
Jam telah menunjukkan pukul 21.00 malam. Lagi-lagi Rania pulang terlambat lantaran banyaknya pasien sehingga membuat dirinya yang masih baru tidak diberi izin untuk pulang pada jam dinas seharusnya.
Dengan langkah yang gontai Rania turun menggunakan tangga dari lantai 5 menuju ke lantai 1, kebetulan lift dirumah sakit tersebut sedang dalam proses perbaikan sehingga membuat Rania turun kebawah menggunakan tangga.
Rumah sakit sudah terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang berlalu di tangga tersebut. Saat tiba dilantai 3, benar-benar tidak ada orang. Tiba-tiba saja perasaan Rania menjadi tidak enak. Ditambah lagi Rania malah teringat akan mimpinya semalam yang membuat rasa takut itu semkain menjadi-jadi.
"Rania..." Sebuah suara memanggil namanya dari belakang. Suara seorang lak-laki.
Awalnya Rania merasa bahwa itu hanya ilusinya saja, karena perasaannya tadi tidak ada siapapun dibelakangnya tapi kenapa tiba-tiba ada suara memanggil namanya. Rania yang mulai diselimuti rasa takut, langsung melajukan langkah kakinya untuk turun kebawah, tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
"Hai... Rania... Tunggu..." Suara itu memanggilnya lagi dan kini Rania bisa pastikan bahwa suara itu nyata. Lelaki itu juga mempercepat langkah kakinya dan mengejar Rania dengan langkah yang buru - buru menuruni anak tangga tersebut.
Rania yang semakin takut langsung berlari dengan kencangnya. Sampai akhirnya.
Dubraaakkkk.....
Rania menabrak seseorang dan mereka terjatuh berbarengan.
Orang yang ditabarak Rania itu langsung bangkit kemudian mendekatinya.
"Rania, kamu gak kenapa-kenapa?" Tanyanya. Dan suara itu... Rania kenal. Rania langsung menoleh kesumber suara.
"Fitra?" Ucap Rania dengan ekspresi kagetnya ketika melihat Fitra yang sudah ada saja dihadapannya saat ini.
"Kamu ngapain lari-lari turun tangga, Rania? Kalau kamu terpeleset dan jatuh bagaimana?" Tanya Fitra dengan nada risau.
"Itu... Tadi.. aku..." Rania tampak ragu menjelaskan kepada Fitra. Fitra menatap Rania dengan heran.
"Kamu kok kelihatan pucat sekali Rania? kamu sakit ya? Terus sekarang kamu mau kemana?" Tanya Fitra bertubi-tubi, rasa kekhawatiran masih tergambar jelas diraut wajah Fitra.
"Aku.. mau pulang, tadi dinas siang" Jawab Rania apa adanya.
__ADS_1
"Kok baru pulang? bukannya pergantian shif seharusnya jam 8 malam?" Tanya Fitra bingung. Tapi, Rania enggan menjawabnya. Fitra yang paham akan diamnya Rania lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi sudah berapa kali kamu diperlakukan seperti ini dengan senior kamu, Rania?" Tanya Fitra dengan curiga.
"Maksdunya?" Rania berpura-pura tidak tahu maksud Fitra yang padahal dia sebenarnya tahu. Rania cuman tidak ingin nantiknya seniornya malah kenak masalah pulak gara-gara dirinya. Padahal Rania tidak ada sedikitpun niat untuk mengadu akan hal ini kepada Fitra.
Memang belum banyak orang yang tahu akan hubungan khusus yang terjalin antara Fitra dan Rania termasuk seniornya Rania. Jika mereka tahu tidak mungkin mereka berani memperlakukan Rania seperti ini.
"Kamu seharusnya paham maksud aku, Rania. Sudah kamu jujur aja... Sering ya mereka menahan kamu seperti ini. Ini sudah jam berapa lo. Mau jam 10 malam dan kamu baru mau pulang. Bahaya Rania jam segini kamu pulang sendirian." Ujar Fitra dengan nada suara yang terdengar risau. Rania hanya diam sambil menunduk.
"Ya sudah.. besok aku jumpa dengan kepala ruangan kamu itu. SEkarang ini, aku antar kamu pulang" Tegas Fitra.
"Tapi, Fitra..."
"Ngak ada tapi-tapian. Tidak mungkin kan aku biarkan calon istri aku pulang sendirian malam-malam begini...?" Kata Fitra. Yang membuat Rania akhirnya menurut juga.
