Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 30 (MERAJUT CINTA MERAIH ASA)


__ADS_3

“Loh, kok belum pulang Fitra?” Tanya Nia heran melihat Fitra yang dinas tadi malam masih berkeliaran di ruang perawatan.


“Karena tugas ku belum selesai” Jawab Fitra.


“Tugas apaan?”


“Ehem.. ada dech. Mau tau aja.... atau mau tau banget?” Tanyanya sambil bercanda.


“Dua-duanya lah” Jawab Nia agak ketus.


Fitra tidak menjawab, dia sibuk membereskan barangnya dan memasukkan kedalam tas.


“Hari ini libur Fit?”


“Yoi...”


“Mau kemana rencananya nech?”


“Belum ada rencana Nia, kenapa emangnya?”


“Ngaak.. tanya doank”


Fitra melanjutkan membereskan barangnya, kemudian ia masuk kekamar ganti. Mengganti pakaian putihnya dengan pakaian biasa.


“Aku duluan ya?” Pamit Fitra.


“Eits... tunggu-tunggu...” Nia memanggil Fitra yang sudah jalan menuju pintu keluar. Fitrapun berhenti.


“Pasien baru yang tadi malam belum ada statusnya ya?” tanya Nia.


“Ada kok. Dimeja.”


“Ngak ada... udah aku cari...”


Fitra ikut mencari tapi memang statusnya tidak kelihatan.


“Tugas kamu belum selesai Fitra. Kamu data lagi gih pasien itu”


“Oke sip bos” Ucap Fitra semangat. Dengan senang hati ia kembali membawa status kosong dan membawanya ke kamar pasien baru tersebut. Setidaknya masih ada alasan baginya untuk mengobrol lagi dengan  Rania.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, ukhti.. afwan, mengganggu dikit...” Kata Fitra ketika masuk dan mendapati Rania sedang membaca sebuah buku. Fitra memperhatikan buku itu dengan seksama, sepertinya dia kenal dengan buku yang dipegang Rania.


“Walaikumusalam... iya kenapa?”


“Aku minta sedikit data tentang kamu ya, boleh?”


Rania hanya mengangguk.


“Nama lengkap kamu?”


“Rania Nazwa”


“Ha…? Apa tadi?”


“Rania Nazwa” ulangnya.


“Sepertinya ... nama itu ngak asing.. aku pernah mendengarnya sebelumnya, tapi dimana ya? Ooh... aku tahu...” Fitra langsung membuka tasnya dan mengambil sebuah buku yang sejak tadi malam ia baca.


“Kamu kah penulis buku ini….?? Nama lengkap kalian sama persis...” Tanya Fitra dengan curiga.


“Iya. Buku yang kamu pegang itu buku kedua ku” Kata Rania.


“Sama donk, didepan ku saat ini juga ada seorang penulis yang terkenal” Kata Rania sambil tersenyum manis.


“Maksudnya?” Fitra berpura-pura tidak mengerti.


“Ini buku kamu kan?” Rania menyodorkan buku yang ia baca tadi kearah Fitra. Fitra menunduk sambil senyum-senyum sendiri.


“Tulisan Kamu bagus Fitra Riandi.. aku salah satu penggemarmu Lo. Minta tanda tangannya yach?” Kata Rania yang membuat Fitra semakin tersipu malu.


“Boleh-boleh. Aku juga minta tanda tangan mu ya... Rania Nazwa...” Kata Fitra.


Ada dua persamaan yang Fitra dapati dalam diri Rania hari ini, mereka sama-sama bekerja dibidang kesehatan dan juga sama-sama penulis, Fitra yakin masih ada persamaan yang lain, Fitra bisa menebaknya. Dengan keyakinan penuh Fitra berani bertaruh... Rania Nazwa pasti aktivis dakwah juga seperti dirinya.


@@@


Ditempat yang berbeda dan dalam waktu yang bersamaan tampak seorang wanita bergamis merah berjalan menuju parkiran kampus dengan santai dan girang, sembari bersenandung kecil menyanyikan lagu kesukaannya.


“Nayla...” sebuah suara nyaring memanggil namanya dari arah belakang. Naylapun membalikkan tubuhnya. Dilihatnya Syifa, teman dekatnya berlari kearahnya.

__ADS_1


“Alhamdulilahh... aku senang banget melihat kamu sudah kembali kekampus lagi, setelah sebulan lamanya....” Ucap Syifa terlihat senang dengan kehadiran Nayla kembali.


“Iya syifa, Alhamdulilah.. berkat doa kalian semua sehingga aku diberi kesembuhan..” Hawabnya.


“Oya Nay, seminggu ini kita ujian akhir semester. Gimana ya nasib kamu yang udah banyak kali ketinggalan pelajaran?” Tanya Syifa agak sedih.


