
Disebuah rumah kos yang terletak paling depan dari gang tampak sepasang muda-mudi duduk berdekatan sambil bercanda-canda. Mereka seakan tak peduli dipandangi warga yang kebetulan lewat atau teman-teman kosnya lainnya yang keluar masuk rumah. Pemandangan itu seakan biasa bagi mereka, dan telah menjadi biasa pula bagi warga sekitar.
Banyak orang berfikiran negatif terhadap anak kos, pikiran negatif itu muncul tatkala fakta terlihat jelas didepan mata akan kebebasan mereka dalam pergaulan. Kebebasan yang mereka perbuat sampai di dalam rumah kos. Tanpa ada aturan tegas baik dari kalangan mereka sendiri maupun dari pemilik rumah kosan tersebut.
Oleh karena itu, untuk menghapus tanggapan jelek masyarakat terhadap anak kos Rania menjadikan rumah kos yang ia tempati bersama 5 temannya sebagai ‘Rumah Dakwah’. Rania sering mengundang teman-teman satu pengajiannya untuk datang ke ‘Rumah Dakwahnya’ dalam rangka sharing ataupun membahas permasalahan kehidupan yang sama-sama akan mereka cari solusi yang terbaik. Sekali seminggu pun akan diadakan kajian di ‘Rumah Dakwah’ tersebut dengan mengundang remaji SMA yang tersentuh hatinya untuk mengenal islam secara dalam. Saat itu kalau tidak Rania, Raisya lah yang akan mengisi kajiannya.
Teman satu kos Rania berjumlah 5 orang, mereka adalah Raisya, Mila, Cici, Hamidah dan Jeni. Raisya dan Rania sudah aktif dipengajian lebih kurang 2 tahun, Hamidah dan Mila baru ikut kajian awal yang diisi oleh Rania dan Raisya, sedangkan Cici dan Jeni sama sekali belum tertarik untuk ikut kajian, tapi Cici masih bisa menghargai aktivitas positif dirumah dakwah tersebut, berbeda dengan Jeni yang masih sangat sinis bahkan benci terhadap aktivitas dirumah kos tersebut.
Seperti malam minggu yang lalu, malam minggu ini akan ada kajian singkat yang disampaikan oleh Rania dan Raisya kepada para remaji yang telah tersentuh hatinya untuk mengenal islam secara mendalam. Saat diluar sana para remaja dan remaji sibuk dengan aktivitas khalwat dan pacaran mereka, tapi di rumah dakwah ini Rania mencoba memberikan ‘sesuatu’ yang menggugah hati dan pikiran remaji untuk mengenal Allah dengan segala aturannya.
“Ran, udah dikabari semuanya untuk kajian hari ini?” Raisya bertanya ketika melihat Rania keluar kamar membawa laptopnya, disana sudah disiapkan materi yang akan ia sampaikan kepada remaji nantinya.
“Alhamdulillah udah semua, tadi juga udah minta tolong Zahra untuk ngajak teman-temannya yang lain. Semoga malam ini banyak yang datang”
“Iya, semoga aja Ran. Oya, snacknya udah beres ya didapur. Hamidah dan Mila yang siapain”
“Oke.. Oya, Cici dan Jeni diajak sekalian ya?”
“Cici lagi keluar, tadi cowoknya jemput” teriak Mila dari dapur.
“Kalau Jeni belum pulang dari tadi siang” Hamidah melanjutkan.
__ADS_1
“Ya gak apa-apa, lain kali kita usahakan untuk menghadirkan mereka. Karena kita ini sudah seperti saudara, tinggal serumah, kita harus saling mengingatkan dan saling menasihati dalam kebaikan” ucap Rania.
“Tapi hati Cici dan Jeni seperti batu. Keras banget, gak bisa dibilangin” Mila menanggapi.
“Iya yang ada kita malah diomelin” Hamidah tak ketinggalan.
“Seperti sebuah pepatah mengatakan, 'Sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga' yang maksudnya 'Sekeras apa pun pendirian seseorang jika terus-menerus dipengaruhi dapat merubah pendiriannya juga'. Nah, begitu juga dengan hati manusia. Jika kita sering menyentuhnya dengan kata dan perbuatan yang baik pasti akan sedikit-sedikit mengena juga dihati mereka. Intinya dalam menyampaikan sesuatu itu kita harus sabar dan ikhlas, sabar jika apa yang kita sampaikan tidak didengarkan dan ikhlas jika kebaikan yang kita berikan malah dibalas dengan kejahatan” Ucap Rania sambil tersenyum.
“Rania, aku kagum sama kamu. Kamu serba bisa ya? Berdakwah sudah terlatih banget, tulisan mu juga bagus terus kamu bisa lagi membagi waktu antara pekerjaan mu, kuliah dan pengajianmu. Semuanya seperti berjalan dengan indah dan kulihat kamu sangat menikmati sekali” kata Mila memuji Rania.
“Apa rahasianya Ran?” Tanya Mila lagi.
Rania tersenyum mendengarnya. Bukan sekali dua kali orang bertanya seperti ini padanya, udah berkali-kali malahan dan jawabannya akan tetap sama.
