
"Rania..." belum sempat Tio menyelesaikan kalimat yang ia ucapkan, tiba - tiba saja dari arah belakang mereka terdengar suara seorang laki - laki yang memanggil nama Rania. Dan seketika itu pula mereka melihat ke sumber suara yang ternyata adalah Fitra yang memanggil nama Rania.
"Fitra?" lirih Rania yang merasa bersyukur bertemu Fitra dijalanan tersebut. Karena dengan begitu, ia bisa lepas dari berbagai macam pertanyaan yang di todongkan oleh Tio terhadapnya.
"Kamu.. Baru pulang ya? Dari dinas siang ya@?" tanya Fitra dengan matanya juga sempat melirik kearah lelaki asing yang ia lihat sedang berbicara dengan Rania tadi.
"Iya, ini aku sedang menunggu angkot tapi belum ada yang lewat." kata Rania. Tio yang ada disana, langsung sadar diri dan kemudian pamit kepada mereka berdua dan pergi dari sana.
"Rania, tadi itu siapa?" tanya Fitra yang menyimpan rasa penasaran. Lelaki itu baru beberapa detik yang lalu pergi dari tempat mereka.
"Hhmmm... Dia itu," Rania berhenti sejenak, ia bingung harus mengenalkan Tio sebagkekasih dimasa lalunya, Aahh.. Rania malu dan tidak enak mengucapkan hal itu. Namun, jika Ia mengatakan lelaki itu temannya, apakah itu sama saja ia telah berbohong?
"Rania?" panggil Fitra yang mendapati Rania malah bengong.
"Iya, Fitra. Maaf.. Tadi itu masa lalu." jawab Ranua akhirnya dengan wajah yang mungkin sudah memerah karena menahan malu.
"Masa lalu?" tanya Fitra seraya menaikkan satu alisnya.
"Ee.. Fitra, maaf.. aku gak ingin membahasnya. Tapi, Lain kali pasti akan aku cerita ke kamu, Aku janji deh. Setidaknya setelah kita menikah saja aku ceritanya. Sekarang aku mau pulang dulu. Gak apa kan?" tanya Rania.
"Oke, Rania.. gak apa - apa. Oya, apa kamu mau pulang sama aku? Biar akun antarin kamu sampai kerumah." kata Fitra dengan menawarkan diri.
"Oh, tidak.. Tidak.. Fitra, aku rasa kamu lebih paham dari aku mengenai ini. Tidak mungkin kita semobil berdua dan pulang bersama - sama. Apa yang akan dipikirkan teman - teman dirumah dakwah aku nantiknya." kata Rania dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Fitra langsung tersenyum manis.
"Iya, Rania. Aku paham, aku cuman ngetes kamu doank kok." kata Fitra akhirnya dengan senyuman manis ymsudah menghiasi bibirnya yang tipis itu. dan Rania pun ikut tersenyum juga.
Setelah itu, angkot pun datang dan berhenti didepan Rania. Maka Rania pun naik keatas angkot tersebut dengan sebelumnya berpamitan dengan Fitra. Fitra melihat Rania, sampai angkot tersebut hilang dari pandangannya. Didalam hati ia berujar dan berharap agar segera menghalalkan wanita itu, dan dengan begitu dirinya bisa mengantar jemput Rania kerumah sakit, tempat mereka bekerja. Fitra seakan tidak sabar menunggu waktu itu, waktu dimana ia mempersunting Rania Nazwa. Menjadikan ia istri dan bidadari didunia maupun disurga. Yah.. Fitra tersenyum bahagia memikirkan itu semua.
...🌺🌺🌺🌺...
Keesokan harinya, Rania masuk dinas pagi. Jam masih menunjukkan pukul 7.15 pagi namun Rania sudah sampai dirumah sakit. Rania kini sedang berdiri didepan lift, menunggu pintu lift terbuka. Tak berapa lama kemudian, seseorang datang dan sudah berdiri saja disebelahnya. Awalnya Rania mengira itu keluarga pasien saja, makanya ia tidak mengalihkan pandangannya kesana. Namun, ternyata.. Seseorang itu adalah Tio, laki - laki dimasa lalunya.
"Hai, Rania..." Sapanya tiba - tiba yang membuat Rania langsung tersentak kaget dan menoleh kearahnya. Tio tampak sudah melemparkan senyum hangatnya ke Rania, tapi sedikitpun Rania tidak sudi membalas senyum lelaki itu.
"Kamu dinas pagi yaRania?" tanya Tio lagi dengan sok ramah.
