
Fitra melihat dirinya tengah diperhatikan, mata bulat nan indah itu seakan menyihirnya, pandangan mata yang dalam itu seakan menyapa dirinya. Dia hanya bisa membalas sapaan itu lewat senyuman ikhlas yang menyegarkan bagi siapapun yang melihatnya.
“Haii.. melamun aja!” Randi, teman satu dinasnya Fitra memukul pundak Fitra.
“Lagi mikirin apa Fit?” Tanya Randi.
“Bidadari” jawab Fitra dengan senyum mautnya.
“Hahahaha… Bidadari surga mu itu? Gimana udah ketemu rupanya?”
“Doakan aja secepatnya Ran”
“Aamiin, mudah-mudahan. Aku yakin lelaki seperti mu pantas mendapatkan wanita atau bidadari yang seperti kamu bilang, bidadari suci yang dirindukan surga, yang tidak pernah disentuh oleh siapapun” ucap Randi.
“Kamu terlalu berlebihan Ran,”
“Loh.. ini bukan berlebihan, tapi ini sebuah keharusan.” Jawab Randi sok dewasa.
Pikiran Fitra menerawang, betul juga kata Randi dia memang pantas mendapatkan bidadari yang suci sebagai hadiah bagi dirinya yang juga sudah mampu menjaga kesuciannya hingga detik ini. Dia selalu yakin dengan janji Allah yang mengatakan “lelaki yang baik itu untuk perempuan yang baik pula” dan seperti kalimat yang pernah ia baca bahwa jodohmu adalah gambaran dirimu, jika baik akhlak mu maka baik pula akhlak jodohmu. Oleh karena itu, Fitra ngak pernah risau dalam mencari jodohnya, ia lebih memfokuskan diri dalam memperbaiki akhlaknya menjadi akhlakul karimah.
***
Di tempat yang berbeda tampak segerombolan laki-laki sedang duduk disebuah warung sedang menikmati kopi dan permainan domino mereka. Mereka berjumlah 7 orang dan duduk dalam posisi membentuk lingkaran, salah satu dari mereka tampak sedang menikmati rokok terakhirnya yang tinggal setengah, asap rokok tersebut terbang mengitari mereka.
“Aaahhkk… sialan juga tu bocah, berani-beraninya dia datang kerumah dan mencelakai Nisa adikku” ucap lelaki yang merokok tersebut, melampiaskan kekesalannya dengan membuang kasar rokok yang tinggal setengah itu ke tanah.
“Mau ngapain dia Dre?” Tanya Jack tanpa memandang, pandangannya fokus ke permainan domino yang tengah mereka mainkan.
“Mau ngapain lagi kalau bukan mencari aku, tapi kebetulan malam itu aku lagi tidak dirumah. Adikku, Nisa yang jadi sasarannya” Ucap Andre dengan geramnya.
“Kita balik hajar aja tu bocah Dre” ucap temannya yang lain.
“Pasti. Tinggal menunggu tanggal mainnya saja!” kata Andre.
Andre menghabiskan kopinya yang tinggal sedikit itu, pikirannya sekarang tidak lagi ke permainan domino yang tengah dimainkan teman-temannya. Pikirannya menerawang mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia berhasil menghancurkan kehidupan seorang wanita. Dia telah meninggalkan luka yang dalam bagi wanita itu, membiarkan wanita itu mencintainya secara berlebihan, berpura-pura mencintai yang padahal ada maksud terselubung dibalik itu semua. Setelah apa yang menjadi tujuannya didapati, dengan mudahnya ia mengatakan good bye kepada si wanita yang sudah terlanjur menyayanginya. Itulah hobbynya, itulah jalan hidupnya. Dia tidak lagi menggunakan perasaannya, mungkin tidak ada lagi tersisa barang sedikitpun hati nurani yang menyimpan rasa kasihan atau rasa kasih sayang terhadap orang lain. Semuanya hancur karena egonya dan yang jelas semua terjadi karena ia terlalu memperturutkan hawa nafsunya ditambah lagi iman didadanya pun sudah mulai punah.