Beberapa saat kemudian Zahra dan 2 orang temannya datang. Disusul dengan remaji lain yang diundang oleh Rania dan Raisya, jumlah yang hadir saat itu 10 orang dan termasuk Mila dan Hamidah yang jadi pendengarnya. Rania dan Raisya menjadi pengisi acara. Rania memberi materi tentang konsep kehidupan dan makna dari kehidupan itu tersendiri. Didalam materi tersebut Rania mengajak para remaji untuk berfikir lebih dalam tentang proses kehidupan manusia. Dari mana manusia berasal, untuk apa ia diciptakan dan akan kemana dia jika sudah tiada. Pertanyaan kecil tapi mengandung arti yang besar jika kita mampu memahaminya lebih dalam lagi. Ketiga pertanyaan itu mempunyai hubungan yang erat, dimana manusia berasal dari Allah Swt. Dialah zat yang menciptakan kita. Kita tidak ada dengan sendirinya, atau kita bukan berasal dari materi atapun benda lainnya. Manusia diciptakan, Allahlah penciptanya. Pertanyaan kedua kenapa manusia diciptakan Allah, untuk apa? Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa ada maksud dan tujuan, pasti ada tujuannya. Tujuannya manusia diciptakan tidak lain dan tidak bukan adalah hanya untuk beribadah kepadaNya, untuk menyembahNya, mengabdi kepadaNya.
Dan jawaban untuk perntanyaan ketiga adalah akan kemana manusia setelah kehidupan ini? Rania menjelaskan terkait dengan kehidupan setelah mati, yaitu alam akhirat. Dimana hanya ada dua tempat yang akan dimasuki oleh manusia, yaitu surga dan neraka. Semuanya tergantung atas apa yang telah kita perbuat didunia. Segala amal kita apakah mengantarkan kita kesurga atau malah menyeret kita ke neraka. Segala sesuatu yang kita perbuat selama dunia ini ada konsekuensi, setiap pilihan yang kita ciptakan didunia ada konsekuensi, kita diberi kebebasan dalam memilih tapi setiap pilihan yang akan kita pilih ada konsekuensinya. Kita memilih untuk taat kepada Allah dan Rasul konsekuensi yang akan kita peroleh adalah surga berserta kenikmatannya, begitu juga sebaliknya jika pilihan kita malah melanggar aturan Allah dan Rasul maka siap-siap lah api membara yang bernama neraka yang akan menemani kita.
Oleh karena itu dari 3 pertanyaan mendasar tersebut terdapat hubungan satu sama yang lain. Karena semuanya telah diatur oleh Allah agar kehidupan manusia dimuka bumi ini berjalan atas aturan dan perintahNya Allah.
Setelah itu materi kedua disampaikan oleh Raisya. Raisya memberikan materi singkat tentang ‘melejitkan cinta kepada Allah’. Didalam materi tersebut Raisya mengajak remaja untuk melabuhkan cintanya karena Allah agar tidak salah dalam mengartikan cinta tersebut. Raisya menjelaskan sebuah hadist yang menegaskan bahwa ‘Tidaklah sempurnalah iman seseorang sebelum ia meletakkan dalam hatinya kecintaan setinggi-tingginya kepada Allah Swt. Dan Rasulnya melebihi dari cintanya kepada diri sendiri, keluarga, anak dan harta’
__ADS_1
Sedang asyiknya mereka menyimak materi yang disampaikan oleh Raisya, tiba-tiba dari pintu luar terdengar langkah kaki hendak masuk kedalam, serentak semua kepala menoleh kebelakang, ketempat sumber suara. Ternyata yang datang adalah Jeni, tapi dia tidak sendiri. Terlihat ia sedang menggandeng seorang cowok bule yang tengah mabuk.
“Astaghfirullah…” serentak mereka semua mengucap istighfar ketika melihat pemandangan tersebut.
“Sorry, mengganggu acara kalian. Rania, aku minta tolong sama kamu ya? Malam ini izinkan Ronald tinggal disini.”
“Apa? Tidak bisa Jeni…” belum sempat Rania melarang, Jeni langsung memotong.
“Pliss… satu malam ini saja. Ronald ini adik ku. Adik kandungku, dia lagi mabuk berat.”
“Adikmu? Jangan bohong jeni, sedikitpun dia tidak ada mirip sama kamu.” Hamidah menimpali.
“Terserah kalian mau percaya apa tidak, bukannya aku udah pernah cerita sama kalian kalau papaku kebangsaan rusia dan mamaku Indonesia, jadi wajarlah aku punya saudara yang wajahnya mirip bule” Jeni membela diri.
“Tapi, maaf Jeni. Aku tetap ngak bisa mengizinkan dia tinggal disini. Ini rumah kosan cewek, bukan cowok. Jadi tolong hargai kita semua disini, bawa adikmu pulang” Rania menegaskan.
“Satu malam ini aja Rania. Kamu kok ngak pengertian gini sech? Katanya setiap manusia itu harus tolong-menolong, kamu yang bilang begitu kan tapi kenapa kamu ngak mau menolong aku ha?”
“Iya betul Jeni, tapi lihat dulu tolong menolongnya dalam hal apa. Jika menolong untuk maksiat seperti ini aku ngak bakalan mau”
“Maksiat apaan? Dia adikku, ngerti kalian ha?” Jeni nekat menerobos masuk membawa pria bule itu dan mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
Rania terdiam, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Para remaji yang datangpun dibuat tercengang oleh kejadian tersebut. Rania jadi sangsi apakah julukan ‘Rumah Dakwah’ untuk kosan ini akan berubah menjadi ‘rumah maksiat’ setelah kejadian barusan? Entahlah, Rania mempasrahkan semuanya kepada Allah. Memohon ampun karena dirinya tidak mampu mencegah keburukan baru saja mampir dan masuk kerumahnya ini.
@@@