“Ntar kita ngak bisa wisuda bareng lagi” Tambahnya.


“Tenang Syifa sayang.... aku udah menyiapkannya kok” Jawab Nayla santai.


“Mulai hari ini aku akan mengejar ketertinggalan ku. Mudah-mudahan semua berjalan lancar, kamu doakan aja yach?” Kata Nayla selanjutnya ketika melihat gurat kebingungan dari parasnya Syifa.


“Oh ya, aku lupa. Aku yakin dengan kemampuanmu Nay, ngak diragukan lagi. Kamu sang juara di kampus pasti bisa” Puji Syifa setelah sadar bahwa saat ini dia lagi berhadapan dengan Nayla sang mahasiswi unggulan di kampusnya.


“Nah, sekarang kamu mau kemana? Kok ke parkiran bukannya nemuin dosen?” Tanya Syifa heran.


“Tadi aku udah keruang dosen, nyari buk Lika. Eh .. ternyata ibu itu lagi dikampus yang lain. aku disuruh nyusul dia kesana. Ada tugas yang akan diberinya untuk aku”


“Oohh.. kamu pergi pake apa?”


“Kebetulan bawa motor Fa”


“Ngak sama Raihan?”


“Raihan hari ini lagi ujian Skripsi”


“Wuih ... keren. Kalian saudara klop banget dech, coba kalau kamu ngak sakit kemaren pasti… kalian berdua pemecah rekor ujian skripsi yang pertama” Ucap Syifa agak berlebihan.


Nayla hanya tersenyum tipis mendengarkannya, karena pujian seperti itu udah menjadi hal yang biasa di telinganya dan begitu juga Raihan. Mereka berdua memang memiliki tingkat kecerdasan yang sama dan diatas rata-rata. Tapi, semenjak kejadian patah hatinya beberapa bulan yang lalu Naylapun baru menyadari bahwa dirinya bukanlah wanita yang cerdas, mungkin dari segi ilmu sains, jurusan yang ia geluti saat ini, ia begitu cerdas. Tiada yang dapat menandingi dia dikampus. Tapi, siapa yang bisa menyangka jika ia begitu bodoh dalam hal perasaan. Ia begitu mudahnya terlena, tertipu oleh mulut manis laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya. Nayla merasa menjadi wanita yang terbodoh didunia, karena telah memberikan cinta kasihnya kepada orang yang salah, bahkan kehormatannyapun rela dikorbankan karena atas nama cinta.


“Nay, kok ngelamun?” Tanya Syifa.


“Oh, ngak ada.. aku berangkat dulu ya?” Pamit Nayla.


Diperjalanan Nayla mengendarai motornya dengan pelan. Sambil mengendari motor pikirannya bercabang cabang. Dalam pikiran Nayla saat ini sudah tersusun rapi target kehidupannya kedepan. Pertama sekali Nayla memfokuskan diri untuk menyelesaikan urusannya dikampus, mengejar ketertinggalannya dan mengikuti ujian-ujian susulan bahkan ujian skripsipun akan dikejar bulan ini. Nayla yakin dengan kemampuannya, dia pasti bisa menyelesaikan semua tugasnya itu. Yang kedua... Nayla akan menyisakan waktu luangnya untuk mengkaji islam secara mendalam bersama Fitri, sepupu Fitra. Nayla bertekad dalam hati harus bisa mengubah dirinya menjadi seorang muslimah sejati, selain untuk memperoleh keridoan Allah, ia juga berharap mendapat cintanya Fitra. Mengingat tentang Fitra, membuat jantungnya agak berdebar. Lebih kurang sudah satu minggu ia tidak lagi berjumpa dengan Fitra, sesungguhnya ia begitu rindu kepada lelaki itu tapi kenapa Fitra tidak kunjung memberinya kabar. Apakah harus dia yang memulainya? Tapi Nayla tidak mempunyai keberanian untuk itu. Apa yang harus ia lakukan lagi? Minta bantuan kepada Raihan? Aha.. Nayla rasa itu ide yang bagus karena tampaknya Raihan sudah sedemikian akrabnya dengan Fitra. Nayla menambah sedikit lajut motornya. Senyuman manis mengembang di bibirnya tatkala wajah Fitra menari-nari didalam angannya.


Dan target selanjutnya dan yang terakhir mungkin, jika urusan dikampus sudah selesai dan ia sudah wisuda... Nayla akan menawarkan dirinya agar di khitbah oleh Fitra. Yach..!!! Tidak adasalahnya bukan jika wanita yang minta dikhitbah seorang laki-laki yang dicintainya?


@@@

__ADS_1


__ADS_2