Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 50 (PERTEMUAN)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Rania sudah beraktivitas kembali setelah sekitar 1 minggu ia cuti. Pagi itu adalah jadwal Rania dinas, sebelum berangkat Rania sempat berbincang dengan Raisya diruang makan. Kebetulan yang ada cuman Raisya saja, yang lain masih pada tidur.


“Alhamdulillah, Ya Rania.. Kalau jodoh ngak kemana. Akhirnya jodohmu yang mencari kamu.” Ucap Raisya merasa bersyukur. Rania hanya tersenyum seraya menyeruput teh manis yang ia buat.


“Jadi, bagaimana selanjutnya? Kapan Fitra membawa orang tuanya kerumah kamu?” Tanya Raiysa.


“InshaAllah minggu depan Sya, Oya.. Nantik sore kamu sibuk gak?” Tanya Rania.


“Nantik sore ya… Hmmm… sepertinya belum ada kegiatan apa-apa. Emang kenapa Ran?” Raisya balik bertanya.


“Bisa temankan aku ikut Fitra. Rencananya aku mau ketemu dengan Sofwa.” Ucap Rania.


“Ha? Untuk apa?” Raisya bertanya dengan heran.


“Ya.. aku pengen aja bisa kenal dengan Sofwa, Sya. Karena selama ini kan aku cuman tahu namanya aja tanpa tahu yang mana orangnya. Lagi pula… Dia sangat berjasa karena telah mau mengalah dan merelakan Fitra untuk menikahi aku nantinya, Sya.” Jelas Rania seray tersenyum.


“Oohh… Iya sech, tapi… apa Sofwa ngak merasa canggung nantik ya jika bertemu dengan kamu. Karena pastilah dia masih memiliki rasa setidaknya sedikit terhadap Fitra.” kata Raisya dengan ragu.


Rania terdiam. Ia seakan berfikir. Bagaimana perasaan Sofwa jika ia datang bersamaan dengan Fitra.


“Benar juga kata kamu, Sya. Kok aku ngak terpikir sampai kesana ya. Jadi, gimana donk…” Tanya Rania dengan bingung.


“Gini aja.. Kamu mintak alamat rumah Sofwa sama Fitra. Dan kita perginya berdua saja. Fitra ngak usah ikut” Saran Raisya.


“Baiklah. Ide yang bagus itu. Bentar… aku kabarin Fitra dulu ya.” Kata Rania setelah itu ia menelpon Fitra.


Melalui Telepon, Rania menjelaskan saran yang diberikan oleh Raisya tadi ke Fitra. Dan Fitra menyetujui saran tersebut lalu memberikan alamat lengkap Sofwa ke Rania.


“Oke. Berarti nantik sore sekitar jam 4 aku tunggu kamu dirumah ya” Kata Rania akhirnya.


“Oke. Siap” Jawab Raisya.


“Ya sudah.. Aku pamit dulu ya, Sya. Assalamu’alaikum” Pamit Rania.


“Wa’alaikumusalam..” Jawab Raisya.


***


Sore harinya, Rania dan Raisya sudah bersiap-siap untuk pergi kerumah Sofwa. Mereka pergi menggunakan taksi agar bisa lansung ke alamat tujuan.


Perjalanan kesana tidak memakan waktu yang lama, sekitar 15 menit mereka pun sampai disebuah rumah kayu yang sangat jauh dari kata layak.

__ADS_1


“Yakin Rania ini rumahnya Sofwa?” Tanya Raisya agak ragu.


“Seharusnya memang ini Sya, kan supir taksi tadi juga bilang kalau memang disini alamatnya…” Jawab Rania.


“Iya, tapi… di gang ini cuman ada 1 rumah. Cuman rumah kayu yang kecil itu. Masak itu rumahnya?” Ujar Raisya sambil menunjuk rumah kayu yang dimaksud.


“Kita pastikan aja dulu, Sya. Yuk lah kita kesana.” Ajak Rania.


Merekapun kini sudah berada tepat didepan rumah tersebut. Kemudian Rania mengetuk pintu rumah tersebut sembari menngucapkan salam.


“Assalamu’alaikum… Permisi” Ucap Rania dengan lembut.


Sebuah suara menyambut salam Rania dari dalam. Terdengar suara langkah kaki si pemilik rumah berjalan menuju pintu masuk dan detik kemudian pintu itupun dibuka olehnya.


“Wa’alaikumusalam…” Jawab seorang wanita manis bergamis dan berkerudung panjang. Rania dan Raisya tersenyum berbarengan saat si wanita sudah membuka pintu dan menatap mereka berdua dengan bingung. Karena wajah tamu yang datang kerumahnya sore ini begitu asing baginya.


“Maaf, cari siapa ya?” Tanya wanita itu tanpa membalas senyuman hangat dari Rania dan Raisya.


“Maaf, apa benar ini rumahnya Sofwa?” Tanya Rania langsung bertanya.


Si wanita langusng berdelik saat sudah tahu akan tujuan mereka berdua datang yang ternyata mencari dirinya.


Rania dan Raisya lantas saling pandang dan kemudian tersenyum sambil mengulurkan tangannya kearah Sofwa.


