Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 28 (TAKDIR CINTA 1)


__ADS_3

Meskipun keadaannya belum pulih betul, sore itu Rania memaksakan diri untuk tetap masuk kerja. Kebetulan Rania dinas malam. Raisya sudah berusaha mencegah Rania untuk tidak masuk kerja dulu, tapi Rania tetap bersikukuh ingin masuk karena Rania merasa pikirannya semakin suntuk jika kebanyakan dikamar hanya istirahat saja.


“Ran, jangan kerja dululah... kamu masih pucat gitu pun. Ntar jika dipaksain bisa makin parah lo” kata Raisya mengingatkan. Rania hanya tersenyum tipis.


“Ngak apa-apa Sya, sebelumnya syukron atas perhatian kamu. insyaAllah aku ngak apa-apa kok” Jawab Rania dengan senyum terpaksa dibibirnya.


"Izin aja satu hari Rania, Istirahat dirumah sampai keadaan kamu benar-benar pulih." Kata Raisya kembali menasihati Rania. Namun, Rania tetap bersiap-siap untuk kerja.


"Aku baru masuk satu bulan Sya, Ngak enak jika harus sering-sering izin. Tapi, keadaan aku sudah lumayan baikan kok. Mudah-mudahan malam ini ngak banyak pasien jadi aku bisa langsung istirahat.." Kata Rania.


"Hhmmm... Ya udah dech, kalau kamu bersikeras juga..." Ujar Raisya akhirnya.


Raisya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan terpaksa melepaskan keberangkatan Rania yang masih dalam keadaan sakit itu.


“Hati-hati ya Ran, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku” Ujar Raisya dengan nada khawatir.


“Siip Sya. insyaAllah” jawab Rania.


Diperjalanan menuju keluar gang, Rania merasakan tubuhnya sedikit oyong, tapi tidak dihiraukannya. Ia harus kuat, tekadnya dalam hati.


“Mau tebengan kak?” sebuah  tawaran datang dari seseorang bersepeda motor yang tepat berada dibelakang Rania. Spontan Rania menoleh dan mendapati sosok remaja berseragam SMA yang kini berhenti disampingnya. Remaja itu membuka helmnya dan menatap Rania sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mau barengan sama aku kak? Mau kemana kak?” Tanya remaja lelaki itu. Ditanya seperti itu Rania langsung menggeleng sambil menjawab...


“Oohh.. terimakasih dik, tapi ngak usah. ngak usah repot-repot” Tolak Rania dengan halus. Dan seketika itupun ia menyadari bahwa remaja laki-laki ini adalah salah satu siswa di SMA yang pernah ia isi kajian.


“Ngak repot kok kak. Aku ikhlas kok. Bukankah setiap muslim itu harus saling tolong- menolong kan kak?” ucapnya kemudian masih dengan senyuman ramahnya.


“Ayolah kak, naik... Ikut sama saya, jangan malu-malu kak... ” Paksanya dengan gerakan cepat ia langsung memegang pergelangan tangan Rania.


Rania yang tidak menduga dengan kejadian yang cepat itu Langsung saja refleks menarik tangannya dan berusaha menghindar agak jauh dari remaja yang dia anggap telah lancang dan tidak sopan itu terhadap dirinya.


“Maaf ya. Saya tidak mau, jangan dipakasa dan jangan pula berani-beraninya menyentuh saya. Kita bukan mukhirm” Ucap Rania tegas dan lantang dengan sedikit mengeraskan suaranya, sehingga terkesan agak membentak remaja itu.


“Kenapa sech kak? Niat aku kan baik, kok kakak malah jadi ketus gitu? Aku bukan mau macam-macam kak, Cuman mau ngasih kakak tebengan saja. Karena aku tahu kakak, kak Rania yang selalu memberi kajian di sekolah kami kan?” Tanyanya yang kini terlihat agak kesal.


“Iya, niat kamu memang baik. Namun,  cara kamu yang tidak baik dan tidak benar” jawab Rania langsung.


“Tidak baik dan tidak benar gimana kak? Padahal aku senang lah dengan materi-materi yang kakak sampaikan, sangat menginspirasi, jujur aku jadi kagum sama kakak. Tapi, karena bentakan kakak tadi membuat aku jadi berubah pikiran kak.. Ternyata aku salah menilai kakak.. kak Rania bisa ketus juga ternyata. ya” Katanya dengan nada kecewa.


