
Fitra berhenti dikantin rumah sakit. Randi dan Nia yang sedari tadi mengejar Fitra pun akhirnya sampai juga. Dengan nafas yang masih naik turun, mereka berdua duduk dimeja kantin, tempat dimana Fitra duduk.
“Buk, teh es nya 3 ya?” Randi memesan minuman. Ia tampak haus setelah mengejar Fitra.
“Kau apa-apaan sech Fit? Kenapa main kabur saja?” Tanya Randi dengan kesalnya.
“Iya Fitra, kasihan tuch Rania. Katanya kamu mau ngelamar dia? Kok ngak jadi? Atau ada rencana yang lain. kalau ada bilang donk sebelumnya sama kami, biar ngak terjadi salah paham seperti ini.” Ucap Nia gak kalah kesal dari Randi. Melihat Fitra masih diam, membuat Randi dan Nia semakin geram.
“Hallo... Fitra...” Ucap Nia sambil mengeraskan suaranya seraya melambaikan tangannya kearah wajah Fitra
“Iya Nia... iya.. aku dengar, kasih waktu dulu untuk aku berfikir” Ujar Fitra akhirnya.
__ADS_1
“It’s oke” Tidak lama kemudian minuman yang dipesan Randi tadi pun datang tapi Fitra tidak kunjung membuka mulutnya untuk berbicara. Randi lansung meminum minuman tersebut hingga habis. Ia begitu kehausan.
“Masih lama kah?” Kata Nia ngak sabaran menunggu penjelasan dari Fitra.
Fitra menarik nafas panjang melihat Randi dan Nia yang menunggu penjelasan darinya dengan wajah yang tidak sabaran. Mau tidak mau Fitra harus cerita karena mereka berdua saat ini sudah terkena imbas akan masalahnya. Fitra menceritakan semuanya kepada kedua temannya tersebut. dari awal hingga akhir, ia ceritakan awal mula mendekatti Sofwa, gimana dia datang dan memberikan pencerahan kepada gadis tersebut, bagaimana dia sering memeperhatikan Sofwa dan berniat untuk menolong Sofwa agar keluar dari masalahnya. Dan setelah kejadian dimalam itu, ia melihat perubahan yang terjadi pada Sofwa. Dia ceritakan bagaimana saudara kembarnya Raihan dan ibunya sangat berterima kasih kepada dirinya karena telah membangkitkan kembali semangat hidup Sofwa hingga Sofwa sembuh dan dibolehkan pulang oleh dokter. Sampai akhirnya Fitrapun menceritakan kejadian tadi pagi saat Raihan datang dengan 2 tujuan. Yang salah satu dari tujuan tersebut adalah untuk menjodohkan dirinya kepada Sofwa. Raihan memohon dengan sangat kepada dirinya, agar dirinya bisa menerima cintanya Sofwa karena Raihan tidak mau lagi melihat Sofwa menderita jika cintanya tidak terbalas. Dan saat itu naluri dan akalnya berdebat hebat. Apa yang harus dia lakukan dan akhirnya.... akalnya mengalah, naluri untuk memberi kasih sayang yang baru untuk Sofwapun muncul, dengan terpaksa dia membatalkan niatnya untuk meminang Rania.
“Ya Allah, Fitra.....” Nia menutup mulutnya, seakan tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Matanya yang besar itu semakin besar ketika ia melotot kearah Fitra.
“Udah katakan apa hah? Jangan bilang kalau kamu....” Selidik Fitra dengan menyipitkan matanya.
“Iya Fitra, maafin aku. Aku keceplosan. Rania sudah tau semuanya” Kata Nia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Ya Allah, Nia...” Fitra tampak kesal sekali, mau marah percuma. Semua telah terjadi. Yang ada dalam hatinya saat ini adalah dia telah melukai hati Rania. Apa penilaian Rania terhadap dirinya? Rania pasti pikir bahwa dia tipe lelaki yang suka mempermainkan perasaan wanita? padahal dalam pikirannya tadi toh Rania tidak tau bahwa Fitra akan melamarnya jadi tidak begitu masalah. Makanya dia memilih Sofwa karena ia ingin menjaga perasaan wanita itu, dia tidak ingin melukai perasaan siapapun. Tapi, kini dia sudah membuat luka baru dihati Rania. betapa jahatnya dia? Dalam hati Fitra bertekad, ia harus menjelaskan ini semua pada Rania. dia harus meminta maaf kepada wanita itu. Ya. Harus..!! Tekad Fitra di dalam hatinya.
