Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 19 (PROSES PEMILIHAN)


__ADS_3

Panggilan adzan subuh memecahkan keheningan saat itu. Mereka… hamba-hamba pilihan Allah yang tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan tersebut langsung segera menuju masjid. Air yang masih begitu dingin membasahi sebagian anggota tubuh mereka, syaraf-syaraf didalam tubuhpun seakan dibangunkan dari peristirahatan mereka.


Satu persatu orang berdatangan menuju masjid yang lumayan besar di kota tersebut, masjid yang diberi nama Mesjid Ikhlas, yang memiliki harapan agar orang yang datang dan sholat disana bisa bersikap ikhlas dalam menghadapi tantangan kehidupan yang akan, sedang dan telah mereka hadapi.


Seorang Imam masjid di Masjid Ikhlas tersebut telah siap pada posisinya, dan memperhatikan jamaahnya yang lumayan ramai subuh itu. Syukurlah.. setidaknya ini sebagai tanda masih ada manusia yang kuat imannya untuk melawan kantuk yang menguasai diri mereka di subuh yang terasa dingin .


“Saf lurus dan rapikan” ucap imam itu dengan suara pelan tapi tetap terdengar jua hingga ke barisan belakang.


Sedetik kemudian suara merdu dan lantang terdengar dari lisan imam muda tersebut dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, begitu fasih dan nyaris sempurna. Begitu dirindukan oleh makmum yang biasa diimami oleh beliau.


Pada rakaat pertama, Imam muda itu membaca surat Ar-Rahman. Dimana didalam surat tersebut berulang-ulang kali kalimat yang sama di lantunkannya, kalimat yang berasal dari zat yang Maha Kuasa.


“Fabiayyi ‘alaairabbikuma tukajzibaan… maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”


Kalimat tersebut seperti sindiran dari Rabb kepada manusia, Allah hendak menegaskan kepada manusia bahwa sudah begitu banyaknya Allah memberikan kenikmatan bagi manusia selama hidup didunia ini seperti nikmat kehidupan, kesehatan, rezeki dan lain sebagainya yang jika dihitung tidak dapat satu manusia pun yang bisa menghitungnya akan tetapi kebanyakan dari manusia tidak mensyukuri nikmat tersebut, malahan mengingkarinya. Lantaslah Allah selalu mengulang-ulang kalimat tersebut, agar manusia sadar akan nikmat yang telah Allah berikan.


Pada rakaat kedua Imam masjid tersebut membaca surat An-Naba’, yang mengajak manusia untuk merenung sejenak tentang berita besar yang akan menimpa kehidupan mereka. Berita besar tentang akan datangnya hari berbangkit, saat sangkakala ditiupkan. Neraka jahanam adalah tempat bagi mereka yang melampaui batas dan yang mendustakan ayat-ayatNya sedangkan Surga adalah tempat bagi mereka yang bertakwa dan yang memperoleh kemenangan sebagai balasan dari Allah yang memelihara langit dan bumi.


“Assalamu’alaikum, akhi… apa kabar?” Fauzan menyapa Imam masjid tersebut setelah beliau selesai membaca dzikir dan doa panjangnya.


“Walaikumusalam.. Ohh.. Mas Fauzan, Subhanallah… sudah lama tidak jumpa, apa kabar Mas?”


“Alhamdulilah, Luar biasa sehat akhi.. akhi sehat juga kan?”


“Yach. Seperti yang akhi lihat”

__ADS_1


Fauzan berbincang-bincang dengan imam muda yang memang cukup terkenal dikalangan masyarakat yang ikut pengajian di kota tersebut, selain menjadi Imam masjid dan Ustad, beliau juga seorang dosen disebuah universitas islam, beliau mengajar tentang ilmu dakwah.


“Keluarga gimana? Sehat juga kah?” Tanya Imam tersebut kepada Fauzan.


“Alhamdulilah, istri sehat dan anak saya kebetulan lagi kurang sehat. Maklumlah akhi.. lagi lasak-lasaknya jadi sering jatuh, uminya kewalahan menjaganya, tapi tetap sabar kok” cerita Fauzan. Imam muda itu tersenyum, tergambar dari parasnya betapa dia juga ingin merasakan kenakalan si buah hatinya kelak.


“Afwan sebelumnya akhi, apa benar beberapa hari yang lalu akhi ada mengkhitbah seorang akhwat?” Tanya Fauzan.


“Ya. Benar” Jawabnya.


“Nah, kebetulan akhi.. saya yakin akhi pasti ingin secepatnya mendapat jawaban dari akhwat tersebut kan?”


“Ahh.. akhi Fauzan sok tahu ne” ucapnya sambil bercanda.


“Tergambar dari wajah akhi kok” kata Fauzan seakan menggoda. Imam masjid itupun semakin tersipu malu.


“Masa’?” tanyanya seakan tidak percaya.