"Ya." jawab Rania singkat dan mengarahkan pandangannya kedepan. Malas sekali Rania rasanya untuk berbicara dengan Tio, makanya Rania berusaha untuk secuek mungkin.
"Rania, yang kemarin itu siapa ya?" tanyanya lagi dengan wajah penasaran. Rania tahu siapa yang dimaksud Tio, pasti Fitra. Namun, Rania masih malas untuk mengeluarkan suara.
"Pacar kamu ya?" tanyanya lagi yang membuat mata Rania langsung membesar tanda protes.
__ADS_1
"Maaf ya, aku gak pernah lagi pacar - pacaran." ujar Rania dengan ketus.
"Ya, maaf Rania. Biasa saja donk, jangan galak - galak gitu.." kata Tio dengan tertawa kecil. Tawanya yang renyah itu membuat Rania benar - benar mual bahkan ingin muntah saja.
"Kalau bukan pacar jadi siapa? Tunangan ya atau calon suami?" Tio masih saja bertanya perihal Fitra. Rania yang geram dan kesal akhirnya pergi dari sana dan menuju ke tangga karena pintu lift sejak tadi tidak kunjung terbuka. Mending dia naim tangga saja, pikir Rania.
Tapi, Tio malah mengikuti Rania dengan naik tangga juga. Tentu saja hal itu membuat Rania bertambah kesal.
"Kamu bisa gak tidak ikutin aku!!" ujar Rania setengah membentak karena sudah saking kesalnya.
"Slow donk Rania, siapa yang mau ngikutin kamu? Aku juga mau keatas, apa kamu lupa kalau istri aku Ningsih dirawat diatas." kata Tio masih dengan suara yang lunak. Rania langsung terdiam dan membiarkan Tio berjalan duluan keatas. Setelah agak jauh jaraknya, barulah Rania berjalan pelan menaikki anak tangga tersebut.
Sesampainya diatas, Rania melihat Tio yang lagi berbicara sesuatu dengan teman satu dinasnya pagi itu.
"Rania, pasien post SC kemarin nantik sore pulangnya ya. Kamu urus administrasi nya karena aku mau ngurus pasien yang baru masuk tadi malam." ujar Rika, teman satu dinas Rania pagi itu dan umurnya mereka kebetulan sebaya.
"Baik Rika." Kata Rania yang langsung mengiyakannya, padahal Rania merasa malas sekali harus berurusan dan bertemu lagi dengan Tio. Namun, demi personalitasnya Rania berusaha melakukan yang terbaik.
"Oya, sekalian nantik kamu temanin dokter Indra visit ke pasien itu ya," Kata Rika lagi.
"Iya, Rika. Oke." Sahut Rania yang menampakan rasa semangatnya.
Beberapa saat kemudian, dokter Indra datang dan Rania langsung saja mengikuti dokter muda itu kedalam kamar pasien. Saat pintu kamar terbuka, Rania langsung melihat Tio yang sedang menggendong anaknya yang baru lahir itu. Rania perhatikan bagaimana telatennta dalam menghadapi bayi seperti itu, Yah.. Rania tidak heran karena dia sudah memiliki dua orang anak, pastilah hanya untuk sekedar menggendong dia sudah terbiasa.
Beberapa jam kemudian, Rania tinggal sendiri didepan meja petugas. Namun, tiba - tiba Tio datang menghampirinya.
"Hai, Rania.... Boleh aku mengganggu kamu sebentar?" Tanyanya dengan sopan dann ramah.
"Hhhmm.. Aku lagi sibuk. Maaf." Jawab Rania dengan tersenyum tipis.
"Sibuk? Cuman 10 menit saja, tidak lama kok. Setelah itu, aku janji.. Aku gak akan pernah ganggu - ganggu kamu lagi." Kata Tio dengan setengah memohon. Rania langsung menghela nafas pendek mendengar permintaan laki - laki yang sejak kemarin membuat dirinya kesal.
"Memangnya kamu mau ngapain sih Tio?" tanya Rania dengan mengerutkan keningnya, seakan menunjukkan kekesalannya terhadap Tio.
"Aku cuman ingin menyampaikan penyesalan aku karena lebih memilih Ningsih ditimbang kamu dulunya Rania, aku benar - benar menyesal telah menyakiti kamu saat itu. Dan sekarang ini, aku sudah merasakan karma itu. Kehidupan rumah tangga aku dan Ningsih tidak semulus dan sebahagia yang kamu lihat." kata Tio dengan wajah yang sedih. Rania hanya diam saja, ia masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh laki - laki itu.
