malu untuk melihatkan wajahnya kearah Fitra yang ia yakini pasti saat ini semua mata tertuju ke dirinya, termasuk juga Fitra.
Rania terlihat sangat cantik dan juga anggun dengan gamis putih dan kerudung warna senada yang menutupi dadanya. Setelah itu, Rania pun duduk di samping Fitra. Mata lelaki itu tidak lepas memandang wajah cantik dan manisnya Rania, wanita yang baru beberapa menit yang lalu sudah dah menjadi istrinya. Menjadi bidadari yang akan menemaninya didunia, menjadi pelengkap hidupnya, pelipur lara, dan penyejuk hatinya. Wanita yang begitu diimpikan dan diidam - idamkannya sejak dulu. Dan Fitra sangat merasa bersyukur, Allah menjodohkannya dengan Rania. Mentakdirkan Rania menjadi istrinya.
Kemudian, Rania menyalami tangan Fitra lalu menciumnya dengan tersipu malu. Fitra merasa gemes melihat tingkah Rania, seakan ingin mencubit halus pipi Rania yang mulus itu.
Setelah selesai salam - salaman antara dua keluarga Rania dan Fitra, dan kemudian dilanjutkan dengan acara foto bersama.
"Dekat dikit donk pose fotonya Fitra, kan sudah halal juga." goda Randi dengan tawa khasnya itu, karena mereka merasa lucu saja dengan tingkah Fitra dan Rania yang masih malu - malu dalam bersikap dan bersentuhan padahal mereka sudah pasangan sah dan halal.
Setelah selesai acara foto - foto dengan menggunakan baju akad nikah berwarna putih yang tadi, kemudian dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan satu harian sampai sore. Namun, sebelum itu mereka berdua berganti pakaian dulu didalam kamar.
__ADS_1
"Fitra..." seseorang memanggil Fitra saat lelaki itu hendak naik keatas tangga. Yang memanggilnya ternyata adalah Raihan. Fitra berhenti sejenak dan menghampiri Raihan, dengan sebelumnya menyuruh Rania dan tim make up mereka untuk naik keatas duluan.
"Iya, Raihan. Alhamdulillah, kamu datang ternyata di acara nikah aku, Raihan." kata Fitra terdengar bahagia.
"Ya aku datang bersama Sofwa dan juga Andre." kata Raihan seraya melihat kebelakangnya, dimana tempat Sofwa dan Andre duduk manis ditempat yang sudah disediakan. Sofwa melambaikan tangannya kearah Fitra sedangkan Andre langsung menganggukkan kepalanya dengan ramah.
"Terimakasih Raihan, kamu sudah mau hadir. Jujur aku senang dengan kedatangan kamu diacara pernikahan saya ini." kata Fitra lalu tersenyum dengan lebar.
"Ya sama - sama, Fitra. Oya, selamat.. Selamat menempuh hidup baru, semoga kamu dan Rania menjadi keluarga yang harmonis dan samawa." tutur Raihan terdengar tulus dan menyakinkan. Seraya mengalami tangan Fitra dengan hangat. Fitra sempat tersentak juga dengan perubahan sikap Raihan tersebut, ia tidak seperti Raihan yang ia temui beberapa hari yang lalu dirumahnya. Ia yang super dingin, cuek dan tidak mau tahu. Kendatipum demikian, Fitra sangat bersyukur sekali karena dengan begitu hubungan pertemanan dan persahabatannya denagn Raihan akan membaik kembali. Itulah yang ia harapkan, ia yang tidak suka dan tidak ingin permusuhan.
"Aamiiin.. Terima kasih doanya Raihan. Dan terimakasih juga karena kamu sudah tidak marah lagi dengan aku dan Rania. Semoga kita bisa tetap berhubungan dan berteman dengan baik ya, aku sangat berharap." kata Fitra dengan menepu - nepuk pelan pundak Raihan.
"Iya, sama - sama. Oya, aku juga mau mintak maaf atas sikap aku yang kemarin - kemarin sama kamu dan juga Rania, tolong sampaikan maaf aku ke dia." kata Raihan lagi.
...๐งก๐งก๐งก๐งก...
Setelah acara selesai, dan Dimalam harinya...
Rania kini telah berada didalam kamar Fitra yang sudah dihias dengan cantik dan indah. Kamar Fitra cukup luas menurut Rania untuk ukuran laki - laki. Barang - barang dan perabotannya tertata dengan rapi. Di dinding kamar Fitra banyak tertempel foto laki - laki itu, dari masih kecil sampai sudah dewasa saat ini. Rania duduk ditepi ranjang sambil menunggu kedatangan Fitra yang masih sibuk dibawah menemani teman - temannya yang masih datang.
Setelah selesai acara resepsi tadi sore, keluarga Rania pamit langsung pulang ke kampung halaman mereka. Maka tinggallah Rania seorang diri tanpa ada keluarganya yang menemaninya disini. Tiba - tiba saja rasa canggung mulai menyelimuti Rania. Ia merasa asing berada ditengah - tengah keluarga besarnya Fitra. Meskipun keluarga Fitra sangat humble dan bersikap baik dan ramah terhadap Rania. Namun, tetap saja rasa canggung itu masih ada juga.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, pintu kamar Fitra terbuka. Dan seraut wajah tampan Fitra langsung nongol dari balik pintu. Rania yang tadi duduk, langsung buru - buru berdiri dengan perasaan gugup yang semakin menjadi - jadi.
Fitra kemudian melemparkan senyum manis dan mempesonanya itu kearah Rania. Wajah Rania memerah, tersipu malu karena dilihatin dengan tatapan mesra oleh suaminya itu.
"Rania..." panggil Fitra dengan suara yang lembut. Wajah Rania yang tadi tertunduk, kemudian diangkatnya sedikit dan dengan lirikan ujung matanya ia melihat kearah Fitra.
"Iya, Fitra." sahut Rania yang memberikan senyum manisnya keraah Fitra juga.
"Kita.. Hhmmm.. Lebih baik kita sholat witir dulu ya Rania.." ajak Fitra dengan tersenyum simpul.
"Ya, boleh.. Oke Fitra.." jawab Rania dengan mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Dan setelah itu... Barulah kita..." Fitra menggantungkan kalimatnya sejenak dengan senyum simpul masih tergambar diwajahnya. Rania yang sejak tadi sudah salah tingkah, hanya bisa diam dengan wajah memerah dengan tangan dan hati yang bergetar hebat.
...๐๐๐๐...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.
.