Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 16 (DILAMAR 2)


__ADS_3

Ketidaktenangan hati Rania berlanjut ditempat kerjanya, kebetulan hari itu ia dinas pagi. Dan kebetulan juga ada pasien yang akan bersalin dan Ranialah yang menunggu pasien tersebut.


Rasa kantuk yang kian parah menderanya pagi itu, ia pun teringat tadi malam ia hanya tidur 2 jam saja, itupun sebentar-sebentar terjaga dari tidurnya.


“Ran, kamu kok lesu?” sapaan dari Silla, teman satu dinasnya pagi itu membuat Rania hanya tersenyum tipis.


“Oya, udah bukaan berapa ne pasien?” tanyanya lagi.


“6 jalan 7” jawab Rania sambil mengelus-elus pinggang pasiennya yang kelihatan sakit sekali.


“Ooh... kalau dah lengkap panggil aku aja ya diluar?” ucap Silla sambil beranjak pergi dari sana.


Rania hanya diam, sudah menjadi tradisi mungkin ya setiap anak baru harus mendapat perlakuan yang berbeda dari yang lainnya. Rania merasakan betul bagaimana jadi anak baru itu tidaklah menyenangkan apalagi didunia kerja ini. Semua tugas ditimpakan kepadanya padahal itu bukan tugasnya, bukan tanggung jawabnya, Rania hanya bisa bersabar, berusaha ikhlas dan memetik hikmah yang ada dibalik itu semua.


“Tarik nafasnya ya buk... istighfar....” support Rania terhadap pasiennya itu. Menjalani tugas sebagai seorang bidan ini membuat Rania lebih banyak merenung. Merenungi akan pengorbanan seorang ibu dalam melahirkan anaknya didunia ini, sakitnya luar biasa sekali. Meskipun Rania belum pernah merasakan tapi ia bisa menilainya, bisa melihat bagaimana rasa kesakitan itu tergambar dari wajah mereka. Jadi pantaslah seorang ibu itu 3 kali lebih dihargai ditimbang ayah. Rasulullah Saw. Pernah ditanya oleh seorang sahabat, ‘wahai Rasulullah siapakah didunia ini yang lebih pantas aku pergauli dengan baik? Dan Rasulullah menjawab ibumu, sahabat itu bertanya siapa lagi? Ibu mu jawab Rasulullah, sahabat bertanya lagi, siapa lagi ya Rasul? Ibu mu, dan terakhir baru ayah mu...’


Jadi jelaslah pengorbanan seorang ibu itu sangat besar, maka tidak salah pula surga itu terletak dibawah kaki ibu karena menimbang pengorbanan seorang ibu tersebut. Mengingat itu membuat Rania jadi rindu terhadap ibunya yang jauh disana, sudah setengah tahun dia tidak pulang kekampung halamannya, bertemu ibu, ayah dan 2 adiknya yang masih berseragam SMA. Ingin rasanya ia pulang untuk melepas rindu, akan tetapi kuliah dan pekerjaannya ini belum bisa ditinggalkan. Kuliahnya sudah memasuki semester akhir dan sebentar lagi akan diadakan ujian semester sedangkan didunia kerjanya, dia baru bekerja 2 bulan dan masih dalam masa training jadi mana mungkin diberi cuti.


“Kok ngelamun Mbak?” sapaan dari salah seorang keluarga pasien membuyarkan lamunan Raina tentang keluarganya.

__ADS_1


“Oohh.. maaf bang....” ucap Rania dengan rasa bersalah, sepertinya suami pasien itu tengah bertanya padanya tapi tak ia tanggapi karena lamunannya itu.


“Kira-kira berapa lama lagi ya mbak anak saya lahirnya?” tanyanya.


“InsyaAllah.. secepatnya bang, itu semua tergantung seberapa kuat sakitnya. Tadi udah diperiksa dan pembukaannya udah 6 jadi tinggal 4 pembukaan lagi” jelas Rania.


“Oohh.. gitu ya...”


Dan tidak sampai 1 jam bayi pasien itupun lahir. Rania dan Silla yang menolong proses persalinan tersebut, meskipun masih baru tapi masalah tindakan Rania sudah tergolong bisa meskipun belum semahir dan terlatih seperti Silla yang memang sudah 2 tahun bekerja dirumah sakit tersebut.