“Terus, apa rencana mu Dre?” Tanya Jack lagi.
__ADS_1
“Menghajarnya dan membuatnya jera biar dia tidak berani lagi membalas dendam kepada aku.” Jawab Andre dengan geram.
“Caranya?”
“Kita lihat saja nanti, anak ingusan seperti dia sangat mudah sekali untuk dibasmi” ucap Andre dengan sombong sambil tersenyum sinis. Didalam pikirannya sudah terancang dengan sempurna apa yang akan dia lakukan untuk menghajar orang yang dimaksud.
Mereka meneruskan permainan mereka sampai tengah malam tanpa mempedulikan begitu banyak waktu yang telah mereka buang sia-sia untuk hal yang tidak bermanfaat seperti itu, berapa banyak kewajiban yang mereka tinggalkan, mereka tidak peduli, mereka merasa itulah kesenangan duniawi yang selalu mereka idam-idamkan.
“Buka pintu, Nisaa… Nisaa…”
Tepat pukul 01.00 dini hari Andre pulang dalam keadaan mabuk dan menggedor-gedor pintu rumahnya, membangunkan adiknya Nisa.
“Ya Allah, abang… mabuk lagi? Masya Allah, mau sampai kapan bang?”
Nisa tidak mampu membendung air matanya yang akhirnya tumpah, bukan sekali dua kali dia mendapati abangnya seperti ini jika pulang, hampir tiap hari malahan dan hampir tiap hari pula dia menangis tanpa bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.
“Berisik kamu, awas… aku ngantuk, mau tidur!!” Andre masuk kerumah dengan tubuh yang sempoyongan. Nisa membantu abangnya tapi niat baiknya itu malah ditangkis dengan kasar oeh abangnya. Nisa hanya terdiam.
“Ya Allah…” desis Nisa.
Akan tetapi, pernah suatu hari abangnya itu berubah. Saat dia mulai mencintai seorang wanita, Nisa tahu betul bagaimana wanita itu mau menerima abangnya dengan syarat abangnya harus berubah. Meninggalkan kebiasaan buruknya dan lebih bisa menjaga sikapnya dalam perkataan dan perbuatan. Wanita itu membuat abangnya menjadi laki-laki lembut dan penuh perhatian, termasuk pada dirinya. Dia semangat dalam bekerja, tidak pernah keluyuran dimalam hari dan meninggalkan teman-teman maksiatnya itu.
Tapi sayang, beribu kali sayang. Semuanya tidak bertahan lama. Tidak sampai satu tahun, abangnya berubah kembali menjadi liar, bahkan semakin liar lagi dan yang paling gilanya ia tega menyakiti wanita yang telah setia menemaninya, yang sabar, yang mau menerimanya dan yang sangat mencintainya itu. Nisa benar-benar tidak habis pikir dimana letak akal sehat abangnya saat itu?
Tiba-tiba Nisa teringat dengan wanita berwajah dan berhati lembut itu. Dimanakah dia sekarang? Dulu dia sering kerumah, sering membantu Nisa membuat kue untuk dijualkan disekolah-sekolah, selalu menghibur Nisa dengan mutiara kata yang keluar dari mulutnya. Nisa tahu betul betapa wanita itu sangat mencintai abangnya. Abangnya sungguh beruntung, tapi sekali lagi kenapa abangnya begitu bodoh dan tega meninggalkan wanita sebaik itu? Apa yang ada dalam pikiran abangnya? Sampai detik ini Nisa belum tahu jawabannya.
***
Keadaan Sofwa semakin membaik, sakit kepala yang selalu dikeluhkannya sudah mulai berkurang dan dokterpun sudah membolehkannya untuk pulang. Pagi itu Raihan sibuk mengurus adminstrasi Sofwa, sebenarnya dia senang Sofwa sudah boleh pulang tapi yang jadi masalahnya saat ini adalah dia harus memutar otaknya untuk mencari biaya rawatan dirumah sakit yang lebih kurang 1 bulan itu.
