
Hari itu juga Fitra langsung mencari Rania dilantai 5 rumah sakit, yaitu diruang bersalin tempat Rania dinas.
“Assalamu'alaikum, maaf mbak... bisa bertemu dengan Bidan yang bernama Rania Nazwa?” Tanya Fitra ke salah satu teman Rania yang berada disana.
“Rania ya? Rania ngak ada. Kebetulan dia lagi cuti” Jawab wanita tersebut.
“Cuti? Berapa lama ya mbak cutinya kalau boleh saya tahu?” Fitra kembali bertanya.
“Seminggu. Ibunya sakit... makanya dia bisa dapat cuti, sebenarnya pegawai yang masih training mana boleh ajukancuti. Tapi dia mohon-mohon sama penanggung jawab disini, akhirnya diizinin dech” Jelas wanita itu apa adanya.
“Oke. terimakasih atas informasinya” Kata Fitra lalu beranjak dari sana.
Selesai dinas, Fitra tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya kerumah kosan Rania. Disana ia berjumpa dengan Raisya yang kebetulan baru keluar dari rumah.
“Assalamu'alaikum, afwan menggangu Sya...” Kata Fitra. Raisya sungguh kaget dengan kedatangan Fitra yang tiba-tiba itu.
“Wa'alaikumusalam, iya.. ada apa ya?” Tanya Raisya dengan wajah yang bingung melihat Fitra.
“Aku.. boleh mintak alamat rumah Rania yang di kampungnya gak?” Fitra langsung to the point bertanya tentang Rania. Raisya semakin memperlihatkan wajah bingungnya, kenapa Fitra meminta alamat Rania? Bukannya Fitra akan menikah dengan Sofwa? Itu yang Rania ceritakan kepadanya sebelum ia ke kampung.
“Emang kenapa? Untuk apa ya?” Tanya Raisya dengan curiga.
Fitra tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ia langsung menceritakan maksud dan tujuannya kerumah Rania. Raisya mendengarnya dengan serius. Setelah selesai Fitra bercerita, Raisya langsung buru-buru memberikan alamat Rania. Fitra tersenyum bahagia mendapat alamat tersebut.
...@@@...
Angin berhembus sepoi-sepoi. Udara sore itu serasa sejuk menyerpa wajahnya. Langit biru seakan tersenyum indah menyapanya. Rumput-ruput nan hijaupun seperti menari-nari indah karena tiupan angin. Rania duduk di rerumputan sambil memandang bunga-bunga yang bermekaran indah dihadapannya. Disamping kanannya terdapat beberapa anak-anak kecil yang bermain layang-layang, mereka tampak antusias sekali. Rania mengalihkan pandangannya kesamping, ia mengubah arah duduknya agar lebih leluasa melihat pemandangan yang ada didepannya saat ini.
__ADS_1
Hati Rania sedikit terobati saat berada dikampung halamannya ini. Tempat yang masih menyimpan keindahannya sendiri, yang masih dipertahankan oleh warganya. Sudah 3 hari ia disini. Memang awalnya ibu Rania sempat dirawat dirumah sakit, ia sakit parah. Tapi sejak Rania datang dan langsung menjenguk ibunya, memeluk ibunya, merawat ibunya dengan kasih dan sayang, akhirnya ibunya pun langsung sembuh. Sakitnya pun seakan lenyap. Rania bersykur pada Allah karena kehadiran dirinya adalah sebagai perantara sembuhnya ibunya.
Tanpa ia pinta, tiba-tiba saja pikiran Rania melayang ke Fitra. Padahal Rania Sudah berusaha untuk mengalihkan pikirannya agar ia tidak lagi teringat dengan laki-laki itu, tapi kali ini usahanya gagal. Rania pasrah, bahkan menikmati masa-masa singkat saat ia mengenal Fitra, dan dalam waktu yang singkat itu pula ia merasakan yang namanya cinta sekaligus juga merasakan yang namanya patah hati. Rania tersenyum tipis. Tidak Foury dan tidak juga Fitra, jadi... siapakah jodohnya Ya Rabb? Tanya Rania dalam hati.
“Assalamu'alaikum, Rania...” Sebuah sapaan halus memanggil namanya. Suara itu rasanya tidak asing terdengar ditelinga Rania. Tapi, Rania begitu takut untuk menebak siapa? Mungkin saja cuman suaranya saja yang mirip. Dan yang jelas itu Bukanlah suara dari sosok yang baru saja ada didalam pikirannya.
