Takdir Cinta Rania

Takdir Cinta Rania
BAB 21 (PERDEBATAN YANG INDAH)


__ADS_3

Setibanya di kosan Rania langsung masuk kamar, tidak peduli olehnya ocehan yang keluar dari mulut Jeni ketika melihat Rania melewati ruang tengah.


“Tumben… lagi galau ya? Masak seorang muslimah sejati bisa galau” Teriak Jeni yang tentu tertangkap oleh telinganya Rania dan Raisya yang berada di kamar.


“Kenapa Ran?” Raisya juga heran melihat perubahan wajah sahabatnya itu yang murung sekali.


Rania tidak langsung menjawab, dia asyik mengetik-ngetik di handphonenya, seperti mau membalas sms.


“Serius kali Ran, ada apa sech? Ada masalah?” Tanya Raisya masih dengan sangat penasaran.


Hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya. Raisyapun nyerah dan kembali sibuk dengan ketikannya. Setelah agak lama, akhirnya Rania mengeluarkan suara juga.


“Aku binggung Sya…” ucap Rania dengan nada suara yang terdengar syahdu.


“Hhmm.. bingung kenapa Ran?”


“Aku ngak tahu mau mulai cerita dari mana sama kamu. Tapi, aku juga ngak bisa menyimpan ini semua sendiri.”


“Kamu bisa mulai cerita dari yang mana kamu mau” Kata Raisya.


“Dia datang… dia… yang telah lama hilang dari kehidupanku, dan kini… datang… seperti membuka lembaran baru untuk hidupku, mimpi ku yang sempat hancur, kini… seakan terangkai lagi… tapi aku takut… takut melangkah menghampirinya karena… aku ngak mau tersakiti untuk kedua kalinya Sya…”ucap Rania dengan suara agak bergetar.


“Masalah cinta kah?” selidik Raisya untuk menyakinkan. Rania mengangguk.


“Kamu jatuh cinta sama siapa Ran? Ustad Foury kah? Tapi, bukannya… kamu udah nolak lamarannya?”


“Bukan… bukan… bukan dia.” Jawab Rania langsung.


“Jadi?”


“Cinta di masa lalu ku Sya. Kemaren kamu pernah bertanya kepadaku kan tentang cinta yang berlebihan. Apakah aku pernah mencintai lelaki secara berlebihan? Tapi saat itu aku seakan diselamatkan dari pertanyaan mu itu hingga ku tak jadi berbuat dosa untuk menutupinya dengan kebohongan. Tapi, kini… ku rasa aku ngak bisa lagi menyembunyikannya dari mu karena semuanya sudah terlihat jelas dari raut wajahku yang memang lagi galau karena cinta semu ini.”


“Emangnya apa yang terjadi di cinta masa lalu mu itu Ran?” Tanya Raisya pelan dengan nada penasaran. Raisya menggeser tempat duduknya mendekati Rania. Dia yakin sebentar lagi rahasia besar Rania akan segera ia dengarkan dari mulut Rania sendiri.

__ADS_1


“2 tahun yang lalu aku terjebak dalam cinta yang salah. Terlampau mencintainya, merasa memilikinya seutuhnya, sampai suatu ketika ia meninggalkanku karena wanita lain… betapa sakitnya aku.. kenekatan pun muncul, ketidakrelaan membuatku jadi nekat melakukan apapun tuk buat dia kembali... ngak peduli hujan… tengah malam…. Tetap ku menunggu dia… menangis dihadapannya.. memohon dihadapan dia… bahkan nekat mengancam untuk mati dihadapannya…..” ucap Rania dengan berlinangan air mata yang sebentar lagi akan tumpah. Raisya juga berempati terhadap apa yang Rania rasakan. Raisya tidak pernah menduga Rania.. seorang Muslimah yang hampir sempurna di matanya dan di mata para aktivis remaja dakwah lainnya, ternyata pernah mengalami kepelikan masalah cinta seperti ini. Raisya menghela nafas panjang, dalam hati ia berdoa semoga Rania tidak kembali lagi pada kesesatan dimasa lalunya itu karena tersimpan keyakinan dihati Raisya telah terjadi sesuatu pada Rania beberapa hari ini, dan apakah Rania menolak lamaran Ustad Foury juga ada hubungannya dengan masalah ini?


***


Keesokan harinya, Rania jatuh sakit. Suhu badannya naik drastis menjadi 39 derajat celcius. Mendapati keadaan sahabatnya seperti itu Raisya langsung mengambil tindakan pertama yaitu mengompres Rania dengan air hangat, Raisya tahu Rania sangat anti obat maka dia tidak menawarkan Rania untuk minum obat dulu.


“Ngak apa-apa ne Ran aku tinggalin kamu kuliah sebentar?” Tanya Raisya ngak enak hati meninggalkan Rania karena kebetulan pagi itu ada jadwal kuliahnya.


“Iya ngak apa-apa kok Sya, kamu berangkat aja gih sekalian bawa surat sakit aku ya?” ucapnya.


