Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 42 (KEMBALI)


__ADS_3

Sebuah suara langkah kaki terdengar. Langkah kaki yang sangat terburu-buru, sehingga memecahkan keheningan dimalam itu. Seorang lelaki berhenti dirumah kecil dan dengan sedikit ragu ia mengetuk pintu rumah tersebut. Ketukan pertama, tidak ada jawaban. Ketukan kedua, sama. Masih belum ada jawaban. Maklumlah hari sudah larut malam, si pemilik rumah pasti sudah lelap dalam tidur panjangnya.


Lelaki tersebut duduk bersandar didepan pintu. Sepertinya dia harus menunggu disini sampai besok pagi. Tidak apalah yang penting besok dia bisa bertemu dengan adiknya, yang telah lama ia rindukan. Pikir lelaki itu didalam benaknya.


“Hai Ndre, ngapain Lo tidur disini?” Suara teriakan seorang laki-laki membangunkan Andre dari tidurnya. Andre membuka mata. Matanya serasa silau saat matahari memancarkan sinar kearah matanya.


“Astagfirullah, sudah pagi...” Ucap Andre sambil berdiri.


“Iya udah pagi. Lu ngapain tidur diluar?” Tanya Rido, teman sepermainannya sejak kecil.


“Aku belum sholat” Kata Andre setelah menyadari ia belum sholat subuh. Ia langsung bergegas menuju Mushola yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Rido mengikuti Andre sambil tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha... lu ngigau atau kesurupan? Sejak kapan lu kenal sholat?” ledek Rido dengan menertawakan Andre habis - habisan, tapi Andre sama sekali tidak mempedulikan cemeehan temannya itu. Dia langsung mengambil wudhu dan melaksanakan sholat meskipun waktunya sudah habis. Karena sebuah ilmu yang ia dapati bahwa Allah akan mengampuni dan memberikan keringanan bagi orang yang tertidur dan terlupa sehingga sholatnya tertinggal.


“Ndre? Lu kenapa?” Kali ini Rido bertanya dengan nada serius. Dia menunggu Andre selesai sholat dengan seribu tanda tanya dibenaknya. Andre, seorang preman kelas kakap yang ia kenal sholat? Tidak mungkin! Pasti ada sesuatu yang tidak beres nech, pikir Rido didalam hatinya.


“Alhamdulilah.. aku bukanlah Andre yang dulu lagi Do, Aku sudah berubah. Aku telah menemukan ketenangan hidup yang sebenarnya” ujar Andre setelah ia selesai sholat.


“Hah? Ketenangan hidup yang seperti apa?” tanya Ridho dengan melongo heran.

__ADS_1


“Ketenangan saat mendekatiNya. Kembali kepadaNya. Bertaubat kepadaNya. Allah Swt. Yang telah lama aku tinggalkan...” ucap Andre dengan wajah yang serius.


“Aku tidak percaya. Lu pasti bercandakan Ndre? Tidak mungkin lu selemah ini. Andre yang aku kenal tidak selemah ini, tidak terlena dengan kegiatan yang membosankan dan memuakkan itu. selama ini lu ngak kenal agama bahkan lu ngak kenal Tuhan. Itu baru Andre yang aku kenal.” kata Ridho yang masih tidak percaya dengan perubahan drastis Temannya itu.


“Hidayah itu datang tidak memilih-milih orang Do, siapapun berhak untuk meraih hidayah itu... seseorang membacakan sebuah hadist ini kepada ku bahwa ‘Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tiada sesuatu pun yang mampu menyesatkannya dan barangsiapa yang telah disesatkan-Nya maka tiada sesuatu apapun yang mampumenunjukinya (HR. Ahmad, Abu Dawud, atTirmidzi). Dan Alhamdulilah, aku bisa berubah saat ini. Ayok jika kamu mau berubah juga biar aku kenal kan dengan Ustad yang telah membimbing ku selama 2 bulan ini...” ajak Andre dengan tersenyum lebar.


“Tidak.. Tidak... aku belum siap mengikat diri dengan ajaran agama. Aku ini biasa bebas Ndre. Kamu tau itu kan?” kata Ridho yang langsung menolaknya dengan suara yang lantang.


“Ya sudah. Aku tidak memaksa. Oya, aku harus pulang. Aku harus bertemu Nisa sebelum dia berangkat kesekolah” kata Andre lalu berdiri dan berjalan keluar Mushola.


