Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 36 (BUAH KEIKHLASAN)


__ADS_3

Setelah selesai jam dinas dan operannya, Rania melihat Nia didepan pintu. Nia  melambaikan tangannya ke arah Rania. Dengan rasa penasaran Rania menghampiri Nia.


“Hai Rania, Apa kabar?” Sapa Nia dengan ramah.


“Alhamdulilah sehat... kamu sehat juga kan? Oya udah dari tadi ya nunggin aku. Ada apa ya Nia?” Rania langsung menyodorkan pertanyaan yang membuatnya penasaran.


“Ada yang pengen aku ceritakan sama kamu Ran, kamu lagi ngak buru-burukan? Kita ke taman rumah sakit aja yuk” Ajak Nia. Rania menerima ajakan Nia tersebut dan merekapun berjalan turun kebawah menuju taman yang berada diluar rumah sakit.


“Umur kamu berapa sech Ran?” Tanya Nia saat mereka telah sampai ditaman.


“InsyaAllah bulan depan 24 Nia, emang kenapa?” tanya Rania lagi yang semakin heran kenapa Nia tiba - tiba bertanya perihal umurnya.


“Wah.. udah saatnya tuch.. umur segitu udah cukup matang untuk segera menikah. Apalagi jika jodoh sudah datang menjemput, jodoh yang alim... tampan... mapan lagi... hehe...” Kata Nia tanpa sadar hampir membocorkan rencana yang ia buat sendiri. Rania mengerutkan keningnya. Dia sungguh tidak paham kemana arah pembicaraan Nia ini.


“Maksudnya apa ya Nia?” Tanya Rania dengan nada suara yang curiga.


“Oopss.. aku memang payah. Aku ni paling susah nyimpan rahasia, pasti ujung-ujungnya malah keceplosan. Tapi mau gimana lagi kalau udah terlanjur... oke... aku kasih tau dech sama kamu, hmm.. Fitra bentar lagi datang kesini. Tau ngak mau ngapain?” Tanya Nia. Rania hanya menggelengkan kepalanya. Ia bertambah bingung dengan gelagat Nia yang terlihat aneh dan mencurigakan.


“Fitra mau ngelamar kamu. Iya... kamu mau dilamar Rania... selamat ya, hehehe...” Ucap Nia sambil tertawa.


Seakan tidak percaya Rania mendengar kabar yang mengejutkan ini. Ada rasa senang, takut dan malu. Entahlah Rania merasa lain. Apa benar yang dikatakan Nia barusan ini? Tapi, tdak mungkin jugalah Nia berbohong, untuk apa coba?


“Kamu serius Nia?” Tanya Rania untuk lebih menyakinkan dirinya.

__ADS_1


“Iya. Serius.. demi Allah.. aku ngak bohong Rania..” jawab Nia dengan sangat yakin. Ada terbesit rasa Lega yang merasuki hati Rania saat mendengar perkataan Nia tersebut. Bersamaan dengan itu pun seuntai senyuman manis menghiasi bibir Rania. betapa bahagianya ia mendengar kabar ini? Kabar ini lah yang sempat ia impikan beberapa hari belakangan ini dan.. akhirnya menjadi kenyataan.


“Tapi, kamu pura-pura ngak tau entar ya.. rencananya tadi mau ngasih surprise.. tapi aku paling ngak bisa nyimpan rahasia lama-lama, hehe...” kata Nia dan Rania hanya menganggukkan kepalanya.


Rania dan Nia menunggu kedatangan Fitra sambil bercerita. Sudah setengah jam meraka disana, tapi tanda-tanda kedatangan Fitra tidak ada. Sudah beberapa kali Nia mencoba menghubungi Fitra tapi tidak kunjung diangkat juga. Akhirnya Nia pun mengirim pesan singkat ke Fitra.


‘Fitra, dimana sech...? Aku sudah nungguin kalian sejak tadi, sudah setengah jam kami nunggu nih.. kasihan Rania...’


Selang 5 menit kemudian pesan balasan dari Fitra pun masuk.


‘Iya ni lagi dijalan. Bentar lagi nyampe..’


“Sorry banget ya Rania... fitranya masih dijalan, bentar lagi nyampai kok... mungkin tadi mereka terjebak macet...” Kata Nia merasa tidak enak dengan Rania.