“Benar. Kebetulan akhwat yang akhi khitbah adalah teman satu halaqohan istri saya. Dan.. nanti sekitar jam 7an mereka akan kesini. Ukhti Nazwa akan langsung memberi jawabannya kepada akhi”


“Subhanallah. Kabar bahagia sekaligus mengejutkan akhi Fauzan.” Komentarnya dengan bahagia. Setelah itu, menjelang sinar matahari muncul mereka mengisi waktu dengan Tadabbur Al-Quran, diikuti dengan beberapa jamaah yang belum pulang. Ditengah tadabur Al-Quran, imam dan sekaligus ustad tersebut tiada henti-hentinya berdoa dalam hati.


‘Semoga Nazwa jodohku’ ucapnya yang ternyata adalah ustad Foury. Lelaki berwajah arab dan lulusan kairo yang telah mengkhitbah Nazwa beberapa hari yang lalu.


***

__ADS_1


“Kamu udah siapkan jawabannya kan Naz?” Tanya Sarah diperjalanan menuju Mesjid Ikhlas. Pagi-pagi sekali Sarah sudah datang kekosan Nazwa dan menjemputnya, mereka pergi menggunakan mobilnya Sarah.


“InsyaAllah, kak” jawab Nazwa mantap. Kendati pun begitu tetap hatinya masih menyimpan sedikit ketidaktenangan, dia takut keputusannya ini akan membuatnya nyesal kelak, tapi Nazwa kembali menumbuhkan keyakinan dihatinya, dia sudah sholat isthikarah sekitar 5 kali dan hasilnya tetap sama, dia semakin yakin inilah petunjuk dari Rabbnya.


“Semoga jawabanmu nanti adalah jawaban yang terbaik untuk kamu dan ustad Foury Nazwa, kakak yakin.. apapun keputusan kamu.. itu datangnya dari Allah. Baik kamu ataupun Foury harus bisa menerimanya”


“Iya kak” jawab Nazwa.


Perjalanan yang hanya butuh waktu 10 menit itupun akhirnya berakhir, Nazwa dan Sarah turun dari mobil dan langsung berjalan menuju kedalam masjid. Didalam masjid sudah sepi. Hanya ada sekitar 5 orang dan salah satu diantara mereka adalah Fauzan dan Foury yang telah siap menyambut kedatangan mereka berdua.


Nazwa melangkah pasti. Tanpa ada sedikitpun keraguan. Meskipun hatinya agak bergetar ketika pandangan Ustad Foury sempat tertangkap dimatanya. Pandangan penuh harap dan penuh cinta. Terlihat jelas di sinar mata Ustad tersebut.


Setelah dekat, mereka semua saling sapa. Ustad Foury menanyakan kabar Nazwa, Nazwa menjawab baik-baik saja. Kemudian mereka duduk, Nazwa duduk disamping Sarah. Ia tidak berani mengangkat kepalanya, sedari tadi ia hanya menunduk. Sejurus kemudian, Fauzan membuka pembicaraan, menjelaskan inti persoalan pagi itu karena ia paham betul situasi saat tersebut, situasi yang membuat suasana menjadi tegang jika terlalu lama dibiarkan.


“Ukhti Nazwa, saya rasa sudah bisa diberi jawaban sekarang. Ustad Foury sudah menunggu jawaban ukhti” ucap Fauzan.


Nazwa menarik nafas panjang. Inilah saatnya dirinya berbicara. Ia tidak boleh terlihat tegang, rileks.. rileks.. Nazwa membisikkan pada dirinya sendiri.


“Setelah melalui sholat istikharah sekitar 5 kali, dan tetap hanya ada satu petunjuk yang muncul dan hanya ada satu jawaban yang akan diberikan. Jawabannya adalah… Hhhmmm… saya……… menolak pinangan ustad Foury…. Maaf…. Beribu kali maaf ustad….” Ucap Nazwa dengan lantang dan jelas.


Jawaban tegas dari Nazwa tersebut membuat ketiga manusia yang mendengarnya itu menoleh ke Nazwa secara serentak. Terlihat raut wajah Sarah dan suaminya Fauzan kecewa dan berharap Nazwa salah dan menarik ucapannya barusan. Begitu juga Foury, wajahnya langsung murung, menunduk sambil beberapa kali menarik nafas panjang dengan mulut yang komat kamit, entah apa yang diucapkannya.


“Kamu udah yakin Nazwa?” Tanya Sarah untuk menyadarkan Nazwa bahwa keputusannya itu keliru.


“Yakin kak. Sangat yakin” mendengar ucapan keyakinan yang keluar dari lisannya Nazwa membuat pasangan suami istri itupun menyerah, tidak lagi menanyakan kepada Nazwa.

__ADS_1


“Ya sudah. Tidak apa-apa ukhti” jawab Ustad Foury akhirnya setelah mampu menguasai diri dan membuang rasa kecewanya meskipun belum seluruhnya tapi ia mencoba untuk bisa menerima keputusan Nazwa. Mungkin Nazwa bukanlah jodohnya. Mungkin jodohnya masih jauh, ataupun sudah dekat tinggal masalah waktu saja, Foury berusaha menghibur hatinya yang gundah akibat penolakan dari Nazwa tersebut.


***


__ADS_2