Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 67 (KEBERSAMAAN)


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga mereka berada di tempat bulan madu yang bagus dan indah tersebut, dan dihari ketiga itulah Fitra mengajak Rania untuk berjalan - jalan ke pantai, mereka menghabiskan waktu di pantai dari jam 3 sore sampai menjelang maghrib.


Rania merasa bahagia sekali saat berada di pantai yang menurutnya sangat indah karena maklumlah Rania sangat jarang sekali berpergian jauh apalagi ke tempat seindah ini. Rania belum pernah membayangkan bisa kesini. Oleh karena itulah ia sangat bersyukur Fitra mau mengajak dirinya ke tempat ini.


Mereka berdua berjalan dipinggir pantai dengan pasrir putih itu sambil berbincang - bincang, tangan Rania selalu digenggam erat oleh suaminya itu. Dan terkadang Rania tidak segan menyandarkan kepalanya dibahu Fitra. Namun, hanya sebentar saja karena ia cukup malu juga jika dilihatin dengan orang - orang meskipun dia dan Fitra sudah halal.


Sedang asyiknya mereka berjalan, tiba - tiba saja seseorang memanggil mereka. Ternyata Ustad Foury dan istrinya, Syifa yang memanggil mereka. Padahal mereka tidak janjian dengan pasangan suami istri itu, tapi kebetulan pula bisa ketemu lagi di pantai.


Fitra menyapa hangat ustad Foury setelah itu berhenti sejenak berjalan dan mengobrol dengannya. Begitu juga denagan Rania yang sudah didekati oleh Syifa, wanita bercadar itu langsung saja mengajak Rania untuk duduk di sebuah pondok yang tak jauh dari mereka. Rania mengikuti ajakannya dan berjalan kesana.


Syifa banyak bercerita, ternyata Syifa cukup humoris dan suka bercerita juga menurut Rania. Beda dengan penampilannya yang terlihat sedikit kalem dan tertutup. Tapi rupanya dia sangat terbuka, ia banyak cerita tentang kehidupannya. Sebelum ia menikah dan dilamar dengn ustad Foury, sebenarnya ada beberapa ustad juga yang datang melamarnya. Namun, satu pun dari lelaki itu tidak ada yang berkenan dihatinya.


"Mungkin inilah yang dinamakan jodoh dan takdir ya Rania, semuanya sudah digerakkan dari hati aku. Terasa jelas, dan inshaAllah jika pilihan dari hati tidak pernah salah." ucapnya dengan girang.


Rania juga menanggapi setiap ucapan dari Syifa, mengkaitkannya juga dengan kisah hidup Rania dalam menemukan jodoh terbaiknya. Walaupun diawal Rania pernah punya keyakinan bahwa Fitra lah jodohnya, namun tak dipungkiri saat di pertengahan keyakinan itu runtuh saat ia tahu bahwa Sofa memiliki perasaan juga dengan Fitra. Tapi, ternyata Allah memberikan cobaan dan ujian ke Rania duluan sampai akhirnya Rania dihadiahka lelaki yang memang ia inginkan. Itulah mungkin bentuk kasih sayang Allah karena rasa sabar dan ikhlas yang ia tampakkan. Rania yang tidak pernah menyalahkan siapapun, ataupun mengutuki keadaan. Rania hanya pasrah menerima takdir yang ia yakini bahwa itulah yang terbaik untuk dirinya.


Puas mengobrol, akhirnya waktu maghrib pun akan segera masuk. Ustad Foury mengajak mereka semua untuk sholat di mesjid besar yang ada tak jauh dari pantai. Rania dan Fitra mengikuti ajakan Ustad Foury.


"Setelah sholat, kita makan di restoran. Saya yang traktir." kata Ustad Foury deng tersenyum lebar.


"Ah, ustad. Jangan repot - repot." kata Fitra yang mencoba menolak. Namun, Ustad Foury tidak merasa direpotkan malahan dia senang bisa bersama - sama Rania dan Fitra malam ini meskipun hanya sekedar jalan - jalan di pantai dan makan malam bersama saja.


