Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 68 (AKHIR CERITA)


__ADS_3

Tidak terasa waktu seminggu berlalu dengan begitu cepat, Rania dan Fitra kini kembali pulang kerumah. Mereka dijemput oleh kedua orang tuanya Fitra.


Sesampainya di rumah, orang tua Fitra menyuruh Rania untuk bersitirahat saja didalam kamar Padahal Rania baru saja ingin ke dapur untuk membantu Mama Fitra yang lagi membut kue.


"Gak usah dibantuin Rania, kamu kan baru pulang dari perjalanan jauh. Pasti kecapean kan? Sudah.. Kamu istirahat saja didalam kamar ya." kata Mama Fitra dengan halus dan lembut. Rania dapat merasakan perhatian dan juga kasih sayang baru mertuanya itu. Rania diperlakukan dengan sangat baik dirumah ini. Bahkan seperti ratu, tidak boleh sedikitpun melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring ataupun menyapu. Terkadang Rania merasa tidak enak saja, karena dia sudah biasa melakukan itu semua jadi jika dimanjakan seperti ini membuat Rania menjadi gelisah tak menentu.


"Ngak apa - apa sayang, kalau ada mama dirumah kamu jangan mengerjakan apapun. Nantik jika Mama gak dirumah, dan kamu ingin juga melakukan sesuatu,, yasudah kamu lakukan saja sayang. Yang penting hal itu buat kamu senang." kata Fitra dengan memberi saran saat Rania mengadukan perihal tersebut.


Keesokan harinya, Rania dan Fitra kembali masuk kerja. Pagi itu, Rania berangkat kerumah sakit bersama Fitra dengan menggunakan mobil mewah lelaki itu. Saat telah sampai dirumah sakit, semua mata tertuju ke mereka. Mata pegawai maupun staf rumah sakit yang kebetulan ada juga diparkiran. Mereka melihat Rania dan Fitra dengan tatapan segan dan juga tersenyum lalu menyapa mereka berdua dengan sangat ramah.


Karena pesta pernikahan Fitra yang viral kemarin, barulah semua orang tahu siapa Fitra dan Rania sebenarnya. Karena selama ini banyak yang tidak mengetahui bahwa Fitra adalah anak dari si pemilik rumah sakit, dan begitu dengan Rania yang merusak calon menantu keluarganya kaya raya itu. Setelah mereka tahu, rasa kagum dan segan itu pun muncul saat tak sengaja ataupun sengaja bertemu dengan pasangan suami istri tersebut.


Saat ruang VK tempat Rania bertugas, teman - teman satu kerja Rania pun menjadi sangat baik padanya. Mereka mendekati Rania dan bicara lembut terhadap wanita itu. Rania memakluminya, begitulah jika kita memiliki jabatan dan kedudukan yang bagus pasti orang - orang akan mulai mendekati kita. Begitulah yang Rania rasakan saat ini. Kehidupannya sperti berubah 180 derajat. Namun kendatipun demikian, Rania tidak ingin larut dan terlena dengan ini semua, keberuntungan nya saat ini tidak serta merta membuat Rania menjadi sombong dan berbesar hati. Tapi, sebaliknya membuat Rania semakin bersyukur dan bersikap sederhana. Apa adanya, seperti Rania yang sebelum - sebelumnya. Karena bagi Rania, tidak ada yang perlu dibangga - banggakan karena semua itu tidaklah kelak abadi, semua hanya titipan yang tidak akan kita bawa mati.


Rania ingin selalu ingin memperbaiki dirinya setiap saat, dn juga mengintropeksi ibadah yang ia lakukan selama ini. Apakah sudah sempurna atau masih jauh dari kata sempurna? Dan satu hal lagi yang membuat Rania bahagia bersama Fitra adalah, lelaki itu selalu membuat Rania semakin semangat dalam beribadah. Fitra bukan hanya bisa membimbingnya, tapi juga mengayomi nya dan mencontohkannya segala hal baik dalam urusan ibadah dan berumah tangga. Rania merada bm sangat beruntung bisa bersuamikan Fitra, Suaminya yang sellau mengingatkannya kepada sang Pencipta.


...❣❣❣❣...


Dua minggu kemudian...


