Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 25 (HIDAYAH CINTA)


__ADS_3

“Buka pintu... buka...” suara ketukan yang keras terdengar dari pintu luar. Dengan bergegas Nisa keluar dan membukakan pintu untuk Andre, abangnya.


“Masya Allah bang, abang kenapa? Kok babak belur begini?” tanya Nisa dengan nada khawatir melihat abangnya yang berdarah-darah.


“Abang berantem lagi ya? Mau sampai kapan sech bang?”


“Aahh... berisik kamu” kata Andre dengan kasarnya sambl menepis tangan Nisa yang hendak menyentuh wajah abangnya.


“Sini Nisa bersihkan bang...” tawar Nisa lalu mengambil air hangat dan kain serta betadine. Nisa duduk di sebelah Andre yang tampak meringis kesakitan.


“Aduh.. pelan donk Nisaaa....” teriak Andre.


“Iya bang, ini Nisa dah pelan kok”


Untuk beberapa saat hening. Nisa masih melanjutkan membersihkan luka diwajah dan tangannya Andre.


“Bang...” Nisa memanggil abangnya pelan, ingin sekali rasanya dia mendapatkan kasih sayang dari abangnya seperti dulu lagi tapi saat ini begitu sulit jangankan perhatian, kehadiran abangnya saja jarang ia dapati dirumah ini, abangnya jarang pulang, pulang pun itu hanya sebentar dan sedikitpun tidak mempunyai waktu untuk berbicara dengannya.


“Nisa minta maaf jika banyak merepotkan abang selama ini” entah kenapa kata-kata seperti itu yang keluar dari mulutnya. Nisa tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


“Sadar toh kamu” katanya.


“Iya.. Nisa sadar kok bang, Nisa terlalu bergantungan sama abang. Tapi, kalau ngak sama abang sama siapa lagi Nisa harus menggantungkan hidup? Hanya abanglah yang Nisa miliki saat ini.  Andai mama dan papa masih ada pasti Nisa ngak bakalan merepotkan abang seperti ini... tidak menambah beban pikiran abang... maafin Nisa bang...” ucap Nisa sambil menangis terisak-isak.


“Aahh... pake nangis segala. Cengeng kali sech kamu!” bukannya menghibur Andre malah membentak adiknya itu.


“Sudah... sudah.. aku mau istirahat, ini ada sedikit uang, pandai-pandai kamu berhemat. Minggu depan aku tidak jamin bisa ngasih kamu lagi” katanya sambil berlalu dan masuk kekamarnya.


Sepeninggalan Andre, Nisa kembali menangis. Tangisannya kini semakin kuat, sedih sekali batinnya saat ini. Mau sampai kapan dia bisa bertahan? Hidup dengan sosok lelaki seperti abangnya ini.


“Ya Allah.... bagaimana aku bisa dapat uang? Sedangkan uang SPP sudah 3 bulan menunggak. Lama-lama aku bisa dikeluarkan dari sekolah” Nisa bertanya pada dirinya sendiri.


“Aku harus lebih giat lagi ne bikin kuenya. Biar bisa dijualkan disekolah-sekolah” Nisa berusaha menyemangati dirinya sendiri. Nisa menghapus air matanya yang masih tersisa di wajahnya dan kembali bangkit. Ia langsung menuju dapur dan melanjutkan membuat kue.


“Assalamu’alaikum...” Suara seseorang mengucapkan salam terdengar oleh Nisa yang sedang asyik membuat kue di dapur.


“Walaikumusalam...” jawab Nisa sambil berlari kedepan dan membuka pintu.


“Ya Ampuun.. Zahra...” ucap Nisa kaget sekaligus senang ketika melihat Zahra teman satu kelasnya datang.


“Ayo masuk Zahra...” Nisa mempersilahkan Zahra masuk.


“Kamu lagi apa Nisa? Sibuk kelihatannya, aku ngak ganggukan?” tanya Zahra tidak enak hati.


“Tidak kok Zahra, kebetulan aku lagi bikin kue. Kamu mau bantuin? Yuck kedapur kita...” Nisa mengajak Zahra kedapur.


“Kamu hebat Nisa. Kamu mandiri sekali, sudah bisa bikin kue sendiri. Sudah bisa menghasilkan uang. Aku salut sama kamu” puji Zahra.