“MasyaAllah, akhirnya kami bisa bertemu langsung dengan kamu Sofwa. Kenalkan aku… Rania Nazwa, dan ini teman aku, Raisya” Kata Rania memperkenalkan dirinya dan juga Raisya.


Sofwa tersentak kaget saat mendengar sebuah nama dari tamu yang ada dihadapannya saat ini. Untuk beberapa saat Sofwa tertegun hingga akhirnya ia mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumahnya.


“Ohh… Mari.. mari masuk…” Kata Sofwa. Rania dan Raisya masuk berbarengan keruang tamu Sofwa yang begitu sederhana.


“Maaf ya, beginilah keadaan rumah saya. Silahkan duduk dulu. Saya buatkan minuman sebentar ya..” Kata Sofwa dan kemudian hendak menuju kedapur.


“Tidak usah repot-repot Sofwa” Kata Rania mencoba mencegah Sofwa agar tidak membuatkan minuman untuknya.


“Iya, kami ngak lama-lama kok” Kini Raisya yang bersuara.


“Ngak apa, cuman minum doank kok. Sebentar ya” Ujar Sofwa yang langsung menuju kedapur.


Beberapa menit kemudian, Sofwa kembali datang dengan membawa 2 buah minuman. Lalu ia meletakkan minuman tersebut diatas meja kayu yang berukuran kecil.


“Ini diminum dulu kak Rania, Kak Raisya…” Katanya mempersilahkan.

__ADS_1


“Terimakasih banyak, Sofwa” UJar Rania dan Raisya berbarengan.


“Sofwa, maaf ya kedatangan kami membuat kamu agak kaget. Sebenarnya… maksud kedatangan kami adalah untuk menjalin silahturahmi sama kamu. Kami ingin  bertemu dan berkenalan baik sama kamu, Sofwa. Semoga saja Sofwa mau menerima dan menganggap kami sebagai teman kamu juga” Ucap Rania membuka pembicaraan mereka sore itu.


“Iya, InshaAllah. Aku senang kok kakak-kakak berdua ini datang mengunjungi aku kerumah.” Kata Sofwa dengan sopan.


“Syukurlah… kalo kedatangan kami tidak membuat kamu terganggu ya Sofwa.. hehe” Ujar Raisya sambil melirik ke Rania.


“Oya, dirumah sendiri saja?” Tanya Rania yang memperhatikan Rumah Sofwa yang terlihat sepi.


“Ibu lagi jualan. Sedangkan Bang Raihan, saudara kembar aku lagi keluar juga” Jawab Sofwa apa adanya.


“Wah…Ternyata kamu ada saudara kembar ya..” Kata Raisya seakan takjub. Sofwa hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Oya, Sofwa… sebenarnya aku pengen minta maaf juga sama kamu, karena… Ee…” Rania seakaan kesulitan untuk mengutarakan sesuatu yang mengganjal dihatinya saat ini.


“Minta maaf untuk apa kak Rania?” Tanya Sofwa.


Rania memandang Raisya sebentar setelah itu kembali memandang Sofwa yang tersenyum hangat.


“Pasti tentang Fitra kan?” Tebak Sofwa yang dijawab dengan anggukan oleh Rania.


“Kak Rania gak usah merasa tidak enak atau merasa bersalah ke Aku mengenai pernikahan kami yang tidak jadi. Malahan aku sangat bersyukur bisa mengetahui cepat tentang perasaan kalian berdua. Kalau tidak pasti aku akan sangat merasa menyesal kak. Sekarang ini… aku sudah benar-benar ikhlas kok kak, melepaskan Fitra kepada Wanita yang benar-benar ia cintai. Yaitu kak Rania.” Jelas Sofwa dengan tersenyum manis. Rania membalas senyuman Sofwa dengan hati yang mulai terasa lega.


“Terimakasih banyak ya Sofwa, Kamu benar-benar wanita yang berhati mulia.” Puji Rania.


“Sama-sama kak Rania. Mulai sekarang kak Rania dan kak Raisya mau menganggap Sofwa sebagai sahabat kan? Karena jujur Sofwa masih dalam proses memperbaiki diri kak. Masih sangat haus akan ilmu. Sofwa ingin bergabung didalam komunitas pengajian kak Rania seperti yang Fitra cerita bahwa kak rania memilki rumah dakwah untuk berbagi ilmu dengan sesame muslimah lainnya kan?” kata Sofwa dengan antusias.


“Dengan senang hati kami menerima kamu untuk bergabung bersama kami, Sofwa. Mari kita belajar bersama-sama. Menggali ilmu yang bermanfaat” Kata Rania.


“Iya.. Benar itu… Selamat bergabung Sofwa. Semoga selalu istiqomah” Raiysa menimpali.


“Aaamiin” Ucap Sofwa.


Mereka melanjutkan perbincangan hangat mereka sampai akhirnya… Raihan datang…


Rania dan Raisya langsung menoleh berbarengan saat mendengar suara Raihan mengucapkan salam.


Sedangkan Raihan, yang telah menyadari adanya tamu langsung memasang wajah dingin kepada kedua tamu tersebut…


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2