“Ya sudah, aku minta tolong teman yang lain aja lah ya? untuk jagain kamu… Mana tahu mereka ada yang ngak lagi sibuk”


“Gak apa-apa juga. Tapi, kalau mereka ngak bisa jangan dipaksain, aku ngak mau merepotkan mereka Sya”


Setelah itu, Raisya berangkat dengan sebelumnya minta tolong dengan Cici yang kebetulan lagi off kuliahnya, Cici mengiyakan dengan senang hati. Sesampainya di kampus, Raisya langsung masuk kelas berbarengan dengan dosen setengah baya yang akan mengajari mereka tentang Konseling Kesehatan pagi itu.


“Adik-adik sekalian bagaimana dengan tugas minggu lalu tentang program pemerintah MDGS yang salah satunya terkait kesetaraan gender, apakah sudah bisa didiskusikan maksud dari kesetaraan tersebut?” ibu Tina, Dosen tersebut mengingatkan mahasiswinya.


Raisya sedikit tersentak, dia sama sekali tidak ingat bahwa ada tugas seperi itu. Biasanya Rania lah yang selalu mengingatkannya tapi beberapa hari belakangan ini Rania seperti kehilangan konsentrasinya karena masalah hati yang tengah dihadapinya ini dan Raisya pun memakluminya.


“Saya buk..” seorang wanita cantik, putih dan berpenampilan modis mengangkat tangan. Namanya Selvi,


“Menurut saya program pemerintah tentang keseteraan gender itu adalah program yang bagus. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kesetaraan gender itu memiliki arti kesamaan dan kesetaraan antara hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Jadi tidak ada lagi yang menjadi pembeda. Apa yang laki-laki lakukan bisa juga dilakukan oleh perempuan, sehingga perempuan tidak lagi diremehkan, tidak lagi dinomorduakan. Seperti contoh kasarnya ne ya… dulu perempuan difokuskan hanya menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak, masak, nyuci dan lain sebagainya.. tapi kini fakta yang kita lihat dilapangan ternyata perempuan mampu menandingi laki-laki dalam hal karier. Wanita juga boleh berkarier, bekerja dan mengekspresikan dirinya. Dan dari kesetaraan gender inilah lahir ide emansipasi wanita, ide yang menurut saya memang patut diancungkan jempol karena ia memperjuangkan hak perempuan, tidak ada lagi larangan untuk perempuan dalam mengekspresikan dirinya, perempuan lebih bebas melakukan apa saja sesuai bidang yang ia inginkan. Misalnya dalam masalah pendidikan juga, dulu yang wajib disekolahin tinggi-tinggi hanya laki-laki Karena orang tua dulu berdalih bahwa laki-laki lah yang akan menafkahi kita sedangkan perempuan kerjanya Cuma didapur, dikasur dan disumur jadi ngak mustilah sekolah tinggi-tinggi jika ujung-ujungnya lari juga kesana. Benarkan teman-teman… akan tetapi karena adanya emansipasi wanita ini membuat semuanya terbalik, perempuan bisa mencapai pendidikan tinggi, perempuan bisa menandingi laki-laki dalam bekerja dan bahkan perempuan pun bisa menjadi pemimpin….” Jelas Selvi dengan bersemangatnya dan diiukuti dengan tepukan tangan yang bergemuruh didalam kelas tersebut. Selvi tersenyum bangga merasa pernyataannnya itu 100% benar dan bisa diterima oleh semua teman-temannya.


Tapi, tidak bagi Raisya. Disaat semua teman termasuk dosen memberikan tepukan tangan untuk Selvi, Raisya hanya diam dan berfikir panjang. Raut wajahnya menampakkan ketidaksetujuan akan apa yang dipaparkan Selvi barusan. Lidahnya seakan gatal ingin berbicara dan menjelaskan kebenaran yang sebenarnya.


“Buk, boleh saya mengutarakan pendapat juga?” Tanya Raisya.


“Ya silahkan kalau mau menambahkan”


“Bukan hanya menambahkan buk, tepatnya mau menyanggah..” Balas Raisya


“Hah? Menyanggah? Emang apa yang mau disanggah, aku rasa semuanya yang aku sampaikan itu benar kok” Kata Selvi langsung.

__ADS_1


Raisya seakan tidak peduli dengan protesan Selvi tersebut, dia langsung berbicara.


“Begini… yang saya pahami dan Insyaallah ini suatu kebenaran karena dalilnya kuat, bahwa…Secara umum, Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama, tanpa ada perbedaan. Masing-masing adalah ciptaan Allah yang dibebani dengan tanggungjawab melaksanakan ibadah kepada-Nya, menunaikan titah-titah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hampir seluruh syariat Islam dan hukum-hukumnya berlaku untuk kaum Adam dan kaum Hawa secara seimbang. Begitu pun dengan janji pahala dan ancaman siksaan. Tidak dibedakan satu dengan yang lainnya. Masing-masing dari mereka memiliki kewajiban dan hak yang sama dihadapan Allah sebagai hamba-hamba-Nya. Seperti firman Allah Swt.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)


Dan juga didalam surat ini….