__ADS_1


“Kamu ngak malu berteman dengan aku yang miskin ini Ra?” tanyanya dengan merendahkan diri.


“Masya Allah. Kenapa harus malu Sa?”


“Ya karena aku hanya seorang penjual kue, aku ngak seperti teman-teman yang lain, yang masih punya orang tua, yang semua kebutuhan bisa dipenuhi” Nisa berkata. Tampak raut kesedihan yang tergambar diwajahnya.


“Ya Allah Nisa... kamu jangan berpikiran seperti itu, aku dan teman-teman yang lain sama sekali ngak pernah malu berteman sama kamu ataupun yang lainnya... kita ini sama-sama makhluk ciptaan Allah, tidak ada yang membedakan kita dimata Allah. Mau kita miskin, kaya, cantik ataupun jelek, tetap.. sama di mata Allah. Yang membedakan kita dimata Allah itu adalah amal ibadah kita semata. Seperti sebuah hadist mengataan‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu dan rupamu,tetap iAllah melihat kepada hatimu’


(H.R. Muslim)


“Jadi kamu jangan pernah merasa gimana lagi ya? Jangan minder. Oya, kita ini saudara... kamu jangan pernah merasa sendiri. Aku tau gimana sedihnya ditinggal kedua orang tua diusia kita yang masih muda ini, yang seharusnya masih membutuhkan kasih sayang dari mereka tapi tidak mendapatkannya lagi... anggaplah aku dan teman yang lain sebagai saudaramu, jika butuh sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk minta bantuan... insyaAllah kami akan mengusahakan untuk menolongmu Nisaa.. karena muslim itu diibaratkan satu tubuh jika salah satu bagian tubuh sakit maka bagian tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit....” jelas Zahra sambil tersenyum. Kehadiran Zahra, siketua Rohis disekolahnya itu mampu menenangkan hati Nisa yang lagi sedih.


@@@


Jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi sedikitpun mata Andre tidak mau juga terpejam. Tubuhnya kini baru terasa sakit dan ngilu, pertarungan tadi benar-benar membuat hampir seluruh badannya menjadi sakit luar biasa. Andre bangkit dari tempat tidurnya, menuju ke cermin besar yang ada dikamarnya. Ia pandangi dirinya, dari wajah hingga kekaki.


“Apa lagi yang kau ingin kan Dre? Hidup seperti inikah yang menjadi pilihan hidupmu?” Andre bertanya pada dirinya sendiri melalui cermin.


Andre memejamkan matanya sesaat. Dalam pejaman matanya itu entah kenapa tiba-tiba muncul dua wajah yang ngak asing baginya, wajah yang selama ini hampir dia lupakan. Wajah tersebut adalah wajah ayah dan ibunya. Andre melihat sinar yang terpancar dari kedua wajah orang tuanya itu, tapi perlahan-lahan sinar itu kian memudar dan lama kelamaan menjadi gelap tanpa cahaya. Lalu Andre membuka pejaman matanya, ia kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.


“Andre... bapak sudah ngak kuat lagi dengan sakit ini, mungkin umur bapak tidak lama lagi. Bapak minta sama kamu tolong... jaga ibu dan adikmu Nisa. Kamu lah yang akan jadi pengganti bapak nantinya...”


Entah kenapa pesan terakhir bapaknya itu sebelum meninggal kembali terniang-niang ditelinganya.


“Nak... bapakmu udah ngak ada, bapakmu meninggal... “ dan kini tangisan ibunya yang hadir ditelinganya.


“Aaaaahhkk….....” tidak tahan lagi dengan suara-suara aneh itu Andre langsung berteriak. Apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa kejadian 5 tahun silam itu kembali mengganggunya?


Untuk mengusir kesuntukan pikirannya Andrepun memutuskan untuk keluar rumah. Mana tahu dengan menghirup udara malam pikiran dan bayangan aneh tentang masa lalunya itu segera menghilang. Sebelum keluar rumah, Andre mendapati Nisa yang tertidur diatas kursi panjang diruang tamu.


“Kenapa ne bocah tidur disini, dasar!!” umpat Andre kelihatan kesal dengan Nisa.