...@@@...
Rintik-rintik hujan membasahi tubuh Rania. Tapi, ia enggan untuk berteduh. Ia tetap berjalan menelusuri gang kecil menuju kosannya. Pagi yang mendung. Sama seperti hatinya saat ini. Bumi seakan mengerti tentang dirinya. Betapa cerahnya tadi, secerah hatinya yang diselimuti harapan baru dan cinta yang baru. Tapi bumi mendadak mendung bahkan gerimis setelah harapan dan cinta baru itu hanya tinggal nama saja. Rania tersenyum kecut. Air mata yang tertahan itu akhirnya tumpah juga. Basah mengalir dipipinya yang mulus. Air mata apakah ini? Dia tidak tahu. Apakah air mata ini sebagai tanda akan kegagalan cintanya?
“Assalamualaikum...” akhirnya sampai juga Rania dikosannya. Tapi tiada satupun orang yang menjawab salamnya. Mungkin mereka pada keluar semua. Rania masuk dan langsung menuju kamarnya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Rania langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Mata Rania terasa lelah, semalaman tadi dia tidak tidur. Ia begadang menjaga pasien yang akan bersalin hingga pagi. Rania berfikir tidak ada salahnya dia tidur sejenak, mengistirahatkan matanya yang sudah berat ini.
Beberapa detik kemudian Raniapun tertidur. Dalam tidurnya Rania bermimpi. Ia berada disuatu tempat asing, tempat itu luas. Sepanjang mata memandang ia tidak menemukan satu pun rumah, pohon ataupun yang lainnya. Cuman ada dia dan tanah yang ia pijaki. Rania berjalan tertatih-tatih mencari tempat bertanya. Dimana dia? Dan kenapa bisa ditempat gersang ini? Dari kejauhan Rania melihat seseorang. Tidak begitu jelas Rania melihat wajah orang itu, karena begitu jauh dari pandangnnya. Rania berlari menyusul orang tersebut, sambil berteriak memanggil orang itu. Tapi yang dipanggil tidak menoleh malahan semakin mempercepat langkahnya. Akhirnya Rania tersungkur jatuh, ia merasakan darah segar mengalir di kakinya. Ia tersandung sebuah batu besar. Rasanya perih sekali. Ia tidak sanggup lagi untuk berdiri apalagi berlari mengejar orang tadi.
Namun, tiba-tiba ada yang memegang pelan pundaknya. Rania kaget luar biasa. Ia pun membalikkan badan dan... keterkejutannya semakin menjadi saat melihat Fitra berada dibelakangnya, ia mengulurkan tangannya hendak membantu Rania berdiri. Rania menerima uluran tangan Fitra. Fitra memberikan senyumannya yang khas itu kepada Rania. Rania tidak membalas senyumannya itu. Beberapa saat kemudian, Rania mendengar suara seorang wanita memanggil Fitra. suara itu... suara yang terdengar syahdu dan penuh harap. Fitra berlari ke sumber suara. Rania diam terpaku ditempat. Dari kejauhan.. Rania melihat wanita itu, belum sempat Fitra sampai kesana... tiba-tiba saja muncul sosok laki-laki berbadan agak besar menarik tubuh si wanita... membawanya lari menjauh dari sana... Fitra semakin memperkencang larinya, berusaha menyelamatkan wanita itu dari lelaki yang menariknya dengan paksa. Lama-lama mereka semua menghilang dari pandangan Rania. kini ia tinggal sendirian lagi. Sendirian ditengah-tengah padang pasir yang gersang. Menunggu ketidakpastian akan kemana nasib membawa dirinya?
__ADS_1
Bersambung...