“Aku harus pinjam ke siapa Yo? Uang yang harus ditebus itu tidak sedikit, kamu tahu sendirilah aku kerja sambil kuliah, yang ku dapat saat ini aja hanya cukup untuk kebutuhanku sendiri saja”
“Kamu cari pinjaman dulu lah Han, kalau aku.. jujur sampai detik ini pun aku masih minta sama orang tuaku, jadi aku hanya bisa bantu ala kadarnya aja sobat”
“Iya, tapi mau pinjam ke siapa ya Yo? Menurut kamu siapa ?” Tanya Raiahn
“Ehemmm….siapa ya….” Tio seperti sedang berfikir panjang.
__ADS_1
“Nah… pinjam sama perawat yang dekati Nayla kemaren itu aja Han, gimana?”
“Fitra maksud kamu?”
“Yoi. Emang ada lagi perawat yang lain?”
“Ya udah, Aku coba nantik”
Hari itu juga Raihan langsung menemui Fitra di ruang pegawai. Tapi kebetulan pagi itu bukan shifnya Fitra, Fitra masuk malam. Raihan meminta alamat lengkap rumahnya Fitra dan langsung meluncur kesana bersama Tio.
Sesampainya ditempat tujuan, betapa takjubnya mereka ketika melihat rumah mewah milik keluarganya Fitra. Raihanpun seperti mendapat sinyal yang positif, dia yakin pasti Fitra mau membantunya karena ia tau persis perhatian perawat itu terhadap Nayla begitu besar dan beribu keyakinan juga bersemayam dihatinya bahwa perawat itu menyimpan rasa terhadap Nayla, begitu pula sebaliknya.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumusalam, Oohh.. Raihan, Tio… ayo masuk…” Ucap Fitra ramah setelah menyadari siapa tamu yang mengucapkan salam diluar sana.
“Maaf kami mengganggu Ra.” Kata Raihan sedikit segan.
“Sama sekali tidak, oya.. mau minum apa? Aku ambilin dulu ya? Santai aja dulu” Fitra berlalu menuju kedapur.
“Beruntung jika Nayla mendapatkan lelaki seperti Fitra. Sudah tampan, baik hati, kaya lagi” celetuk Tio yang djawab dengan anggukan oleh Raihan. Beberapa menit kemudian Fitra datang membawa 2 gelas minuman dingin beserta makanan ringan.
“Diminum dan dimakan kuenya akhi…”tawar Fitra.
“Maaf, Jadi merepotkan kamu Fitra. Sebenarnya… maksud kedatangan kami kesini.. Mmm…” Raihan kelihatan sedikit ragu untuk meneruskan kalimatnya, Fitra seakan mengerti dengan kondisi tersebut.
“Tentang Sofwa ya?” Tebak Fitra. Raihan dan Tio menggangguk berbarengan.
“Ada apa dengan Sofwa? Bukannya dia sudah sembuh dan akan segera pulang?”
“Alhamdulillah .. iya, tapi.. itulah masalahnya…” kata Raihan. Fitra semakin tidak mengerti maksud arah pembicaraan Raihan tersebut, dan Tio yang disamping Raihan agak sedikit geram melihat ketidakberanian Raihan untuk mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka.
“Masalah biaya Fitra” ucap Tio tiba-tiba. Raihan menunduk.
“Ooh masalah biaya ya, InsyaAllah.. aku bisa bantu. Berapa emangnya biayanya?” Tanya Fitra dengan santai yang membuat Raihan dan Tio terperangah dan juga sungguh bersyukur. Lengkap sudah pujian untuk diri Fitra. Raihan semakin antusias menjodohkan Fitra dengan adiknya, Nayla.
***
__ADS_1