“Nah, itu mereka datang... Fitra.. Randi.. sini...” Nia berteriak memanggil mereka berdua. Dari kejauhan Rania melihat Fitra. Fitra tampak menyembunyikan wajahnya, ia lebih banyak menunduk dan sekali-kali tersenyum, tapi jelas sekali senyumannya itu terpaksa, tidak seperti biasanya. Mereka semakin dekat, hati Rania jadi harap-harap cemas. Ia tidak bisa lagi menguasi jantungnya yang berdebar kencang. Apakah Fitra juga merasakan seperti yang ia rasakan?


“Assalamualaikum...” Akhirnya Fitra kini tepat di hadapan Rania. Rania sempat terlena sesaat melihat penampilan Fitra yang begitu tampan, lebih tampan dari biasanya. Meskipun Rania tahu ada sesuatu yang menggganjal yang terlihat dari wajahnya yang agak murung itu. Tapi Fitra berusaha menyembunyikannya.


“Walaikumusalam..” Jawab Rania dan Nia berbarengan.


“Ayo duduk... ngapain kalian berdiri aja...” Kata Nia berusaha mencairkan suasana yang sempat kaku itu.


“Maaf ya telat.. maklumlah pagi-pagi ini dijalanan tu selalu macet.. semua orang pada sibuk keluar...ada yang sekolah, kerja, kuliah dan lain sebagainya...” ucap Randi membuka pembicaraan.

__ADS_1


Diam. Hening. Beberapa detik. Randi menyenggol bahu Fitra. Fitra yang lagi melamunpun tersentak kaget. Randi seperti memberikan isyarat kepada Fitra melalui gerakan matanya. Tapi Fitra mengalihkannya sambil geleng-geleng kepala. Rania dan Nia jadi bingung dibuatnya.


“Udah lah... langsung aja, jangan pake basa-basi lagi dech...” Kata Nia tidak sabaran.


Fitra membuka tasnya, mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah buku. Ia mengeluarkan buku yang diberikan Rania kepadanya beberapa hari yang lalu. Rania semakin heran, mau apa Fitra dengan buku dirinya itu? kenapa dia tidak kunjung mengutarakan maksud dan tujuan awalnya seperti yang Nia katakan tadi?


“Afwan Rania... Afwan... aku kembalikan buku mu, aku ngak bisa menerimanya. Aku merasa ngak pantas menjadi orang pertama yang membaca bukumu sebelum diterbitkan... aku udah baca setengah sech, Subhanallah luar biasa bagusnya... lain kali aku beli aja dech kalau udah terbit...” Jelas Fitra sambil tersenyum.


“Oohh... iya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Rania. Rania mengambil buku yang disodorkan Fitra tersebut lalu memasukkan kedalam tasnya.


“Nah, aku rasa cukup pertemuan kita ini. Cuman mau ngembalikan bukunya Rania aja kok. Hehe... maaf ya jadi menunggu lama, yuk Ran....” Kata Fitra. Ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka bertiga dengan wajah penuh kebingungan.


“Fitra... Fit...” Randi menyusul Fitra. Fitra semakin mempercepat langkahnya. Fitra merasa tidak sanggup harus berlama-lama berada disana, dia tidak sanggup melihat wajah Rania yang sudah penuh harapan kepadanya, dia tidak sanggup. Tapi dia harus melakukannya, dia harus melawan ego dan perasaannya.


“Aduh, Fitra kenapa sech? Duh.. maaf banget Ran, aku harus menyusul mereka dulu ya...” Kata Nia merasa ngak enak. Padahal Nia sudah ceritakan semua bahwa Fitra akan melamar Rania. Tapi gimana perasaan Rania tiba-tiba Fitra jadi bertingkah diluar skenario yang telah mereka buat. Nia pun heran sama Fitra, padahal baru tadi malam Randi nelpon dan bilang bahwa Fitra akan melamar Rania dan Fitra meminta bantuan kepada dirinya agar bisa bertemu Rania di taman rumah sakit, tapi setelah ia laksanakan amanah tesebut... kenapa Fitra ngak langsung pada tujuan awalnya? Kenapa ia malah menghindar? Dia .. bukan seperti Fitra yang Nia kenal. Yang menepati janji dan konsekuen dengan apa yang telah diucapkannya.


Dan kini Rania tinggal seorang diri, dengan perasaan yang masih sulit ia gambarkan. Baru saja dia seakan diberi harapan baru, tapi selang beberapa menit saja harapan itu gugur... bahkan hilang. Ya Allah, apalagi ini? Tanya Rania dalam hati.


...🍒🍒🍒🍒...


Bersambung...


"TERIMAKASIH SUDAH BACA SAMPAI BAB INI, JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN DENGAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA.. "

__ADS_1


__ADS_2