Adzan maghrib sudah berkumandang dengan merdunya, mereka kemudian mempercepat langkah kaki mereke menuju kemesjid terdekat. Dan Fitra tidak pernah meninggalkan Rania dibelakang, tangan Rania selalu dipimpinnya. MereKa berjalan beriringan menuju kemesjid..

__ADS_1


...❣❣❣❣...


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Rania belum juga bisa tertidur. Sedangkan Fitra yang disebelahnya, sudah tertidur dengan pulas karena kecapean seharian berjalan - jalan.


Rania lalu keluar dari kamar dan berjalan keruang tengah. Setelah sampai diruang tengah, Rania lamgusng menghidupkan televisi. Rania mencoba untuk menonton sejenak, mana tahu saja matanya akan segera mengantuk jika dibawa nonton televisi.


Saat tengah menonton itulah, tiba - tiba saja HP Rania yang terletak di kamar berdering. Deringannya cukup kuat sehingga terdengar sampai diruang tengah. Rania lalu bergegas berlari keatas untuk mengambil ponselnya karena ia takut bunyi deringannya tersebut akan membangunkan Fitra.


Saat Rania membuka pintu, ia kaget ketika melihat Fitra yang sudah bangun dengan handphone Rania ada ditangannya.


"Fitra.. Kamu bangun karena bunyi deringan dari handphone aku ya?" tanya Rania dengan merasa tidak enak.


"Iya, Rania. Kamu dari mana?" Fitra balik bertanya.


"Aku gak bisa tidur, jadi aku iseng aja nonton dibawah." jawab Rania dengan matanya melirik kearah handphone dirinya yang masih dipegang oleh Fitra.


"Ya ngak lah, Fitra. Mana tega aku bangunin kamu yang tidur pulas seperti itu," kata Rania.


"Oya, HP aku itu tadi.. Siapa yang nelpon." akhirnya terucap juga hal itu. Rania sangat penasaran siapa yang mengganggu tidur Fitra malam - malam ini dengan menelponnya.


"Ngak tahu siapa, tadi mau aku angkat. Tapi, belum sempat diangkat sudah mati.." jawab Fitra lalu menyerahkan HP tersebut ke Rania. Kemudian Rania mengecek nomor yang tertera disana, sebuah nomor tak dikenal menelponnya. Kening Rania langsung berkerut, memikirkan siapa gerangan yang sudah menelponnya ini.


"Siapa yang menelpon emangnya, Rania?" tanya Fitra yang juga tidak kalah penasarannya dengan Rania.

__ADS_1


"Ngak tahu Fitra, nomor gak kenal." kata Rania sembari mengangkat bahunya.


"Mungkin orang iseng aja nih." lanjut Rania lagu dan kemudian meletakkan hpnya diatas meja dengan sebelumnya mematikan ponselnya.


"Ya sudah, gak usah dipikirin. Oya, kamu masih belum ngantuk kah Rania?" tanya Fitra seraya memegang tangan Rania yanh sudah duduk juga disebelahnya.


"Masih belum, Fitra." jawab Rania dengan menggeleng - geleng kan kepalanya.


"Ya sudah, akun temani kamu dibawah." putus Fitra akhirnya.


"Ee.. Jangan .. Jangan.. Fitra, Kamu tidur aja. Aku gak apa - apa kok sendirian dibawah." kata Rania menolak halus keputusan dari Fitra tersebut.


"Gak apa - apa sayang, lagi pula rasa kantuk aku juga sudah hilang. Mending kita sama - sama nonton TV dibawah sambil makan cemilan. Makan mi rebus enak juga speertinya ni." kata Fitra yang memberikan ide.


"Oke, aku akan bikinin mie untuk kita. Tapi, aku benar - benar minta maaf ya Fitra gara - gara aku lupa matikan HP aku jadi kamu terbangun deh karena panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal tadi." kata Rania masih merasa bersalah.


"Ngak apa - apa sayang ku, kamu jang merasa bersalah gitu donk." kata Fitra seraya memegang hidung Rania yang mancung itu. Rania hanya tersenyum manis. Dan kemudian, mereka berdua pun turun kebawah. Rania kedapur sebentar untuk memasak. mie rebus requesan dari suaminya tercinta itu. Sedangkan Fitra sudah duduk manis disofa depan TV.


...❣❣❣❣...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2