
Bunga-bunga bermekaran. Warna-warninya membuat keindahan tersendiri bagi yang melihatnya, daun-daunnya seakan menari-nari mengikuti irama angin sepoi-sepoi yang membawanya ke kanan dan kekiri.
Suasana pagi yang cerah itu sengaja dimanfaatkan oleh Sofwa untuk me-refresh kan pikirannya sejenak, sembari melihat bunga-bunga yang bermekaran ditaman tersebut, sama seperti hatinya saat ini. Seperti ada bunga pula yang bermekaran dihatinya.
Sofwa tersenyum tipis. Terbayang olehnya bagaimana pertemuan dan perbincangan ia dengan perawat tampan yang bernama Fitra itu. Lelaki itu.. telah mencuri hatinya! Lelaki itu seakan mengerti kegundahan hatinya. Dia datang disaat yang tepat. Disaat Bunga cintanya yang lalu hancur dan kini dia hadir membawa bunga baru yang lebih indah lagi.
Disaat kegalauan menguasai batinnya. Dia hadir memberi semangat, mengisi kekosongan hatinya yang terasa hampa sebelumnya. Disaat ia butuh uluran tangan seorang lelaki, dia butuh sosok untuk menjaga dan melindungi dan kemarin dia benar-benar merasa terlindungi, dia merasa gairah hidupnya kembali pulih, dia merasa semangatnya kembali datang. Semua itu karena perawat tampan tersebut, perawat yang benar-benar merawat dengan hati tulus ikhlas. Perawat yang berhati malaikat.
“Assalamu’alaikum…” Suara salam dari arah belakang membuat Sofwa sadar dari lamunannya. Ia pun menoleh kebelakang dan mendapati sosok berbaju putih dengan senyuman khasnya itu tepat berdiri belakangnya. Bunga hatinya kembali bermekaran dan kini semakin merekah saat hati dan pikirannya menyambut kehadiran lelaki yang baru saja ia lamunkan itu dengan senang hati.
“Wa'alaikumusalam…” jawab Sofwa dengan suara bergetar. Kegugupannya tidak bisa ia sembunyikan dari lelaki didepannya ini. Selain baik hati dan ramah lelaki itu memang memiliki pesona yang dapat membuat setiap wanita bertekuk lutut dihadapannya.
“Bagaimana keadaanmu? Udah agak mendingankan dari kemarin?” tanyanya dengan penuh perhatian. Perhatiannya itu yang membuat Sofwa semakin bahagia dan tatapannya itu membuat Sofwa menjadi salah tingkah. Ia tidak berani menatap mata tajam Fitra secara langsung. Sofwa hanya mengangguk sambil menunduk dan tersenyum.
“Alhamdulillah… semoga kamu cepat pulih kembali. Kebetulan nanti siang dokter Visit. Jika dokter menyatakan kamu sudah sembuh total dan boleh pulang, InsyaAllah besok kamu udah bisa pulang” Kata Fitra, lagi-lagi dengan memberikan senyuman mautnya itu.
“Iya mudah-mudahan saja” jawab Sofwa. Meskipun apa yang keluar dari mulutnya tidak sejalan dengan apa yang dikatakan hatinya saat ini. Entah kenapa dia tidak mengharapkan untuk pulang, dia ingin disini saja, ingin selalu mendapatkan perhatian dari Fitra, ingin mendengar kata-kata mutiara yang terangkai indah dari lisannya Fitra. Bunga-bunga cintanya memang lagi bermekaran dihatinya, dan dia pun tidak mengerti kenapa begitu cepat bunga ini bermekaran yang padahal baru beberapa hari yang lalu bunga ini layu dan bahkan hampir punah? Betulkah orang bilang bahwa obat patah hati karena cinta yaitu dengan cara jatuh cinta lagi terhadap seseorang? Entahlah, Sofwa tidak tahu. Yang ia tahu hatinya kini benar-benar terpaut pada Fitra. Hatinya mulai dan bahkan sudah terbuka untuk Fitra. Semudah itukah? Jadi, bagaimana dengan kegagalan cinta masa lalunya? Bagaimana cerita cinta masa lalu yang padahal baru kemaren di merasa menjadi wanita paling menderita didunia ini karena kehilangan cintanya? Apakah dia termasuk tipe wanita yang mudah merasa kehilangan tapi mudah juga untuk membuka hati untuk yang lain? Apakah dia tidak takut jika terluka lagi? Jika dikecawakan lagi? Apakah ia bakalan hancur lagi jika apa yang diharapkannya tidak sejalan dengan kenyataan yang ada?Cintanya tak terbalas? Cintanya bertepuk sebelah tangan?