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”  (QS. An-Nahl [16]: 97)


وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا


“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa [4]: 124)


Namun demikian, bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Begitu pun dari sisi sifat, pemikiran-akal, kecenderungan, emosi dan potensi masing-masing juga berbeda.


Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Jadi tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan tabiat dan kecenderungan dasar dari masing-masing jenis tersebut.


Laki-laki kodratnya adalah sebagai pemimpin bagi perempuan. Pemimpin bagi istri dan anak-anaknya, jadi tidak ada perempuan yang bisa jadi pemimpin seperti yang diutarakan Selvi tadi. Ini bukan omongan saya semata tapi ini perkataan Allah.


“Kaum (laki-laki) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa` [4]: 34)


Sebenarnya ide emansipasi itu adalah ide yang menyesatkan, kenapa? Karena ide ini muncul dari para pemikir barat yang sekuler yang memaksa manusia untuk meninggalkan kodratnya masing-masing. Karakter barat yang sekuler, memisahkan urusan agama dengan dunia, membuat garis beda yang jelas dengan islam. Mereka menggugat peran Muslimah yang terkesan hanya pada wilayah domestic. Menurut mereka, menjadi ibu bagi anak-anak adalah bukan pekerjaan yang mulia. Karena itu mereka pun menuntut agar perempuan setara dalam berbagai hal, diberbagai sector dan kerja malam. Kaum wanita berlomba-lomba merambah area public dengan label wanita karier. Kaum wanita makin dieksploitasi daya tarik seksualnya dalam ajang kecantikan, SPG, iklan televisi, film, sinetron dan lain sebagainya. Jadi jelaslah ide emansipasi bukan untuk memuliakan wanita tapi justru merendahkan kaum wanita. Ngak ada ceritanya, nasib wanita menjadi lebih baik dengan ide emansipasi. Yang ada, wanita hidup sejahtera hanya dibawah naungan islam. Karena islam memuliakan wanita.” Kata Raisya mengakhiri penjelasannya yang panjang tersebut. Selvi yang mukanya telah merah padam karena disanggah habis-habisan oleh Raisya, tidak ingin terlihat kalah. Dia kembali berbicara.


“Oke. Aku hargai pendapat kamu Raisya. Tapi ingat.. pembahasan kita dari awal adalah tentang keseteraan gender bukan? Tapi kenapa jadi melenceng kedalam dunia islam. Menurut aku ne ya. Kesetaraan gender ini sama sekali ngak ada kaitannya dengan islam, sama sekali ngak ada kaitannya. Ide ini kan untuk menjauhkan kedeskriminasian perempuan dari laki-laki, jadi perempuan tidak tertindas lagi oleh kaum laki-laki, perempuan bisa maju dan terkedepan dalam bidang apapun tanpa ada aturan dan larangan yang mengikat kita. Termasuk juga kalau mau dikaitkan dengan agama, juga tidak boleh ada larangan” ucapnya dengan lantang.


Raisya kembali menarik nafas panjang dan kembali siap menyanggah pendapat Selvi yang salah.


“Maaf… meskipun kamu beranggapan ini ngak ada kaitannya dengan islam. Okelah, mari kita kaitkan dengan islam. Bagaimana islam memandang emansipasi tersebut? Sebenarnya islam itu sangat memuliakan wanita. Sebelumnya saya jelaskan sedikit gimana keadaan perempuan sebelum datangnya islam. Sebelum datangnya islam, umat memandang wanita itu hina. Jangankan memuliakannya, memandangnya sebagai wanita saja tidak. Mereka juga berfikiran bahwa memiliki anak perempuan itu merupakan aib bagi keluarga mereka jadi jangan heran pada zaman jahiliah dulu ketika anak perempuan yang lahir langsung dibunuh. Tapi setelah cahaya islam datang semua terbalik, perempuan jadi sangat dimuliakan, dihormati dan dijaga. Masalah pendeskriminasian antara laki-laki dan perempuan itu sebenarnya tidak ada. Malahan perempuan lebih untung lagi ditimbang laki-laki, perempuan tidak diwajibkan untuk mencari nafkah dan wanita menjadi pengatur dan pengurus rumah tangga itu sebenarnya adalah tugas pokok yang sangat mulia dan mendatangkan pahala tentunya kalau kita meniatkannya karena Allah Swt. Jadi bukan lagi sekedar tradisi semata akan tetapi termasuk kewajiban dan kodrannya seorang wanita pasti akan menjadi seorang ibu” jelas Raisya sambil tersenyum kearah Selvi yang sepertinya masih belum terima atas penjelasan Rania tersebut. Raisya sudah siap menerima sanggahan yang kedua kalinya dari Selvi karena dia yakin Selvi tidak gampang menyerah. Raisya sangat menikmati perdebatan yang indah ini apalagi jika ada Rania pasti dia akan lebih terbantui.

__ADS_1


***


__ADS_2