Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 23 (KESALAHAN YANG SAMA)


__ADS_3

Saat terjaga dari tidurnya, dada Rania terasa ngilu. Ada yang beda, rasanya lain. Ia seakan terbawa lagi ke 2 tahun yang silam disaat kehilangan berkecamuk dihatinya. Beberapa hari belakangan ini Rania kembali menjalin hubungan komunikasi dengan cinta masa lalunya yang datang tanpa dia pinta. Kedatangannya membuat Rania gelisah luar biasa akan tetapi disisi lain ia merasa menikmatinya, dia kehilangan Kontrol yang akhirnya melayani sms dari lelaki itu.


Rania sadar. Dia masih lemah, perasaannya masih goyah, dia belum mampu mencegah dirinya untuk tidak lagi hanyut dalam cinta yang belum halal ini.


“sayaanng.. abi akan kembali kepada umi……….” Kata-kata itu kembali didengarnya, meskipun tidak secara langsung. Akan tetapi, membuat dadanya terasa sesak. Ada rasa bahagia akan kembalinya dia lagi, setelah sekian lama ia menghilang dan kini datang membawa cinta yang baru lagi. Bahagiakah Rania dengan ini? Tapi, siapa yang bisa menjamin kebahagiaan ini sudah pada tempatnya atau belum? Rania harus berhati-hati dalam mengambil tindakan. Dia harus jeli dan menggali lebih dalam lagi apakah maksud dari akan kembalinya dia itu? Kembali untuk apa? Untuk menikahinya kah? Atau mungkin untuk bermaksiat lagi?


“Demi Allah… aby sudah siap menikahi umi saat ini, tapi masalahnya…………”


Yach! Dia siap, siap untuk menikahi Rania, tapi… kenapa ada kata tapi? Kenapa selalu ada alasan untuk menuju kebaikan. Kenapa siap mengatakan cinta tapi tidak siap untuk menikah? Meskipun dia bilang siap untuk menikah, tapi bagi Rania itu sama saja jika ada kata tapi dan tapi, apa masalahnya?


Rania tidak sanggup meneruskan membaca sms yang lumayan panjang itu. Berkali-kali lelaki itu sibuk menghubunginya tapi Rania sama sekali tidak mau mengangkatnya. Maka dari itu lah lelaki itu menjelaskan alasan sebenarnya, masalah apa yang menimpanya saat ini sehingga menghalangi dirinya untuk segera menikahi Rania yang padahal sangat ia cintai melalui sms.


“Sabar ya sayang……. Aby minta doanya, yakinlah dengan kekuatan doa. Hanya kekuatan doa yang dapat mengubah semuanya, yang membuat kita bersatu………..”  


Yach! Dia benar. Kekuatan doa. Rania tidak pernah meragukan kekuatan doa, dia sangat yakin dengan doa. Karena doa itu adalah perisai, doa itu senjatanya umat muslim. Dia menyuruh Rania bersabar, otomatis ia menyuruh Rania untuk menunggu. Menunggu sesuatu yang tidak pasti. Rania takut sepanjang penantiannya nanti, akan banyak godaan yang merasuki dirinya, terutama perasaannya yang masih lemah atas nama cinta.


Rania benar-benar bingung. Akankah kesalahan yang sama terulang lagi? Kesalahan yang sudah berangsur-angsur ia perbaiki akan terukir lagi? Rania tidak bakalan mau itu harus terulang lagi. Tapi, lagi-lagi tapi… akalnya kalah, saat ini perasaanya yang terlalu diperturutkannya. Perasaannya yang terlalu dimanjakannya. Benarkah begitu lemahnya wanita jika dibawa dalam hal perasaan?


“Sayang… demi Allah, jika tidak ada masalah seperti ini. Saat ini juga abi akan datang dan langsung melamar umi… abi serius.. abi ngak main-main”


Sms demi sms diterimanya. Laki-laki itu berusaha menyakinkan Rania. Rania terduduk lemas diatas tempat tidurnya dengan masih menggengam hpnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa? Mengiyakan ataupun menolaknya. Mencuekkan atau menganggap tidak terjadi apa-apa. Tapi dia tidak bisa seperti itu? Ia tipe orang yang pemikir. Dan sekarang pikirannya seperti sedang bertengkar dengan perasaannya. Keduanya sama-sama ingin menduduki tempat yang tertinggi. Rania belum bisa mengambil keputusan apa yang harus ia lakukan lagi?


@@@


Sinar matahari pagi masih engan menampakkan wujudnya. Pagi ini tidak begitu cerah. Mentari masih tersembunyi dibalik awan yang mulai menghitam. Pagi yang mendung dengan cuaca yang masih sejuk, membuat kebanyakan manusia malas-malasan ditambah lagi kebetulan hari itu hari libur. Lengkap sudahlah semuanya, cuaca dan hari sangat mendukung untuk kembali melanjutkan tidurnya, menarik selimut dan mulai bermimpi lagi.


Tapi, tidak bagi Jeni. Pagi itu entah ada angin apa dia sudah bangun. Wajahnya ceria, dia tampak bersemangat sekali. Beda dengan Jeni sebelumnya yang kelihatan jutek dan cuek sekali.


“Bangun…. Bangun… teman-teman.. ayo bangun, kita goro yuks………..” teriak Jeni agak kuat yang otomatis tertangkap juga ditelinga teman satu kosnya yang masih berbaring di tempat tidur masing-masing.


“Udah berapa lama coba kita ngak bersih2 bareng nech? Udah berdebu-debu semua ne…” tambahnya masih dengan suara yang keras.


“Katanya… kan… kebersihan itu sebahagian dari iman…. Kalau ngak bersih berarti patut diragukan tuch keimanannya” sindirnya yang ditujukan kepada teman satu kosannya yang memang semuanya adalah aktivis dakwah di kampus mereka masing-masing.


Cici membuka pintu kamarnya sambil mengucek-ngucek mata. Rasa kantuk masih jelas tergambar dari wajahnya tapi rasa penasaran mengalahkan rasa kantuk itu, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Jeni wanita arogan itu membangunkan mereka pagi itu untuk bersih-bersih.

__ADS_1


“Tumben... ada angin apa ne Jen?” tanya Cici ketika mendapati Jeni yang telah siap dengan sapu, kain pel dan komoceng ditangannya.


“Kenapa emangnya? Udahlah... jangan banyak tanya, cepat donk bantuin aku! Bangunin juga yang lainnya”


Tidak beberapa lama kemudian, Hamidah dan Mila keluar kamar sedangkan Raisya sudah sedari tadi di dapur menyiapkan makan pagi karena kebetulan hari itu dia yang piket dan memasakkan untuk teman-temannya.


“Loh... Rania mana?” tanya Jeni ketika tidak melihat Rania keluar dari kamar.


“Dia lagi sakit Jen. Demam tinggi” teriak Raisya dari dapur.


Jeni mencibir. Dia tahu sebenarnya Rania bukan hanya sekedar sakit, ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. Inilah saatnya untuk menjatuhkan Rania, Pikir Jeni.


“Alah.. sakit apa sakit? Aku tahu kok. Rania lagi galau kan? Ternyata... bisa juga ya seorang Rania yang nyaris sempurna itu terbawa virus galau..........” ucap Jeni yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Rania yang berada di dalam kamarnya.


“Jangan sok tau deh Jen. Rania benRran demam, suhunya saja sudah mencapai 39 derajat celcius” ucap Raisya masih membela Rania.


“Iya.. kegalauannya itu yang buat dia demam...” kata Jeni .


“Orang lagi sakit kok malah dicurigai yang macam-macam sech” Mila ikut-ikutan membela Rania. Karena dia tahu tidak mungkin Rania yang ia kenal terkena virus galau.


“Maksudnya apa?” Hamidah bertanya.


“Iya... itulah sosok Rania yang kalian kenal. Pandainya menasihati... pandainya menceramahi... pandainya melarang ini itu... tapi, apa coba setelah masalah datang ke dirinya sendiri apa bisa dia melakukan seperti yang ia lakukan ke kalian? Menasihati dirinya sendiri? Yang ada malah semakin terpuruk dengan masalahnya itu... seperti itu lah dia. Seperti lilin...” jelas Jeni yang lagi-lagi dengan suara yang keras. Dari dalam kamar Rania mendengar jelas apa yang di lontarkan dari mulutnya Jeni. Rania hanya dapat mengelus-elus dada. Dalam hati ia bertanya kenapa Jeni begitu bencinya terhadap dirinya? Apa salahnya?


“Makanya jika belum siap untuk terikat dengan ajaran agama jangan sok-sok siap, jadinya kan seperti itu”


“Kamu kenapa sech Jen? Kok malah dikaitkan dengan agama?” tanya Cici kurang setuju dengan ucapan Jeni yang asal-asalan.


“Iya donk. Sebenarnya hidup itu simple Ci, jika kita menjalaninya seperti air mengalir apa adanya.. ngak bakalan ada beban.. kalian tau ngak yang membuat beban hidup itu apa? Karena merasa keterikatan dengan aturan-aturan yang mengikat... aturan yang melarang ini itu, harus begini, harus begitu, kalau tidak akan begini... ribet jika diperturutkan seperti itu... makanya kebanyakan manusia jadi bimbang mau millih jalan yang mana? Apalagi orang yang sudah terlanjut merasa terikat... aduh... plis dech.. nikmati aja lah hidup ini apa-adanya, jangan meribetkan diri sendiri...”


Rania menghela nafas panjang. Kata-kata Jeni barusan sungguh keterlaluan. Tapi, karena kekacauan pikirannya saat ini entah kenapa Rania sedkit membenarkan penuturan Jeni tersebut. apa benar dia menjadi bingung mengambil langkah karena merasa keterikatan dengan hukumNya? Coba jika ia seperti Jeni yang katanya hidup tanpa beban karena tidak merasa terikat denga hukum apapun yang membuat ia bebas memilih jalan yang mana ia mau. Benarkah seperti itu? Astagfirullahh... berkali-kali Rania menggucap, setan sungguh telah meracuni pikirannya. Tidak seharusnya dia mempunyai pikiran seperti itu, tidak selayaknya ia membenarkan perkataan Jeni  yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah yang selama ini di pegang.