“Nisa tidak lagi tinggal disana Ndre, sejak lu pergi dia dibawa temannya untuk tinggal dirumah temannya itu” Kata Rido.


"Benar begitu, Do? Dimana alamat temannya itu?” tanya Andre.


Nisa merasa kaget luar biasa ketika ada seseorang yang merangkulnya dari belakang. Ia pun melepaskan rangkulan itu dengan kasar lalu menoleh kebelakangnya dan ternyata rasa kekesalannya itu berubah seketika menjadi bahagia saat melihat Andre berdiri dibelakangnya dengan senyuman lepas bukan senyuman seperti biasanya yang sering Nisa terima.


“Bang Andre?” Teriak Nisa.


“Iya sayang, ini abangmu...” Kata Andre, tidak peduli olehnya beberapa pasang mata melihatnya heran. Diapun tidak malu mengeluarkan air mata. Air mata yang telah lama ia simpan, perasaan yang selalu ia tutupi dengan egonya yang tinggi dulunya.

__ADS_1


“Maaf kan abang Nisa. Begitu banyak kesalahan yang telah abang perbuat kepadamu. Abang telah meninggalkanmu, menyakitimu, dan berbicara kasar kepadamu... maafkan abang Nisa... mulai hari ini abang janji, abang akan berubah. Berubah seperti yang kamu inginkan... kamu lihat sekarang... abang sudah berpakaian seperti yang kamu gambar itu. berbaju koko dan berkopiah... kamu senang kan Nisa? Kamu mau maafin abang kan?” ucap Andre.


Tangisan Nisa tumpah seketika. Doanya terkabul sudah. Harapan dan impiannya menjadi kenyataan. Ini seperti mimpi saja bagi Nisa, Nisa begitu bahagia. Terimakasih ya Allah.. Engkau telah mengembalikan abangku yang dulu. Ucap syukur Nisa dalam hati.


...@@@...


            Ada satu hal masih yang mengganjal dihati Andre. Meskipun Nisa sudah memaafkannya dan kembali tinggal dirumah mereka, namun ia masih merasa tidak tenang, ia masih merasa sangat berdosa pada seseorang. Seseorang yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Seseorang yang begitu mencintainya, yang menerima dirinya apa adanya, dialah Sofwatun Nayla. Jika mengingat tentang wanita itu sungguh membuat hati Andre seperti teriris-iris. Apa balasan yang telah ia berikan untuk wanita sebaik Sofwa? Dia memang jahat, sangat jahat. Andre harus menebus kesalahannya itu. Andrepun berniat untuk menemui Sofwa dirumahnya, meminta ampun padanya bahkan jika bisa berlutut dihadapannya.


Andre tidak mau menunda-nunda lagi, hari itu juga ia langsung menuju rumah Sofwa. Dia sudah menyiapkan mental dan konsekuensi yang akan ia terima nantinya, baik dari Sofwa sendiri maupun dari Raihan, saudara kembar Sofwa yang begitu menyayanginya. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai dirumah Sofwa. Dan kini Andre sudah berdiri tepat didepan pintu rumah Sofwa. Andre mengetuk pintu itu pelan, ia sedikit gugup dan takut. Tapi, dia harus bisa melawan kegugupan dan ketakutannya tersebut.


“Assalamualaikum...” Andre mengucapkan salam dengan suara bergetar. Suara seorang laki-laki menjawab salamnya dari dalam. Andre yakin itu pasti Raihan. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Dulu.. dia selalu menghindar dari Raihan karena ia tahu Raihan selalu mencarinya dan ingin sekali memberi pelajaran untuknya dan sekarang… ia seperti mengantarkan nyawanya langsung kehadapan Raihan. Langkah kaki Raihan semakin mendekati pintu, membuat Andre berkeringat dingin, lalu pintu itupun terbuka... tampak wajah Raihan yang menyembul dari belakang pintu. Andre menarik nafas panjang. Siap-siap lah dia...


Raihan tersentak kaget. Matanya langsung melotot tajam kearah lelaki yang didepannya saat ini. Lelaki yang sangat dibenciinya. Raihan menggengam kedua tangannya. Dengan cepat dan sigap sebuah pukulan melayang kewajah Andre. Pukulan yang kuat sekali. Darah segar mengalir di bibir dan hidung Andre. Andre diam, tiada sedikitpun ingin membalas. Mungkin pukulan ini pantas diterimanya. Yach! Dia pantas menerimanya.


...🌿🌿🌿🌿...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2