"Kami diuji dengan kehilangan, Rania. Anak kami yang pertama, memiliki kelainan jantung. Ia sempat dilahirkan dan hidup cuman beberapa bulan saja, setelah itu meninggal dunia. Kemudian Ningsih hamil lagi namun janinnya tidak berkembang sehingga disarankan oleh dokter untuk dikuret. Dan untuk ketiga kalinya Ningsih hamil dan Alhamdullilah anak ketiga yang sekarang ini lahir dengan selamat dan sehat, namun ternyata..." Tio berhenti sejenak karena tidak mampu menahan rasa sedihnya, sampai - sampai laki - laki itu meneteskan air matanya dan menangis terisak - isak. Rania yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya diam saja menyaksikan pemandangan tersebut.
"Maaf, Rania. Aku jadi terbawa suasana. Seharusnya aku gak bercerita sama kamu tentang ini semua, tapi ya sudahlah.. Intinya aku ingin mendengar kata maaf keluar dari lisan kamu, Rania. Aku sangat berharap.." pinta Tio lagi masih dengan terisak - isak.
"Tio..." panggil Rania dan kemudian berhenti sejenak untuk menghela nafas pendek.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kita bertemu saat ini aku sudah hampir melupakan semua yang sudah terjadi diantara kita. Semuanya, Yah.. Semua Kenangan itu ingin aku hapus saja dari pikiran dan ingatan aku. Aku tidak ingin lagi menyimpannya, karena apa? Karena aku sudah hijrah. Benar - benar hijrah dari segala hal yang membuat aku jatuh ke lubang kenistaan. Dan.. Aku juga berharap kamu bisa melupakan tentang kita. Maka dari itulah, jangan ada lagi rasa bersalah dan apapun itu. Karena aku sedikitpun tidak pernah menyimpan dendam terhadap kamu, demi Allah. Tidak pernah..." jelas Rania dengan suara yang tegas dan lantang.
"Syukurlah, aku benar - benar lega mendengarnya. Terimakasih Rania, karena sudah menjadi wanita terbaik yang pernah aku kenal." kata Tio lagi dengan tersenyum lebar.
"Iya, sama - sama." jawab Rania dengan tersenyum pula walaupun hanya sebentar.
"Kamu sendiri sekarang bagaimana Rania? Maaf jika aku kepo dan ingin tahu tentang kamu.." kata Tio lagi.
"Aku.. InshaAllah dalam waktu dekat ini akan menikah." kata Rania apa adanya.
"Oh ya? Selamat ya, kalau boleh aku tahu.. Siapa laki - laki beruntung itu yang akan mempersunting kamu Rania?" tanya Tio lagi.
"Namanya Fitra, dia bekerja disini juga sebagai perawat." jawab Rania.
"Oh begitu ya, aku jadi penasaran dan ingin bertemu juga dengannya." ujar Tio lagi.
"Kamu sudah bertemu dengan dia kok, Tio. Malam tadi, laki - laki yang memanggil aku saat kamu mengikuti aku sampai diluar, itulah dia.. Fitra." jelas Rania.
"Ya Ampun, jadi dia yang namanya Fitra? Calon suami kamu? Kenapa tadi malam kamu gak mengenali dia sama aku, Rania." kata Tio dengan nada kecewa.
"Ngak lah, aku rasa gak penting harus mengenali kamu dengan Fitra." kata Rania dengan cuek.
"Ya memang gak penting, Rania. Karena aku ini.. Apalah, hanya sebagai belenggu bagi kamu. Benarkan demikian?" tanya Tio dengan merendahkan dirinya.
"Mungkin iya," jawab Rania dengan cepat. Wajah Tio langsung berubah mendengar jawaban spontan dari Rania tersebut.
"Ngak kok, aku cuman bercanda. Oya, sudah lebih 10 menit kita ngobrolnya. Kita sudahi dulu ya, aku mau mengurus segala administrasi istri kamu. Kalian rencana pulang hari ini kan?" tanya Rania. Tio hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, aku kedalam dulu kalau begitu." pamit Tio dan Rania langsung mengiyakan.
Setelah Tio pergi dari hadapannya, Rania langsung menghembuskan nafas panjang, seakan lega.
"Masa lalu, biarlah berlalu. Kamu masa lalu yang harus aku kubur dalam - dalam Tio. Dan saat ini terpenting adalah, masa depan aku bersama Fitra.. Yah.. Aku akan menyiapka diri untuk mendorong masa depan bersama Fitra Riandi." bathin Rania.
...❤️❤️❤️❤️...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.