
"Toooloooonggggg...." Teriak Rania.
Tapi tidak ada yang mendengar teriakan Rania. Orang berjubah hitam itu perlahan - lahan berjalan mendekati Rania, pisau ditangannya lalu diarahkannya ke Rania yang masih berdiri didepan pintu dengan beruraian air mata.
"Ya, Allah.. Tolong HambaMu ini.." Pinta Hana didalam hati, meminta pertolongan dari Allah.
"Raisya.. Hamidah... Jeni... Buka pintunya.. Tolong aku.. Tolong... Ada... Ada orang jahat yang mau membunuh aku... Tolong Raisya...Tidaakk... Jangan mendekat... Kamu... Kamu mau apa?? Kamu siapaa??" Tanya Rania dengan orang itu.
Orang tersebut tidak menjawab, dengan gerakan cepat ia malah melayangkan pisau yang ada ditangannya kearah perut Rania. Yah.. Dia menusukkan pisau itu berkali-kali keperut Rania sehingga membuat wanita itu tak berdaya lalu jatuh kelantai dengan bersimbahan darah.
Lelaki berjubah itu lalu membuka penutup kepalanya, lalu ia tertawa terbahak-bahak seakan telah berhasil membunuh wanita yang ada dihadapannya ini. Kemudian, lelaki itu pergi dari sama meninggalkan Rania yang entah masih hidup entah tidak dilantai teras rumahnya.
...***...
"Ran.. Rania.. Bangun Ran, sadar.." Raisya menyadarkan Rania yang masih dengan mata terpejam namun mulutnya tidak berhenti berteriak mintak tolong. Raisya menggoyang-goyangkan bahu Rania agar sahabatnya itu sadar dari mimpi burukny itu.
Karena goncangan yang kuat dari Raisya sehingga membuat Rania akhirnya tersadar dan langsung terduduk dengan nafas yang naik turun. Belum lagi dadanya terasa seakan sesak dan ngilu setelah kembali mengingat tentang mimpi buruk yang baru saja ia alami.
"Kamu kenapa Rania? Kamu mimpi ya?" Tanya Raisya yang sudah duduk disebelah Rania sembari mengelus - elus lembut punggung Rania.
Rania tidak langsung menjawab pertanyaan Raisya. Ia terlihat sedang mengatur deru nafasnya yang masih naik turun dengan keringat yang sudah menjalari seluruh tubuhnya. Sedetik kemudian ia lalu menoleh ke Raisya yang sedari tadi menatap Rania dengan rasa prihatin.
"Iya. Mimpi buruk, Sya. Tapi.. Mimpinya Seperti nyata saja. Benar-benar bikin aku takut" Kata Rania dengan menarik nafas panjang - panjang. Raisya yang disampingnya langsung memeluk Rania.
"Mimpi apa emangnya, Rania?? Sampai wajah kamu jadi pucat gitu..." Tanya Raisya penasaran. Namun, Rania tampak engan untuk menceritakannya.
"Mimpi... aku seakan gak sanggup menceritakannya Sya, begitu mengerikan. Aku.. Gak bisa menceritakannya.." Jawab Rania dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa takut masih jelas tergambar diparasnya yang cantik itu.
"Ya sudah Kalau kamu gak bisa cerita sekarang Rania, gak apa - apa. Tapi, menurut aku itukan cuman mimpi Rania. Kamu gak perlu risau dan takut berlebihan seperti ini donk. Lihat itu wajah kamu jadi pucat gitu. Bentar ya aku ambilkan minum dulu ya." Kata Raisya kemudian pergi kedapur untuk mengambil minuman.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Raisya pun datang kembali kekamar Rania dengan membawa segelas air putih hangat untuk Rania.
"Sya.. Aku.. Tiba-tiba perasaan aku jadi gak enak karena mimpi tadi. Aku merasa ada orang yang gak suka dengan rencana pernikahan aku dengan Fitra. Aku gak mau aja.. Pernikahan ini nantinya malah jadi malapetaka untuk aku dan orang lain.." Ucap Rania setelah menghabiskan segelas air putih yang diberikan Raisya tadi. Rania langsung menumpahkan perasaannya yang ia rasakan ke sahabatnya itu.
"Kamu ini ngomong apa sech, Rania? Cuman gara - gara mimpi buruk barusan ini !kamu malah mengkaitkan dengan hal aneh seperti itu, Jangan berpikiran yang tidak - tidaklah Rania." Kata Raisya terdengar kesal dengan pernyataan Rania barusan.
"Bukan begitu, Sya. Perasaan aku ini entah kenapa berkata seperti itu. Aku takut saja mimpi buruk aku ini ada hubungannya dengan pernikahan aku dengan Fitra." Ucap Rania dengan wajah yang risau.