Baru saja selangkah ia hendak keluar rumah, tanpa sengaja Andre melihat sebuah lukisan wajah yang ia kenal terletak tepat disamping Nisa yang lagi tertidur pulas, sepertinya Nisa tertidur setelah melukis gambar itu. Yang menjadi sorot perhatiannya adalah wajah digambar itu adalah wajah dirinya. Sangat mirip sekali. Andre tidak heran karena memang sedari dulu Nisa pintar melukis dan lukisannya itu memang seperti aslinya. Tapi, masalahnya lukisan itu bukan seperti dirinya saat ini. Nisa melukis dirinya dengan menggunakan baju koko dan berkopiah, lagi tersenyum sambil memegang sebuah benda yang ia yakin itu mushaf al-quran.


“Apa-apaan ini...” Andre mengambil gambar itu, ingin rasanya ia menyobeknya karena gambar itu seakan menghinanya.


Niat jeleknya itu diurungnya ketika didengar Nisa berbicara dalam tidurnya, sepertinya dia sedang mengigau.


“Nisa ingin bang Andre berubah.. Seperti dulu.. ngak suka marah-marah lagi.. itu permintaan Nisa ya Allah...” kata-kata itu yang keluar dari bibirnya Nisa. Andre tersentak mendengarnya. Sedang mimpi apa anak ini? Mengapa ia membawa namanya?


Melihat pemandangan itu serasa ada yang lain dihatinya. Sentuhan halus tiba-tiba menyerpa lubuk hatinya yang terdalam, akan tetapi buru-buru ditepisnya. Dia tidak boleh lemah. Egonya kembali dia pertahankan.


“Omong kosong...” ucap Andre sambil melempar gambar yang tidak jadi ia sobek itu. Lalu dia keluar rumah, pergi menelusuri malam yang gelap dan sepi.


Andre terus berjalan tanpa tujuan. Andre meraih rokok disakunya dan menghisap rokok itu dalam-dalam sambil mengalihkan pikirannya yang agak sedikit kacau malam ini.


“Cinta itu tidak butuh alasan. Kalau hati sudah mantap mengatakan cinta segala kekurangan dan kelemahanpun akan tertutupi...”

__ADS_1


Andre mengumpat dalam hati. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari mengingat tentang masa lalu dengan keluarganya tapi kini entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan masa lalunya dengan seorang wanita yang pernah mengisi hatinya.


“Demi Allah.. aku begitu mempercayaimu Ndre, aku mencintaimu... tapi, malam ini aku baru tau belang mu sebenarnya, kamu ngak pernah mencintaiku.. kamu hanya mempermainkanku.. kamu menghancurkan hidupku.. kamu tega Ndre, kamu jahat..”


Andre membuang rokok yang tinggal setengah itu ketanah, sebuah botol minuman menjadi sasarannya, ia menendang botol itu kuat sekali, untuk melampiaskan kekesalannya terhadap pikirannya saat ini.


“Aaaaakhhk... apa yang terjadi pada diriku? Brengsek....” Andre mengumpat-umpat sendiri. Dia semakin melajukan langkah kakinya, menembus kegelapan malam tanpa arah dan tujuan. Disepanjang perjalanan bayangan kedua orang tuanya, adiknya Nisa dan wanita yang pernah ia sakiti silih berganti hadir dipelupuk matanya. Andre mengucek matanya hingga perih.


“Brengsek, sialan... kenapa kalian ha?” Andre berteriak seperti kesetanan. Kepalanya tiba-tiba sakit luar biasa. Ia tidak mampu lagi menahan badannya yang akhirnya tersandung dan terjatuh tak sadarkan diri didepan sebuah bangunan yang bertuliskan Pesantren Ar-Rahman.


@@@


Saat terbangun Andre mendapati dirinya berada disebuah tempat yang begitu asing baginya. Ia berbaring diatas karpet merah. Karpet dimana tempat orang untuk sholat, tidak salah lagi dia berada disebuah mesjid.


“Kenapa aku disini?” Andre berusaha bangkit tapi susah sekali, sakit kepalanya semakin merajalela saat dia berusaha untuk bangun.


“Tenang nak, kamu istirahat saja dulu” sebuah suara didengarnya dari arah samping. Diliriknya sumber suara tersembut, dengan masih samar-samar Andre mendapati seorang kakek-kakek berpakaian putih, berjenggot dengan tasbih ditangannya duduk tepat disebelah kirinya.


“Aku dimana? Dan.. siapa anda?” tanya Andre.


