
Beberapa hari kemudian...
Sofwa tengah berberes didalam kamarnya, tiba - tiba saja Raihan datang dan masuk kedalam kamar Sofwa.
"Sofwa," panggil Raihan dengan suara yang cukup kencang sehingga membuat Sofwa sedikit kaget.
"Iya, Bang Raihan? Bikin kaget saja." lirih Sofwa dengan memegang bagian dadanya.
"Kamis dengan ngapain?" tanya Raihan yang kini sudah duduk dipinggir ranjangnya Sofwa.
"Ini lagi beres - beres baju yang berserak, mau diletakkan kembali kedalam lemari." jawab Sofwa.
"Kenapa emangnya Bang?" tanya Sofwa dengan hefan karena ia juga mendapati wajah abangnya itu terlihat sdikit murunh.
"Ada masalah ya bang?" tanya Sofwa lagi dengan nada risau.
"Tidak, tidak ada masalah kok. Cuman.. Bang Raihan cuman lagi berpikir saja." kata Raihan kemudian menarik nafas panjang.
"Berpikir tentang apa, Bang?" todomh Sofwa ke abangnya yang berbicara terputus - putus.
"Bang Raihan berpikir bagaimana kalau kamu sudah menikah dengan Andre, pasti kamu akan meninggalkan rumah ini ka. Abang cuman merasa kesepian aja nantiknya jika kamu tidak lagi tinggal dirumah ini." ungkap Raihan yang mengutarakan kegundahan hatinya itu.
Memang beberapa yang lalu Andre datang kerumah menemui Raihan dan juga ibu mereka, dengan maksud untuk melamar Sofwa dan menjalin hubungan lebih serius lagi yaitu ikatan pernikahan. Tentu saja keluarga Raihan dan juga Sofwa menerima lamaran tersebut. Karena menurut Raihan, bagus Sofwa menikah dengan Andre secepatnya agar tidak menimbulkan fitnah dari masyarakat sekitarnya.
"Hhhmmm.. Jadi bang Raihan maunya gimana? Apa bang Andre maunya Sofwa dan juga Andre nantiknya tinggal disini saja?" tanya Rania.
"Ya maunya sih begitu Sofwa. Kamu tinggal di sini saja, sama abang dan juga Ibuk. Nantik kalau abang ada rezeki lebih, inshaAllah abang akan cari tukang untuk memperbaiki kamar kamu agar lebih luas dan bagus lagi." kata Raihan berjanji kepada Rania.
__ADS_1
"Oke bang Raihan, aman itu. Nantik Sofwa bicarakan dulu dengan Andre, mudah - mudahan saja ia mau mengerti dan menyetujui." kata Sofwa yang langsung diaaminkan oleh Raihan.
Andre datang saat itu, melamar Sofwa dan ia pun ingin agar disegerakan acara pernikahannya dengan Sofwa. Andre juga mengatakan, bahwa ia yang tidak bisa memberikan kemewahan untuk Sofwa seperti apa yang sudah Fitra berikan ke Rania. Mungkin akad dan resepsi pernikahan dilaksanakan dengan sederhana dirumahnya Sofwa. Karena maklum saja, Andrea baru saja bekerja dalam 2 bulan belakangan ini dan tentu saja ia belum mempunyai tabungan yang banyak untuk membuat pesta yang mewah untuk Sofwa dan keluarganya Sofwa.
Tapi, syukurlah.. Baik Sofwa maupun ibuknya dan juga Raihan, tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting bagi mereka saat ini adalah Sofwa bahagia, dan Andre pun sudah bertanggung jawab penuh terhadap Sofwa. Mereka hanya bisa berdoa acaranya pernikahan Sofwa dan Andre nantiknya lancar - lancar saja dan mereka berdua diberi kebahagiaan.
Sedangkan dirumah, Andre yang baru pulang dari kerja lalu masuk kedalam rumahnya yang tidak terkunci dengan sebelumnya mengucapkan salam. Nisa, Adiknya langsung menyambut kepulangan abangnya dengan sebuah senyuman manis yang sudah mengembang disana.
"Bang, Tumben pulangnya agak cepat malam ini." ujar Nisa karena jam masih menunjukkan pukul 7 malam, tapi abangnya sudah pulang. Biasanya abang itu pulang jam 10 malam.
"Iya, tadi bos menyuruh Abang untuk pulang duluan karena dia tahu minggu depan abang akan menikah. Dan dia ngasih abang kesempatan untuk belanja kebutuhan untuk persiapan akad nikah minggu depan itu, Nisa." jelas Andre.
"Wah.. Bos bang Andre baik banget ya, pengertian juga." puji Nisa.
"Jadi kita mau belanja malam ini bang?" tanya Nisa denahm antusias.