“Hai.. kalian sedang apa?” Dari kejauhan Raihan berteriak setelah mendapati saudaranya kembarnya bersama seorang perawat. Raihan telah berkenalan secara langsung dengan Fitra dan mereka langsung akrab, Raihanpun sangat berterima kasih dengan Fitra yang telah mengembalikan semangat hidup Sofwa.
“Aku ganggu ya?” Tanya Raihan setelah berada diantara mereka. Pertanyaan Raihan seakan menggoda Sofwa yang tiba-tiba tersipu malu. Tapi Fitra hanya menanggapi dengan biasa saja pertanyaan Raihan tersebut.
“Ngak kok. Kebetulan ada kamu Raihan. Sekalian aku mau ngasih tau sebentar lagi dokter visite dan jika tidak ada masalah lagi mudah-mudahan Sofwa sudah bisa pulang”
“Alhamdulillahh… semoga aja Fitra, aku juga udah bosan nungguin dia dirumah sakit, hehe…” kata Raihan sambil bercanda.
“Oya, Nayla, Ibu menunggumu dikamar tuh, kamu ke kamar gih” suruh Raihan. Nayla mengangguk dan berlalu dari sana.
“Thanks ya Ra, ini berkat kamu, saudaraku Nayla bisa berangsur-angsur pulih dari ‘penyakit cintanya’ itu” kata Raihan setelah Nayla pergi.
__ADS_1
“Sama-sama Raihan, tapi bukan apa-apa aku hanya sedikit membantu selebihnya Allahlah yang membantunya” jawab Fitra seakan merendah.
“Iya, Allah membantu Nayla lewat perkataan mu, lewat lisanmu. Aku tidak habis pikir kok ada orang yang tega menyakiti Nayla sekian parahnya, padahal Nayla itu cewek yang baik, tapi si cowok brengsek itu tega sekali meninggalkan Nayla padahal Nayla udah memberikan seluruh hatinya untuk dia. Ngak tahu diuntung tu cowok. Aku benar-benar dendam dengan dia Ra” ucap Raihan dengan tatapan benci pada sosok yang ia ceritakan itu.
“Ingin rasanya aku membalas rasa sakit hati yang didera Nayla itu, tapi aku seakan tidak diberi kesempatan. Sudah beberapa kali aku mencoba untuk menghajar tu cowok, tapi selalu gagal. Selalu gagal” Fitra masih diam. Dia biarkan dulu Raihan mengeluarkan semua unek-uneknya.
“Kamu bisa bantu aku Ra?”
“bantu apa?”
“Menghajar si bajingan itu” geram Raihan.
“Ya Allah… Istighfar saudaraku, jangan kamu dikuasi oleh hawa nafsumu. Sabar. Semua masalah tidak akan selesai dengan kekerasan, kita cari cara yang lain” nasehat Fitra.
“Tapi, cara apa? Tidak ada lagi cara lain selain menghajar si bajingan itu atau kalau bisa memusnahkan dia dari muka bumi ini” kata Raihan berlebihan.
Fitra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Raihan terdiam. Lelaki didepannya ini benar-benar memiliki pola pikir yang dewasa sekali, beda dengan dirinya yang terlalu gegabah dalam berbuat, pantaslah Nayla langsung bangkit setelah mendengar kata-kata indah yang keluar dari lisannya Fitra tersebut.
***
Fitra menangkap ada sesuatu yang lain dari tatapan Sofwa tadi. Dia khawatir sikapnya terlalu berlebihan terhadap Sofwa sehingga gadis itu salah mengartikan sikapnya. Sungguh Fitra hanya ingin menghapus kesedihan itu aja, dia tidak bermaksud apa-apa. Tapi, Fitra buru-buru menepis kekhawatirannya itu, dia terlalu kepedean, tidak mungkin Sofwa jadi jatuh hati kepadanya.