Saat Rania bangun dari tidurnya, tiba - tiba saja ia merasa mual dan pusing. Mual yang semakin kuat bahkan ingin muntah. Rania melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 5 subuh.


Kebetulan subuh itu Rania sendirian saja dikamar, karena Fitra lagi masuk dinas malam dan pulang jam 8 pagi nantik. Rania kemudian mencoba untuk bangkit, namun badannya entah mengapa menjadi tidak enak. Seperti panas dingin, meriang, tapi Rania raba dahinya tidak panas. Namun, kepalanya nyut - nyutan, sudah lama Rania tidak sakit kepala seperti ini.

__ADS_1


Karena mual tak tertahan lagi bahkan rasa ingin muntah, maka Rania pun bergegas menuju kekamar mandi. Ia muntah, mengeluarkan cairan bening yang kental dari mulutnya. Rania beristighfar berkali - kaki, rasanya tidak enak sekali. Perutnya pun terasa kram, entah kenapa. Apa aku salah makan? pikir Rania dan mencoba mengingat - ingat apa saja yang ia makan tadi malam.


Setelah selesai sholat subuh dan mandi, Rania baring lagi sejenak. diatas tempat tidurnya. Seharusnya ia siap - siap dinas pagi hari ini, tapi karena keadaannya yang tidak memungkinkan maka Rania pun memilih untuk istirahat saja dirumah dan minta digantikan dengan bidan yang lain.


Rania kemudian meminum obat dan vitamin yang ada disimpannya didalam kamar, setelah itu tanpa direncanakan Rania malah tertidur.


Beberapa saat kemudian, Fitra pulang dengan bergegas masuk kedalam kamar.


"Rania, sayang...?" kata Fitra seraya mengelus - elus dahi Rania. Dan Rania langsung sadar.


"Kamu sudah pulang Fitra?" tanya Rania dengan suara yang parau.


"Iya aku buru - buru pulang karena khawatir sama kamu, kamu gak angkat telpon aku sejak tadi terus kata teman kamu, kamu gak masuk hari ini ya?" kata Fitra dengan risau.


"Iya, gak apa - apa sayang. Kamu gak perlu minta maaf, tapi.. Kamu sakit apa? Minum obat apa tadi?" tanya Fitra masih dengan nada risau.


"Aku mual muntah Fitra, pusing juga, dan perut bagian bawah sedikit kram." ungkap Rania yang menjelaskan kondisi tubuhnya. Mendengar penjelasan Rania barusan, membuat Fitra langsung tersneyum lebar. Tentu saja senyum yang ditampakkan Fitra itu membuat Rania heran.


"Kenapa?" akhirnya Rania bertanya.


"Kamu sudah telat haid berapa minggu sayang?" tanya Fitra. Rania langsung berpikir panjang, mengingat bahwa ternyata ia memang sudah telat haid tapi tidak ingat sudah berapa lama.


"Kamu gak ingat? Yasudah, kamu tespeck sekarang ya." suruh Fitra seraya menyerahkan tes kehamilan yang ia ambil dari dalam lemari.

__ADS_1


Rania menurut saja dan kemudian berjalan pelan menuju kamar mandi, Fitra menunggunya diluar dengan hati yang harap - harap cemas.


Beberapa menit kemudian, Rania keluar dengan hasil yang sudah terpampang nyata disana.


"Fitra..." lirih Rania dengan suara yang pelan.


"Iya, bagaimana? Bagaimana hasilnya sayang? Positif atau negatif?" tanya Fitra dengan sangat penasaran.


Rania lalu mengarahkan tanda garis dia itu tepat didepan mata Fitra, senyuman manis sudah mengembang disana.


"Positif, Alhamdulilah..." ucap Rania dengan wajah yang bahagia.


"MasyaAllah, Alhamdulillah..." ucap Fitra dengan penuh rasa syukur setelah itu memeluk erat tubuh istrinya tersebut.


Fitra tiada henti mengucapkan rasa syukur, karena Allah telah menganugerahkan sebuah janin, buah hati dan cinta mereka berdua di rahimnya Rania. Allah telah mempercayai mereka untuk memiliki bayi dalam waktu dekat ini.


...❣❣❣❣...


-END-


.


.

__ADS_1


__ADS_2