
Ketika malam tiba Nayla yang masih sibuk dengan tugas-tugas kampusnya tidak sadar saat Raihan masuk kekamarnya dan langsung duduk ditempat tidurnya Nayla.
“Ehemm...” Suara Raihan mengagetkan Nayla.
“Abang.. kapan muncul?” Tanya Nayla ketika melihat Raihan sudah ada dibelakangnya.
“Sedari tadi, kamu sech.. serius amat. Amat aja ngak pake serius...”
“Ngerjain apa sech?” Tanya Raihan penasaran lalu berdiri dan melihat apa yang Nayla buat.
“Ini tugas susulan bang, karena sebulan aku ngak masuk kuliah. Ehemm.. menguras tenaga dan pikiran juga sech jadi menumpuk begini, tapi mau gimana lagi coba? Bulan depan pokoknya harus selesai, biar aku bisa ikut ujian dan wisuda bang...”
“Ya abang tahu kok Nay.. tapi, kondisi kamu kan belum pulih betul. Jangan maksakan diri gitu lah, ntar kalau kamu sakit lagi gimana? Dirawat lagi gimana?” Kata Raihan dengan nada khawatir.
“Ya gak apa-apa. Kalau sakit dan masuk rumah sakit lagi kan nanti bisa dirawat sama perawat yang tampan itu....” Ucap Nayla pelan, tapi tetap terdengar juga oleh Raihan.
“Ehem... Ehem... dah mulai nakal ne yach?” Goda Raihan.
“Ngak kok bang. Cuman bercanda” Kata Nayla sambil menunduk malu.
__ADS_1
“Serius juga ngak apa-apa. Ngak masalah bagi abang. Kalau dilihat-lihat... kalian cocoklah. Ada sedikit kemiripan gitu, kata orang kalau mirip dengan seseorang yang tidak ada hubungan darah itu bisa jadi jodoh.” Ucap Raihan.
Nayla hanya senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Raihan meskipun didalam hati berkali –kali ia mengucapkan, aamiin ya Allah.... Hatinya mengaminkan...
“Kamu suka kan dengan dia?” Pertanyaan blak-blakan dari abangnya itu benar-benar membuat Nayla salah tingkah tapi baginya ini adalah kesempatan emas untuk mengutarakan impiannya tadi pagi.
“Kira-kira Fitra mau ngak dengan aku Bang?” Tanya Nayla tanpa memandang wajah Raihan. Raihan yang mengerti dengan situasi seperti langsung memberi sinyal-sinyal positif untuk Nayla.
“Abang yakin 100% malahan.... Kalau Fitra pasti menyimpan rasa terhadapmu Nay... Kamu tenang saja ya sayang, dalam waktu dekat ini abang akan mengusahakan membicarakan hal ini kepadanya......” Janji Raihan kepada adiknya.
“Tapi, Bang... Bagaimana kalau dia ngak suka sama Nayla bang?”
“Gimana caranya bang?” Tanya Nayla penasaran.
“Kita lihat aja nanti, kamu jangan khawatir. Serahkan semuanya sama abang. Abang akan melakukan apapun asal kamu bahagia. Dan.. abang bisa menilai kok Fitra itu lelaki yang baik, yang bertanggung jawab, beda sekali dengan si brengsek Andre itu...” Ucap Raihan dengan tatapan benci saat nama Andre ia ucapkan.
“Ada satu hal yang masih mengganjal dihati abang saat ini, rasanya belum puas kalau belum menghajar si bajingan itu... saat ada kesempatan pasti aja ada yang menggagalkan.. abang geram kali Nay, tangan ini dah gatal mau nonjok dia....” Ucap Raihan dengan geram.
“Udah lah bang... jangan bahas tentang dia lagi, membuat Nayla jadi teringat masa lalu Nayla aja” Kata Nayla agak sedih.
__ADS_1
“Bukan maksud abang mau mengingatkan kamu tentang dia Nay, maaf kan abang ya sayang... cup.. cup.. jangan sedih donk, mau abang telponin Fitra ne...” Goda Raihan yang membuat wajah sedih Nayla menjadi merah karena tersipu malu. Semangat Naylapun semakin menyala-nyala. Target dan impiannya ini harus menjadi kenyataan. Ya Harus, Nayla berteriak dalam hati.