“Fitra, buku mu yang kedua udah di terima penerbit, sudah dibaca dan alhamdulilah setelah melalui editing yang tidak banyak bukumu akan siap diterbitkan” ucap Seno, teman satu SMAnya dulu yang kini bekerja di salah satu penerbit di kota tersebut.
“Alhamdulillah, padahal aku pikir tulisan ku itu tidak dapat tempat sedikitpun dihati penerbit”
“Kamu terlalu merendah. Tulisan mu itu bagus kok Ra, kamu memang berbakat” puji Seno.
__ADS_1
“Hhmmm… sebenarnya ini bukan bakat. Aku lebih senang menyembutnya dengan habits.”
“Habits? Maksudnya?”
“iya, habits atau pembiasaan. Sebenarnya seseorang itu bisa melakukan sesuatu itu bukan karena bakat dari dalam diri, melainkan karena 2 proses. Yang pertama latihan (Exercise) dan yang kedua pengulangan (Repition) dan dari 2 proses itu maka lahirlah habits tersebut.”
“Jadi manusia tidak punya bakat donk?”
“Manusia itu bukan tidak punya bakat. Bakat itu tetap ada, cuman.. adanya itu bukan datang begitu saja. Bakat itu ada karena diciptakan, kitalah yang menciptakan bakat tersebut dengan cara yang tadi, yaitu habits”
“Kalau gitu aku bisa juga donk jadi penulis seperti kamu?” Tanya Seno.
“Tentu. Siapapun punya kesempatan untuk menciptakan masing-masing bakatnya, tinggal tergantung dengan konsisten kita aja dalam melakukannya. Anggaplah kita punya kemauan, tapi usaha tidak ada? Kan tidak sejalan, anggaplah kemauan dan usaha ada tapi tidak terus dilatih dan diualng-ulang? Tidak sejalan juga. Jadi intinya ya itu habits itu lahir karena ada latihan dan pengulangan. Pasti jika keduanya sudah sejalan bakat tersebut akan mengalir aja”
Seno manggut-manggut mendengar penjelasan Fitra.
Yach!! Fitra memang sudah aktif menulis sejak di pesantren, berawal dari iseng-iseng tapi sejak tulisannya tidak sengaja dibaca oleh salah seorang temannya di pesantren, dari situlah pujian demi pujian mengalir untuk dirinya.
“Tulisan mu bagus Fitra, kamu bisa kembangkan ini, kamu bisa terbitkan, karena tulisanmu ini bukan hanya tulisan kosong semata, yang tanpa makna. Tulisan mu ini ‘berisi’, ada manfaatnya bagi orang lain. Kamu bisa berdakwah melalui tulisan ini. Tulisanmu ini ladang amal bagimu”
Semenjak itulah Fitra menjadi aktif menulis.
“Kamu punya saingan sekarang Ra, nih lihat…” Reno memberi sebuah buku ketangan Fitra. Fitra mengambil buku tersebut. Buku dengan sampul biru dengan judul ‘Melukis Cinta di langit biru’.
“Coba kamu baca. Dijamin kamu akan klepek-klepek, hehehe”
Fitra membaca sinopsis dibelakang buku tersebut, sinopsisnya saja sudah mampu membuat Fitra penasaran dan ingin cepat-cepat membacanya isi didalam buku tersebut.
“Dia masih termasuk baru jugalah didunia kepenulisan, yang kamu pegang itu bukunya yang pertama. Dan udah mampu menginspirasi bagi yang membacanya, tapi sayangnya si penulis ini kurang di axis kan, bukan apa-apa. Dia yang tidak mau, karena prinsipnya menulis bukan untuk membuat dirinya terkenal akan tetapi menulis untuk menyebarkan isi didalam tulisannya tersebut, yang pasti mengandung ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Gitu yang aku baca dari hasil wawancara dengan si penulis Ra”
__ADS_1
“Ohh.. pantas photonya tidak ada. Hanya biodata singkat doank. Rania Nazwa… nama yang bagus” kata Fitra sambil tersenyum.
Bersambung....