
“Bang, Raihan? sudah pulang ya, oya.. ini kenalkan teman Nayla, Bang…” Ucap Sofwa dengan memperkenalkan Rania dan Raisya kepada abangnya itu.
Rania dan Raisya menelungkupkan kedua tangannya berbarengan seraya tersenyum.
“Ini Kak Rania dan yang satu lagi Kak Raisya..” Ucap Sofwa menujuk mereka satu persatu.
“Apaaa??? Rania?” Raihan berteriak kaget ketika mendengar nama Rania disebut adiknya.
“Rania Nazwa?” Tanyanya lagi langsung ke Rania. Ditanya seperti itu Rania langsung menganggukkan kepalanya.
“Oohh… Kamu ternyata. Mau ngapain kesini? Mau pamer sama adik saya karena sudah berhasil mendapatkan Fitra, benar begitu ha?” Tiba-tiba Raihan terlihat begitu marah. Nayla yang tidak menyangka abangnya berkata demikian langsung mendekatinya dan membisikkan sesuatu ke telinga abangnya tersebut.
“Bang, apa-apaan sech? Mereka datang dengan niat yang baik, bang..” Kata Sofwa dengan berbisik tepat ditelinga Raihan.
Sedangkan Rania dan Raisya hanya diam terpaku melihat respon yang tidak baik diberikan oleh Raihan terhadap mereka.
Raihan tidak mempedulilkan sanggahan dari adiknya tersebut, dengan wajah yang emosi dia langsung saja mendekati Rania lalu menolaknya dengan lumayan kuat.
“Gara-gara kamu, adik aku Sofwa jadi gagal menikah. Seharusnya jika kamu masih punya hati. Kamu menolak pinangan Fitra. Karena dia... si Fitra itu… sudah duluan menaruh harapan ke Sofwa. Paham kamu?” Kata Raihan dengan berteriak.
Rania sungguh terperanjat kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari Raihan, ia sungguh tidak menyangka Raihan akan semarah ini kepadanya. Padahal dia sudah begitu senang tadinya sebab Sofwa bisa menerimanya dengan baik.
“Hei.. Jangan main tolak sembarangan donk!” Kata Raisya yang mulai kesal dengan perlakuan kasar dari Raihan.
“Bang Raihan.. Kenapa sech? Tadi kan sudah Nayla bilang mereka datang kesini dengan tujuan baik. Bukan pamer atau yang lainnya yang ada dipikiran abang itu” Kata Nayla yang terdengar kesal juga kepada abangnya itu.
“Abang gak percaya dia datang dengan tujuan baik, Nay. Kalau dia memang wanita yang baik pasti dia tidak mau menerima pinangan dari Fitra yang padahal sudah meminang wanita lain sebelum itu. Seharusnya dia bisa berfikir. Sesama wanita harus saling menghargai, bukan malah saling menyakiti” Kata Raihan yang semakin emosi.
Rania yang sedari tadi masih diam, berusaha untuk tenang dan tidak terpancing emosi atas segala tuduhan yang dilolntarkan abangnya Sofwa itu. Dengan menarik nafas dia pun akhirnya mengeluarkan suara.
“Maaf, Bang Raihan… Jika kedatangan kami ini tidak kalian inginkan. Kami sungguh-sungguh minta maaf. Tapi, demi Allah dan Rasulnya kami tidak bermaksud seperti yang Bang Raihan katakan itu. Niat kami baik, ingin menjalin silahturahim dengan Sofwa. Ingin mengenal Sofwa lebih jauh lagi, berteman dan bersahabat dengannya.” Ucap Rania dengan suara yang lembut.
“Cih…Sofwa gak butuh teman seperti kalian. Yang merebut apa yang seharusnya jadi milik dia.” Jawab Raihan dengan mencibir.
“Bang…” Sofwa melotot kearah Raihan seakan berusaha menyadarkan abangnya yang sudah keburu emosi.
__ADS_1
“Lebih baik kalian pergi dari sini. Keberadaan kalian tidak diterima disini” Usir Raihan dengan kasar.
“Ran, yuk kita pulang aja” Kata Raisya dengan menarik tangan Rania.
“Sekali lagi kami mohon maaf karena sudah menganggu. Kami permisi dulu” Pamit Rania akhirnya. Rania lalu melihat Sofwa yang juga melihat Rania dengan wajah yang memelas, setelah itu Rania pun pergi namun tetap memberikan senyuman hangat untuk Sofwa. Seolah-olah senyuman itu sebagai isyarat bahwa mereka tidak apa-apa dan memaklumi akan kemarahan Raihan terhadapnya.
“Kenapa sech, Bang Raihan bersikap seperti tadi?” Tanya Sofwa setelah Rania dan Raisya pergi meninggalkan rumah mereka.
“Biar aja, Nay. Biar mereka kapok” Jawab Raihan setelah itu meneguk air putih segelas sampai habis. Sepertinya dia langsung kehausan karena berteriak dan membentak 2 orang tamu yang datang kerumahnya tadi.