@@@
Keesokan harinya dihari minggu pagi dengan masih semangat 45 nya Nayla berkunjung kerumah Fitri, kembali mengikuti kajian singkat bersama Fitri. Fitripun ada beberapa kali mengajak Nayla untuk ikut acara-acara pengajian dan Tabliq Akbar gitu, Nayla mengikuti acara demi acara tersebut dengan antusias. Naylapun banyak dikenalkan oleh Fitri dengan muslimah-muslimah yang ramah dan baik hati. Mereka menyambut kehadiran Nayla dengan penuh suka cita.
Pernah suatu hari, Fitri mengajak Nayla diacara pengajian yang mana disana setiap peserta bisa sepuasnyanya bertanya kepada musrifah mengenai agama dan permasalahan yang berkaitan dengan islam.
“Kalau ada yang pengen ditanyakan, tanyakan aja Nay. Ngak usah malu-malu ya?” kata Fitri mengingatkan Nayla. Sebenarnya ada satu pertanyaan besar yang ingin Nayla tau jawabannya saat ini. Nayla yang dikampus memang terkenal aktif bertanya jadi mentalnya sudah terlatih berbicara diepan umum. Tanpa keraguan dan tanpa malu Nayla mengajukan diri untuk bertanya. Ia lah peserta pertama yang bertanya dalam forum tersebut.
“Assalamu’alaikum...” Nayla mengucap salam
“walaikumusalam..’ jawab mereka semua serentak.
“Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya dulu ya, nama saya Sofwatun Nayla. Bisa dipanggil Nayla ataupun Sofwa. Yang ingin saya tanyakan adalah terkait tentang Khitbah atau dalam bahasa sehari-hari kita adalah melamar atau meminang. Begini, jika seorang laki-laki mengkhitbah seorang wanita itu kan sudah biasa... dan lazim terjadi dimasyarakat kita, lalu bagaimana jika ada seorang wanita yang ingin mengajukan diri agar dikhitbah oleh seorang laki-laki? Bagaimana islam memandang hal tersebut? bolehkah atau sebaliknya tidak boleh? Cukup sekian pertanyaan saya kepada Ustadzah, mohon dijawab dengan sejelas-jelasnya. Terima kasih”
Ustadzah tersebut menjelaskan secara gamblang akan pertanyaan Nayla. Ia menjelaskan bahwa didalam islam akhwat boleh mengkhitbah duluan, meskipun didalam realitasnya dikehidupan masyarkat saat ini mereka merasa aneh jika ada akhwat yang duluan datang untuk melamar, mereka memandang akhwat itu rendah bahkan tidak ada harga dirinya, karena pada hakikatnya ikhwanlah yang harus memiliki inisiatif melamar duluan dan akhwat sifatnya hanya menunggu. Tapi, gimana jika akhwat tersebut berinisiatif untuk mengutarakan keinginannya agar dinikahi? Nah, ustdzah tersebut mengatakan ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah, saat dimana Siti Khadijah menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah. Tapi, Rasul tidak pernah memandang rendah Siti Khadijah tapi sebaliknya dia malah sangat bersyukur karena telah dianugerahi Khadijah oleh Allah.
Ustadzah tersebut menegaskan bahwa akhwat yang berani mengkhitbah ikhwan duluan adalah akhwat yang bersikap mulia. Karena alasan yang mendasari mereka adalah mereka tidak ingin hatinya terus berzina dengan menyimpan perasaan terhadap ikhwan tersebut. Dengan memberanikan mengajukan diri maka setidaknya mereka bisa mengetahui apakah ikhwan tersebut mempunyai perasaan yang sama terhadap mereka atau tidak. Jika misalnya ya…maka perasaan cinta itu akan bernilai pahala ketika berakhir di pelaminan. Toh jika pada akhirnya nantinya mereka ditolak, mereka akan berhenti untuk mencintai dan kemudian mulai dari awal lagi menata hati untuk ikhwan yang berikutnya. Tapi bukan berarti akhwat yang tidak mengajukan dirinya itu tidak mulia, sebab pada dasarnya yang mengatur skenario bagaimana jalan pertemuan kepada jodoh kita adalah Allah. Demikianlah penjelasan dari Ustadzah tersebut. Sofwa semakin yakin dengan targetnya dan ia tahu apa yang harus dia lakukan
__ADS_1
@@@