
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa hari pernikahan Rania dan Fitra tinggal menghitung hari saja. Kedua orang tua Fitra pun sudah datang kerumahnya Rania dan menemui kedua orang tuanya Rania. Mereka membicarakan mengenai pernikahan anak - anak mereka sekaligus kedatangan mereka yang pertama kali itu untuk melamar Rania.
Kedua orang tua Rania dan juga Fitra sama - sama sepakat bahwa akad nikah dan resepsi pernikahan mereka nantinya akan dilaksanakan dikediamannya Fitra. Keluarga Rania memaklumi hal itu, karena memang Rumah Rania jauh dari kata sederhana apalagi mewah.
Semua teman - teman Rania di rumah dakwahnya sudah tahu Rania akan segera menikah, mereka mengucapkan selamat dan berdoa agar pernikahan Rania dan Fitra nantik berjalan lancar. Teman - teman satu kos Rania juga sibuk membantu Rania mempersiapkan segala hal menjelang hari H.
Sedangkan teman - teman dan senior - senior satu kerja Rania di rumah sakit, setelah mendengar desas desus kabar pernikahan Rania dengan Fitra, mereka awalnya kaget dan tidak percaya jika Rania yang selalu mereka bully ternyata adalah calon menantunya si pemilik Rumah sakit. Mereka cari tahu dan bertanya - tanya dengan teman dekatnya Fitra yaitu Nia dan Randi. Dan setelah mendengar
penjelasan dari Nia dan Randi yang mengatakan bahwa benar Rania akan menikah denah Fitra barulah mereka percaya. Maka semenjak itu pula, mereka para senior yang dulunya semena - menang sama Rania, langsung berubah total. Mereka jadi baik dan bahkan segan menyuruh - nyuruh Rania. Tentu saja perubahan sikap dari mereka itu membuat Rania heran.
"Rika, kenapa ya kakak - kakak senior malah menyuruh aku pulang lebih awal? Padahal kan masih ada pasien yang belum selesai partus." tanya Rania heran. Malam itu seperti biasa, karena masih ada pasien yang belum selesai ditangani Rania tidak pulang padahal sudah masuk pergantian Shif, akan tetap kakak seniornya malah menyuruh Rania untuk pulang.
"Yahh.. Mungkin saja berita tentang pernikahan kamu dengan anak pemilik rumah sakit ini sudah sampai ditelinga mereka - mereka itu, Rania." jawab Rika berpendapat.
"Ooohh.. Gitu ya?" Rania hanya manggut - manggut saja namun diraut wajahnya tidak terlihat suatu kebanggaan akan hal itu.
"Tapi, bagus jugalah Rania. Dengan begitu, mereka tidak lagi seenaknya sama kamu. Dan.. Sekarang giliran kamu nih, pergunakan kesempatan ini untuk membalas mereka - mereka itu."kata Rika yang malah menghasut Rania untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
"Ngak lah Rika, Aku orangnya gak seperti itu. Apalagi sampai balas dendam, kepikiran juga gak." sanggah Rania langsung dengan tersenyum tipis.
"Ya..setidaknya beri mereka sedikit saha pelajaran Rania, agar kedepannya mereka tidak lagi semena - menang dengan junior yang baru masuk. Karena dulu aku sempat digituin juga oleh mereka." kata Rika yang wajahnya langsung berubah menjadi masam karena menahan rasa geramnya. Sepertinya ia jadi teringat akan kenangan buruk yang pernah ia Terima saat pertama kali masuk dan bekerja dirumah sakit ini.
"Rika, memberi pelajaran ke orang bukan berarti harus membalas sesuatu yang tidak baik. Masih banyak cara lain, yang penting jangan sampai tersimpan dihati kita rasa dendam dan ingin membalasnya. Itu penyakit hati namanya, harus dan mesti kita buang jauh - jauh." kata Rania dengan lembut, berusaha menasihati Rika atas sesuatu yang tidak harus mereka lakukan.
"Ya terserah kamu lah Rania, mungkin kamu bisa ikhlas dan ridho atas perlakuan mereka ke kamu. Tapi, kalau aku.. Gak bakalan pernah aku maafkan meskipun mereka minta maaf sampai bersujud dikaki aku. Gak akan aku maafkan deh, karena pembulian yang mereka lakukan ke aku awal - awal dulu sudah sangat keterlaluan menurut aku." kata Rika dengan berapi - api.
