
Selesai mengimani jamaah sholat dzuhur, Foury duduk bersila diatas sajadahnya sambil beberapa kali mengulangi kalimat indah yang terlontar dari lisannya.
“Hasbunaallah wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikmal nashiir…”
Dan dari pintu masuk masjid tampak seorang lelaki yang sedari tadi memperhatikannya, dengan wajah yang cerah lelaki itu lantas masuk kemesjid dan langsung menghampiri Foury yang berdzikir sambil memejamkan matanya.
“Asslamu’alaikum, akhi Foury…” sapa lelaki itu dengan suara agak bergetar.
“Wa’alaikumusalam…” jawab Foury sambil membuka pejaman matanya pelan-pelan. dan detik kemudian pancaran sinarnya matanya berubah menjadi berbinar-binar setelah otaknya mencerna siapa sosok lelaki dihadapannya ini.
“Subhanallah.. kamu Fitra…” ucap Foury dengan tidak kalah bahagia dan bergetar suaranya. Lalu mereka saling berpelukan.
Kedua sahabat itu puas berpelukan, meluapkan rasa rindu yang bersemayam didada mereka masing-masing karena maklumlah sudah bertahun-tahun mereka tidak berjumpa. Sejak lulus dari pondok pesantren, Foury siswa yang beruntung saat itu mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studynya di kairo sedangkan Fitra atas desakan orang tuanya melanjutkan sekolah keperawatan, semenjak itu mereka kehilangan kontak hingga sampai detik ini mereka dipertemukan oleh Allah kembali.
“Kebetulan aku lagi dijalan saat adzan zhuhur tadi, dan karena ada masjid yang terdekat aku pun mampir. Saat sholat tadi sungguh pikiranku bercabang, suara imamnya tidak asing, terasa pernah mendengarnya. Akupun penasaran, makanya selesai sholat aku ngak langsung pulang, menyelidiki siapa pemilik suara merdu itu, ternyata kamu akhi Foury… sahabatku di pondok…. Aku ngak nyangka Allah mempertemukan kita dirumahNya ini…” cerita Fitra dengan berlinangan air mata haru.
__ADS_1
“Begitu juga aku Fit, ngomong-ngomong kamu kelihatan lebih wow sekarang … lebih tampan dan bersahaja, sepertinya kamu sangat menikmati profesimu sebagai seoarang perawat”
“Alhamdulilah.. aku mulai terbiasa dengan profesiku Foury, meskipun awalnya aku sangat menentang. Kamu tahu kan… cita-cita ku sejak di pondok ingin menjadi seoarang ustad, dan sepertinya…. Cita-citaku dulu itu sudah diambil alihkan olehmu” kata Fitra sambil bercanda.
Mereka melanjutkan pembicaraannya dan saling bercerita pengalaman masing-masing. Pertemuan dengan Fitra membuat kegundahan dihati Foury sedikit terobati. Akan tetapi, kegundahan hatinya kembali terjadi tatkala Fitra menyinggung masalah pernikahan.
“Akhi, sudah menikah belum?” pertanyaan Fitra yang terdengar biasa saja tapi tidak biasa bagi Foury, sehingga membuat raut wajah Foury berubah seketika.
“Aku baru saja ditolak” jawab Foury singkat.
“Maksudnya?”
“Sabar akhi.. mungkin dia bukanlah jodohmu, berhusnudzonlah pada Allah.. mana tau Allah sudah menyediakan bidadari yang lebih baik dari dia untuk kamu…”hibur Fitra seketika itu juga.
“Syukron Fitra, tapi… entah kenapa bayang-bayang dia belum hilang juga dari hati dan pikiranku. Ini yang jadi masalahnya, aku takut akan berbuah dosa jadinya…”
__ADS_1
“Minta perlindungan kepada Allah selalu akhi… dan berusaha untuk ikhlas, itu intinya” nasehat Fitra.
“Dan… satu hal yang memang harus kita pahami akhi bahwa Allahlah yang memberikan rasa itu kepada kita dan Dia jua lah yang akan menghilangkan rasa itu, yakinlah jika kita bersungguh-sungguh untuk tetap istiqomah, aku yakin… dengan berjalannya waktu akhi pasti bisa melupakan wanita itu…” lanjut Fitra kembali.
“Kamu memang pintar berkata-kata Fitra, terus…. kamu sendiri gimana? Sudah nikah apa belum?”
Pertanyaan balik dari Foury membuat Fitra tersenyum malu.
“Itulah masalahnya akhi, rencananya tadi mau minta cariin sama akhi…. Karena aku yakin pasti akhi banyak kenalan muslimah yang shalih… tapi jadi ngak enak mendengar cerita akhi yang baru aja di tolak…. Sedangkan akhi yang tampan, berilmu, imam masjid sekaligus ustad ditolak, apalagi aku yang pas-pasan gini akhi….”ucap Fitra merendahkan diri.
“Astaghfirullah… kamu kok merendahkan diri gitu Fit… tapi benaran kamu mau minta cariin sama aku?”
“Emang akhi punya stok muslimah yang shalih lagi?”
“Stok? Emangnya barang?”
__ADS_1
“Afwan Akhi, jadi bersemangat” kata Fitra sambil bercanda.
“Yach… tidak banyak sech kenalan, palingan sebatas di pengajian aja. Tapi aku rasa… kamu cocok sama muslimah yang menolak ku tadi. Profesi kalian sama. Sama-sama bergerak dibidang kesehatan. Atau… sama dia aja? Gimana akhi Fitra? Setuju tidak?” penawaran Foury yang tiba-tiba itu membuat Fitra terdiam sambil menelan ludah. Dalam pikiran Fitra betapa istimewanya wanita ini sedangkan Foury ustad dan imam masjid saja ditolaknya apalagi dirinya