“Bang Raihan benar-benar bikin Nayla malu. Gak seharusnya abang bersikap seperti itu. Kak Rania itu gak salah, bang. Bukan dia penyebab aku dan Fitra tidak jadi nikah. Karena kan sudah berkali-kali aku katakan pada Abang kalau aku sendirilah yang menyuruh Fitra untuk menemukan cinta dia. Untuk melamar wanita yang benar-benar ia cintai.” Jelas Nayla berapi - api.
“Masa Bodoh, Nay. Yang jelas abang kesal dengan dia dan juga Fitra. Sampai kapanpun abang tidak ridho atas apa yang mereka perbuat ke kamu” Kata Raihan setelah itu masuk kekamarnya.
“Bang… Mau kemana? aku belum selesai ngomongnya” Teriak Sofwa yang melihat Raihan sudah masuk kekamar dan mengunci pintu kamarnya.
“Pakai dikunci pulak lagi, Bang Raihan… BANG???” Panggil Sofwa, namun Raihan sama sekali tidak mengindahkannya.
Sedangkan diluar tampak Rania dan Raisya berjalan kearah jalan raya untuk menunggu angkot yang akan membawa mereka pulang. Raisya masih menggerutu tak jelas atas sikap Raihan terhadap mereka, Rania tidak banyak menanggapi. Sekali-kali dia hanya tersenyum dan gelenng-gelengkan kepalanya.
“Sudah, Sya.. Jangan menggerutu terus. Tidak baik Lo..” Nasihat Rania kepada sahabatnya itu, karena sejak keluar dari rumah Sofwa tadi, Raisya tidak berhenti mengomel - ngomel.
“Wuuss… sudahlah jangan dibahas lagi, Sya. Aku maklum kok dia marah. Siapa yang tidak sakit hati, SYa? Karena seperti Fitra bilang, Raihan sangat menyayangi Sofwa dan rela melakukan apapun demi dia. Sampai ia harus memohon ke Fitra pun… Dia lakukan Tidak peduli mempertaruhkan harga diirnya” Kata Rania berusaha menenangkan Raisya yang kelihatan sudah emosi.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan mereka. Si pemiliki mobil itu pun turun dari mobilnya. Awalnya Rania dan Raisya tidak tahu siapa didalam sana, setelah ia turun barulah mereka terkesima saat lelaki tampan itu keluar dari mobilnya.
“Si Fitra Ran..” Kata Raiysa seraya menyenggol bahu Rania yang seakan terpana dengan pesonanya Fitra.
Fitra berjalan mendekati mereka berdua dengan senyum yang sudah mengembang diparasnya.
“Assalamu’alaikum, Rania… Raisya…” Sapanya dengan ramah setelah berada didepan mereka.
“Wa’alaikumusalam…” Rania dan Raisya menjawab salamnya dengan berbarengan.
“Kalian sudah mau pulang ya?” Fitra bertanya.
__ADS_1
“Iya kami ini mau pulang” Rania yang menjawab.
“Kok sebentar sekali kerumah Sofwanya, padahal aku baru juga nyampai” Kata Fitra dengan nada kecewa. Padahal dia berharap saat sampai disana, Rania dan Sofwa masih berbincang. Ia ingin menyaksikan langsung keakraban yang terjalin antara Sofwa dan Rania.
“Ee… Iya, kami….” Rania seperti bingung mencari alasan yang tepat atas pertanyaan dari Fitra.
Fitra yang sadar akan sesuatu yang sedang disembunyikan Rania langsung bertanya seakan menyelidiki.
“Ada apa Rania?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Kami diusir Fitra….” Dan akhirnya Raisya yang mengeluarkan suara. Rania langsung melotot ke Raisya seakan protes atas aduan yang Raisya sampaikan ke Fitra.
“Diusir? siapa yang mengusir kalian?” Tanya Fitra penasaran.
“Raihan. Saudara kembarnya Sofwa itu Fitra…” tanpa menunggu Rania menjawab, akhirnya Raisya yang mengeluarkan suara.
“Apa? Raihan?” Fitra mengulang jawaban dari Raisya seakan tidak percaya.
“Iya…” Jawab Raisya mantap.
“Kenapa dia mengusi kalian?” Fitra bertanya bingung.
“Mending kamu Tanya sendiri aja sama dia, Fitra. Malas kami nantik salah menyampaikan” Kata Raisya dengan wajah yang masih terlihat kesal.
“Eee… Gak, mungkin bukan maksud mengusir. Dia salah paham aja Fitra. Kami memakluminya kok” Kata Rania yang mencoba untuk menengahi.
“Hhhmm.. Ya sudah, aku kesana dulu ya. Mau mintak penjelasan ke Raihan kenapa sampai bisa salah paham sama kalian.” Ucapnya.
Rania dan Raisya hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah itu, Fitra masuk kembali kemobilnya dan sejurus kemudian langsung membawa mobilnya menuju kerumah Sofwa.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung….