
Adzan Dzuhur membangunkan Rania yang sedang tertidur lelap. Rania langsung bangkit dan melirik jam dikamarnya. Begitu lamanya dia tidur padahal niatnya tadi cuman baring-baring sebentar. Tapi setan sungguh memperdayakannya. Rania beristigfar beberapa kali. Kepalanya terasa nyut-nyutan lagi, dan ia pun teringat akan mimpinya disiang bolong barusan. Mimpi yang sempat membuat dadanya sesak. Mimpi yang aneh. Rania langsung bangkit dan mengambil wudhu. Ia segera melaksanakan kewajiban sholat dzuhurnya. Selesai sholat, Rania sempatkan membaca Al-Quran. Setelah itu renacannya dia mau ketempat penerbitan, memberi naskah bukunya ke penerbit. Rania berusaha mengalihkan pikirannya tentang Fitra. karena jika teringat kejadian tadi pagi sungguh membuat hatinya ngilu. Bagaimana bisa, dia yang sudah berharap lebih ke lelaki itu namun... harapannya itu sirna seketika itu juga.
“Ran, ada yang nyari kamu tuch...” Tiba-tiba Raisya muncul dan masuk kekamar dengan terburu-buru. Raina yang masih duduk sajadahnya langsung menoleh ke Raisya.
“Siapa?” Tanya Rania dengan penasaran.
“Aku ngak pernah lihat mereka sebelumnya sih. 2 orang laki-laki tuch didepan, nyariin kamu. Memang siapanya kamu ya mereka? Katanya ada hal penting yang mau mereka sampaikan ke kamu Ran, Aku jadi penasraan” kata Raisya panjang lebar dengan guratan kebingungan yang terlihat jelas diwajahnya.
Rania juga tidak kalah bingung sekaligus terkejut dengan perkataan Raisya tersebut. Siapakah yang mencari dia? Laki-laki pula lagi, apa jangan-jangan.... Rania langsung membuka mukenanya dan lalu menggunakan kerudungnya. Setelah itu Rania bergegas keluar menemui tamu misterius tersebut. Dan... sesampainya diteras betapa kagetnya Rania saat melihat tamu misterius itu adalah ternyata Fitra dan Randi.
“Maaf sedikit mengganggu waktu istirahat kamu, Rania...” Kata Fitra saat Rania keluar dengan wajahnya penuh dengan tanda tanya.
“Ada apa ya?” Tanya Rania ke mereka berdua.
__ADS_1
“Kami ngak boleh masuk dulu nih?” Tanya Randi. Karena dia heran kenapa Rania ataupun temannya yang tadi tidak menyuruh tamunya untuk masuk. Yang malahan meninggalkan mereka menunggu diteras.
“Maaf.. ini kos khusus wanita. Jadi ngak bisa masuk. Kalau mau terima tamu laki-laki ya cukup diteras ini aja” Jelas Raisya yang sedari tadi berada disamping Rania.
“Ooh... Gitu ya, Maaf ngak tau kalau ada peraturan seperti itu, hehe...” Randi mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Jadi, ada tujuan apa kalian kok bisa sampai kesini?” Tanya Rania lagi. Karena dia tidak ingin kedua laki-laki itu berada lama-lama di rumah dakwahnya ini.
“Demi Allah dan Rasulnya... Sebenarnya aku memang berniat untuk melamar kamu tadi pagi Rania. Allah telah memberikan beribu keyakinan dihati aku untuk memilih kamu sebagai pendamping ku. Memang kita belum lama kenal, tapi sekali lagi Allah lah yang berperan menggerakkan hati ini untuk tetap dengan pilihanku. Aku takut terlalu lama menjalani proses perkenalan akan merusak keimanan kita masing-masing. Bukankah didalam islam perkenalan itu tidak butuh waktu lama untuk menuju pernikahan? Saat telah menikah nanti lah kita akan mengenal pasangan kita lebih dalam lagi...” Kata Fitra. Kemudian dia berhenti sesaat untuk mengambil nafasnya. Rania masih menunggu kelanjutan dari perkataan Fitra.
“Dan... ternyata manusia hanya bisa berencana. Pada akhirnya Allah lah yang menetapkannya. Pagi sebelum aku menemui kamu, seseorang datang kepadaku... dengan penuh harap dan permohonan dia meminta padaku untuk menerima cinta saudaranya...” Fitra lalu menceritakan sedetail mungkin tentang Sofwa dan Raihan. Rania dan Raisya mendengarnya dengan seksama.
“Nah, begitu lah... sungguh.. aku benar-benar minta maaf Rania. Aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkanmu... meskipun sampai detik ini aku tidak pernah tau bagaimana perasaan mu terhadap aku... tapi, aku tetap merasa berdosa kepadamu...” kata Fittra setelah menceritakan semuanya kepada Rania. Fitra melirik sekilas kearah Rania dengan raut wajah yang sulit dimengerti.
__ADS_1
“Mungkin ini takdir dariNya. Ini sudah menjadi suratan dariNya. Awalnya mungkin aku terpaksa, kasihan atau takut. Tapi setelah ku berpikir panjang, akhirnya aku mencoba untuk ikhlas, karena aku ngak mau menjalani hubungan dengan Sofwa nantinya atas dasar kasihan saja. Aku juga harus mencurahkan kasih sayang yang sebenarnya untuk dia... bukan hanya rasa kasihan... karena bagiku Rania, pernikahan ini sesuatu yang sakral. Bukanlah main-main...” Jelas Fitra lagi keseriusan yang terpasang diwajahnya itu.
Rasanya remuk redam hati Rania saat ini. Dadanya begitu ngilu.. tidak bisa dipungkiri penjelasan Fitra ini semakin membuatnya sakit. Cukup. Dia tidak mau dengar lagi.
“Rania...” Fitra memanggil Rania yang hanya diam sambil menunduk kan wajahnya. Rania berusaha menyembunyikan kesedihannya luar biasa itu yang tepancar dari wajahnya. Air matanya pun sudah tergenang dipelupuk matanya dan sebentar lagi akan tumpah. Tapi ia harus mampu menahannya. Ingin rasanya dia berlari kedalam dan menumpahkan kesedihannya, membuang air mata yang disimpannya ini. Tapi, ia pun tidak sanggup melakukan itu. kakinya terasa kaku, sulit untuk digerakkan. Ohh.. betapa perihnya hatinya saat ini?
“Rania...” Panggilan kedua dari Fitra yang akhirnya menyadarkan Rania dari kekacauan hati yang ia rasakan itu.
“Ya sudah. Tidak apa-apa. Aku bisa memakluminya kok” Ucap Rania dengan senyum terpaksanya. Fitra sedikit agak lega meskipun dia tahu Rania berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tapi Fitra yakin Rania adalah wanita yang kuat, wanita yang tegar. Dia pasti bisa melalui ini semua dengan ketenangan iman yang dimilikinya. Beda dengan Sofwa yang masih labil, yang masih lemah dengan perasaannya. Makanya Fitra tidak mau itu terulang lagi, terjadi lagi pada Sofwa. Lebih-lebih Sofwa menderita karena telah mencintai dirinya.
Setelah itu, Fitra dan Randi pun pamit pulang. Hujan kembali membasahi bumi, dan kini semakin deras. Rania membatalkan niatnya untuk pergi. Selain karena hujan juga karena suasana hatinya yang suram saat ini. Apalagi yang bisa Rania perbuat selain ikhlas. Ya. Lagi-lagi cinta mengajarinya tentang keikhlasan. Dia yakin rasa sakit ini akan terobati jika ia selalu ikhlas menerima dan menjalani takdir dari sang Maha Kuasa. Rania yakin keikhlasannya ini suatu saat nanti akan membuahkan hasil yang baik. Buah keikhlasan yang akan menghasilkan kebahagiaan kelak untuknya. Kebahagiaan yang hakiki... dan kebahagiaan yang sebenarnya. Rania berusaha menghibur dirinya sendiri agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
@@@
__ADS_1