Lagi pula Rania merasa bersyukur dia bertemu dengan Fitra, karena kalau tidak orang asing yang memanggil dia tadi pasti akan terus mengejarnya. Jika mengingat itu kembali menimbulkan rasa takut dibenak Rania. Siapakah gerangan lelaki bersuara besar itu? Rania sama sekali tidak melihat wajahnya karena saking takutnya tadi. Hanya suaranya lah yang ia dengar. Suaranya yang agak berat, besar dan serak. Rania sama sekali tidak mengenal suara yang menyeramkan itu.
"Ada yang kamu sembunyikan sepertinya ini, iya kan?" Tebak Fitra dengan yakin. Rania masih diam tidak menjawab pertanyaan dari Fitra tersebut.
"Cerita aja Rania... Mana tahu aku bisa bantu, dan setidaknya jika kamu berbagi cerita dengan aku, akan membuat perasaan kamu menjadi lega... Jangan disimpan sendiri Rania, nantik kamu bisa stress" Kata Fitra dengan memberikan saran.
Rania menghela nafas panjang dengan masih menunduk. Ada betul juga apa yang dikatakan Fitra. Fitra kan sebentar lagi akan menjadi suaminya, tidak salahnya dia lebih terbuka dengan lelaki itu. Pikir Rania didalam hatinya.
"Hhmmm... Sebenarnya, aku.. aku merasa takut Fitra" Jawab Rania akhirnya. Fitra mengerutkan dahinya tanda bingung.
"Takut kenapa, Rania?" Tanya Fitra penasaran.
"Beberapa hari ini aku merasa ada orang yang mengikuti aku, tapi aku gak tau siapa. Dan tadi itu kenapa aku berlari karena orang yang mengikuti aku itu memnaggil nama aku dan setelah itu mengejar aku, makanya aku berlari menuruni tangga tadi. Aku takut saja ia berniat jahat dengan aku, Fitra" Jelas Rania dengan raut wajah ketakutannya.
"Kamu yakin dia orang jahat? Bagaimana jika dia teman kamu atau kebetulan kenal sama kamu? Karena kan kamu bilang gak lihat orangnya, kamu langsung berlari aja kan?" Kata Fitra yang langsung membuat Rania seakan berfikir ada benarnya juga. Apa dirinya yang terlalu parno dan berlebihan.
__ADS_1
"Aku ngak tahu, yang jelas aku sudah panik duluan. Karena sebelumnya aku ada dapat telepon dari seseorang yang mengancam aku juga, Fitra." kata Rania yang mengadu ke Fitra.
"Oya? Dia ngancam apa emangnya?" Tanya Fitra penasaran.
Lalu Rania menceritakan semua yang dikatakan si penelpon misterius itu kepada Fitra. Fitra mendengarnya dengan seksama.
"Dia bilang begitu? Berani-beraninya dia mengancam kamu seperti itu, Rania." Ujar Fitra yang terlihat mulai marah dan emosi.
"Kamu masih simpan nomor hpnya kan?" Tanyanya lagi. Rania langsung mengangguk.
"Kamu kirim ke aku, biar aku cari tahu siapa dia" Tutur Fitra.
"Kamu gak usah risau Rania, aku pastikan kamu akan aman.. Dan, mulai besok kamu akan aku usulkan untuk masuk masuk shif pagi saja biar gak pulang malam - malam lagi, Karena bahaya." Kata Fitra.
"Tapi, gimana caranya?" Tanya Rania dengan bingung.
"Ada dech, Biar aku urus semuanya. Kamu tinggal terima bersihnya saja.." Kata Fitra seraya tersenyum manis. Raniapun seakan lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan siapa. Pastilah semuanya bisa diatur oleh Fitra. Anak si pemilik Rumah Sakit tempat ia bekerja.
"Tapi, aku merasa gak enak nantik Fitra karena diperlakukan istimewa sama kamu. Aku takut aja entar jadi bahan perbincangan dan keirian sesama teman sejawat" Kata Rania yang sudah memikirkan jauh kesana.
"Tidaklah, nantik aku kumpulkan semuanya dan aku jelaskan ke mereka. Aku pastikan setelah ini tidak ada lagi yang bisa berbuat semena-semena sama kamu Rania. Karena kamu adalah ... Calon bidadari aku, jadi aku harus menjaga kamu dengan sungguh-sungguh. Oke?" Ujar Fitra yang kembali tersenyum lebar. Rania hanya menjawab perkataan Fitra tersebut dengan sebuah senyuman juga...
.
.
.
.
Bersmabung....
__ADS_1