Detik kemudian, dengan agak ragu Rania membalikkan badannya. Dan... Syyyuuuurrr..... hatinya seakan disirami air dingin dan sejuk saat melihat sosok Fitra sudah berdiri dihadapannya. Apakah ini nyata? Atau jangan-jangan dia sedang berhalusinasi saja. Rania mengucek-ucek matanya hingga perih tapi tetap sosok Fitra memang nyata berada didepannya saat ini.
“K-Kammuu...” Kata Rania dengan terbata-bata seraya telunjuknya diarahkan ke Fitra.
“Kenapa bisa ada disini?” Lanjut Rania lagi dengan langsung bertanya. Ditanya seperti itu lelaki berwajah tampan tersebut langsung tersenyum manis.
“Karena Allah. Karena Allahlah aku ada disini. Allah lah yang telah menetapkan langkah kakiku untuk melangkah ketempat kamu Rania, mencari kamu, menemui kamu, dengan satu tujuan, dengan satu maksud....” Ujar Fitra dengan suara yang lembut.
“Apa emangnya?” Tanya Rania lagi. Fitra tersenyum lebar melihat raut bingung plus takut yang tergambar di wajahnya Rania. Tapi, Fitra suka itu. Tatapan tajam Rania itu membuat dirinya geram, sekaligus senang.
“Untuk apa?” Kedua alis Rania hampir beradu saat bertanya seperti itu. Fitra kembali tersenyum. Dia begitu senang dengan rasa penasarannya Rania.
“Apa lagi yang dilakukan seorang laki-laki jika mau bertemu dengan orang tua si wanita kalau tidak melamar si wanita...” Ucap Fitra cepat tanpa jeda.
Mendengar hal itu spontan saja langsung membuat Rania tersentak kaget, ia sungguh tidak menyangka kata-kata itu yang akan keluar dari mulutnya Fitra.
"Apaa??? Aku ngak salah dengar?" Ucap Rania sedikit mengeraskan nada suaranya.
“Iya Rania. InshaAllah. Hari ini juga aku akan melamarmu. Dan minggu depan kita menikahnya. Mau kan..?” Kata Fitra.
Rania langsung melotot marah. Ia seakan dipermainkan. Karena dipelototin seperti itu membuat Fitra lalu memasang wajah seriusnya.
__ADS_1
“Demi Allah dan Rasul.. aku serius. Aku tidak main-main. Inilah pilihanku dan aku akan konsisten dengan apa yang aku pilih. Aku memilih untuk kembali kepadamu karena Allah. Allah yang menetapkan hatiku condong kepada mu Rania...” Jawab Fitra dengan raut wajah yang serius.
“Kamu jangan macam-macam mengatasnamakan asma Allah dan Rasulnya dalam masalah ini Fitra, kamu ngak takut dosa? Aku tau kamu orang yang mengerti agama tapi kenapa kamu mempermainakan nama Rabb kita dalam hal ini...” Rania memotong kata-kata Fitra.
“Mana berani aku melakukan itu Rania... aku... sungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan ini. Percayalah dengan aku...” ucap Fitra. Rania melihat sinaran yang terpancar dari mata Fitra. sedikitpun tidak Rania ketemui sinaran kebohongan disana.
“Tapi, bukannya... kemarin... Gimana dengan Sofwa?” Akhirnya terucap juga pertanyaan yang mengganjal di hati Rania.
“Nah, itu yang akan aku ceritakan sama kamu. Tapi tidak sekarang. Sekarang yang terpenting adalah... pertemukan aku dengan orang tuamu Rania...” kata Fitra lalu tersenyum lebar.
“Untuk apa?” Rania bertanya lagi dengan kebingungan.
“Kamu lucu sekali. Untuk apa lagi kalau bukan untuk ngelamar kamu... itu yang kamu mau kan?” Tanya Fitra sambil bertanya dan senyum - senyum tak jelas.
“Jangan geer kamu ya Fitra." Kata Rania dengan gusar. Meskipun kesal, tapi tetap pipinya menjadi bersemu merah mendengar ucapan Fitra barusan.
“InshaAllah... Bismillah... akan segera Aku jadikan kamu halal bagiku Rania...” Kata Fitra dengan yakin, menatap Rania dengan penuh keyakinan pula.
Rania menunduk. Apa ini semua? Takdir telah membuat 2 kenyataan yang berbeda bagi kehidupannya. Baru beberapa hari yang lalu ia merasa kesedihan yang luar biasa dan sekarang langsung berubah drastis dengan kebahagiaan. Rania tersenyum bahagia. Inilah rahasia Allah yang satupun manusia tidak dapat menjangkaunya. Thanks Allah. Uhibbuka Fillahh...
/
/
/
Bersambung...
__ADS_1