Rania memperhatikan raut kebahagiaan dari kedua wajah pasangan suami istri tersebut dalam menyambut kelahiran buah hati mereka. Terasa lengkap hidup mereka setelah lahirnya bayi mungil yang bersih dan suci tanpa noda. Pasiennya itu sudah menjadi seorang ibu dan entah kenapa melihat kebahagiaan mereka membuat pikiran Rania menerawang lagi, naluri sebagai wanitanya pun tiba-tiba muncul, ingin merasakan menjadi seorang ibu pula. Tapi, tidak mungkin kan dia bisa menjadi seorang ibu jika tidak menikah? Kata – kata menikah yang terangkai dipikirannya membuat ingatannya kembali kepada lamaran ustad Foury terhadapnya, sampai detik ini ia masih menggantungkan ustad berwajah arab itu, dan hingga detik inipun dia belum memperoleh petunjuk, dia masih bimbang apakah menerima pinangan itu atau malah menolaknya?


“Ran... ada kak Sarah tuh nyariin kamu diluar” kata Selly


Diluar ruangan bersallin Rania menemui kak Sarah yang memang sudah 2 tahun bekerja dirumah sakit tersebut sebagai dokter.


“Kak, ada apa?” tanya Rania. Karena ngak mungkin kak Sarah mau repot-repot nyusul dia kelantai atas kalau ngak ada keperluan yang mendesak kali.


“Ran, benar ustad Foury melamar kamu?” Tanya kak Sarah.

__ADS_1


Pertanyaan kak Sarah yang tiba-tiba itu membuat wajah Rania tersipu malu, dia hanya menunduk sambil mengangguk.


“Terus jawaban kamu?” tanya kak Sarah lagi dengan senyum penuh arti.


“Belum ada jawaban kak.”


“Loh.. kenapa? Naz, ustad Foury menitipkan pesan ke suami kakak agar menanyakan ke kamu mengenai jawaban itu, kalau bisa secepatnya Ran soalnya Ustad Foury mau balik lagi ke kairo mengurus skripsinya”


“InsyaAllah, besok udah ada jawabannya kak. Nazwa usahain”


“Ya sudah, besok kamu telpon kakak aja ya? Dan saran dari kakak Naz... hhmmm... kamu termasuk wanita yang beruntung bisa dilamar oleh ustad muda seperi ustad Foury. Karena menurut cerita suami kakak... udah banyak akhwat yang menawarkan dirI agar di khitbah sama ustad foury, tapi semuanya di tolak... karena dia udah lama jatuh hati sama kamu Nazwa...”


Tidak dipungkiri Penuturan kak Sarah barusan membuat hati Nazwa menjadi berbunga-bunga, wajahnya mungkin berubah merah karena malunya atau bahagianya. Tapi, apa iya? Jika pun iya kenapa dia harus menunda-nunda untuk memberi jawaban tersebut? Rania jadi ingat orang tuanya, tadi ia juga sempat menelpon ibunya dan meminta saran mengenai masalah ini, ibunya menyerahkan semua kepetusan kepada Nazwa karena beliau yakin Nazwa sudah dewasa dalam mengambil keputusan, siapapun pilihan Nazwa ibu dan ayahnya akan ridho.


“ya sudah...kakak kebawah dulu ya Naz..”


“iya kak...”


Sepeninggalan kak Sarah, Nazwa kembali dilanda kebingungan. Sepertinya malam ini dia benar-benar harus khusuk sholat istikharahnya, malam ini harus ada jawabanya, ya harus....

__ADS_1


Adzan Zuhur berkumandang, memecahkan kegalauan hati yang Nazwa rasakan. Dengan penuh semangat Nazwa segera memenuhi panggilan itu dan turun kebawah menuju Mushola dan sebelumnya telah berpamitan dulu sama Selly.


Setibanya di mushola, sudah ramai orang-orang yang berdatangan untuk mengerjakan kewajiban sholat dzuhurnya, baik itu pasien maupun tenaga kesehatan. Tidak sengaja Pandangan Rania terpaku pada sosok lelaki berbaju putih sedang menanggalkan sepatunya, penampilannya begitu rapi dan tampak mempesona, rasanya Rania pernah melihat lelaki tersebut tapi ia lupa kapan dan dimana? Dan... tanpa sengaja lelaki yang dipandang itu melihat tepat kearahnya, pandangan merekapun beradu, Rania buru-buru mengalihkan pandangannya tapi sepertinya sia-sia karena laki-laki itu terlanjur menyadarinya dan tersenyum begitu manis kepadanya....


__ADS_2