"Oh ya, asyik ketemu dengan kak Sofwa yang baik hati." kata Nisa dengan bersorak kesenangan. Andre hanya tersenyum bahagia melihat tingkah adiknya yang memang sangat mengidolakan Sofwa sebagai calon kakak iparnya.
Setelah selsai bersiap - siap, maka merekapun pergi ke tempat Sofwa. Sesampainya di rumah Sofwa, ternyata Raihan dan Sofwa sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kita pergi pakai apa nih?" tanya Raihan yang melihat Andre yang datang dengan mengendarai motor buntutnya bersama Nisa.
"Oh, motor ya. Oke Kita pakai motor juga kalau begitu, maklumlah kita belum punya mobil, hahaha.." kata Raihan dan kemudian tertawa terbahak - bahak, mereka bertiga yang mendengarnya hanya bisa ikut tertawa juga meskipun tidak begitu mengerti apa maksud dari Raihan tersebut.
"Ya mudah - mudahan saja setelah menikah dengan Sofwa rezeki aku semakin lancar sehingga bisa membeli mobil untuk kita berpergian jadi gak panas - panasan lagi." kata Andre yang langsung saja diaminkan oleh mereka semua.
Kemudian, mereka berempat pun pergi ketempat tujuan dengan mengendari 2 motor. Saat sudah sampai, Raihan dan Nisa tampak berpisah dari mereka makan tinggallah Sofwa dan Andrr berdua saja memilih - milih baju.
__ADS_1
"Ndre.." Sofwa memanggil Andre yang tampak serius memilih pakaiannya.
"Iya, Sofwa. Kenapa?" sahut Andre dengan cepat.
"Hhhmmm... Nantik kalau kita sudah menikah, kita tinggal dirumah aku saja ya?" pinta Sofwa. Kening Andre langsung berkerut.
"Loh, kenapa begitu Sofwa? Kalau aku tinggal dirumah kamu, Nisa bagaimana? Gak mungkin aku membiarkan dia tinggal seorang diri." kata Andre.
"Ajak saja Nisa tinggal dirumah aku juga, Ndre." kata Sofwa memberi saran.
"Hhmm... Tapi, aku gak yakin Nisa mau diajak tinggal disana Sofwa." kata Andre dengan ragu.
"Nantik akun bantu kamu untuk bicara sama Nisa deh." kata Sofwa.
"Karena bang Raihan minta aku tetap tinggal dirumah bersama dia dan Ibu, aku gak enak aja menolak permintaan bang Raihan itu, Ndre. Aku takut saja membuat hati Bang Raihan tersinggung." lanjut Sofwa lagi.
"Ia, aku paham Sofwa. Tidak mudah aku mendapatkan restu dari abang mu untuk menikahi mu. Dan jika memang itu permintaan darinya, akan aku atur bagaimana baiknya. Semuanya bisa dibicarakan, dengan Nisa juga tentunya. Yang terpenting saat ini, kita fokus dulu dengan pernikahan kita minggu depan ya." kata Andre lalu tersenyum dengan lepas.
Setelah selesai memilih dan memilah pakaian, mereka mampir sejenak ditempat makan. Mereka makan sambil mengobrol - ngobrol santai. Raihan dan Andre terlihat mengobrol dengan akrab, mereka seakan sudah bisa melupakan permusuhan yang pernah terjadi diantara mereka. Sofwa merasa bahagia melihat abangnya itu yang sudah mau membuka hatinya untuk memaafkan bahkan menerima Andre kembali. Dan Sofwa berharap kebahagiaannya itu tidak sampai disini saja, akan tetapi tetap berlanjut sampai ia benar - benar sudah menikah dan menjadi istri sahnya Andre.
Nisa sejak tadi pun tidak berhenti mengajak Sofwa bercerita, gadis mungil yang imut itu bercerita tentang sekolahnya dan tanpa sengaja ia juga menyinggung perihal Rania yang ternyata Nisa juga sedang belajar di komunitas dakwahnya yang dikelola oleh Rania. Banyak kata pujian yang terlontar tentang Rania dari mulutnya Nisa, tidak dipungkiri bahwa Rania memang seistimewa gitu dinmata orang yang mengenalnya. Meskipun Sofwa bari beberapa kali mengobrol dan bertemu dengannya, namun Sofwa telah mendapatkan kemistri yang baik sehingga membuat dirinya nyaman mengobrol dan berada didekat wanita shaliha itu. Sofwa pun sudah berniat untuk mengikuti jejak Nisa juga, bergabung bersama Rania dan teman - teman akhiratnya yang lain itu. Ya.. Sofwa masih harus akan ilmu akhirat yang menurutnya masih sangat tipis dan jauh dari kata sempurna..
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...