"Sudahlah Rania, kamu lupakan aja mimpi mu itu. Mending sekarang kamu berwudhu kalau bisa bawa sholat witir biar pikiran kamu tenang. Oke?" Kata Raisya dengan memberikan saran. Rania menerima saran dari Raisya tersebut dan langsung mengerjakannya.
Setelah selesai sholat dan membaca Al-Quran beberapa lembar, tiba-tiba saja hp yang ada diatas meja belajar Rania berdering dengan kencang. Rania melirik jam di kamar nya, sudah jam 1 malam. Siapakah gerangan yang menelponnya tengah malam begini? Rania bertanya-tanya didalam hatinya, namun.. Ia tetap berjalan menuju meja belajarnya dan kemudian meraih hpnya.
Ada sebuah panggilan tidak terjawab yang tertera disana. Rania langsung membukanya, nomor yang tidak dikenal. Rania semakin mengerutkan keningnya.
"Nomor siapa ya?" Tanya Rania pada dirinya sendiri.
Dengan tangan yang bergetar, Rania mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenal itu.
"Halo.. Siapa ya?" Tanya Rania. Hening. Si penelpon tidak mengeluarkan suara sedikitpun, cuman terdengar suara helaan nafas yang agak berat dari seberang sana.
Lalu Rania pun berpikir, mungkin cuman orang iseng saja yang menelponnya maka Rania memutuskan untuk mengakhiri panggilan tersebut. Namun, belum sempat ia mengakhirnya telepon itu.. Si penelpon akhirnya mengeluarkan suara. Terdengar suara seorang lelaki yang agak serak memanggil namanya.
"Rania..." Katanya yang membuat Rania langsung terperanjat kaget.
"I-iya.. S-siapa ya?" Rania bertanya dengan suara yang bergetar.
"Kamu jangan merasa senang dulu ya atas rencana pernikahan kamu itu. Karena aku... AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU MENIKAH DENGAN SIAPAPUN ITU. " Katanya dengan suara yang keras sehingga membuat Rania langsung menjauhkan hp tersebut dari telinganya.
"Kenapa.. ? Apa maksud kamu? Dan... kamu siapa?" Rania terus bertanya-tanya ke si penelpon misterius tersebut.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya! Yang harus kamu ketahui adalah bahwa Tidak ada satu orang laki - laki yang boleh menikahi kamu, Rania." Katanya dengan nada marah.
"Apa kamu mau melihat calon suami kamu itu menderita ha? Jika kamu nekat menikah dengan dia... Aku akan pastikan lelaki itu akan mati. Tau kamu? MATIII" Katanya dengan memberi ancaman dan setelah itu langsung tertawa dengan kerasnya.
"Apa kamu bilang? Kamu jangan mengancam saya seperti ini ya! Lebih baik kamu bilang apa mau kamu sebenarnya ? Kenapa mengganggu saya seperti ini? Apa salah saya sama kamu?" Tanya Rania berusaha melunakkan si penelpon agar tidak terus-terusan mengancam dirinya. Tapi, hal itu tidak berpengaruh apapun bagi si penelpon misterius itu, ia masih tetap melanjutkan aksi ancamannya kepada Rania.
"Kamu memang wanita bodoh! Pakai bertanya lagi mau aku apa? Yang jelas aku mau kamu tidak menikah. Aku tidak mau melihat kamu menikah dengan saiapapun itu" Tegasnya lagi dengan gusar.
"Kenapa emangnya? Siapa kamu yang berani melarang aku untuk menikah?" Rania bertanya karena masih merasa tidak puas dengan jawaban dari lelaki misterius itu.
"Karena kamu tidak pantas untuk dinikahi siapapun! Kamu tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan kamu" Jawabnya lagi dengan suara yang lantang.
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya percuma saja ia terus-terusan meladeni penelpon gila ini. Tidak akan ada habisnya. lebih baik dia matikan saja telponnya. Putus Rania akhirnya didalam hatinya.
klik. Rania memutuskan hubungan via telponnya.
Beberapa saat kemudian lelaki itu menelpon lagi, Raniakembali mengakhirnya panggilannya. Seperti itu terus sampai akhirnya karena merasa muak Rania lalu mematikan Hpnya.
Tiba-tiba saja Jantung Rania berdebar dengan kencang. sebuah ancaman yang membuat dirinya semakin takut. Tadi dia baru saja bermimpi buruk dan sekarang tiba-tiba saja ada orang yang mengancam dirinya.
Apa katanya tadi? Dia melarang Rania untuk menikah dan mengancam jika tetap menikah calonnya akan menderita atau bahkan mati? Hal gila apa ini. Siapakah dia? Berani-beraninya dia mengancam seperti ini? Apa maunya? Rania hanya bisa bertanya-tanya didalam hatinya dengan sangat penasaran..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1