@@@


Keesokan harinya Kak Sarah datang untuk menjenguk Rania. Sudah 3 hari Rania sakit dan terbaring lemah di kamarnya.

__ADS_1


Kamu ada masalah ya Wa?” tanya Kak Sarah yang melihat raut wajah Rania yang tidak seperti biasanya. Perubahan wajah Rania itu memang mudah ditebak bahwasannya ada sesuatu yang telah terjadi pada dirinya.


Rania tidak bisa menyembunyikan dari kak Sarah. Dia tidak mungkin membuat kebohongan baru lagi dan mengatakan tidak ada apa-apa yang padahal telah terjadi sesuatu. Dia telah terlanjur membawa perasaannya kembali ke lubang dosa. Kesalahan yang sama terulang lagi, itu yang membuat dia sakit, sakit karena merasa takut dan malu pada TuhanNya.


“Iya kak.. Nazwa memang lagi dilanda masalah”


“Kakak boleh tau masalah apa itu?” tanya Sarah pelan.


“Masalah perrasaan kak” jawab Rania sambil menunduk. Air mata yang hampir tumpah itu masih ditahannya. Kak Sarah kaget mendengarnya, rasa tidak percaya karena tahu masalah perasaan apa yang dimaksud oleh Rania ini.


“Siapa dia Nazwa ? Yang membuat kamu seperti ini? Lemah seperti ini?”


Rania menceritakan semuanya kepada Kak Sarah. Ia bercerita panjang lebar, dari awal hingga akhir. Kak Sarah mendengarkannya dengan saksama. Berkali-kali Kak Sarah mengucap dan mengeleng-geleng tanda tidak percaya tapi Rania tetap melanjutkan cerita masa lalunya itu.


“Ya Allah Nazwa, kakak tidak menyangka kamu pernah mengalami hal stragis ini”


“Iya kak... ini lah yang Nazwa simpan sejak dulu. 2 tahun sudah Nazwa mampu bertahan melawan perasaan ini, tapi... beberapa bulan ini... Nazwa didatangi dia terus lewat mimpi dan pada akhirnya dia benar-benar kembali....”


“Apakah... ini alasan terkuat kamu menolak pinangan ustad Foury?” selidik kak Sarah dengan curiga.


“Iya kak... lamaran Ustad Foury datang berbarengan dengan kedatangannya kak...”


“Apa yang kamu harapkan dari dia yang tidak ada kejelasannya itu Nazwa? Kamu... kamu mau terulang lagi masa lalu mu itu? Coba lah pikirkan dengan logika mu Nazwa... dia udah mencampakkan mu dulunya... dan sekarang enak-enaknya dia kembali mengusik perasaannmu hingga dibuatnya galau seperti ini....”


“Nazwa juga ngak mau seperti ini kak. Tapi ... Nazwa bisa apa lagi kak? Perasaan Nazwa memang lemah... Nazwa ngak bisa menghindarinya... tapi Nazwa juga ngak bisa mengharapkannya... karena masalahnya itu... sangat sulit untuk kami bersatu...”


“Apa masalahnya? Siapa yang bisa menjamin Nazwa? Jika benar... masalahnya itu sulit membuat kalian bersatu terus apa lagi yang mau dipertahankan? Mau sampai kapan seperti ini? Kamu harus tegas Nazwa. kamu bilang sama dia, dia  harus bisa mengambil pilihan. Tinggalin kamu atau nikahin kamu, bukan menggantungkan kamu seperti ini.....”


“Nazwa sudah coba untuk tegass dan bilang seperti itu padanya, tapi sekali lagi... hati ini luluh... hati ini ngak bisa dibohongi bahwa Nazwa juga masih berharap padanya...”


“Kamu begitu mencintainya Nazwa?”


“Demi Allah... 2 tahun belakangan ini Nazwa tidak lagi menyimpan rasa apapun terhadapnya, tapi entah kenapa sejak... mimpi dan kedatangannya tiba-tba itu membuat cinta itu muncul lagi kak? Nazwa tidak mengerti... kenapa Allah menghadirkan dia kembali dalam posisi kami seperti ini?”


“Ini ujian untuk kamu Nazwa. Ujian keimanan. Ujian perasaan. Dan ujian hawa nafsu... bukankah seseorang itu belum dikatakan beriman sebelum dia di uji? Jadi, anggap ini ujian... kamu harus mampu melewati ujian keimanan ini. Kamu harus mampu melawan perasaan mu ini. Karena perasaan mu ini salah Nazwa. Salah besar jika kamu tunduk padanya. Pikirkan lagi Nazwa... takut dan malulah kepadaNya... kakak mohon... pikirkan lagi, jangan sampai kamu salah melangkah... jangan sampai kesalahan dimasa lalu itu terulang lagi Nazwa. cukup sekali Nazwa. cukup Sekali....” Tegas Sarah.

__ADS_1


@@@


__ADS_2