__ADS_1
Mendengar jawab dari Rika yang agak ngotot itu, membuat Rania langsung tersenyum lebar. Karena ia merasa inilah saatnya ia mengeluarkan kata - kata dakwahnya, karena selama bekerja dirumah sakit ini Rania memang tidak banyak berbicara. Bukan karena apa, ia yang tau diri hanya sebagai anak baru dan merasa tidak pantas terlalu menonjolkan dirinya. Karena dilingkungan kerja yang ia rasakan begitu berbeda dengan dilingkungan pengajiannya maupun di perkuliahannya. Di pengajian dan perkuliahan, Rania lebih leluasa untuk mengutarakan pendapat dan mengatakan sesuatu kebenaran. Beda dengan disini, yang berbau agama masih begitu tabu untuk dibicarakan dan bincangkan. Namun, hari itu untuk pertama kalinya Rania mengeluarkan kalimat dakwahnya yang ia berikan kepada Rika.
...💙💙💙💙...
"Nayla," panggil Raihan sesaat Sofwa baru saja keluar dari kamarnya dan hendak menuju kedapur.
"Ya, bang Raihan. Abang panggil Nayla?" tanya Nayla dengan melihat kearah abangnya.
"Iya, kesini sebentar. Duduk disini." kata Raihan dengan menyuruh Nayla untuk duduk disampingnya. Nayla pun menurutinya.
"Kenapa bang? Ada apa?" tanya Nayla yang penasaran dan saat itu sudah duduk disamping abangnya itu.
"Kamu masih sering ketemuan dengan Andre kan?"
tanya Raihan dengan nada tak senang. Ditanya seperti itu, membuat Nayla langsung menganggukkan kepalanya setelah itu menundukkan wajahnya dengan rasa takut. Yah.. Ia takut akan dimarahi oleh abangnya.
"Bang.. Kenapa bang Raihan masih membenci Andre sedangkan dia sudah berubah dan meminta maaf ke kita berdua dengan sepenuh hatinya." kata Nayla yang malah balik bertanya ke Raihan.
"Oh, sudah pintar kamunya. Ditanya malah balik bertanya." kata Raihan dengan kesal.
"Maaf bang, bukan maksud Nayla ingin menentang bang Raihan. Nayla cuman tidak ingin saja bang Raihan menyimpan rasa dendam ke Andre sampai berlarut - larut seperti ini, gak baik bang. Apalagi Andre sudah mintak maaf dan bahkan ia mau bersujud dikaki abang saking ia sangat mengharapkan kata maaf dari bang Raihan." kata Sofwa. Raihan langsung tetdiam.
"Allah saja mau memaafkan hamba - hambanya yang mau bertobat dan meminta maaf dengan sungguh - sungguh, kenapa kita tidak bisa melakukan itu juga bang?" lanjut Sofwa lagi.
"Bang.. Sofwa mohon, lunakkanlah hati bang Raihan. Maafkanlah Andre bang, jangan lagi simpan dendam dihati abang karena itu hanya bisa membuat diri abang sendiri tersiksa. Dendam itu penyakit hati yang sangat berbahaya lo bang.. jika tidak dimusnahkan dari sekarang akan bisa menghapus amal - amal kebaikan kita dibuatnya." jelas Sofwa yang berusaha membujuk abangnya agar mau memaafkan Andre.
__ADS_1
"Hhhmmm...." Raihan langsung bergumam panjang.
"Kamu yakin dia benaran sudah berubah?" tanya Raihan masih tidak yakin.
"Yakin bang, sangat - sangat yakin." jawab Sofwa.
"Abang butuh bukti yang nyata didepan mata abang, barulah abang bisa mempercayainya." tekan Raihan lagi yang langsung ditanggapi dengan senyum sumringahnya Sofwa.
"Oke bang, Nayla akan buktikan ke bang Raihan." kata Sofwa dengan semangat.
"Ya sudah buktikan." kata Raihan dengan melihat Sofwa dengan tatapan aneh.
"Iya, sekrang bang Raihan ikut Nayla yuk." ajak Nayla seraya menarik tangannya.
"Mau kemana?" Raihan bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Ikut aja bang, katanya mau pembuktian." kata Nayla. Dan Raihan pun akhirnya pasrah diajak Nayla untuk pergi keluar dari rumah mereka.
...❣❣❣❣...
BERSAMBUNG....
.
.
__ADS_1
.