“Aku Hamba Allah dan saat ini kamu berada dirumah Allah” jawabnya.


“Ini tempat yang salah. Tidak seharusnya aku berada disini” ujar Andre dan berusaha untuk berdiri lagi tapi sia-sia kepalanya masih sakit juga. Dia heran ada apa dikepalanya kenapa begitu sakitnya jika dibawa berdiri?


“Begitu kacaunya hidupmu anak muda. Betapa banyaknya orang yang menderita atas perbuatan dirimu...”


Andre benar-benar tersentak mendengar penuturan kakek tua ini. Tahu apa dia tentang hidupnya? Kenal saja tidak sudah berani-beraninya dia mengklem dirinya seperti itu? Andre menggerutu dalam hati.


“Marilah insyaf anak muda.. taubatlah dengan sebenar-benarnya taubat... niscaya engkau tidak akan menyesal...”


Lagi-lagi orang tua sok tahu ini membuat Andre bingung. Dia malah menyuruh dirinya untuk betaubat? Aaaahh.. dia berada ditempat yang salah. Ini bukan dunia dia. Bukan disini tempatnya.


“Allah masih sayang sama engkau anak muda.. sekeras-kerasnya batu akan hancur jua.. apalagi hati manusia yang bahan dasarnya bukan lah batu, pasti akan lunak jua...”


Apa maksudnya? Hatinya keras seperti batu? Mungkin iya.. terus apa masalah bagi kau orang tua? Andre hanya bisa mengumpat dalam hati tanpa membalas setiap ucapan kakek tersebut.


“Ampunan Allah itu begitu luas anak muda. Seluas langit dan bumi. Meskipun kau membawa dosa dan kesalahan sepenuh bumi, Allah akan mengampuni dosa mu sepenuh bumi pula. Itu janjiNya. Allah Azza Wa Jalla”


“Lunakkan hatimu. Buang egomu. Kembali bersimpuh dihadapaNya. Memohon ampunan. Meminta maaf kepada orang – orang yang telah kau sakiti. Amanah yang telah kau abaikan. Janji yang telah kau ingkari. kata-kata yang menusuk hati. Ingatlah semua itu akan kau pertanggung jawabkan kelak dihadapan Nya. Apa yang bisa kau pertanggung jawabkan kelak? Dosa-dosa kau akan menjerumuskan kau dalam lubang yang namanya neraka...” jelas kakek itu dengan tegas dan wibawa. Andre menyimak setiap kalimat yang keluar dari lisan kakek asing itu. Tidak dipungkiri hatinya seperti tersirami percikan air yang terasa sejuk mengalir dikalbunya, meskipun hanya sedikit karena lagi-lagi egonya kembali memainkan peran. Egonya itu tidak mau kalah. Tapi yang namanya manusia biasa yang lemah, terbatas dan selalu merasa ketergantungan dengan yang lebih Maha dahsyat, pasti ia membutuhkan kekuatan itu. Itulah yang Andre rasakan saat ini. Rasa sakit dikepalanya yang sungguh luar biasa itu membuat egonya tersingkirkan, hatinya menjadi lunak, batinnya mengeluh dan terucap juga akhirnya dari mulutnya kata-kata yang sudah lama sekali tidak keluar dari mulutnya.


“Ya Allah.. sakit sekali...” desisnya dengan memegang kepalanya yang seakan mau pecah. Tidak pernah ia merasakan sakit seperti ini, seperti ditusuk-tusuk benda tajam, begitu sakit.. sakit..........


“Begitulah rasa sakit yang diderita oleh mereka... yang pernah kau sakiti...” kata kakek itu seakan menyadarkan Andre sepenuhnya bahwa dia sudah salah besar dengan menyakiti dan membuat penderitaan bagi orang tua, adiknya dan juga wanita itu.


“Ahhkkk... sakit sekali ya Allahh...” Andre berteriak. Kuat sekali... dengan masih memegang kepalanya, bahkan memukul-mukul kepalanya sendiri dan sampai akhirnya... badannya seakan lemas... pandangan semakin kabur... Andre tidak sadarkan diri lagi.... dia pingsan cukup lama... setetes air keluar dari matanya... Yach! Cuman setetes.. tapi itu tetesan yang sangat berharga yang keluar dari mata seorang preman garang seperti Andre...


@@@

__ADS_1


__ADS_2