Sebenarnya Rania sangat ingin menjelaskan kepada remaja ini yang memang belum paham tentang interaksi antara laki-laki dan perempuan didalam islam, akan tetapi ia merasa tidak pantas dan juga karena kondisi badannya yang kurang fit saat ini membuat dia seakan tidak punya tenaga untuk menjelaskannya.


“Lebih baik kamu bertanya pada guru agama mu yang laki-laki apa alasannya, bukan ke saya. Maaf…Saya buru-buru....” Rania langsung bergegas meninggalkan remaja itu, dan tidak dihiraukannya remaja itu berteriak memanggil dirinya.

__ADS_1


"Kak Rania...  tunggu kak, aku belum selesai bicara. Kok main ditinggal aja? Sekarang siapa yang tidak sopan coba?" Teriak Remaja itu.


Rania tidak menjawab ataupun menoleh kebelakang. Rasanya ia pun sangat malas meladeni remaja itu, biarlah dia berpikiran yang aneh-aneh terhadap dirinya.


Saat tiba dipersimpangan, kebetulan ada sebuah angkot yang berhenti dan Rania langsung naik tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.


Didalam angkot, pikiran Rania kembali menerawang. Permasalahannya belumlah usai. Hatinya masih galau, masih bimbang, langkah apa yang mesti diambilnya. Sebenarnya.. jika ingin memilih dia tidak ingin dihadapai dengan masalah seperti ini, tapi apa dayanya sebagai seorang manusia? Ujian ini datangnya dari Allah, mana bisa manusia memilih sesuka hati ujian apa yang harus ia lalui? Jika bisa demikian, mungkin manusia sudah mengantisipasinya, tiada lagi kerisauan dihatinya.


“Abi mau ketemu sama umi...” sebuah sms singkat diterimanya tadi malam. Lelaki dimasa lalunya itu mengajaknya untuk ketemuan. Jika ia tidak menggunakan akalnya saat itu, pasti perasaannya akan menjawab iya dengan senang hati. Tapi Rania bersyukur masih ada keimanan dihatinya, masih ada rasa kekhawatiran dibenaknya, ia masih bisa berfikir, menimbang apakah sebuah pertemuan itu nantinya akan mendatangkan kebaikan atau malah mendatangkan kemurkaan dari Allah?


“Jangan memulai pertemuan yang tidak bermanfaat dengan lelaki yang bukan muhrim mu karena aku khawatir dari mata turun ke hati, dari senyuman membawa ke salam, dari salam cenderung kepada pertemuan dan dari pertemuan takut lahirnya nafsu kejahatan yang akan menguasai diri mu sehingga terjebak di dalam lubang kemaksiatan atas nama kan cinta”


Rania jadi teringat dengan kata-kata tersebut, kata-kata itu didapatinya saat awal-awal ikut kajian dulu. Jika diingat-ingat betapa besarnya perjuangan dirinya dulu dalam menaklukkan perasaannya yang salah itu. Bagaimana giatnya dia berusaha menjauhakan diri dengan yang namanya cinta palsu. Cinta berbalut hawa nafsu. Seluruh pikirannya dialihkan dari itu semua, ia fokuskan untuk mengkaji, belajar, membaca dan manulis. Alhamdullah perjuangannya itu berbuahkan hasil yang baik. Hingga 2 tahun dia mampu bertahan melawan perasaannya. Tapi, ujian keimanan kini tengah menimpanya, Rania tidak boleh kalah. Dulu ia bisa melawannya kenapa sekarang tidak lagi? Yach... Rania berazzam dalam hati dia pasti bisa melalui ujian keimanan ini. Dia bisa melawannya, dia bisa menghadangnya. Ia tidak akan tunduk pada hawa nafsunya tapi sebaliknya dia lah yang akan menundukkan hawa nafsunya itu. Saat itu juga sebuah keyakinan muncul, Rania tau apa yang harus dia lakukan selanjutnya. sambil tersenyum, Rania mengucapkan Basmallah. Semuanya pasti akan baik-baik saja.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2